First Timer: Kesasar di Belitung (Part 1)
Sejak pertama kali nonton film "Laskar Pelangi", Ageng bermimpi suatu saat bisa berkunjung ke Pulau Belitung. Sampai akhirnya tahun 2018 kesampaian juga. Ternyata, hidup di Jakarta yang sedari awal sudah Ageng benci karena trauma, merupakan batu loncatan untuk bisa pergi ke Belitung. Memang benar petuah "Apa yang kamu benci, belum tentu buruk bagimu".
Ageng tidak banyak riset untuk persiapan ke Belitung, bahkan kiat-kiat backpacker pemula pun sedikit sekali. Cukup ngerti mana saja destinasi yang akan disinggahi dan mendapat tiket promo 30% dia pun berangkat. Kalo ditelaah lagi, dia memutuskan berani berangkat bukan karena punya modal yang cukup, tapi dia berani berangkat karena dia bodoh aja. Pernah dengar kan kalimat "Orang yang paling berani biasanya orang yang paling bodoh"? Itulah Ageng, kebodohan merupakan bakat alaminya. Oh iya satu lagi kebodohan fundamental yang dia lakukan, dia tidak punya tempat tujuan untuk menginap sesampainya di Belitung. Dia cuma berpikir jika dia tidak mendapat tempat menginap, dia akan tidur di masjid, kurang bodoh gimana coba?
Tanggal 1 Agustus 2018 pagi, bocah udik ini berangkat sendiri dari kontrakannya di daerah Jakarta Selatan. Dia membayangkan berbagai kesenangan yang akan dilakoninya nanti. "Aku akan menjadi seorang laskar pelangi tidak lama lagi!" ujarnya dalam hati dengan penuh antusias. Di ruang tunggu bandara Soetta dia menunggu di gate sebagaimana yang telah tertulis di tiket. Menganalisa orang-orang di sekitarnya sambil menebak-nebak profil mereka merupakan salah satu kegemaran dan cara Ageng untuk membunuh kebosanan.
Pengumuman untuk segera menaiki pesawat dengan lantang disuarakan, sesaat kemudian dia sudah duduk di kursi penumpang. Walaupun sudah beberapa kali naik pesawat, dia tetap memperhatikan arahan keselamatan yang wajib diberikan oleh pramugari. Selain untuk menghormati mbak-mbak pramugari, mendengarkan instruksi keselamatan membuatnya merasa lebih nyaman ketika tidur. Tidak lupa dia juga membaca lembaran doa dan petunjuk keselamatan dalam pesawat. Kalo ini sih bukan karena dia ingin mengingat langkah-langkah evakuasi, melainkan agar dia cepat ngantuk aja.
Siang hari setelah dhuhur waktu Belitung, pesawat yang ditumpangi Ageng mendarat dengan mulus di bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Mulanya dia tenang-tenang saja, sampai akhirnya kegamangan menyerang setelah dia menyelesaikan sholat dhuhur."Bagaimana caraku bisa sampai ke pusat kota? Di sini tidak ada bus yang bertrayek ke pusat kota, sedangkan kalo naik taksi lumayan mahal. Saya harus cepat menemukan cara pergi ke pusat kota sebelum semakin sore!", otaknya mulai ia paksa bekerja. Lumayan lama dia berpikir cara pergi ke pusat kota, padahal dia masih belum tahu juga di mana letak pusat kota Belitung. Dia hanya tahu wilayah paling ramai di Belitung itu Tanjung Pandan, pusat kota atau bukan masih misteri baginya. Memang bodoh bukan kepalang bocah ini, sekarang dia mulai menyesal kenapa harus jadi solo backpacker.
Sebenarnya dia sudah berusaha mencari rekan agar tidak sendirian, dan dapat. Tapi si teman tadi akhirnya urung berangkat karena mungkin ada beberapa pertimbangan yang bisa jadi tidak pernah dipertimbangkan sama sekali oleh Ageng. Maklum, yang bekerja normal sepertinya hanya batang otaknya, kalo otak besarnya Ageng perlu diperiksa lebih lanjut. Akhirnya daripada dia berpikir sambil duduk berlama-lama, dia memutuskan untuk jalan kaki menuju jalan utama, siapa tahu ada pick up yang bisa ditumpangi, walaupun di baknya sudah di-pilox "dilarang mengangkut orang".
Tanggal 1 Agustus 2018 pagi, bocah udik ini berangkat sendiri dari kontrakannya di daerah Jakarta Selatan. Dia membayangkan berbagai kesenangan yang akan dilakoninya nanti. "Aku akan menjadi seorang laskar pelangi tidak lama lagi!" ujarnya dalam hati dengan penuh antusias. Di ruang tunggu bandara Soetta dia menunggu di gate sebagaimana yang telah tertulis di tiket. Menganalisa orang-orang di sekitarnya sambil menebak-nebak profil mereka merupakan salah satu kegemaran dan cara Ageng untuk membunuh kebosanan.
Pengumuman untuk segera menaiki pesawat dengan lantang disuarakan, sesaat kemudian dia sudah duduk di kursi penumpang. Walaupun sudah beberapa kali naik pesawat, dia tetap memperhatikan arahan keselamatan yang wajib diberikan oleh pramugari. Selain untuk menghormati mbak-mbak pramugari, mendengarkan instruksi keselamatan membuatnya merasa lebih nyaman ketika tidur. Tidak lupa dia juga membaca lembaran doa dan petunjuk keselamatan dalam pesawat. Kalo ini sih bukan karena dia ingin mengingat langkah-langkah evakuasi, melainkan agar dia cepat ngantuk aja.
Siang hari setelah dhuhur waktu Belitung, pesawat yang ditumpangi Ageng mendarat dengan mulus di bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Mulanya dia tenang-tenang saja, sampai akhirnya kegamangan menyerang setelah dia menyelesaikan sholat dhuhur."Bagaimana caraku bisa sampai ke pusat kota? Di sini tidak ada bus yang bertrayek ke pusat kota, sedangkan kalo naik taksi lumayan mahal. Saya harus cepat menemukan cara pergi ke pusat kota sebelum semakin sore!", otaknya mulai ia paksa bekerja. Lumayan lama dia berpikir cara pergi ke pusat kota, padahal dia masih belum tahu juga di mana letak pusat kota Belitung. Dia hanya tahu wilayah paling ramai di Belitung itu Tanjung Pandan, pusat kota atau bukan masih misteri baginya. Memang bodoh bukan kepalang bocah ini, sekarang dia mulai menyesal kenapa harus jadi solo backpacker.
Sebenarnya dia sudah berusaha mencari rekan agar tidak sendirian, dan dapat. Tapi si teman tadi akhirnya urung berangkat karena mungkin ada beberapa pertimbangan yang bisa jadi tidak pernah dipertimbangkan sama sekali oleh Ageng. Maklum, yang bekerja normal sepertinya hanya batang otaknya, kalo otak besarnya Ageng perlu diperiksa lebih lanjut. Akhirnya daripada dia berpikir sambil duduk berlama-lama, dia memutuskan untuk jalan kaki menuju jalan utama, siapa tahu ada pick up yang bisa ditumpangi, walaupun di baknya sudah di-pilox "dilarang mengangkut orang".
ditunggu part selanjutnyaa mas ageeng, kalau bisa sekalian ditambah gambar biar kami para pembaca bisa ikut membayangkan :)
BalasHapusAgeng memang bodoh, tapi love uuuuu
BalasHapus