Postingan

Menampilkan postingan dengan label First Timer: Kesasar di Belitung

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 8)

Belum satu kilo dia meninggalkan Museum Kata Andrea Hirata, tubuhnya terasa tidak beres. Dia menerka-nerka, apa yang salah dengan dirinya. Ia telusuri riwayat makannya mulai pagi hari sebelumnya, semua normal saja. Sampai akhirnya dia berhenti di menu pagi ini. Nihil, tidak ada makanan yang masuk ke perutnya pagi ini, mungkin itulah penyebab dia merasa tidak enak badan. Ya, lapar. Di daerah pedesaan di mana ia berada saat ini biasanya sulit mencari sebuah warung makan, karena  rata-rata orang lebih memilih sarapan di rumah masing-masing. Untungnya bocah yang sedang lapar ini menemukan sebuah rumah makan padang di dekat persawahan. Bangunan semi permanen membuat warung itu tidak meyakinkan sebagai rumah makan padang, kecuali tatanan ikonik piringnya yang bertumpuk. Warung sederhana itu bisa dikatakan rujukan sarapan warga lokal. Banyak yang keluar masuk, membeli sebungkus nasi padang sebagai bekal ataupun menu makan pagi. Ageng memesan menu default,  nasi padang dengan lauk aya...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 7)

Pagi sekali, sebelum solat subuh Ageng sudah mandi. Air bak mandi berwarna kemerahan yang sempat membuat ragu tidak dihiraukannya lagi. Dia sedang bergegas untuk pergi ke Belitung Timur. Kesepakatan berangkat mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong bersama temannya yang dibahas malam sebelum tidur dengan berat hati dia pupuskan.  Ageng berangkat waktu purnama masih tinggi, meninggalkan teman-temannya yang sedang memetik bunga mimpi. Sesaat sebelum berangkat, si bodoh itu membangunkan salah satu temannya, meminta maaf dan pamit untuk mendahului. Besar kemungkinan momen pamit itu kesempatan tatap muka yang terakhir, karena bersua kembali dengan mereka di masa depan adalah hal yang hampir tidak mungkin.   Waktunya yang tidak banyak tersisa di Belitung memaksanya untuk bertindak tap-tap. Karena terburu-buru, motor yang akan ditungganginya pun tidak sempat merasakan cukup warming up . Sebelum berangkat, dia berusaha memenuhi tangki kendarannya. Untungnya di pagi sebuta itu, ...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 6)

Seputaran asar Ageng sudah berbaring di kasur hostelnya, memanjakan punggungnya setelah lumayan capek berenang dan mengendarai motor. Dia istirahat sambil menunggu pemilik hostel. Ia bermaksud pamit, tidak jadi meneruskan menginap di sana karena akan join penginapan dengan teman barunya. Setelah ketemu ibu pemilik hostel, dia ijin undur diri sekaligus mengembalikan kunci loker dan kunci motor. Si ibu ramah menjawab dan juga mempersilahkan datang kembali jika suatu saat ke Belitung lagi. Tidak berapa lama, dengan menggunakan layanan aplikasi ojek daring dia sudah berada di sekitar Tugu Batu Satam, dalam keadaan bingung. Dia tidak tahu di mana letak penginapan temannya itu, sedangkan mereka tidak dapat dihubungi. Ageng berjalan mondar-mandir, menerka-nerka setiap bangunan yang ada, apakah layak dijadikan penginapan atau tidak. Dia hanya mendapat petunjuk bahwa penginapannya ada di sekitar masjid. Ya memang hanya ada satu masjid di daera...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 5)

Sampai di Pantai Tanjung Kelayang, waktunya bayar-bayar. Sesuai janjinya di awal, Ageng juga ikut patungan untuk membayar perahu tersebut. Namun ada sedikit permasalahan. Harga yang harus dibayarkan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, menurut salah satu temannya. Alat snorkel yang semula dikira gratis, ternyata dihargai beberapa puluh ribu, dipakai atau tidak. Dengan sedikit pembicaraan hati ke hati sesama orang yang hartanya pas-pasan, Ageng berhasil meluluhkan pengemudi perahu dan harga yang ditetapkan tidak jadi terlalu tinggi. Sebelum berpisah untuk melanjutkan perjalanan, Ageng ditawari oleh temannya untuk gabung ke penginapan mereka di sekitaran Tugu Batu Satam. Dia mencoba menerka-nerka di mana letak Tugu Batu Satan. Pikirannya flashback ke hari pertama, mungkin yang dimaksud Tugu Batu Satam itu tugu yang di atasnya nangkring batu besar hitam. Dia berasumsi seperti itu karena menurutnya satam dan hitam hampir mirip, tanpa mencoba menelusuri kebenarannya. Menurutnya ini tawara...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 4)

Kecanggungan membalut perahu kecil yang terapung di selat. Empat orang saling bersenda gurau, sedangkan dua lainnya terpaku menatap lautan tak bertepi, Ageng masuk ke kelompok kedua. Dia terlalu canggung untuk meruntuhkan tembok pemisah diantara mereka, dia hanya bisa berharap es kokoh yang ada segera mencair. Gayung bersambut, salah satu dari mereka menyapa Ageng, "Kok sendirian mas? Dari mana?". "Iya mas, saya dari Jakarta" jawabnya singkat. Dia sangat berhati-hati jika bertemu dengan orang baru, karena dia paham tuturnya sangatlah busuk, meski sebenarnya tidak ada tendensi buruk sama sekali. Percakapan berikutnya mengalir begitu saja, tidak terlalu intens memang percakapan antar mereka, tapi cukuplah untuk menegasikan rasa canggung yang menolak untuk pergi begitu saja. Mereka singgah di pulau pertama yang entah apa namanya. Batu bundar yang mulus menutupi hampir seperempat bagian pulau. Ageng mengambil beberapa gambar dengan mirrorless nya. Teman-teman barun...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 3)

Jam empat pagi Ageng sudah bangun, tidak peduli mimpi senikmat apapun, jam biologisnya sering kali mengungguli bunga mimpinya. Azan merayu Ageng untuk menikmati subuh pertamanya di luar jawa. Jalan sepi di luar hostel terasa semakin hikmat, sebab ilalang tinggi dikiri-kanannya yang sesekali bergoyang ditiup angin malam, dan tampak cantik diterpa temaram lampu jalan yang satu dua. Tidak jauh beda dengan belahan Indonesia yang lain, para sesepuh bersarung dan bersongkok mendominasi surau. Dipenuhinya langit-langit dengan gema suara parau mereka ketika melantunkan wirid dan pujian, sedang bocah itu tertunduk bersila menunggu bunyi "tit" dari jam penanda iqamat. Cepat sekali, mungkin sekitar tujuh menit dari "tit", Ageng sudah berbaring lagi di kamar hostelnya, melanjutkan tidur seperti hari-harinya yang lalu. ~ Hangatnya matahari pagi masih tertahan kaca buram, tapi sinarnya telah memerahkan pandangan Ageng yang masih tertutup kelopak matanya. Perlu beberapa saat ...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 2)

Lumayan lama Ageng berjalan meyusuri jalan raya. Sesekali ia menengok ke belakang sambil berharap ada tumpangan ke pusat kota atau paling tidak transportasi umum yang murah. Membawa ransel lima kiloan ditambah perut yang kosong karena terakhir diisi pagi hari membuat jalannya semakin menit semakin melambat. Ada sih warung yang ditemuinya, tapi dia enggan untuk mampir. Jika kalian paham bentuk warung dari kayu dan genting yang sudah lapuk dan membuat tampilan bangunan semi permanen itu cenderung mirip tempat jualan minyak tanah di tahun 2000an, kemungkinan besar kalian juga mengalami keraguan yang sama dengan Ageng. Lelah, Ageng beristirahat di trotoar meskipun tidak ada peneduh sama sekali, yang penting pundaknya bisa rehat sejenak. Sambil duduk, dia juga menjempoli setiap kendaraan, entah mobil atau sepeda motor. Saat menunggu, dalam diam dia sedikit merajuk pada Tuhannya, "Ya Allah, saya kan pernah sholat lima waktu, masa' saya cuma minta tumpangan aja enggak Kamu kasih...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 1)

Sejak pertama kali nonton film "Laskar Pelangi", Ageng bermimpi suatu saat bisa berkunjung ke Pulau Belitung. Sampai akhirnya tahun 2018 kesampaian juga. Ternyata, hidup di Jakarta yang sedari awal sudah Ageng benci karena trauma, merupakan batu loncatan untuk bisa pergi ke Belitung. Memang benar petuah "Apa yang kamu benci, belum tentu buruk bagimu". Ageng tidak banyak riset untuk persiapan ke Belitung, bahkan kiat-kiat backpacker pemula pun sedikit sekali. Cukup ngerti mana saja destinasi yang akan disinggahi dan mendapat tiket promo 30% dia pun berangkat. Kalo ditelaah lagi, dia memutuskan berani berangkat bukan karena punya modal yang cukup, tapi dia berani berangkat karena dia bodoh aja. Pernah dengar kan kalimat "Orang yang paling berani biasanya orang yang paling bodoh"? Itulah Ageng, kebodohan merupakan bakat alaminya. Oh iya satu lagi kebodohan fundamental yang dia lakukan, dia tidak punya tempat tujuan untuk menginap sesampainya di Belitung. ...