First Timer: Kesasar di Belitung (Part 6)

Seputaran asar Ageng sudah berbaring di kasur hostelnya, memanjakan punggungnya setelah lumayan capek berenang dan mengendarai motor. Dia istirahat sambil menunggu pemilik hostel. Ia bermaksud pamit, tidak jadi meneruskan menginap di sana karena akan join penginapan dengan teman barunya. Setelah ketemu ibu pemilik hostel, dia ijin undur diri sekaligus mengembalikan kunci loker dan kunci motor. Si ibu ramah menjawab dan juga mempersilahkan datang kembali jika suatu saat ke Belitung lagi.

Tidak berapa lama, dengan menggunakan layanan aplikasi ojek daring dia sudah berada di sekitar Tugu Batu Satam, dalam keadaan bingung. Dia tidak tahu di mana letak penginapan temannya itu, sedangkan mereka tidak dapat dihubungi. Ageng berjalan mondar-mandir, menerka-nerka setiap bangunan yang ada, apakah layak dijadikan penginapan atau tidak. Dia hanya mendapat petunjuk bahwa penginapannya ada di sekitar masjid. Ya memang hanya ada satu masjid di daerah situ, tapi tidak ada tanda-tanda hostel ataupun homestay.

Dia berjalan menyusuri jalanan asing. Dari satu ujung ke ujung yang lain, senti demi senti tanah dia tapaki. Tak pelak beberapa pasang mata asing memerhatikannya. Namun apa peduli setan, Ageng tetap berjalan meski dengan gontai, berharap informasi dari teman barunya tidaklah palsu. Sudah kepalang tanggung untuk kembali ke hostel sebelumnya, kali ini opsi tidur di masjid kembali muncul ke permukaan.

Saat berjalan pelan, entah kenapa Ageng sepeti tersentak tanpa sebab. Sendi di siku dan jemarinya reflek, yang sayangnya membawa petaka. Handphone yang kurang dari satu semester ia beli, jatuh dengan mantapnya ke aspal dengan posisi layar tertelungkup. Mantap, setelah tak kunjung dapat kepastian kabar dari temannya, kini hpnya mendapat aksesoris berupa tiga codet panjang pada LCD-nya. Jika kekhawatiran dianggap gila tidak terbesit, mungkin dia akan meluapkan emosinya waktu itu juga. Untuk menenangkan diri, ia duduk di sebuah papan panggung kayu kecil di pinggir jalan, meratapi nasibnya.

Hampir-hampir dia menyerah dan akan kembali ke hostel sebelumnya, tiba-tiba notifikasi whatsapp berdenting di ponselnya. Yang ditunggu akhirnya tiba, chat dari temannya masuk, memberi tahu lokasi penginapannya. Ternyata memang letak penginapan yang dimaksud berada di belakang masjid, yang tentu saja tidak terlihat oleh Ageng dari jalan raya. Dia mengikuti temannya menuju penginapan. Penginapan yang dimaksud bukanlah penginapan seperti pada umumnya, melainkan sebuah rumah kosong yang disewakan. Dia sharing room dengan temannya, sehingga cukup membayar setengah harga kamar yang nilainya lebih murah dari hostel sebelumnya.

Ageng ngobrol santai dengan teman dan pemilik rumah, menceritakan destinasi wisata yang sudah dan akan dikunjungi. Tak lama kemudian temannya mengajak untuk pergi ke Tanjung Pendam. Namun karena hari pertama sudah ke sana, Ageng lebih memilih untuk beristirahat. 

Selepas temannya pergi, dia mencari motor sewaan untuk esok hari. Sebenarnya pemilik rumah sudah menawarkan, tapi dia ingin mencari motor lain terlebih dahulu. Siapa tahu ada motor yang bisa disewa setengah hari, syukur kalo ada yang harganya lebih murah dari yang ditawarkan pemilik rumah.

Berjalan ke sana ke mari, dia tak kunjung menemukan tempat penyewaan motor satupun. Penanda waktu magrib yang dikumandangkan mengakhiri tenggat waktu perburuannya atas motor sewaan. Jika merujuk pada rencana awalnya, setelah solat, dia ingin mencicipi kuliner terkenal dari Belitung, Mie Atep. Mau tidak mau agar planningnya berjalan sesuai rencana, dia memutuskan kembali pada opsi awal, menyewa motor ke pemilik rumah. 

Jarak dari penginapan ke Mie Atep tidak jauh, kurang dari tujuh menit menggunakan motor dia sudah sampai. Sayangnya, Mie Atep sedang tidak buka saat dikunjungi. Menengok ke sebelah kedai Mie Atep, ada kedai juga yang lebih kecil dan tidak sebagus kedai Mie Atep. Dari luar kelihatannya dia menyajikan sajian mie juga. Ageng mencoba peruntungannya, dia masuk ke kedai itu.

Dia bercakap dengan penjaga kedai. Dari keterangan ibu penjual mie, nama kedainya Mie Acin, dengan menu spesialnya mie belitung juga. Ageng baru tahu, ternyata kuliner khas dari Belitung itu mie belitung, sedangkan Mie Atep itu adalah nama kedai yang menjual mie belitung. Selama ini Ageng mengira Mie Atep adalah nama masakannya, ya wajar memang mengingat dia tidak banyak melakukan riset. Lewat ibu itu juga Ageng diberi tahu, orang Belitung asli katanya lebih memilih Mie Acin daripada Mie Atep. Mungkin saja lidah orang Belitung merasa lebih pas atas racikan Mie Acin, tapi karena kedai Mie Acin tempatnya tidak lebih bagus dari kedai Mie Atep, jadi pamornya tidak dapat terpantau radar orang luar Belitung, begitu pikir Ageng. 

Mie belitung yang disajikan di kedai Mie Acin cukup menggoda. Di atas daun simpor yang hampir menyerupai daun jati, mie belitung yang direbus disiram dengan kuah kental dengan rasa gurih manis yang pas. Untuk melengkapinya, diberikan toping yang ramai di atas mie. Ada emping, udang, tahu, tauge, serta kentang. Tidak lupa bawang goreng ditabur untuk menambah kesedapan. Memang enak mienya, namun Ageng belum dapat memberi kesimpulan apakah Mie Acin lebih enak, karena dia belum merasakan Mie Atep. 

Setelah kenyang, dia kembali ke penginapan. Di sana teman-temannya sedang berkumpul. Ageng bergabung dengan mereka. 87% kekakuan di pagi hari sudah tereliminasi. Mereka dengan santai bertukar bahan pembicaraan hingga malam. Dan terhenti saat intereval menguap semakin tidak terkendali.

Komentar