Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rukun ke 5.1: BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 12)

Gambar
Rijal mengajakku ke penginapannya, katanya sih murah dan sudah ada air hangatnya. Siapa yang gak tertarik coba? Murah, air hangat. Pasti hilang semua pegal yang terkumpul sejak dari Wae Rebo beberapa hari yang lalu. Aku menyetujui ajakan Rijal. Semua peserta LoB keluar pelabuhan dalam waktu yang berdekatan. Kebetulan Lora menuju arah yang sama dengan kami berdua. Yang tadinya jalan santai, sekarang Rijal tiba-tiba mengambil langkah lebar-lebar dan lumayan kencang pergerakannya, aku mau tidak mau mengimbanginya. Sekarang suasananya menjadi seperti dua orang lokal pervert sedang membuntuti perempuan bule. Tinggal tambah logo brazzers di pojok kanan bawah, semuanya bakal punya makna yang sama sekali beda dengan kenyataan. Satu dua kali kami mengajak berbicara Lora, dan dia menjawab sambil semakin mempercepat jalannya, kelihatan sekali dia tidak nyaman kita buntuti. Kemudian Lora sampai lebih dulu di penginapannya, ia melambaikan tangan pada kami. Rijal yang lumayan ambisi sekarang jadi sa...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 11)

Gambar
Jam biologis membangunkanku jam empat pagi, saat yang lain masih terlelap. Melihat bule tidur seadanya begini menggelitik juga. Bayangan akan kehidupan bule yang borjuis dan penuh kemewahan lenyap, bersama dengkuran mereka yang mengangkasa. Setelah ibadah aku turun ke bawah, pengen ngopi sambil nunggu sunrise. Biasanya sih aku tidur lagi seusai salat, tapi ya masa' jauh-jauh sampai sini rutinitas tetap sama? gak ada nilai tambahnya borrr! Ditemani kopi, aku kembali menyelami hobi melamunku di haluan kapal. Kicau burung perlahan semakin ramai, bergembira menikmati udara yang lagi sejuk-sejuknya. Alam bebas menjadi katalis proses pendinginan wine arabku. Langit kebiruan perlahan dihamparkan Sang Maha Kuasa. Cahaya pagi juga sedikit demi sedikit menyibak detail-detail lansekap sekitar. Semua perpaduan itu menambah nikmat kopi instan, yang rasanya itu-itu aja. Tamu-tamu lain mulai bangun juga, lengkap dengan wajah sembab masing-masing. Pandangan kosong bule-bule itu menyiratkan nyawa ...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 10)

Hoaaaahhhh , menguap sambil menggeliat menggenapkan nikmat tidur. Tubuh terasa pegal sekali, efek motoran jarak jauh dan mendaki kemarin baru terasa pagi ini. Sekarang sudah jam setengah enam, dan jam tujuh nanti ada janjian, janjian life on board (LoB) ke Pulau Komodo, yeay!. Maunya sih ambil trip yang sehari aja, biar gak benturan sama sholat Jumat. Tapi karena salah paham sampai aku dan pemilik hostel berdebat cukup pelik, akhirnya terambillah paket dua hari satu malam. Aku mau cari makan dulu, lapar. Biarin belum mandi, paling resikonya cuma digunjing, toh aku gak kenal juga sama yang menggunjing, bodo amat lah. Keluar ke jalan, tengok kanan kiri, ah ada nasi kuning, sepertinya bisa dimakan, daripada nasi goreng kemarin malam yang rasanya adudu sekali. Kubungkus satu, lalu makan di penginapan. Selesai makan dan mandi, kebetulan pemilik hostel datang. Dia memberiku kacamata renang dan selang snorkel, tapi gak ada kaki kataknya. Gakpapa, nanti aku dayung pake kaki sendiri aja. Kem...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 9)

Gambar
Sekarang aku motoran kembali ke Labuan Bajo. Bedanya kini, aku tidak mengambil jalur sebelumnya. Aku menuju Labuan Bajo via Nangalili, jalur alternatif yang tidak terdeteksi gmaps namun -katanya- lebih cepat. Ketiga teman baruku pun berencana lewat sini, tapi mereka juga buta arah sama sepertiku. Jadi tidak ada gambaran sedikitpun mengenai medan yang akan ditempuh. Satu pedoman yang aku bisa pegang, hibah dari warga sekitar Desa Denge. "Ikut jalan menelusuri pinggir laut", begitu kata mereka. Dan memang harus dilakoni langsung untuk membuktikan, karena ketika melihat gmaps nyatanya memang tidak ada garis yang tergambar di sepanjang tepi laut itu.  Di ujung pertigaan dari arah Denge, aku mengambil persimpangan yang ke kanan. Jalannya cukup meragukan, aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah benar ini jalannya? nanti kalau ternyata tersesat gimana? dan keraguan-keraguan lain yang aku sendiri tidak bisa memecahkannya. Di saat seperti inilah slogan " Dont be a tourist, be...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 8)

Di dalam Mbaru Niang, aku melihat empat bule, tiga orang bertampang nusantara, serta satu orang bocah kecil. Kami dipersilahkan masuk oleh bapak-bapak yang mengantar tadi, dan ditunjukkan sisi rumah yang bisa kami inapi malam itu. Tidak ada kamar untuk menginap di Mbaru Niang, kami semua tidur di matras yang diletakkan di sisi terluar rumah, melingkari ruang utama. Yogi dan Adha saling bersebelahan, Akbar menaruh matrasnya di sebelah kanan Adha, terakhir aku yang kebagian berbaring di sisi paling kanan.  Baru saja selesai meletakkan bawaan kami, Yogi langsung mengeluh lapar. Ia mencari makanan untuk mengganjal perutnya sementara waktu. Untung aku masih punya roti yang dibeli siang tadi, langsung saja kutawarkan kepadanya, juga ke dua orang lainnya. Alhamdulillah masih bisa berbagi. Sayangnya, roti dirasa Yogi belum juga cukup untuk mengatasi laparnya. Dia lalu bertanya kepada penghuni asli Mbaru Niang, bisakah ia membeli makanan di rumah itu. Bapak yang ditanyai rupanya juga kebing...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 7)

"Perkenalkan, saya Ageng" sebagai anggota yang baru bergabung, aku merasa harus memperkenalkan diri lebih dulu. Yogi, Adha, dan Akbar dengan ramah membalas perkenalanku. Kini kami sudah melewati papan informasi masuk ke Wae Rebo. Yogi mengajak mampir ke sebuah bangunan tidak jauh dari papan informasi tadi, dia dan rombongannya mau solat dulu. Aku pun menunggui mereka, sambil mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Dan seusai sholat, kami mulai menapaki tanah berundak yang merupakan awal dari pendakian ini. Yoga sepertinya memang terbiasa mendaki. Dia yang memimpin rombongan ini, berjalan dengan mantap dengan keril 60L yang penuh sesak, sedang saya memilih menjadi penyapu ranjau saja. Sambil berjalan, mereka bertiga ngobrol dengan lepas, aku sesekali coba menimpali. Ingin rasanya ikut larut dalam keakraban ini, tapi belum bisa karena rasa canggung masih cukup tebal.  Ya memang wajar sih, kebanyakan orang kalau ketemu sesuatu yang baru pasti awalnya canggung. Yang ha...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 6)

Aku merasa, medan perjalanan kali ini semakin lama semakin tinggi saja. Tampak dari kabut tipis yang mulai turun, membuat bulir-bulir embun menyangkut di setiap rajutan benang jaketku. Akupun tetap melaju, karena menurutku, siang-siang begini tidak mungkin kan kabut bisa bertahan lama? Pasti akan hilang beberapa saat lagi. Beberapa kilometer selanjutnya kabut tak kunjung hilang, malah semakin tebal. Sial memang, meleset forecast kali ini. Kabut tipis tadi kini menjelma gumpalan putih yang lebih pekat, melayang rendah menutup lereng bukit di kanan kiri. Jalanan meliuk-liuk pun tidak bisa dilibas dengan akselerasi seperti sebelumnya. R anting tua berukuran tidak kecil yang beberapa kali ditemukan meregang nyawa di tengah jalan semakin meningkatkan difficulty trek Labuan Bajo-Wae Rebo. Dalam kondisi seperti ini setiap rider dituntut untuk lebih waspada. Aku pun bisa menjamin, kalaupun Marc Marquez atau Marco Simoncelli yang terkenal agresif mengemudi di trek seperti ini, pasti akan melamb...