Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 8)

Di dalam Mbaru Niang, aku melihat empat bule, tiga orang bertampang nusantara, serta satu orang bocah kecil. Kami dipersilahkan masuk oleh bapak-bapak yang mengantar tadi, dan ditunjukkan sisi rumah yang bisa kami inapi malam itu. Tidak ada kamar untuk menginap di Mbaru Niang, kami semua tidur di matras yang diletakkan di sisi terluar rumah, melingkari ruang utama. Yogi dan Adha saling bersebelahan, Akbar menaruh matrasnya di sebelah kanan Adha, terakhir aku yang kebagian berbaring di sisi paling kanan. 

Baru saja selesai meletakkan bawaan kami, Yogi langsung mengeluh lapar. Ia mencari makanan untuk mengganjal perutnya sementara waktu. Untung aku masih punya roti yang dibeli siang tadi, langsung saja kutawarkan kepadanya, juga ke dua orang lainnya. Alhamdulillah masih bisa berbagi. Sayangnya, roti dirasa Yogi belum juga cukup untuk mengatasi laparnya. Dia lalu bertanya kepada penghuni asli Mbaru Niang, bisakah ia membeli makanan di rumah itu. Bapak yang ditanyai rupanya juga kebingungan menjawab. Bisa jadi pertama kali ini beliau mendengar pertanyaan seperti itu, ditambah mereka memang tidak menjual makanan apapun. Tapi selanjutnya si bapak bilang kalau makanan akan siap sebentar lagi. Bersyukur sekali kami belum kelewatan jadwal makan malam. Aku membayangkan hidangan khas akan disajikan sebentar lagi, rasanya pasti akan epik sekali. Apalagi format penyajiannya dalam suasana candle light dinner, di sebuah rumat adat berusia ratusan tahun, imaji liarku tak lagi terbendung.

Seperempat jam kemudian semua tamu diminta berkumpul, sajian makan malam akan disiapkan. Bersandingan tiap-tiap rombongan, terbentuklah posisi elips di tengah-tengah rumah. Pemilik rumah muncul dari dapur, membawa air panas, lengkap dengan kopi, teh, dan gula. Masing-masing meracik minuman sesuai seleranya. Meski bukan penikmat kopi murni, aku memilih menuang air pada gelas yang telah kuiisi bubuk hitam tersebut. Gak ada alasan spesifik, kecuali agar lidahku setidaknya pernah merasakan minum kopi asli Wae Rebo dari asalnya langsung. Empunya rumah kembali ke dapur, menyiapkan hidangan utama. Sambil menunggu dan untuk mengisi kekosongan, pembicaraan dengan berbagai topik dibuka.

Aku lupa bagaimana persisnya, tapi yang mulanya pembicaraan hanya terjadi intra kelompok, kini menjadi pembicaraan umum dan cair antar tamu yang baru kenal kurang dari sejam. Mungkin perasaan sebagai sesama pendatang menjadikan kami punya satu hal common sehingga tidak terlalu lama untuk bisa melebur. Cerita sebelum ke Wae Rebo, background kehidupan mereka, juga beberapa selentingan banyolan menguar memenuhi rumah. Semua mencerna dan menikmati percakapan hangat ini, untung bule-bule itu bersama penerjemah.

Kini piring-piring mulai berterbangan, diletakkan di tengah-tengah lingkaran memanjang kami. Menu khas istimewa yang aku harapkan ternyata tidak ada. Adanya cuma menu default, ayam goreng, tahu tempe goreng, sambal, plus sayur labu siam. Berbeda denganku yang sekarang menatap hidangan dengan biasa saja, tatapan bule-bule itu menggambarkan antusiasme yang begitu sangat. Ya wajar sih, karena bagi mereka menu ini sudah istimewa sekali, menu khas nusantara yang tidak akan bisa mereka temui di negara asalnya. Piring kosong dioper dari satu orang ke orang di sebelahnya, lalu satu demi satu mengisi piring mereka dengan nasi dan lauk pauk. 

Suapan pertama kuisi dengan nasi, ayam, dan sambal. Hap... dan... Vakingsyit! this sambal is so damn delicious! Menu yang kuanggap biasa, berasa jadi menu restoran dengan Michelin Star. Tipikal sambal ijo biasa memang, tapi tidak pernah aku ketemu yang rasanya seperti ini. Bahkan, sambal ijo-nya Rumah Makan Padang Sederhana yang gak sederhana pun bisa dilumat habis sama sambil ijo asli Wae Rebo ini. Pokoknya enak banget, no debat lah! Setiap lauk dan sayur kusemati sedikit sambal, bahkan kalo bisa, maunya aku makan sambal dengan lauk sambal. Memuaskan sekali makan malam ini.

Beres makan malam, ada yang melanjutkan bercengkrama dengan kenalan baru, sedang beberapa wisatawan asing memilih keluar meresapi iklim dataran tinggi di malam hari, aku ikut kelompok yang kedua. Sambil menghirup udara yang segar, kami ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja. Setiap obrolan yang bisa kutangkap, aku coba menanggapinya, TOEFL-ku pun menentukan lama tidaknya aku bisa mengikuti pembicaran ini. Beberapa saat kemudian Yogi dan Adha keluar, mereka juga ingin menikmati angin malam kelihatannya.

Waktu semakin larut, bule-bule yang datang lebih dulu rupanya lelah lebih dulu juga. Mereka undur diri untuk tidur duluan. Sekarang tinggal aku dan Yogi di luar sini, Adha sudah kembali masuk sebelum bule-bule yang tadi. Yogi mengoperasikan kameranya, mencoba mendapatkan foto bintang-bintang, tema foto yang paling aku ingin punyai hingga kini. Andai saja aku memiliki gear yang mumpuni juga. Untuk kali ini, cukuplah aku mengamati cara Yogi bekerja.

Seingatku hampir jam sepuluh malam, atau mungkin lebih, kami masih di luar. Waktu enak-enak mengamati langit, tiba-tiba ada bunyi aneh, Yogi pun mendengarnya. Kami mengabaikannya dan lanjut menerawang langit. Tapi kemudian, bunyi asing itu kembali, aku menoleh ke Yogi, dan ia pun menoleh ke arahku. "Sepertinya memang waktunya kita masuk" tukas Yogi, dan aku mengiyakan. Aku tidak terlalu percaya pada hal mistis, tapi aku juga paham kalo disaat-saat tertentu memang perlu bersikap hormat pada "yang lain".

Aku berbaring, lalu menarik selimut. Angin bertiup semakin kencang. Bangunan rumah yang terdiri dari bahan organik berdecit-decit, ngeri juga kalo sampai terbang, overthinking mengganggu tidurku. Di sebelah ada Akbar yang juga belum bisa tidur. Dia guling beberapa kali, ke kanan, ke kiri, lalu ke kanan lagi, terus ke kiri lagi, mungkin sama tegangnya denganku.

"Bar, engko lek nang jeding wedi, nggugah o aku yo." tukasku.

"Ha?" timpal Akbar.

"Engko ngajak o aku lek kate nang jeding", aku menegaskan kembali.

"Ha?" Akbar belum juga bisa menangkap maksudku.

"Bar, engko lek wedi nang jeding, nggugah o aku yo!"

"Maaf, saya gak bisa bahasa Jawa."

Astaga, aku lupa kalo yang bisa bahasa Jawa itu Yogi, bukan Akbar. Aku minta maaf ke Akbar, pada saat bersamaan, di sisi lain ada suara cekikikan. Penerjemah salah satu bule yang masih terjaga mendengar percakapan ganjil kami. Ya gimana lagi? Namanya juga khilaf.

***

Suara azan tiba-tiba terdengar. Aku terbangun dan mencari sumber suaranya yang pasti dari handphone, gak mungkin dong dari surau, kan di sana gak ada. Akbar ikut terbangun kemudian, lalu memencet-mencet hpnya, dan suara azan itu hilang.

Mungkin karena campuran terlalu tegang dan kecapekan, aku yang terjaga karena gemuruh angin semalam tidak terasa langsung terlelap entah saat jam membuat sudut berapa derajat, dan bangun-bangun sudah lumayan pegal rusuk kanan ini. Di sebelah Akbar, Adha dan Yogi juga ikut bangun. Kami berempat bareng-bareng ke kamar mandi, mau pipis sekalian wudu buat solat. Airnya anyeeesss bener, ditambah angin yang masih kencang, membikin kulit yang basah terasa beku.

Seusai solat, aku dan Yogi keluar rumah, rencananya mau foto-foto sunrise. Langit masih keunguan, dan angin sudah agak sabar bertiup. Harusnya semakin lama semakin cerah, tapi tidak ada tanda-tanda kecerahan itu. Mendung tetap menggelayut, dan kabut juga masih awet disekeliling Wae Rebo. Rencana mendapatkan foto matahari terbit di Wae Rebo gagal sudah. Saya pindah ke sana ke mari memutari desa yang tidak terlalu luas ini, berusaha menghapus kecewa karena tidak tercapainya ekspektasi. Hingga beberapa saat kemudian, ketika Wae Rebo masih belum terang-terang banget sedang semua elemen sudah bisa terlihat dengan jelas, aku mendapati suasana yang sulit digambarkan, kondisi yang bisa dikatakan "magical".

Wae Rebo yang bersahaja, dikelilingi kabut tipis pada lingkaran terluarnya. Tampak selendang putih membelai perbukitan di sekeliling. Angin bertiup sepoi-sepoi, seperti memberi energi baru bagi siapapun yang menghirupnya. Aku mengamati semuanya dengan takjub. Apakah ini bentuk sambutan dari para leluhur? Aku hanya bisa mengandai-andai.

Ketika drama istimewa tadi selesai, baru satu per satu tamu keluar dari Mbaru Niang. Sungguh sayang sih melewatkan kesempatan menikmati pagi di Wae Rebo yang entah kapan lagi bisa dirasakan. Kami ngobrol dengan penduduk yang mulai beraktivitas. Aku juga menceritakan tentang longsor yang menutupi akses utama ke sini. Si bapak yang kucurhati rupanya mau membantu untuk membereskan jalan, sekalian dia juga akan ke desa bawah katanya.

Lalu makan pagi sudah siap, kami berkumpul lagi di rumah seperti makan malam kemarin. Menu kali ini juga nikmat, agak sedikit berbeda namun tidak kalah dengan makan malam sebelumnya. Tidak lupa aku kembali meracik kopi setelah menyelesaikan sarapan. Usai semua dibereskan, kami menyelesaikan urusan administrasi penginapan sambil melihat-lihat produk asli Wae Rebo.

Aku, Akbar, Adha, dan Yogi kembali keluar, melanjutkan bermain-main di sini. Para bule memilih turun lebih dulu, mereka berencana akan ke Sumba setelah ini. Kami semua bersalaman, mengucapkan sampai jumpa dan mendokan agar mereka sampai dengan selamat.

Tidak sampai setengah jam kemudian, aku tiba-tiba pengen kembali ke Labuan Bajo juga. "Kalau balik jam segini, dan dapat kapal, sepertinya masih ada kesempatan buat life on board ke Pulau Komodo" entah darimana pikiran itu terbesit tanpa aku  rencanakan.

Sebenarnya masih pengen berlama-lama di Wae Rebo, tapi sayang juga rasanya kalo melewatkan kesempatan menjelajah Pulau Komodo. Kupaksa diri ini untuk cukup, kemudian berpamitan pada tiga teman baru itu. Semoga kapan-kapan kita bisa bertemu lagi.

Aku berjalan sendiri, menyusuri jalur kemarin sore. Aku berjalan lebih cepat dari kemarin, mungkin karena sendirian, dan juga sekarang medannya menurun. Kulewati daerah yang kemarin longsor, yang kini telah bersih sebersih-bersihnya, seperti tidak terjadi apapun kemarin, cuma ranting-ranting kecil yang berserakan, jalannya juga masih utuh. Aku menyimpulkan kalo kemarin kami saja yang kurang pengalamannya dan terlalu suudzon, menganggap jalan sudah ambrol tidak berbekas. Atau, kesimpulan yang kedua, lagi-lagi faktor di luar nalar manusia yang berperan, entahlah. Aku jalan lagi, kadang juga berlari-lari kecil karena jalanan menukik turun.

Di pos pertama, aku sampai tidak lama setelah rombongan wisman itu tiba juga di sana. Mereka sedang beristirahat, sambil menunggu mobil jemputan. Aku beristirahat juga, lumayan juga downhill tadi. Tiba-tiba aku ingin berfoto bersama mereka, padahal aku tipe pemalas sekali untuk foto. Berfotolah kami, lumayan kan bisa ada bukti valid. Setelah mobil jemputan tiba, mereka pamit kepadaku dan melanjutkan perjalanan, sedangkan satu bule yang lain yang berbeda rombongan terus berjalan bersama penerjemahnya, bisa jadi mobilnya ia parkir di bawah. Aku juga beranjak kembali ke Labuan Bajo, membonceng warga Wae Rebo yang aku ajak ngobrol tadi pagi. Daripada beliau jalan kaki, dan lumayan juga kan kalo bisa membantu orang lain.

Komentar