Day One
Dulu aku membayangkan akan menangis sedu di hari ini. Setelah penantian lama dan luka berbagai bentuk, akhirnya bisa juga sampai pada tahapan hidup kali ini. Tapi... itu semua cuma angan-angan, jauh sekali kenyataan dengan realitanya. Mari kembali ke linimasa beberapa waktu yang lalu. Umur yang sudah melewati masa quarter life crisis membuatku merasa tidak perlu merayakan yang terlalu megah. Ada sedikit keinginan memang ketika melihat teman-teman yang dirayakan, tapi syukuran kecil-kecilan sudah cukup menurutku, insyaallah barokah. Setelah aku menanyakan kesediaan mereka menerimaku, maka aku mengajak bapak, ibu, serta Bela untuk berkunjung ke rumahnya. Tak lama kemudian kunjungan pun berbalas, lalu dilanjutkan penentuan hari untuk akad nikah. Itu saja sudah, tidak ada dekor lamaran, fotografer khusus, atau acara semat cincin. Perjanjian semacam gentleman agrrement , omongan tuwo kalo kata orang sini. Lalu sampailah pada hari ini. Hanya ada Bapak, Ibu, bude dan bulik beserta suami,...