Postingan

Pertanyaan "Kapan Menikah" Itu Bukan Ajakan Perang

Sebagai awalan saya ingin mencantumkan sangkalan ( disclaimer ), jika tulisan ini saya buat ketika masih dalam proses membuktikan Quran surat An-Nur ayat 26. Jadi sudut pandang yang saya ambil kali ini murni dari subyek yang menerima pertanyaan. ~ Sebenarnya fenomena keluhan pertanyaan basa-basi, yang seringkali (dianggap) menyakiti subyek yang ditanya ini agaknya telah menjelma jadi sebuah topik abadi. Sejak saya kenal internet sekitar tahun 2010-an, topik ini timbul tenggelam di dunia maya, dengan siklus puncak pembahasannya memang ketika mendekati hari raya idulfitri.  Pertanyaan kapan menikah kepada orang yang belum menikah, kok gemukan kepada orang yang sedang program diet, kapan punya anak pada keluarga yang sedang berusaha, kapan lulus pada mahasiswa yang tertekan skripsi, dan pertanyaan-pertanyaan senada yang cukup tendensius hampir selalu merepotkan yang ditanya untuk memberikan respon. Mayoritas akan memilih diam meski harus menahan lara, sedang segelintir pencilan memili...

Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part Finale)

Gambar
Seperti perjalananku sebelum-sebelumnya, aku selalu antusias jika sudah mencapai hari terakhir. Mungkin ini dianggap tidak normal bagi sebagian orang karena tujuan liburan adalah untuk bersenang-senang. Sedang aku kebalikannya, senang ketika telah pulang. Bukan tanpa alasan, aku punya pendapat sendiri tentang hal ini. Ketika siapapun pergi dari rumah dalam waktu yang lama, maka perjalanan itu sesungguhnya menjadi penegas jika tidak ada tempat ternyaman selain rumah sendiri. Memang tidak semua bisa setuju dengan pendapatku, lebih-lebih jika ada sekian faktor yang membuat rumah hanya menyenangkan untuk dibuat tidur, tidak lebih. Nah karena aku merasa rumahku adalah istanaku, selalu ada kegembiraan ketika bisa kembali ke sana. Seindah-indahnya tempat lain, senyaman-nyamannya kota lain, masih lebih menyenangkan tinggal di Ngantang. Karena jadwal pesawat siang, kami punya insentif untuk tidak terlalu terburu-buru. Maka,  spare  waktu yang tersedia kami gunakan sebagai perayaan tera...

Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 7)

Gambar
Sampai pagi tidak ada apapun yang mengusik tidurku. Tidak ada itu punya dua makna, tidak ada karena memang beneran tidak ada, atau bisa jadi ada tapi karena saking lelahnya sampai terasa tidak ada. Bodo amat lah, yang penting kami bisa istirahat maksimal. Penyebutan "kami" karena aku bisa memastikan tidak ada yang mengusikku, sedang sumber keyakinanku jika Imad sama tidak diganggunya adalah semata karena pandangannya tetap sama sejak hari pertama, tidak tergambar sedikitpun beban tambahan yang dipikulnya. Sudah jauh-jauh ke Senggigi akan sangat disayangkan jika tidak mengabadikan momen. Kami memilih signage bertuliskan SENGGIGI warna hijau menyala di pinggir jalan, sebagai penanda kami pernah menapaki kawasan itu. Sengaja kami tidak menuju ke pantai karena dari lokasi monumen huruf itu sudah sedikit terkuak bentukan dari Pantai Senggigi. Dan dari pandangan itu pula, sepertinya pantai Senggigi tidak sebagus pantai-pantai lain di bagian selatan. Pernah sampai di Senggigi Aku p...

Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 6)

Gambar
Kami bangun pagi sekali pada hari Jumat itu. Hari yang pendek ditambah masih lumayan bejibun utang tujuan destinasi mendorong kami agar tidak bermalas-malasan di kasur, disamping memang kamar murah yang tidak terlalu  cozy  untuk goleran. Setelah mengembalikan kunci penginapan ke pemilik rumah dan pamit, kami menuju garis start, warung makan. Makan adalah faktor penting yang harus sangat diperhatikan ketika perjalanan panjang. Dari yang sudah-sudah, aku hampir saja tumbang gara-gara melewatkan makan. Kadang karena terlalu berburu keindahan tanda-tanda melemahnya badan menjadi tidak terasa, dan ketika sadar sudah sangat telat untuk mendapatkan tambahan imun dari makanan. Kembali menyusuri  bypass  Mandalika untuk mencari warung selain warung kemarin malam. Beruntung kami bertemu dengan kedai nasi padang. Sesalah-salahnya nasi padang, aku kira tidak akan terlalu salah seperti halnya rawon di Jakarta. Maka pagi itu aku pilih lauk paru goreng, dan itulah paru goreng terb...

Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 5)

Gambar
Dari Mataram,  itinerary  berikutnya tidak terlalu terpaut jauh. Kami pun tak risau gedebak-gedebuk dikejar matahari mempersiapkan hari dengan lekas. Santai saja. Usai sarapan petualangan kami lanjutkan. Titik pertama yang akan dikunjungi adalah museum negeri NTB, kebetulan tidak terlalu jauh dari penginapan. Knalpot motorpun tidak sampai sampai hangat ketika kami sudah ada di depan gerbang masuk museum. Sayangnya karena terlalu pagi, penjaga loket tak kelihatan batang hidungnya, dan kami belum berkesempatan untuk masuk. Karena masih ada beberapa hari lagi di Lombok kami putuskan untuk melewatkan museum terlebih dahulu, dan meneruskan perjalanan menuju air terjun Benang Kelambu. Lain hari kami akan kembali. *** Banyak sekali memang air terjun di Lombok, dan hampir semua terkonsentrasi di sekitar kaki gunung Rinjani. Begitu pula air terjun Benang Kelambu. Berposisi masuk ke daerah pedesaan jauh dari pusat kota Mataram, Benang Kelambu lumayan sulit kami temukan karena  gmap...