Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 6)
Kami bangun pagi sekali pada hari Jumat itu. Hari yang pendek ditambah masih lumayan bejibun utang tujuan destinasi mendorong kami agar tidak bermalas-malasan di kasur, disamping memang kamar murah yang tidak terlalu cozy untuk goleran.
Setelah mengembalikan kunci penginapan ke pemilik rumah dan pamit, kami menuju garis start, warung makan. Makan adalah faktor penting yang harus sangat diperhatikan ketika perjalanan panjang. Dari yang sudah-sudah, aku hampir saja tumbang gara-gara melewatkan makan. Kadang karena terlalu berburu keindahan tanda-tanda melemahnya badan menjadi tidak terasa, dan ketika sadar sudah sangat telat untuk mendapatkan tambahan imun dari makanan.
Kembali menyusuri bypass Mandalika untuk mencari warung selain warung kemarin malam. Beruntung kami bertemu dengan kedai nasi padang. Sesalah-salahnya nasi padang, aku kira tidak akan terlalu salah seperti halnya rawon di Jakarta. Maka pagi itu aku pilih lauk paru goreng, dan itulah paru goreng terbesar yang pernah aku makan sepanjang hidup. Lebarnya hampir seukuran dua kali telapak tanganku boi! Edan!!!
***
Lombok terkenal dengan pantai-pantainya yang indah, dan dari sekian banyak pantai indah hampir sebagian besar terkumpul di sebelah selatan. Jarak antar pantai yang tidak jauh adalah anugerah, jadi bisa sekalian mengunjungi beberapa pesisir ikonik dalam sekali jalan.
Kami tidak langsung bermotor ke arah barat yang menjadi arah ke Mataram, tapi malah kembali ke arah timur terlebih dahulu. Di sana ada pantai Tanjung Aan yang belum sempat kami kunjungi meskipun sebelahan dengan Bukit Merese. Terlalu gedebak-gedebuk kemarin sore berlomba dengan sunset membuat kami belum sempat mampir Tanjung Aan.
Ke timur dulu baru ke barat berarti dua kali jalan, dan itu membuang-buang waktu. Tapi aku berprinsip lebih baik menyesal pernah mencoba daripada berangan-angan tanpa tahu jawabannya. Aku ke timur dengan sedikit malas.
***
Sampai di Tanjung Aan suasananya sangat sepi, sepi sekali. Benar-benar hanya aku dan Imad. Tidak lama kami berhenti di sana lalu berpindah ke pantai selanjutnya. Bukan karena takut sepi, lebih ke malas aja dianggap homo karena dua lelaki berlibur mencari tempat sepi.
Pemberhentian selanjutnya adalah Kuta Mandalika. Kami pun sempat kembali melewati proyek sirkuit Mandalika. Kali ini dengan pemahaman yang lebih memadai, aku jadi bisa membayangkan diriku mengaspal di salah satu sirkuit terbaik dunia. Berangan-angan saja tentu boleh, masalah praktek nyata sudah tak terhitung berapa lap aku balapan di jalanan Pait Kasembon, "sirkuit" tempat menempa talenta-talenta terbaik rider Malang Barat.
Kuta Mandalika sangat berbeda dari pantai-pantai lain yang sebelumnya kami kunjungi. Di sana lebih tertata, dengan bangunan dan tata letak yang terkonsep secara paripurna. Jalan aspal dan pedestrian paving tidak ada yang menonjol atau jengjet, mulus rata bebas sandungan. Sampah juga tidak terlihat, sepertinya sekalipun ada daun kering akan langsung dihalau oleh pasukan oranye yang hilir mudik dan stand by di titik-titik krusial. Semacam intel tapi untuk sampah mereka itu.
Namun, sepertinya yang berlebihan memang tidak selalu baik. Saking baiknya, unsur naturalnya yang jadi terkikis. Selain bibir pantai dan laut yang masih dibiarkan sebagaimana adanya, sepertinya tidak ada yang luput dari sentuhan manusia. Sampai-sampai ada tulisan "Kuta Mandalika" yang tinggi satu hurufnya setara dua kali tubuhku. Tulisan yang tidak ada faedahnya dan hanya mengotori alam. Ironisnya sebenci apapun, aku akan tetap foto di depannya untuk kenang-kenangan. Aku dan tulisan-tulisan semacam itu seakan memiliki love-hate relationship.
Oh iya ada satu lagi yang tidak harus ada di suatu tempat wisata tapi nyata-nyata tidak pernah absen dimanapun. Tidak lain dan tidak bukan adalah pedagang asongan. Para pedagang itu adalah lebah, dan tempat wisata adalah ladang bunga. Maka seyogianya hubungan antara lebah dan bunga, keduanya pun memiliki simbiosis (yang kadang) mutualisme. Pedagang-pedagang itu ada yang membawa anak, ada yang ikut kemanapun pelancong bergerak, ada juga yang membawa dagangan sebanyak yang bisa dibawa oleh badan. Sebagian turis senang dengan kedatangan para pengasong ini karena mereka cenderung menjual barang lebih miring dan dapat ditawar daripada official store, sedang yang lain -dan itu tidak sedikit- menganggap presensi mereka kurang esensial. Tidak salah jika mereka ini kerap dianggap mengganggu, tapi sedikit berempati dengan memahami bagaimana mereka mencoba mendapatkan rezeki yang halal menurutku sebuah ejawantah kemanusiaan. Kami beruntung memiliki tampang yang tidak tourist-able, jadi ketika kami menolak tawaran dengan halus mereka langsung mencari target baru. Mungkin di benak mereka ada pikiran "tidak elok memaksa sesama orang susah".
Aku lebih kagum dengan fasilitas penunjang Kuta Mandalika daripada pantainya sendiri ketika beranjak pergi. Sedemikian serius pembangunan di sini, sampai-sampai kesan eksklusif bisa membuat gentar bagi penikmat rekreasi sederhana. Aku pun tidak mengerti mengapa bisa kesan seperti itu tergambar di kepalaku. Ketika kucoba membandingkan dengan Bali pun masih terasa ganjil ekslusivitas yang aku temui.
"Ah biar saja, asal bapak senang lah!" batinku ketika meninggalkan area Kuta Mandalika.
Pemberhentian berikutnya dua pantai berturut-turut, Pantai Mawun dan Pantai Selong Belanak. Kedua pantai ini sama indahnya. Tidak banyak perbedaan karena sama-sama menghadap Samudera Hindia, tapi lanskapnya memberi kisah yang tidak sama. Kami yang memutuskan tidak berenang hanya mampir sebentar saja di kedua pantai tersebut, dengan menghabiskan waktu lebih lama di Pantai Selong Belanak. Kenapa lebih lama? Karena ada obyek foto yang menarik bagiku. Dua perempuan bergamis lebar bermain dan berswafoto di pinggir pantai. Sebuah pemandangan yang jarang aku temui. Bahkan aku menemukan tiga kata lucu di sana, "Perempuan cadar selfie". Jika dipikir lagi tidak ada satupun aturan yang dilanggar ketika selfie dengan memakai topeng, tapi kadang otakku tidak bisa mencerna sesuatu seperti kebanyakan orang normal. Ada saja sekelebat bisikan gaib yang mencetuskan pertanyaan-pertanyaan ba dum tss di dalam isi kepala ini.
Lagi-lagi diingatkan oleh Jumat. Kami meneruskan perjalanan.
***
Air terjun Pantai Nambung adalah destinasi pepantaian terakhir kami di selatan. Dari internet terlihat menawan ada air terjun di pinggir laut, dan itulah satu-satunya alasan kami mengunjungi lansekap alam yang satu ini. Tidak ada kendala berarti menuju ke sana, kecuali jalanan yang lebih tidak baik dibanding jalanan Lombok kebanyakan. Bagian rute terjeleknya adalah jalan seukuran satu mobil plus satu motor yang berkelok dan menanjak.
Sempat sedikit kebablasan karena tidak ada petunjuk arah menuju pantai Nambung, sedang orang-orang pun tidak mengenali pantai yang kami sebut. Sukar dipahami ketika warga lokal tidak mengetahui pantai yang berada di wilayahnya. Khusnudzonku, sepertinya ada beda penyebutan antara warga lokal dengan warganet untuk menyebut suatu obyek yang sama. Perbedaan semacam ini tidak jarang terjadi, seperti ia yang dipanggil teman oleh seseorang, dan sayang oleh orang yang berbeda.
Aku membaca peta secara manual, lalu memutuskan berhenti di sebuah perkampungan terdekat dengan pantai Nambung. Karena tidak ada parkir, kami menitipkan motor ke salah satu rumah penduduk. Agaknya karena saking tidak terkenalnya pantai Nambung ini membuat pengelolaan juga menjadi lesu. Menurut informasi dari anak yang sempat kami jumpai, air terjun tujuan kami ada di belakang sebuah bukit yang bisa terlihat dari kampung. Ia menambahkan, siapapun yang ingin mengunjungi air terjun perlu berjalan menyusuri pantai sampai di ujung, hingga nanti bertemu kaki bukit. Aku mengeker ujung pantai yang menempel di kaki bukit. Kutaksir panjang pantai, sepertinya masih cukup waktu sebelum waktu sholat Jumat tiba.
Aku dan Imad mulai berjalan di atas pasir, Imad lebih memilih bagian atas pantai, sedang aku berubah-ubah semauku saja. Jalan kaki ini semacam ritual setiap kali kami tiba di suatu pantai, dan hal serupa telah kami lakukan sejak dari pink beach. Tapi lama kelamaan kepayahan mulai terasa. Memang baru kali ini kami berjalan agak lama di pantai. Kombinasi pasir yang sulit dipijak dan matahari yang hampir di atas kepala semakin menguras stamina. Dari gestur Imad mulai ada tanda-tanda keenganan untuk menurutkan jalan kaki. Aku kembali menimang-nimang pilihan, apakah layak menukar solat Jumat dengan air terjun yang belum dimengerti seberapa cantik view-nya ini? Sebelumnya Imad ketika kutanya apakah mau mengambil rukhsah musafir agar bisa skip Jumatan, jawabannya lebih berat kepada solat Jumat.
"Mad, balik aja apa ya? Nanti biar keburu buat solat Jumat" kataku setelah berjalan mendekati Imad.
"Iya mas", lalu kami berputar haluan. Melewatkan satu destinasi bukan masalah yang perlu disesali. Meskipun tidak sampai melihat dengan mata kepala sendiri, aku sedikit banyak mendapat gambaran air terjun dimaksud dengan mereka-reka suasana sekitarnya. Semua bayangan indah yang kuimajikan dalam kepala sudah cukup membuatku puas.
Ketika hampir sampai perkampungan, aku dan Imad kembali berjumpa dengan anak yang kami tanyai sebelumnya. Ia melempar tatapan sedikit heran, seakan-akan berkata "cepat sekali orang ini sudah balik dari air terjun".
***
"Masih bisa ini Mad, lanjut lagi ya?" tanyaku kepada Imad saban bertemu dengan masjid. Kami berdua dalam misi mencari masjid untuk solat Jumat, dengan catatan sebisa mungkin menyingkat dengar kutbah pertama sehingga waktunya bisa dipakai mengais jarak demi jarak.
"Bentar Mad, dikit lagi bisa ini", aku kembali mengulur waktu ketika menemui masjid lain. Tidak serampangan juga sih melewatkan masjid-masjid itu. Aku berpedoman dengan waktu dhuhur setempat dan juga keramaian di masjid, untuk mengukur seberapa mepet kami dengan penyelenggaraan solat Jumat.
Hingga sampailah di suatu perkampungan kami menemukan sebuah masjid, perkampungan yang sangat jauh dari hiruk pikuk lalu lintas. Di dalamnya sudah penuh para lelaki duduk diam mendengarkan ceramah. Ada juga sebenarnya yang berisik, tapi cuma anak-anak. Di manapun kegaduhan bocah sewaktu Jumatan sepertinya tidak berbeda. Kami memutuskan untuk solat Jumat di masjid itu, karena jarak dari masjid sebelumnya lumayan jauh dan diperkirakan masjid selanjutnya juga akan sejauh itu pula.
Usai berwudhu, aku mengambil tempat di teras luar. Islam sebenarnya tidak membedakan siapapun dari atribut jasmani pada saat menghadap Allah, tapi rasanya akan lebih pas bagi warga lokal atau setidaknya yang memakai baju gamis untuk mengisi ruang utama masjid. Pendatang kucel sepertiku tidak masalah berada di teras, asal bisa ikut solat Jumat.
Rupanya rangkaian solat Jumat baru dimulai. Khatib menyampaikan pesan-pesan dalam bahasa arab. Salah satu pesan yang dapat kutangkap adalah pesan ketakwaan, yang memang menjadi salah satu rukun khutbah. Tapi setelahnya aku dibuat bertanya-tanya. Panjang sekali pesan dalam bahasa arab yang disampaikan, tidak seperti pesan-pesan yang biasa kudengar di masjid sekitaran Jawa Timur. Sampai ujungnya khatib tiba-tiba duduk sebagai penanda usainya khutbah pertama. Aku pun menduga-duga kenapa pak khatib menyampaikan pesan dalam bahasa arab. Kemungkinannya dua, yang pertama memang orang kampung situ sudah fasih bahasa arab semua, sedang kemungkinan kedua adalah pak khatib hanya fokus menyampaikan rukun-rukun khutbah saja. Yang benar yang mana aku pun tak tahu, tahuku hanya kami sudah selesai mengikuti solat Jumat.
"Mad, tadi khatibnya cuma ngomong bahasa arab kan?" usai solat aku coba konfirmasi kepada Imad yang memang santri beneran pondok pesantren, bukan pesantren kilat.
"Iya mas, sepertinya tadi cuma disampaikan rukun-rukunnya aja" jawab Imad. Dan jawaban itu mengkonfirmasi salah satu hipotesisku.
***
Kami terus saja menghabiskan kilo demi kilo di jalan raya menuju ke utara. Dari pencarian singkatku sebelum terbang ke Lombok dan mencontek jadwal perjalanan yang disediakan open trip, Senggigi menjadi salah satu destinasi yang tidak terpisahkan dari Lombok. Tapi kami tidak langsung ngebut ke sana, karena melintasi Mataram sekalian kami coba kuliner andalan yang tersedia. Salah seorang teman kantor menuturkan, sate rembiga Ibu Sinnaseh adalah salah satu andalan dibanding sate rembiga lainnya. Kami berdua sepakat makan siang di sana. Sepertinya rasa sate yang dimakan langsung di tempat akan berbeda dibanding ketika menjadi oleh-oleh.
Yang sebelumnya banyak menghabiskan waktu melewati hutan dan laut, sekarang giliran daerah dengan peradaban memadai yang kami lalui. Jalanan yang kami lewati siang itu semakin mengukuhkan penilaianku bahwa hampir tidak ada jalanan jelek di Lombok. Aspal yang mulus dan lurus terbujur berkilo-kilo meter. Tidak banyak persimpangan berarti tidak banyak juga lampu lalu lintas, merayu siapapun untuk menjajal kecepatan maksimum kendaraan yang ditumpanginya.
"Mad, aku coba ngebut ya?" ijinku ke Imad meskipun sudah tahu ia bakal menjawab apa.
"Terserah mas", singkat, padat, gas!
Vario mungil itu meningkat kecepatannya secara gradual. Sampai 70 km/jam masih bisa normal percepatannya karena memang standar kecepatan motor rata-rata segitu. Setelah 70, kecepatan hanya bisa bertambah sedikit demi sedikit. 72, 74, 77, 80, 82, jarum speedometer pelan-pelan bergerak ke kanan. Pada angka 90 mesin sudah merintih secara konstan, tapi getaran bodi masih stagnan. Ngeeenggggg, bunyi motor matik sejuta umat itu terdengar semakin nyaring seiring bertambahnya kecepatan. Barulah ketika hampir menyentuh 100 aku langsung longgarkan tuas gas, sudah cukup segitu saja. Terasa sekali riangnya karena sudah pernah merasakan kenyamanan jalan utama di Lombok ini. Imad di belakang kembali membuka matanya lebih lebar, setelah sebelumnya memicingkan mata agar tidak terkena angin. Untung saja hanya kaca helmnya yang absen, jika sampai helmnya yang tidak ada entah seperti apa bentuk kepala Imad.
Akhirnya usai melewati sedikit keramaian, kami berhenti di warung sate rembiga Bu Sinnaseh. Aku baru tahu jika Rembiga itu nama daerah, setelah melewati pangkalan udara TNI AU dengan tulisan besar "REMBIGA" di muka. Aku kira sebelumnya rembiga itu jenis satenya, duh!
Banyak pengunjung di sana menandakan kabar dari temanku memang valid. Kadang berapapun reviu di gmaps, tidak lebih dapat dipercaya seperti ulasan langsung dari orang yang kita kenal. Kami mengambil meja di bagian belakang warung, yang jauh dari orang-orang dan dekat dengan kipas. Tak lama kemudian pelayan datang membawa lembar menu. Tentu saja kami memesan sate rembiga, dengan tambahan plecing kangkung dan minuman sebagai pelengkap.
Tidak butuh waktu lama menunggu karena api panggangan tidak pernah mati. Asap bakaran sate terbang kemana-mana, sampai-sampai membuat dalam ruangan ikut ngebul. Sudah melewati jam makan siang menjadikan kami lapar betul, dan langsung melahap hidangan secepatnya setelah pramusaji pergi.
Boom!!! Pada tusuk sate pertama, pada gigitan awal, ketika lidah bersentuhan dengan daging sate itulah sensasi eureka kurayakan. Ledakan rasa sate yang sangat berbeda menari-nari di atas lidah. Bahan utamanya daging ayam, pun bumbunya bumbu kacang, tapi perpaduannya terlalu berbeda dengan sate kebanyakan. Perpaduan yang sulit dijelaskan, bahkan sate madura atau sate ponorogo yang sajiannya mirip sulit kutemukan kesamaannya. Tapi aku juga tak menampik ketika ada kemungkinan bias pada sensasi yang kurasakan, bisa jadi karena lapar sehingga makin menambah kenikmatan. Yang pasti, sate rembiga jauh lebih nikmat jika disantap langsung setelah dibakar di tempat asalnya, dibanding ketika disajikan sebagai oleh-oleh.
***
Langit mendung tidak bisa menghentikan insan yang perutnya kenyang seperti kami. Abdomen terisi berarti aspal siap untuk kembali disusuri. Kami meninggalkan area kota untuk melipir menuju Senggigi.
Sampai Senggigi sudah lumayan sore. Waktu kami sedikit terbuang karena harus wara-wiri mencari hotel murah yang sudah kupesan sebelumnya. Hotel tujuan kami sebenarnya terletak di tepi jalan raya persis, dan ukurannya cukup besar tidak seperti penginapan yang kami pilih sebelum-sebelumnya. Benar-benar hotel lah. Tapi aku sendiri kurang yakin ketika pertama kali melihat hotel itu. Hotelnya terlihat kusam, tidak ada hawa menyenangkan yang lazim ada di setiap hotel. Ternyata hotel suram yang ada di film-film itu ada di dunia nyata! Karena sudah dipesan dan sudah terlalu malas untuk mencari penginapan lain, kami masuk ke resepsionis hotel yang ada di depan, sebuah gedung terpisah dengan bangunan utama hotel.
Aku bertanya kepada seorang perempuan yang sedang berjaga, "Mbak, saya mau konfirmasi pesanan kamar dari aplikasi."
"Oh iya mas, tunggu sebentar ya", tak lama kemudian ia memanggil temannya, "Mas nanti ikut mas ini ya biar diantar ke kamar."
"Terima kasih mbak". Lalu laki-laki tadi memberi isyarat sambil berucap pendek agar mengikutinya.
Menuju kamar aku melihat banyak ruangan lain yang kosong. Ada beberapa yang terisi di lantai dasar, selebihnya aku tidak merasakan ada kehadiran orang lain di sana. Secara keseluruhan penataan di dalam bangunan semakin memperkuat kesanku di awal. Ubin merah kecil-kecil yang menempel di tembok membawa kenangan rumah-rumah orang kaya medio 2000-an ketika kukunjungi waktu lebaran. Cat warna kuning sedikit krem lumayan padu dengan ubin merah tadi, ditambah lis tembok pembatas balkon warna coklat tua semakin mempertebal imej kuno di hotel itu.
Setelah mempersilakan kami masuk ke kamar, laki-laki tadi tidak banyak memberikan penjelasan tambahan, hanya perkataan standar room service. "Berarti aman hotel ini, insyaallah" kucoba mengafirmasi diriku sendiri.
Ruang kamar ber-tone sama dengan display hotel. Baunya tidak sewangi hotel di kota-kota besar, tapi juga tidak apek mengingat suwung-nya kamar. Imad membereskan bawaannya dengan santai, tidak ada perubahan dari raut mukanya. Aku mencoba meniru Imad, menampik jauh-jauh suudzon dari hati dan tidak perlu merisaukan apa yang tidak mewujud nyata di depanku. Kalaupun, sekali lagi kalaupun ada sesuatu yang janggal, setidaknya ada Imad yang bisa menjadi tameng, kan dia dari pondok.
Setelah gelap kami mencari makan di dekat hotel. Tidak banyak warung berjualan makan, malah lebih banyak warung dengan sponsor Bir Bintang. Tentu saja kami mencari makanan yang kami mengerti, malas sekali harus berspekulasi makan menu baru dengan kondisi jauh dari mana-mana.
Perut kenyang, tidur nyaman.



Komentar
Posting Komentar