Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 7)

Sampai pagi tidak ada apapun yang mengusik tidurku. Tidak ada itu punya dua makna, tidak ada karena memang beneran tidak ada, atau bisa jadi ada tapi karena saking lelahnya sampai terasa tidak ada. Bodo amat lah, yang penting kami bisa istirahat maksimal. Penyebutan "kami" karena aku bisa memastikan tidak ada yang mengusikku, sedang sumber keyakinanku jika Imad sama tidak diganggunya adalah semata karena pandangannya tetap sama sejak hari pertama, tidak tergambar sedikitpun beban tambahan yang dipikulnya.

Sudah jauh-jauh ke Senggigi akan sangat disayangkan jika tidak mengabadikan momen. Kami memilih signage bertuliskan SENGGIGI warna hijau menyala di pinggir jalan, sebagai penanda kami pernah menapaki kawasan itu. Sengaja kami tidak menuju ke pantai karena dari lokasi monumen huruf itu sudah sedikit terkuak bentukan dari Pantai Senggigi. Dan dari pandangan itu pula, sepertinya pantai Senggigi tidak sebagus pantai-pantai lain di bagian selatan.

Pernah sampai di Senggigi

Aku punya ide untuk kembali mengunjungi museum negeri NTB, membayar utang kesempatan pertama kami tempo hari. Maka pergilah kami kembali ke Mataram. 

***

Setelah jauh berkendara, setelah berhenti di depan gerbang, lagi-lagi zonk yang kami dapatkan! Tidak melihat dan mencari tahu bagaimana operasional museum negeri NTB, membuat kami kecewa dua kali dalam rentang waktu tidak terlalu jauh. Museum itu tutup saban hari Sabtu dan Minggu. Pagar teralispun membisu bergeming tak mengiba kami yang dari jauh. Jadi kesimpulannya kami harus rela tidak dapat mengunjungi museum sama sekali, karena esok hari jadwal kepulangan telah tiba.

Aku tidak terlalu risau dengan kegagalan perkara museum itu, karena masih ada tujuan selanjutnya ke Desa Sukarara, salah satu desa wisata di Lombok. Dari pusat kota Mataram lumayan berjarak hingga sampai ke Sukarara. Ya namanya liburan, aku berusaha menikmati apapun yang terjadi. Jalan jauh tak jadi masalah, jarak dekat alhamdulillah. Kehujanan ya senyum, kalo pas terang ya tidak mungkin tidak tertawa. Intinya dibawa senang saja, meskipun tidak dapat kupungkiri perjalanan delapan hari lebih banyak terasa serangan psikisnya ketimbang fisik.

***

Akhirnya kami tiba di desa Sukarara setelah sekitar sejam kurang bermotor. Titik peta sudah benar menunjukkan kami ada di dalam area desa Sukarara, tapi aku tidak melihat tanda-tanda desa wisata. Memang benar di pinggir jalan terlihat banyak orang yang menenun kain sesuai dengan julukannya sebagai desa tenun. Tapi tetap saja, di mana letak wisatanya? Melihat kain-kain tenun tersampir di pinggir jalan bukan wisata menurutku. Itu sama saja dengan melihat kopi yang dijemur di sekitar rumahku di Ngantang.

Sepertinya memang hari Sabtu itu hari terkelabu dalam rangkaian perjalanan. Sudah tiga tempat yang kami kunjungi belum bisa memuaskan hatiku. Tapi tak ada guna juga apabila dibiarkan berlarut-larut karena hanya akan menambah lunglai dan dongkol. Aku menyerahkan segala harapan pada destinasi terakhir hari itu, ke Narmada.

***

Mega masih mendung, tapi tidak terlampau gelap untuk dikhawatirkan hujan. Mendekati Narmada aku lumayan skeptis, sepertinya kesialan hari ini akan bertambah jumlahnya. Persimpangan pasar yang cukup besar tanpa pengaturan memadai, dan lalu lintas yang tidak rapi akan membuat kikuk para pendatang baru. Aku beruntung sudah menghabiskan banyak waktu di jalanan, bukan masalah besar untuk melewati ketidakteraturan itu.

"Apa ini? beneran ada tukang jualan baju di depan pintu masuk?", aku agak keheranan ketika bertemu dengan penjaja souvenir di depan pintu masuk Narmada. Setelah berjalan sedikit lagi, ternyata aku sudah salah sangkaPintu yang ada penjual souvenir itu cuma dapat diakses oleh elemen internal Narmada saja, bukan pintu masuk pengunjung. Akses masuk untuk umum ada di sebelahnya. 

Setelah membeli karcis dan masuk, gundah yang melingkupi hati sirna. Tujuan terakhir ini menjadi pelipur lara atas kesialan-kesialan sebelumnya. Meskipun tidak yang sangat wah, tapi Narmada menjadi sebuah oase dari perjalanan Sabtu itu. Ingat kan bagaimana ketika kita waktu kecil menemukan uang lima ribu rupiah bagaikan menemukan harta karun paling berharga? Terbiasa dengan uang jajan seribu rupiah lalu mendapat rejeki nomplok lima ribu rupiah adalah ganjaran remeh yang bernilai besar. Beberapa kali menjumpai kesialan lalu bertemu dengan "kenormalan" adalah anugerah kecil yang patut dirayakan.

Taman Narmada yang menyediakan pengalaman liburan elit keluarga raja-raja kuno masih menyingkapkan sebersit kilas masa lalu. Undakan dengan pura di bagian teratasnya, dan kolam di tengah-tengah penataan tempat relaksasi tertata resik nan rapi. Aku dan Imad berjalan mengelilingi komplek taman Narmada, bahkan sampai di bagian-bagian terjauh yang jarang disinggahi pengunjung lain, seperti saluran air lawas macam sistem kanal di Belanda. Letak kanal yang di balik tembok Narmada membuatnya kurang mendapat perhatian. Kolam ikan tak kalah menarik perhatianku. Ratusan ikan mengikuti setiap orang yang berdiri di pinggir kolam, berharap ada pakan yang dilempar ke mereka.

Sudah lelah mengitari komplek taman dan juga hari semakin sore, aku mengajak Imad untuk kembali ke Mataram. Sudah ada satu penginapan yang kupesan lewat aplikasi.

Kami pulang melewati Pura Suranadi, salah satu pura besar yang ada di Lombok. Bau dupa menyeruak, orang-orang ramai berlalu lalang memakai setelan putih-putih. Yang laki-laki menggunakan udeng, sedang para perempuan mengenakan kebaya. Sepertinya ada sembahyang ketika kami lewat. Jadi meskipun ingin, aku tidak jadi berhenti di sana untuk melihat-lihat. Sebenarnya ada satu yang menarik di sekitar pura, yaitu sate bulayak. Tidak banyak dibahas sate ini oleh temanku yang dari Mataram, dan sepertinya layak dicoba selagi halal. Itulah salah satu ide untuk menghabiskan malam terakhir di Lombok.

***

Dari hasil penelusuran, kami memutuskan untuk menikmati sate bulayak di area taman Udayana. Masih menjadi misteri seperti apa cita rasa sate yang satu ini, dan kenapa bisa kalah pamor dengan sate rembiga mengingat sate ini juga termasuk makanan khas. Di internet tentu saja ulasan-ulasan yang menggiurkan disebarkan, tapi tak jarang ulasan itu menyesatkan. Hanya satu cara untuk mengetahuinya, dan sesaat lagi akan kubuktikan sendiri bagaimana pengalaman makan sate bulayak.

Meskipun agak khawatir turun hujan tapi kami tetap berangkat. Jika saja malam itu bukan malam terakhir di Lombok, pasti aku akan lebih memilih rebahan di penginapan. Perjalanan delapan hari tidak kusangka akan menguras mental sampai habis, bahkan hampir saja hilang sama sekali kenikmatan berliburnya. Kami keluar penginapan ketika hari sudah petang.

Sampai di jalan Udayana, aku melihat banyak kedai dengan musik kencang dari speaker low end berjajar di dalam area taman. Aku memarkirkan motor di tempat yang sudah disediakan, tak kuhiraukan parkir liar di pinggir jalan. Melihat saking banyaknya kedai aku menjadi bingung, di internet pun tidak ada ulasan spesifik kedai mana yang direkomendasikan untuk dicicipi sate bulayaknya. Bersama Imad aku berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya, memilih dengan tanpa kriteria dan preferensi diantara kedai-kedai tersebut. Kami adalah dua orang aneh yang bingung, dan sama-sama tidak bisa diandalkan pilihannya. Lalu serta merta saja kami memilih satu kedai yang berada agak pinggiran. Gak ada sebab spesifik, hanya sregnya saja di situ.

Kami pesan dua porsi sate bulayak kepada lelaki yang menawarkan menu.

"Mau pesan sate apa mas?" tanya laki-laki itu. Aku mengernyitkan dahi, apa maksudnya menanyakan seperti itu? Sudah jelas-jelas kami ke sana untuk mencicipi sate bulayak dong.

Lalu lelaki itu meneruskan ucapannya, sepertinya ia cenayang. "Isinya apa saja mas? usus, ati, daging, atau campur?"

Aku berunding formalitas dengan Imad. Kenapa formalitas? Karena hampir pasti jawaban kami tidak akan bertentangan. "Campur aja bang", biar bisa menikmati semua isiannya pikirku.

Tak lama kemudian sate datang, lengkap dengan lontong yang bentuknya unik karena bungkusnya berupa lilitan, bukan lipatan seperti yang jamak disajikan di Jawa. Konon lilitan itulah muasal nama bulayak. Dan pada tusuk pertama yang kumakan, aku langsung paham kenapa sate ini tidak seterkenal saudara dekatnya. Sudah terbiasa makan sate daging baik ayam, kambing, ataupun sapi, makan sate dengan isian yang didominasi jeroan bukan selera yang bisa dipaksakan di lidahku. Meski enggan aku segera menghabiskan sate cepat-cepat, karena jika sedikit saja terlambat maka lemak jeroan akan semakin menjadi-jadi. Sungguh tak bisa kubayangkan rasa sate itu lima menit kemudian. Bumbu kacang yang tebal dan perasan jeruk benar-benar menjadi penolong malam itu, ditemani lontong sebagai penetralisir lemak jeroan.

Setelah cukup mengisi perut, kami berdua kembali ke penginapan. Ada banyak yang harus dibereskan sebelum pulang ke Jawa Timur, termasuk beberapa oleh-oleh yang sempat kami boyong siang sebelumnya.


Part 6                                                                                                                                          Part Finale

Komentar