Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part Finale)
Seperti perjalananku sebelum-sebelumnya, aku selalu antusias jika sudah mencapai hari terakhir. Mungkin ini dianggap tidak normal bagi sebagian orang karena tujuan liburan adalah untuk bersenang-senang. Sedang aku kebalikannya, senang ketika telah pulang. Bukan tanpa alasan, aku punya pendapat sendiri tentang hal ini. Ketika siapapun pergi dari rumah dalam waktu yang lama, maka perjalanan itu sesungguhnya menjadi penegas jika tidak ada tempat ternyaman selain rumah sendiri. Memang tidak semua bisa setuju dengan pendapatku, lebih-lebih jika ada sekian faktor yang membuat rumah hanya menyenangkan untuk dibuat tidur, tidak lebih. Nah karena aku merasa rumahku adalah istanaku, selalu ada kegembiraan ketika bisa kembali ke sana. Seindah-indahnya tempat lain, senyaman-nyamannya kota lain, masih lebih menyenangkan tinggal di Ngantang.
Karena jadwal pesawat siang, kami punya insentif untuk tidak terlalu terburu-buru. Maka, spare waktu yang tersedia kami gunakan sebagai perayaan terakhir di pulau Lombok. Kami akan menuju ke Desa Sade, desa wisata yang sulit untuk tidak dikunjungi ketika berkunjung ke Lombok. Tempatnya yang dengan bandara sama-sama berada di selatan Mataram memudahkan perjalanan kami. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Bersama bawaan yang semakin bertambah dengan oleh-oleh, kami menyongsong pemberhentian terakhir kami. Semua sudah kuhitung, mulai jarak tempuh ke Sade sampai kembali ke bandara untuk memulangkan motor kukomparasikan dengan jadwal boarding pesawat. Benar-benar waktu yang tersedia masih sangat luang. Biasa saja kecepatan motor ke Sade pagi itu, sekitar 70 km/jam.
***
Belum sampai mesin motor terlampau panas, kami pun telah tiba di Sade. Puluhan kendaraan berbaris rapi didominasi roda empat ke atas. Dari pengamatanku, lebih banyak rombongan turis daripada pelancong partikelir seperti aku dan Imad.
Baru saja menurunkan standar motor, masalah kecil muncul. Bagaimana dengan bawaan yang melimpah ini? Dibawa hanya akan menambah beban yang tidak perlu, sedang ketika ingin ditinggal tak terlihat satupun tempat penitipan barang. Jadilah kami mengulangi pilihan ketika di bukit Merese. Semua perlengkapan kecuali tas kecil ditinggal di cekungan Vario. Biar saja jika ada yang mengambil, toh isinya cuma pakaian dan oleh-oleh. Kalaupun memang hilang, berarti memang bukan rejeki teman-teman dan keluarga di Jawa.
Memasuki gapura Desa Sade sudah banyak orang berkumpul. Pengunjung-pengunjung itu ditemani dengan guide dan mendapatkan beberapa informasi seputar Sade. Kami yang memberi tip masuk seikhlasnya tentu saja tidak bisa mendapat kemewahan itu, memang gak modal boi! Kami nyelonong masuk dengan percaya diri (atau mungkin lebih tepat sotoy), mengikuti jalan kampung.
Ke mana kelompok turis pergi kami selalu membuntuti, lumayan bisa numpang arahan pemandu wisata. Minus dari mengintil adalah kurangnya informasi yang bisa diserap, karena penjelasan pemandu tidak sampai ke telinga kami yang ada di paling belakang. Mula-mula kami bertemu penenun sepuh yang belakangan baru kuketahui bernama Inaq Sol, seorang perempuan penenun legendaris di Desa Sade. Perawakannya yang kurus tidak menampakkan kelemahan sama sekali, menipu orang-orang yang iba dengan penampilan fisik si nenek. Tangannya tangkas, dan jemarinya lihai menyusun benang ke alat pintal. Imad kesempatan menjajal alat pintal dengan diajari langsung oleh Inaq Sol. Aku sebenarnya juga ditawari kesempatan serupa, tapi mengambil foto lebih menarik buatku (setidaknya untuk saat itu).
Kami sempat berbincang dengan warga kampung. Sadar dengan titel yang disandang desa membuat hampir semua penduduk tidak ada yang menutup diri. Mereka banyak bercerita tentang kebudayaannya dengan bangga. Sambil mendengar cerita, kami disuguhi bubuk kopi dan dipersilakan meracik sendiri. Sebenarnya aku sendiri ragu ketika meracik kopi, khawatir jika racikan kopiku yang biasa dengan gula menyalahi kebiasaan setempat. Maklum aku bukan penikmat kopi yang mutakhir dan terbiasa tanpa gula ketika meminum "minuman para wali" itu. Namun dari gelagat yang aku tangkap, sepertinya tidak ada tanda-tanda orang Sade tidak menyetujui cara minum kopiku. Kami lanjut bercerita dan lebih banyak lagi membahas tentang desa adat sambil menyeruput kopi lokal.
Ada juga pohon cinta yang letaknya di tengah desa. Ceritanya setiap kali mau menikah, orang Sade akan pergi ke pohon ini. Singkatnya pohon kering ini yang menjadi saksi bisu kisah jalinan keluarga di Sade.
Yang tak kalah unik adalah rumah adatnya. Jika sekarang banyak menggunakan kalsium untuk acian tembok, maka Sade masih bergantung sekali dengan bahan organik, yang tak lain menggunakan kotoran sapi. Kotoran sapi segar mereka gunakan sebagai pelapis tembok rumah, dengan tujuan dapat menjaga suhu, tidak kedinginan ketika dingin, dan tidak gerah ketika panas. Sebuah kearifan lokal yang baru kutemui secara langsung. Yang lebih menakjubkan lagi adalah tidak ada bau kotoran sama sekali. Itulah kenapa warga secara spesifik memilih kotoran yang segar. Perkara struktur rumah sih masih autentik dan tidak jauh beda dengan rumah-rumah kuno daerah lain. Atap rendah, lantai tanah, pintu dari selambu, dan tetek bengek peralatan tradisional lain. Di beberapa sudut kampung juga ada lumbung padi untuk menyimpan panen. Orang Indonesia jaman dulu sepertinya sangat mahir dalam mengelola pangan. Sayangnya tidak diteruskan oleh manusia-manusia kekinian dengan dalih modernisasi, padahal hanya untuk menutupi ketamakan segelintir elit.
Sebelum pulang aku dan Imad naik ke gardu pandang untuk melihat sekeliling desa dari atas. Karena tidak terlalu padat, kami sangat bisa menikmati pemandangan dengan leluasa. Liburan itu menurutku ya yang begini, bisa menikmati tanpa harus riweuh bergantian dengan pengunjung lain. Aku pun sempat membeli beberapa kain untuk jadi oleh-oleh. Imad juga memboyong beberapa aksesori, ia sibuk menanyakan lewat telepon apa preferensi keluarganya di rumah.
***
Sekian banyak momen kerap kali lebih syahdu ketika perpisahan sudah di depan mata. Aku menikmati meter demi meter tersisa jalanan Lombok. Mulusnya aspal, segarnya udara, dan lancarnya lalu lintas adalah kemewahan yang sulit ditemukan di kota besar lain. Hingga terakhir kami sampai di bandara dan harus menyudahi perjalanan ini. Aku dan Imad sempat juga berfoto di bundaran bandara Zainuddin Abdul Madjid. Tidak kupedulikan orang-orang dari balik kaca mobil yang menganggap norak kelakuan kami berdua. Lebih baik dibilang norak daripada hanya penasaran dan kecewa karena kesempatan tidak berulang. Toh omongan orang cuma didalam hati mereka masing-masing dan tidak sampai ke telingaku kan? Tak perlu risau yang begitu-begitu. Kalaupun mereka bilang langsung kepadaku pasti juga tidak akan ku-waro, selama gak sampai melukai secara fisik mah aman aja.
Lalu sampailah di parkiran tempat kami pertama kali mengambil motor. Aku sudah janjian dengan pihak persewaan untuk mengembalikan motor di parkiran. Lumayan lama memang jarak waktu antara penyerahan kembali motor dengan jadwal pesawat, karena lebih baik menunggu daripada tergesa-gesa dan mengacaukan lebih banyak hal.
Sejam menunggu masih aman. Dari pihak rental mengabarkan lewat whatsapp jika pengambil motor sudah dalam perjalanan.
Lalu setengah jam kemudian berlalu. Aku mulai khawatir dengan delegasi rental ini. Antara tempat rental dengan bandara tidak terlalu jauh, bahkan waktu tempuhnya tidak lebih dari satu jam, tapi kenapa tak kunjung datang juga?
Setengah jam lagi telah lewat. Semakin dag dig dug menunggu karena jadwal penerbangan juga semakin mepet. Aku coba menghubungi lagi tapi hanya permintaan sabar yang sampai ke ponselku. Kukira semua cerita hwarakadah sudah berakhir seiring dengan kepulangan kami, tapi itu semua hanya harapan semu. Ada saja cara Allah bercanda dengan makhluk-Nya. Mungkin sedikit godaan bagi manusia perlu untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya paling berkuasa.
Dan setelah sisa waktu tunggu penerbangan tinggal sekitar satu jam lagi, orang yang kami tunggu datang juga. Aku menyerahkan surat-surat motor beserta kuncinya kepada laki-laki itu. Ia mengecek semua, baik surat dan juga kondisi motor. Lolos! Ia tidak mendapat bukti bahwa motor yang kami pakai bekas terperosok dan per standarnya sempat copot. Ada untungnya ternyata motor kotor, luka tipisnya jadi sedikit tersamarkan.
Aku dan Imad mengucapkan terima kasih setelah mendapatkan kembali KTP. Setelah itu kami berjalan masuk menuju area keberangkatan pesawat. Masih untung penumpang harus datang di bandara 2 jam sebelum keberangkatan itu hanya sebatas imbauan. Jika saja itu peraturan yang saklek dan harus dipatuhi, bukan tidak mungkin apabila kami terpaksa membeli tiket baru. Semua memang sudah diatur oleh Semesta, tanpa terkecuali dan tanpa plothole. Dan itulah akhir cerita di Lombok.
***
Perjalanan panjang dengan jarak ribuan kilo bersama Imad, siapa gila yang pernah membayangkan hal itu terjadi? Dan betulan terjadi! Aku yang biasa sendiri akhirnya memiliki tandem dalam penempuhan berbagai destinasi. Imad sebenarnya jauh dari kata ideal untuk dijadikan tandem. Teman akrab bukan, tidak seumuran, beda latar belakang (kecuali pekerjaan), pun komunikasi jarang. Ajaibnya dengan semua itu, laku keliling Lombok memberi cerita yang benar-benar berbeda dengan laku-laku sebelumnya. Se-tidak idealnya Imad sebagai teman perjalanan saat penilaian awal, tapi ia terbukti menjadi kawan yang andal untuk mencicipi banyak sudut pulau Lombok. Barangkali bersama orang lain perjalananku menjadi lebih nyaman, tapi dengan Imad sudah dipastikan perjalanan kami menyenangkan.
Apakah akan ada kisah lain dengan Imad? Tidak tahu. Kami sudah tidak selembaga lagi. Bukannya tidak mungkin, hanya saja butuh banyak yang harus disejajarkan agar bisa memulai petualangan yang lain. Setiap orang punya jalan masing-masing, dan di setiap jalan pasti ada orang lain yang dijumpai. Semoga lebih banyak dijumpakan dengan orang-orang baik untuk selanjutnya dan selanjutnya.

Komentar
Posting Komentar