Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 5)

Dari Mataram, itinerary berikutnya tidak terlalu terpaut jauh. Kami pun tak risau gedebak-gedebuk dikejar matahari mempersiapkan hari dengan lekas. Santai saja.

Usai sarapan petualangan kami lanjutkan. Titik pertama yang akan dikunjungi adalah museum negeri NTB, kebetulan tidak terlalu jauh dari penginapan. Knalpot motorpun tidak sampai sampai hangat ketika kami sudah ada di depan gerbang masuk museum. Sayangnya karena terlalu pagi, penjaga loket tak kelihatan batang hidungnya, dan kami belum berkesempatan untuk masuk. Karena masih ada beberapa hari lagi di Lombok kami putuskan untuk melewatkan museum terlebih dahulu, dan meneruskan perjalanan menuju air terjun Benang Kelambu. Lain hari kami akan kembali.

***

Banyak sekali memang air terjun di Lombok, dan hampir semua terkonsentrasi di sekitar kaki gunung Rinjani. Begitu pula air terjun Benang Kelambu. Berposisi masuk ke daerah pedesaan jauh dari pusat kota Mataram, Benang Kelambu lumayan sulit kami temukan karena gmaps tidak dapat memberikan arahan yang pasti. Plang penunjuk arah juga malah ikut menambah kebingungan, dengan memberi arahan yang berbeda dari google maps. "Ya udah Mad, ikut gmaps aja, kalo salah nanti ya balik", kataku. Percuma jika hanya berpusing-pusing tanpa mengambil keputusan.

Kami melewati sekumpulan petani yang sedang memanen padi, lalu melewati perkebunan cabe, lalu tanaman singkong, baru kemudian menjumpai satu kampung yang tidak terlalu ramai, antar rumahnya terpisah jarak agak jauh. Setelah menempuh beberapa kilometer, arahan Imad membawa kami masuk ke perkampungan yang lebih ramai, lebih padat, dan lebih kelihatan kampung. Kami juga akhirnya menemukan parkiran air terjun Benang Kelambu. Alhamdulillah tidak perlu mengulangi pengalaman tersesat mencari air terjun seperti sebelumnya.

Usai memarkir motor, menyimpan totebag hijau kepunyaan Imad di dalam jok, dan membeli karcis masuk, kami mulai berjalan mengikuti jalan yang sengaja dibuat untuk menjadi panduan para pengunjung. Sebelum masuk lebih dalam, aku sedikit penasaran dengan jalan besar dan lumayan bagus, jalan yang luasnya bisa untuk papasan 2 bus double decker, dan masih ada sisa banyak space. Hanya saja karena tidak ada orang lain selain aku dan Imad, aku simpan dulu penasaran itu agar bisa kutemukan jawabannya sepulang dari air terjun.

***

Setelah menanjak sedikit, jalan tanah menjadi menurun terus menerus. Air terjun Benang Kelambu besar kemungkinan berada di lembah. Hari kerja dan belum terlalu siang adalah perpaduan pas yang membuat orang enggan untuk berlibur. Sepanjang perjalanan aku tidak menemui manusia lain.

Kami tiba juga di checkpoint pertama, air terjun Benang Stokel. Aku tidak tahu sebelumnya ada air terjun ini karena memang fokus tujuannya ke Benang Kelambu. Tapi karena memang sudah sepaket dalam satu kali jalan, kenapa tidak dinikmati saja kan? Kami hanya sekedar foto-foto sedikit saja, lalu kembali menaiki tanah bukit sesuai petunjuk jalan.

Menjelang Air Terjun Benang Stokel

Interaksiku dan Imad masih sama, tidak banyak percakapan antara kami berdua. Paling sesekali saja berbicara agar tidak terlalu sunyi. Salah satu contoh percakapan adalah ketika kami membahas pohon yang roboh bekas tersambar petir. Tidak terlalu menarik sebenarnya, tapi jika tidak dibahas akan lebih tidak menarik lagi cerita ini.

Usai berjalan lebih dari setengah jam, akhirnya mulai terdengar suara gemuruh air. Suara air jatuh ini lebih kencang dibanding ketika saat mendekati Benang Stokel. Kami meniti anak tangga turun yang berlumut di semua permukaannya. Lembap percikan air dan sinar matahari yang terhalau dedaunan menyuburkan tanaman-tanaman perintis. Meski tidak licin, tetap saja kami harus berhati-hati. Apes tidak ada di kalender, dan lebih baik bersiap daripada bersayap seperti di film Tom and Jerry.

Ketika anak tangga terakhir berhasil dipijak, maka Benang Kelambu sudah tampak secara paripurna. Kecantikan gambar yang tersebar di internet memang tidak menipu. Airnya yang jatuh lembut dan tipis memang sesuai dengan nama kelambu yang disandangnya. Imad mengabarkan jika ia akan nyemplung ke dalam kolam di bawah air terjun. Karena aku bukan bapaknya, mana mungkin melarang? Aku lanjut mengambil foto setiap sisi air terjun yang menurutku menarik. Sebenarnya ingin juga ikut renang, tapi setelah mempertimbangkan riweuh-nya bilas dan ganti pakaian, belum lagi menggigil pasca mandi, aku pun mencukupkan diri untuk sekedar merasakan air lewat tampias yang menghujam bebatuan.

Cukup lama aku menatap air terjun, tapi tak jua terpuaskan rasa kagumku. Berbeda dengan air terjun kebanyakan yang terlihat megah, benang kelambu malah indah dengan keanggunan jatuhan air yang lembut. Jika di Jaka Tarub ada cerita dewi yang kehilangan selendangnya, mungkin bahan selendang itu dari air terjun Benang Kelambu ini.

***

Imad sepertinya sudah cukup puas dan lumayan menggigil setelah berenang, wajar saja air yang segar dan cuaca mendung membuat temperatur sulit untuk merangkak naik. Aku pun menyudahi foto-foto sekeliling air terjun. Setelah Imad berganti baju, kami naik kembali menuju parkiran.

Mendekati parkiran, penasaranku waktu berangkat akhirnya terjawab. Jalan luas yang kutemui di awal tidak lain adalah jalan pintas menuju tangga terakhir yang mengarah ke area Benang Kelambu. Kelihatan beberapa tukang ojek berdiri di kaki tanjakan, dan ada beberapa orang yang baru berangkat dengan ojek yang lain. Memang uang bisa membawa kemudahan, tapi cara yang lebih sulit menawarkan kisah tak terlupakan.

***

Jika ditanya kegiatan apa yang paling pas setelah berenang, jawaban kebanyakan adalah makan. Sebenarnya belum ada penelitian yang mengkonfirmasi pernyataan tadi, tapi aku yakin mayoritas orang akan setuju dengan pendapat ini, apalagi bagi orang-orang yang pernah dibekali mi goreng kotak ketika berenang dengan teman sekelas. Kami berdua bergegas menuju nasi balap puyung.

Informasi yang beredar di dunia maya menyatakan, jika nasi balap satu ini katanya yang mengawali nasi balap-nasi balap selanjutnya, gampangnya yang paling otentik lah. Pengulas makanan juga banyak membuat video makan di sana, dengan ekspresi kepedasan yang beraneka ragam. Sebagai penyuka pedas, lumayan membuatku ngecas hanya dengan membayangkan beberapa kilometer lagi aku bisa merasakan makanan legendaris itu. Tapi entah dengan Imad, semoga saja ia suka.

Letaknya agak terhimpit di dalam perkampungan, pun titik di gmaps lagi-lagi memunculkan dualisme semakin menambah kerancuan. Untungnya ada bekal arahan food vlogger, kami tidak terlalu kesusahan untuk menemukan tempat nasi balap puyung Inaq Esun. 

Walaupun masih sekitaran jam makan siang, tidak banyak pengunjung ketika kami tiba. Mungkin karena masih weekday dan pandemi, jadi tak banyak wisatawan yang melancong. Sebuah keuntungan bagi kami sehingga bisa fokus menikmati makanan tanpa gangguan eksternal. Tidak banyak pilihan ketika kami berada di kasir, opsinya hanya pedas atau tidak pedas saja untuk rasa nasi balapnya. Mungkin yang bisa memperkaya menu hanya variasi kondimen saja, dan kami berdua memilih telur asin bakar sebagai pendamping nasi balap pedas.

Seporsi nasi balap

Tidak ada yang istimewa dari sekilas pandanganku terhadap kuliner satu ini. Sajiannya hanya ada nasi putih, kacang kedelai goreng, ayam suwir dengan bumbu pedas, dan ayam suwir kering, mirip nasi boks. Menurut orang-orang yang membuat istimewa adalah rasa pedasnya. Tapi bagiku, yang lidahnya kerap terpapar makanan pedas, pedas nasi balap ini masih pada tingkat normal, seperti pedas boncabe level 5. Setidaknya itu yang kurasakan di awal, dan ketika mulai menghabiskan setengah porsi opiniku sepertinya perlu diubah. 

Perlahan rasa panas mulai menjalari papila lidah. Tidak ada yang menyuruhku untuk berhenti makan, tapi ada jeda yang tidak bisa kuteruskan untuk mengunyah. Siraman air tak lagi cukup, mulut harus terkena angin juga untuk meredakan panas. Aku pun baru sadar gejala ini sudah dirasakan Imad lebih awal, jadilah kami berdua mangap-mangap seperti ikan kurang air. Pedasnya memang agak beda, cukup unik sehingga tidak salah apabila digelari "makanan yang harus dicoba" ketika sampai di Lombok.

Setelah piring tandas, kami pun tak bisa lantas melanjutkan perjalanan. Perlu diredakan dulu panas yang berkecamuk akibat racikan bumbu nasi balap. Lumayan lama huh hah huh hah sampai lidah kembali normal dari rasa kebas. Setelah dirasa semua aman terkendali, kami melanjutkan berkeliling Lombok.

Kami sengaja memilih tujuan terjauh untuk didahulukan agar setelahnya tersisa destinasi dengan akses mudah dan saling berdekatan. Oleh karena itu, kami berkendara menuju ujung paling tenggara pulau Lombok. Pokoknya yang paling ujung, sampai tidak terlihat lagi dataran yang tersambung dengan pulau Lombok. 

Kami melintasi jalan protokol Lombok kilo demi kilo. Lalu kembali aku merasa ada yang tidak beres. Sepengetahuanku tenggara itu kombinasi antara selatan dan timur, tapi ketika melewati sebuah gapura kubaca tulisan "Selamat Datang di Kabupaten Lombok Barat". Karena aneh, aku menepi dan menanyakan posisi ke Imad. Kulihat peta online, dan firasatku terbukti. Kami salah arah! Untung melencengnya masih sekitar 5 kiloan dari awal berangkat. Seharusnya dari Inaq Esun langsung mengarah ke timur, bukan malah ke barat. Kami pun putar arah dan sekali lagi melewati warung nasi balap, sebelum akhirnya kembali ke jalan yang benar.

***

Desember yang harusnya sudah masuk musim penghujan, nyatanya tidak terasa siang itu. Langit cerah, matahari terlalu benderang. Dalam berkendara saja masih terasa panas, bagiamana jika hanya diam? Meski terik menyengat sangat, sayangnya tidak ada awan yang bermurah hati dan sudi menaungi kami. Dengan ataupun tanpa cuaca yang mendukung, perjalanan harus tetap dilanjutkan. 

Semakin ke tenggara berarti semakin menjauhi pusat peradaban. Lambat laut perkampungan semakin jarang terlihat, mirip suasana ketika kami menuju ke utara. Hanya saja jika semakin ke utara maka semakin sejuk, maka ke tenggara kali ini semakin kering rasanya. Masih ada perkebunan juga sebenarnya, namun jika dibandingkan dengan daerah Rinjani rasanya menjadi tidak setara.

Aku tetap mengemudi, Imad kutengok dari spion sedang melihat sekeliling sambil memastikan arah yang kami lalui benar. Tidak perlu dipertegas lagi betapa tidak riuhnya perjalanan kami berdua. Aku sempat mengajak Imad berhenti sebentar di pinggir jalan dekat kebun orang. Tulang yang sudah banyak tahun menopang perlu sering-sering direnggangkan. Istirahat-istirahat kecil memang perlu dipaksakan, seperti berhenti sejenak yang seringkali bisa membawa kita lebih jauh daripada yang terus menerus berlari.

***

Oh ya, sebelum sampai di ujung pulau, ada satu tujuan yang sepertinya harus disinggahi meskipun aku sendiri ragu. Di sana ada pantai yang namanya Pink Beach. Dari namanya pasti terbangun ekspektasi jika pasirnya akan berwarna merah muda dong, tapi aku sendiri sangsi dengan ekspektasi itu. Pertama karena di foto unggahan gmaps tidak tampak pink warna pasirnya. Aku coba membangun optimisme, anggap pudarnya warna pink bisa jadi karena teknik pengambilan gambarnya yang kurang tepat. Penyebab sangsi yang kedua, tidak banyak kabar atau berita yang menggambarkan warna pasir di sana. Suatu pantai yang memiliki warna pasir merah muda merupakan fenomena yang langka bahkan pada skala global. Selayaknya fenomena langka lain normalnya tentu akan banyak yang mengabarkannya, terlebih di era media sosial seperti ini. Nyatanya asumsi itu tidak berlaku di pantai ini. Tapi sebusuk apapun pikiran negatifku, masa' sudah jauh tidak sekalian mampir? Bukankah lebih baik menyesal pernah mencoba daripada berandai-andai tanpa pernah menjajal?

Kami tiba di Pink Beach ketika matahari hanya bergeser sedikit beberapa derajat ke barat. Tentu saja hanya sedikit orang lowong yang mau menggunakan waktunya untuk berjemur seperti kami. Bahkan sudah bukan berjemur lagi, malah lebih pas dikatakan terpanggang. Tapi sepanas apapun, penjaga loket tetap berdiri sabar di samping palang pintu. Penjaga loket adalah sebentuk manifestasi terbaik akan ikhtiar yang diajarkan oleh pemuka agama. "Rezeki itu sudah diatur, maka carilah dengan usahamu". Lalu penjaga loket itu senantiasa berkhusnudzon akan ada rejeki yang datang hari itu, terlepas apapun kondisi cuaca. 

Melewati pos loket karcis dan memarkir motor, prasangkaku tidak terbantahkan lagi. Benar tidak ada warna pink yang terlihat kemanapun wajahku kuhadapkan. Tapi itu bukan berarti jelek, malah cukup impresif menurutku. Pantai satu ini menawarkan ketenangan tanpa gangguan banyak orang. Dengan pasir putihnya yang bersih dan halus, dilengkapi pemandangan laut yang tak kenal tepian, menjadi obat yang sangat ampuh bagi otot tegang selama perjalanan.

Pantai merah muda adalah pantai kedua setelah Gili Trawangan yang kami kunjungi selama trip, dan semakin memperkukuh stigma keindahan pantai-pantai di Lombok. Saling berkejaran dengan waktu, setelah cukup mengambil beberapa gambar kami kembali me-nenggara.

***

Ciri khas daerah pesisir semakin terasa ketika kami kian mendekati tujuan. Cuaca panas nan lembap cukup merepotkan kulit untuk beradaptasi. Sisik-sisik jelmaan ular perlahan mulai tampil di beberapa bagian tubuh. Sebenarnya di momen seperti inilah tabir surya atau krim semacamnya memberikan fungsi dengan optimal. Tapi namanya juga pengelana tanpa rencana, aku dan Imad hanya mengandalkan jaket sebagai pelindung tubuh, dan itu tidak cukup. Banyak anggota tubuh yang sedikit terbakar karena tidak tertudung jaket. Kulit wajah, bagian pergelangan-telapak tangan, juga pergelangan-telapak kaki kian gosong. Beruntung kami sama-sama memiliki kulit yang tidak terlalu cerah, yang dari pemberitaan lebih rendah terkena risiko kanker kulit daripada kulit yang terang.

Perkampungan terakhir sudah lewat beberapa kilometer, warung terakhir juga sudah kami lewati ketika berbelok di persimpangan terakhir sebelum masuk ke arah Tanjung Ringgit. Yang ada sekarang hanya satu-dua bangunan menyerupai rumah berbahan kayu sepenuhnya, dan jarak antar bangunan itu terpaut sangat lebar. Sepertinya pondokan itu sengaja dibangun untuk penjaga kebun, tapi entah kebun apa karena tidak ada tanaman produktif yang aku jumpai. Kami pun tidak menemui pengasong bensin eceran yang krusial menopang perjalanan kami. Tempat bensin eceran dibiarkan kosong tanpa botol di pinggir jalan. Terlalu sepi, sampai-sampai jin malas untuk nongkrong di sana. Meski dihadapkan kondisi yang hening seperti itu, perkara bensin tak perlu dirisaukan. Kami sudah belajar dari kejadian Mangku Kodek, dan berusaha menjaga tangki bensin tidak terlalu surut. Setidaknya indikator bahan bakar masih menjamin lancarnya pengembaraan kami hingga kembali dari ujung tenggara, sampai menemukan penjual bensin eceran pertama di persimpangan terakhir sebelum ke Tanjung Ringgit.

Tidak seperti di daerah Jawa yang pembangunan aspalnya terkonsentrasi di pusat peradaban, Lombok sangat egaliter dalam membangun akses jalan. Bahkan kian lama kami masuk dan meninggalkan keramaian, tetap saja aspal kualitas jempolan menghampar dan memanjakan pengendara ataupun pengemudi. Tidak ada bekas tambalan bergelombang ataupun ceceran pasir bekas lubang jalan yang kerap kali menjadi momok pengendara motor. Sengon tua berukuran besar memayungi jalan seutuhnya makin memperkuat kesyahduan perjalanan terakhir di ujung Lombok. Semua menjadi terasa bergerak dengan lamban. Aku mendongak melihat daun dan ranting berkelebat, dengan berkas-berkas cahaya menusuk masuk dari celah rimbunnya pohon. Angin yang dilawan motor bertiup semilir melewati cuping telinga. Lalu terbayang jika saja bisa melakukan perjalanan ini dengan Gita Sekar, amboi nian sepertinya!

Jalan menuju Tanjung Ringgit

Kemudian aku melihat ke spion. Mata lempeng Imad dan hidungnya terbayang pada kaca pantul. Semua lamunanku bubar.

***

Akhirnya sampai di Tanjung Ringgit, sebuah tebing di ujung tenggara pulau Lombok. Tidak ada pantai sama sekali yang bisa kami temukan. Hanya ada tebing dengan dasarnya yang langsung menghujam ke samudera Hindia. Tak banyak kesenangan bisa ditemukan di sini. Jikalau turis yang mengutamakan unggahan media sosial tanpa benar-benar menghiraukan kisah datang ke sini, besar kemungkinannya akan kecewa. Aku berusaha menenangkan diri, lalu membuat kilas balik singkat perjalanan mulai menginjakkan kaki pertama di Bandara Zainuddin Abdul Madjid sampai di titik terkini. 

Upaya semedi singkatku membuahkan hasil. Rasa puas pelan-pelan merekah, mensyukuri semua capaian perjalanan menjadi obat hati yang mujarab. Mulanya biasa saja, dengan bersyukur pemandangan sekitar tanjung menjadi teramplifikasi keindahannya. Jika saja tidak ada manusia lain, pasti aku akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan aktor-aktor film ketika sampai di ujung dunia. TERIAK! aku akan sungguh berteriak. Bukan untuk melepaskan emosi, melainkan sebagai ekspresi terima kasih dan membebaskan apa yang sudah lama tersembunyi di dalam hati. Terima kasih kepada Allah karena memberi kesempatan hidup semenyenangkan ini, dan terima kasih kepada diri sendiri bisa kuat hingga kini.

Imad masih dengan wajah chill-nya memandangi hamparan tebing dan samudera.

Di sisi jauh kulihat siluet yang bergerak minim. Terlalu jauh jaraknya sampai tidak bisa menebak apa sebenarnya bentuk nyata dari siluet-siluet itu. Kemudian dari arah belakang terdengar deru beberapa motor, dan tak lama kemudian muncul motor-motor dengan pengendara yang menyandang peralatan pancing. Mereka berkendara dengan sangat lihai, seakan mengerti tiap lekuk dan jebakan yang terhampar di sekitar savana ujung tenggara Lombok ini. Sungguh kontras dengan aku dan Imad yang harus meraba-raba tiap inci tanah untuk melangkah lebih jauh. Mereka melewati kami, lalu terus menuruni bidang tanah yang terhampar. Setelah sampai di titik terjauh mereka akhirnya berhenti, bergabung dengan kumpulan siluet hitam tadi. Ternyata bayangan-bayangan hitam nan kecil tadi adalah para pemancing. Sangat ajaib hobi ini, saking ajaibnya sampai-sampai dapat ditemukan di tempat yang belum pernah terbayang sebelumnya.

Aku tidak memiliki keinginan untuk memancing sama sekali sejak kecil. Mungkin karena trauma tidak mendapatkan ikan sama sekali ketika mengikuti lomba memancing. Meski begitu setidaknya potensi untuk memancing masih ada, terbukti ketika kuhabiskan waktu di atas kilang minyak lepas pantai dengan menari-nari bersama ikan remora hasil pancingan. Dari pengalaman itulah sangat dapat kumengerti ketika seseorang bisa gandrung memancing. Tapi ketika kembali kulihat sekelompok pemancing itu, ada sedikit kengerian yang terasa. Letaknya yang terlalu pinggir jurang (tebing) meningkatkan risiko bencana. Salah pijak sedikit maka alih-alih membawa pulang ikan, malah bisa jadi membawa kabar duka. Ya apapun risikonya sepertinya setimpal dengan kegembiraan yang ada di ujung sana. Kalau tidak ada kesenangan, buat apa mereka berkumpul kan? Kebaikan selalu menang melawan keburukan, dan kesenangan patut diperjuangkan untuk memupus kesuraman.

Sekumpulan pemancing di bibir tanjung

Sepertinya Imad sudah cukup menikmati Tanjung Ringgit siang itu. Sebenarnya tidak terlalu mengerti juga isi hati Imad. Aku hanya sekadar menerka, kemudian kuproyeksikan terkaan itu kepada Imad, lalu mengambil keputusan atas ramalanku sendiri. Agar masih bisa menikmati sunset di Bukit Merese, kami bergegas kembali menuju motor.

Sedikit payah ketika berusaha keluar dari area savana. Yang sebelumnya menurun, kini menjadi tanjakan bagi kami. Tidak ada rute khusus, dan tanah licin tertutup rumput menjadi tantangan tersendiri. Tentu tidak bisa jika kami harus berboncengan, atau bisa saja dengan mengorbankan sedikit tingkat keselamatan. Daripada terjadi yang aneh-aneh aku meminta Imad untuk jalan kaki, agar lebih memudahkanku mengatur motor mengikuti bekas ban para pemancing tadi.

***

Beringsut kami meninggalkan kawasan Tanjung Ringgit, lalu mengambil jalur lintas selatan untuk menuju Bukit Merese. Tanaman tembakau yang ditanam rapat di pinggir jalan melambai-lambaikan daunnya yang lebar. Aku tidak tahu apa ciri tembakau yang baik, tapi melihat daunnya yang hijau segar aku percaya tanah di daerah selatan masih subur meski lumayan jauh dari Gunung Rinjani. Sedikit kutambah kecepatan ketika melihat matahari semakin bergeser ke barat. Jarak masih lumayan panjang, ditambah kami yang tidak familiar dengan medan menjadikan spare time berburu sunset harus semakin diperbanyak.

Jalur lintas selatan Lombok

Perkebunan tembakau sudah lewat, kebun kelapa juga sudah lewat, pun kebun tanaman-tanaman lain silih berganti menemani perjalanan kami. Kemudian dari yang sebelumnya perkebunan berganti menjadi perbukitan dengan tumbuhan homogen. Aspal yang lebih lebar dan lebih mulus daripada jalan perkebunan menambah kenikmatan touring sore itu. Ada sebuah section yang cukup menantang, sedikit mirip roller coaster. Diawali jalan naik membelah bukit, lalu setelah sampai pucuk bukit lintasan tiba-tiba turun dan berbelok dengan sudut kecil. Siapapun yang tidak fokus bisa-bisa terbanting oleh kendaraannya sendiri. 

Setelah beberapa kali dihadang tanjakan dan turunan, jalan kembali landai. Apabila bukit memberikan kebanggaan karena laut selatan terlihat begitu jelas dan megah, maka jalan datar memberikan ketenangan untuk bisa lebih bernafas longgar dan merasakan angin segar nir polusi. Jalan selatan Lombok memiliki dua karakteristik yang bertolak belakang, namun saling melengkapi dalam harmoni.

Tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain mengingatkanku dengan suasana jalur pantai selatan Malang, kondisi yang tidak terlalu aku suka karena dapat menurunkan kewaspadaan. Jika bosan dengan pemandangan, aku mengintip kaca spion untuk melihat wajah Imad. Bukan gara-gara perilakuku menyimpang karena toh aku masih normal, hanya saja ingin memastikan tidak ada tanda-tanda kelelahan akut di wajahnya. Kami perlu menjaga satu sama lain, karena perjalanan ini tidak bisa hanya dilakukan sendiri. Bisa sih sendiri, tapi mungkin akan sulit menggapai jarak sejauh ini, baik jarak secara harfiah ataupun majas.

Titik di peta sudah semakin mendekati Bukit Merese, ketika tiba-tiba saja jalan aspal terpotong dengan hamparan tanah yang membentuk beberapa jalur. Kami mengikuti rute yang diambil warga lokal di depan kami. Tidak ada pembatas yang jelas antara lajur yang searah dengan yang berlawanan arah. Untung saja jalan tanah itu hanya sepelemparan batu saja, dan setelah kembali mengaspal baru aku paham dari membaca papan peringatan yang di pasang di pinggir jalan, jika jalur-jalur tanah tadi termasuk proyek pembangunan sirkut untuk balap MotoGP. Bolehlah sedikit berbangga pernah riding di dalam Mandalika, meski masih belum berbentuk sirkuit utuh.

***

Kami berbelok mengikuti penunjuk arah ke Bukit Merese. Di depan kami sudah ada dua bus yang kelihatannya juga setujuan dengan kami. Aku kira perjalanan akan tetap nyaman dengan aspal kualitas tinggi, sampai akhirnya kami temui sebuah genangan air. Lalu genangan kedua. Genangan ketiga. Dan akhirnya jalan kembali berupa tanah, lebih-lebih tanah bercampur pasir pantai. Akan sangat merepotkan jika harus membuntuti dua bus itu di jalan tanah berdebu, maka ketika ada celah sedikit kusegerakan untuk mengambil kesempatan mendahului. Konyol jika garus gagal menikmati sunset perkara kelilipan debu bekas lewatan bus.

Akhirnya sampai juga di tujuan terakhir kami hari itu. Kami tiba beberapa menit lebih cepat dibanding dua bus yang kami salip, ketika langit sudah agak kekuningan. Lumayan banyak kendaraan yang terparkir, kami mengambil satu slot yang mepet dengan pintu masuk bukit agar tidak menambah jarak berjalan kaki. Selisih beberapa meter sangat berharga untuk memulihkan stamina. Aku menaruh tas keril, dan Imad menaruh tas beserta totebag hijau pupusnya di motor. Tak ada yang bisa dititipi, dan agak menyusahkan juga jika harus membawa segala bawaan ke atas bukit, maka pilihan yang paling rasional adalah meletakkan semuanya di motor. Aku tahu itu sebentuk tawakal yang hwarakadah, tapi memang tidak ada lagi alternatif yang bisa dipilih.

Mulai mendaki kami berjumpa sekumpulan kambing. Bukit yang kaya akan rumput menjadi surga bagi para kambing. Tidak mungkin kulewatkan untuk menangkap momen seperti ini. Beberapa turis lain berlalu melewati kami, dan Imad cukup sabar untuk menunggui hobiku.

Kambing merumput di Bukit Merese

Kami jalan lagi, dan tidak perlu lama untuk tiba di atas bukit. Terlalu cepat, aku pun tidak mengira bakal sependek itu pendakiannya. Di benakku ada sekian tanjakan dan beberapa turunan yang harus dilewati sebelum sampai ke titik pandang sunset, dan itu salah. Salahku sendiri yang tidak banyak mencari tahu, padahal segala reviu sudah berceceran di media massa.

Kuajak Imad ke sebelah selatan bukit, menggapai salah satu ujung menurutku adalah ide yang bagus. Tidak banyak turis mau berjalan jauh sampai ke sana, padahal kelihatan sekali lebih sepi. Dan aku sendiri lumayan menikmati sepi. Kami berdua jalan perlahan, dan sesekali berhenti beberapa saat. Imad berulang kali mengangkat teleponnya, menjawab pertanyaan dari orang kantor. Maklum saja ia lumayan menjadi andalan masalah pekerjaan, beda denganku yang "kalo libur ya libur aja" meskipun sebenarnya memang gak ada juga yang bakal mencariku. 

Di satu titik kami berhenti cukup lama. Imad naik ke sebuah batu besar sambil berbicara dengan seseorang yang jauh di sana. Mungkin karena aku sudah mulai letih, ditambah kesal juga karena Imad harus meladeni orang yang entah apa masalahnya di kantor, tanpa sadar aku meninggikan suaraku ke Imad.

"Mad! Biarin aja sudah! Ini kan libur!"

"Lha ini mas, ada orang kantor yang tanya, gak enak kalo gak dijawab" timpal Imad.

Aku agak kesal telah sedikit bersuara keras ke Imad. Hanya Imad tandemku waktu itu, dan tidak mungkin dibayangkan jika situasi antara kami menjadi tidak kondusif karena kebodohanku. Aku kembali diam sambil melihat langit yang kian menjingga. "Padahal Imad berulang kali mengikuti mauku, tapi giliran sekali saja menuruti Imad aku tidak bisa sabar" batinku. Tapi bukan marah sebenarnya, aku cuma ingin Imad benar-benar menikmati liburan ini tanpa gangguan. Usai menutup telepon, Imad kembali dengan wajah khas yang lempeng. Ada untungnya juga interaksi kami yang tidak terlalu riuh ini.

Imad telepon di atas batu

***

Akhirnya kami tiba diujung selatan Bukit Merese. Aku melihat ponsel untuk mengecek waktu magrib. Masih sisa 20 menitan lebih, dan di jam-jam seperti inilah puncak indahnya matahari terbenam. Aku menikmati sore itu dengan mengambil berbagai macam gambar yang sempat terbayang ingin kupunyai. Di sela-selanya aku hanya duduk diam, melempar pandangan jauh ke barat, mengikuti matahari yang kian berlari. Imad juga mengambil foto, tapi tidak sebanyak aku. Padahal hampir bisa dipastikan hasil foto dengan ponselnya lebih bagus dibanding mirrorless entry level yang kupakai. Tapi namanya juga beda hobi, mana bisa dipaksakan?

Di bagian bukit yang landai dan menurun hampir di pinggir tebing, tiga turis asing sedang bercengkerama. Dua perempuan dan satu laki-laki. Dari pengalamanku, formasi seperti ini kebanyakan bisa digambarkan dengan si cowok menyukai salah satu cewek, tapi tidak berani mengungkapkan karena takut pertemanan mereka akan rusak hancur lebur. Aku membisikkan tebakanku ke Imad, dan respon Imad biasa saja tidak antusias. Kami berdua kembali menikmati sisa-sisa sinar jingga.

***

"Ayo balik mas." seru Imad ketika matahari semakin menghilang.

"Sebentar, tunggu beberapa menit lagi." aku coba membujuk Imad. Sebenarnya memang puncak sunset sudah lewat beberapa menit yang lalu, tapi aku masih penasaran atraksi apa lagi yang bisa disajikan di Bukit Merese ketika memasuki blue hour.

Kemudian yang kutunggu tiba juga, langit berubah menjadi magenta kebiruan. Cantik sekali, sayangnya kameraku terlalu kentang untuk mengabadikan momen ini. Cantik seperti Dian Sastro di AADC 1, sungguh menawan dengan segudang ketegasan yang rapuh dibaliknya. Aku menyesapi gelap yang membawa ketenangan, dan biru yang melambai kalem menjanjikan harapan untuk esok. Kami berdua termasuk terakhir meninggalkan kawasan Bukit Merese.

***

Aku melihat di aplikasi Oy* ada penginapan murah tidak jauh dari posisi terakhir kami, masih seputar kawasan Mandalika. Murah menurut kami berarti harganya tidak lebih dari 150 ribu rupiah semalam. Ku-booking satu kamar dan kemudian kami langsung meluncur ke sana. Jarak 8 kilometer tidak membutuhkan waktu yang lama untuk ditempuh.

Pertama yang kulihat ketika sampai di area penginapan adalah rumah panggung dari papan kayu dengan ukuran sedang. Aku mencari pemilik penginapan atau resepsionis yang ada, hendak mengkonfirmasi pesanan yang telah kubuat lewat aplikasi. Bapak paruh baya keluar dengan wajah agak bingung.

"Pak, saya mau menginap, tadi sudah pesan lewat aplikasi" aku menunjukkan ponselku kepada bapak itu.

"Maaf nak, saya sudah gak lagi menyewakan penginapan lewat aplikasi, ribet", timpal bapak. Sedikit tersentak aku mendengar jawaban si bapak. Lalu di mana kami akan menginap? Bagaimana uang yang sudah kubayarkan lewat aplikasi tadi? Saat aku masih berusaha mengenyam semua ketidakselarasan ini, si bapak malah curhat panjang lebar betapa tidak menguntungkannya kerja sama dengan aplikasi. Kucoba juga menyinggung ongkos menginap tanpa lewat aplikasi, dan hasilnya tidak memungkinkan. Penginapan itu jauh di atas bajet menginap kami. Ketika menanyakan tentang biaya menginap yang sudah kutransfer, si bapak juga tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak merasa menerima uang sepeserpun, bagaimana mau mengembalikan? Karena tak kunjung ada kejelasan akhirnya aku mengajak Imad untuk mencari penginapan lain. Masalah uang yang telanjur masuk ke aplikasi dipikir belakangan saja.

Di pinggir jalan kami sibuk memilih penginapan terdekat dengan harga termurah. Ketemulah satu penginapan dengan harga paling miring di Tr*veloka. Aku ingin langsung mengecek tempatnya tanpa membayar lebih dahulu, daripada terulang kejadian barusan. Kalau cocok langsung bayar di tempat lebih win-win solution. Karena malam semakin penuh kami kami langsung bergerak menuju calon penginapan.

***

Aku sempat ragu ketika Imad mengarahkanku untuk berbelok ke gang kecil dan menurun di kawasan bypass Mandalika. Tidak terlihat lampu-lampu perkampungan dari atas, tidak juga terlihat kendaraan atau orang lain yang melintas. Bermodal yakin kami mengikuti arahan peta.

Semakin masuk semakin aneh. Hanya ada jalan tanah kecil seukuran satu bodi mobil. Jalannya pun dikerubuti kebun di sisi-sisinya. Penginapan masih beberapa ratus meter lagi, tapi terasa seperti bermil-mil. Hingga kemudian ada sebuah cahaya yang berjalan perlahan. Dan ketka sudah dekat aku merasa agak plong, cahaya tadi tak lain cahaya lampu motor. Alhamdulillah, beneran ada kehidupan di sini. Dan lebih penting lagi berarti memang bukan prank penginapan tujuan kami, bukan seperti rumah penyihir di Hansel and Gratel. 

Tidak lama setelah berpapasan dengan motor tadi kami sampai juga di penginapan. Letak rumahnya tersembunyi di balik bangunan lain. Jika tidak ada plang nama penginapan, bisa jadi tidak akan ketemu sampai kapanpun.

Rego nggowo rupo, begitulah pepatah Jawa. Jika sebelum-sebelumnya cukup beruntung mendapatkan penginapan yang mantap, kali ini dengan rate yang sama kami harus menerima kenyataan sebagai wujud pepatah lama itu. Penginapan kali ini lebih mirip kosan, hanya saja lebih luas. Kasurnya satu, queen size. Pasti akan sikut-sikutan jika kami tidur bareng (entah kenapa aku merasa aneh ketika mengetikkan kalimat ini). Nilai tambahnya adalah sekadar kamar mandi dalam. 

Kemudian Imad memiliki ide untuk membagi dua kasurnya. Satu bagian kasur kami gotong berdua dan letakkan di salah satu sisi kamar, dan bagian yang lain tetap di tempat semula. Sebenarnya tidak bisa dikatakan dibagi dua juga, karena yang kami angkat adalah bagian springbed yang empuk yang memang digunakan untuk tidur, sedang bagian yang ditinggalkan adalah alas kasur yang keras. 

Aku sebelumnya mengira jika dua bagian kasur itu sama empuknya seperti kasur tingkat. Maka ketika Imad bertanya memilih yang mana, aku dengan yakin menunjuk bagian atas yang dilepas. Setelah tahu bahwa alas yang ditiduri Imad lebih keras, aku menawarkan untuk bertukar posisi. Tapi sepertinya Imad sungkan untuk menerima tawarkanku, terlebih ia lebih muda. Mari lihat sisi positifnya saja, setidaknya kami berdua punya tempat tidur yang sama malam itu. 

Sebelum tidur kami sempat kembali ke bypass Mandalika untuk makan malam. Kawasan Mandalika belum terlalu berkembang, dan daerah yang belum berkembang barang tentu tidak banyak yang berjualan juga. Untungnya ada penjual menu makanan yang kami kenal. Bakso-soto dan semacamnya dijual di kedai kayu sederhana. Kami makan dengan sopir-sopir kendaraan ekspedisi yang kebetulan mampir. Setelah kenyang kami kembali ke penginapan dan beristirahat. 


Part 4                                                                                                                                                  Part 6

Komentar