Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 4)

Janjian untuk snorkeling sesuai paket yang kami bayar di pelabuhan Bangsal masih agak siang. Aku mengajak Imad untuk tidak menyia-nyiakan waktu senggang. Ide yang muncul adalah jalan mengelilingi pulau. Iya memang Imad sudah melakukannya kemarin, tapi aku masih belum tahu sisi pulau yang lain.

Kami berjalan santai, tidak terburu-buru karena memang tidak ada yang diburu. Larangan penggunaan kendaraan bermesin sangat efektif membuat Gili Trawangan memiliki udara yang bersih, khususnya bersih dari bocah kemarin sore ugal-ugalan yang baru bisa naik motor. Matahari pun tidak bisa bersinar terik, terhalangi bekas awan semalam. Suasananya membuat jalan kaki kami jadi lebih nyaman, sekaligus membuat bule kesal karena tidak bisa sunbath. Beberapa kali pesepeda menyalip kami. Aku mulai berpikir seandainya kemarin sore jadi menyewa sepeda pasti akan lebih enak agenda berkeliling pulau pagi ini. Satu dua bendi juga lewat disewa turis. Semakin banyak moda transportasi yang lewat semakin berkurang semangatku untuk mengelililingi pulau jalan kaki. Selalu, penyesalan datang belakangan.

Jalanan Gili Trawangan

"Mad, lewat tengah aja biar lebih cepat", aku menawarkan jalur yang tampak memotong pulau di gmaps. Pertama memang khawatir terlalu siang sehingga kelabakan untuk persiapan snorkeling, kedua ya memang sudah malas, capek sudah berjalan lama tapi hanya berhasil menambah jarak beberapa ratus meter saja.

Kami berjalan melalui perkampungan. Aku juga baru tahu di tengah pulau ada perkampungan, yang benar-benar kampung. Pulau ini terlalu kecil untuk dijadikan sebuah desa jika mengacu ukuran desa di pulau Jawa. Tidak banyak fasilitas dan pilihan di sana. Jangankan fasilitas, kendaraan bermesin saja nihil, apa lagi yang diharapkan? Kampung di Gili Trawangan menjadi tiruan yang hampir sempurna akan kampungku belasan tahun yang lalu. Jalan tanah setapak yang sunyi, tanah kosong luas, pohon besar, dan unsur sepi mendominasi. Sepi yang menenangkan, bukan menyeramkan. Kami meniti jalur tak resmi yang terbentuk karena sering dilalui, semacam jalur unofficial. Ketika jalan sub-resmi itu hilang tertutup ilalang, kami memilih menapaki tanah manapun yang kami mau. 

Aku melihat tumpukan sampah cukup tinggi. Letaknya ada di tengah pulau ketika kuperiksa di peta. Dengan gaya hidup seminimalis ini, tumpukan sampah yang aku lihat tidak minimal sama sekali. Memang lebih sedikit daripada TPS di kota-kota besar, tapi tetap saja jumlahnya cukup besar menurut subyektifitasku. Sapi-sapi pun menjadikan sampah salah satu menu diet mereka disamping rerumputan, sebagai konsekwensi karena sudah digembala-liarkan di sekitar TPS. Sepertinya mecin di makanan olahan yang terbuang membuat mereka merasakan nikmatnya sensasi umami.

Melewati TPS, aku dan Imad menjumpai dataran yang lebih lapang. Rerumputan kali ini lebih tinggi, sapi pun lebih banyak. Ya beginilah harusnya habitat sapi. Di beberapa titik lumpur masih basah, menjebak siapapun yang tidak berhati-hati melangkah. Kemungkinan besar ini daerah rawa, hanya saja airnya tidak terlalu banyak dan menjadikan tanah-tanah itu berbentuk lumpur. Untung dibuatkan jalur khusus dari papan kayu, jadi tidak perlu susah payah mencari pijakan yang pas. Imad kelihatan tidak terlalu tertarik dengan lingkungan sekitar. Aku pun segera menyusulnya setelah mengambil foto sapi yang sedang merumput.

Keluar dari labirin perkampungan tengah pulau, kami berdua mendapati sisi sebaliknya dari tempat penginapan kami. Sisi pulau terluar, yang jauh dari jangkauan kapal penumpang jurusan Bangsal-Gili. Kontras, kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan. Sisi ini terlalu suram untuk dikatakan sebagai pulau langganan bulan madu. Pandemi terasa sangat mematikan di sisi ini, disamping memang secara harfiah virusnya sudah membawa banyak korban. Beberapa bangunan hotel dan resort terbengkelai. Kolam renang yang menghadap laut dibiarkan kering. Kursi-kursi kayu terlihat kusam dan porak poranda beberapa biji, mungkin terkena angin dan tidak ada yang merapikan. Kedai es krim yang dari pengamatanku cukup laris beberapa tahun kebelakang menyisakan sebuah kotak kokoh yang kosong dengan kaca berdebunya. Gili Trawangan seakan bersolek memakai topeng di sisi satu, dan sedih mbrebes mili di sisi satunya. Meme masked crying wojak sangat pas menjadi simbol kondisi ini.

Setidaknya tidak semua hal harus didramatisir menjadi kolam kesedihan. Karena pandemi yang sama, aku dan Imad jadi bisa berfoto di ayunan besar tepi pantai dengan pandangan lepas ke arah laut. Agaknya kalau tidak ada pandemi akan sulit berfoto dengan salah satu tema kekinian itu. Pertama karena kami tidak mungkin menginap di hotel mahal itu sehingga terbatas untuk menggunakan ayunan. Kedua, kalaupun bisa menggunakannya sudah barang tentu harus gantian dengan yang lain dan harus antre, tidak sebebas ketika pagi itu.

Mendekati waktu janjian snorkeling, kami mempercepat langkah kembali ke penginapan. 

***

Kami kembali berjalan potong kompas melewati kampung-kampung sambil mencari sarapan. Penginapan kami kali ini tidak menyediakan makan pagi gratis. Aku ingat Nex Carlos pernah makan di salah satu kedai di kampung sini. Aku pun mencari tempat makan yang pernah diulas itu dengan berpedoman pada gmaps. Dan ketemu! Beruntung tidak ramai ketika kami sampai, karena biasanya tempat yang pernah dikunjungi pesugihan online itu sukses mengundang banyak orang penasaran, seperti aku.

Aku mendekati warung, menanyakan menu yang dipesan oleh Nex Carlos. Sayangnya kami harus gigit jari, menu yang kucari tidak tersedia. Buat apa kalau tidak bisa meniru kondimen yang dipilih panutan banyak pemburu kuliner itu, dan akhirnya hanya makan lauk standar yang sudah sering dimakan? Aku pun mengurungkan makan di sana, kuajak Imad mencari warung lain. Tidak jauh dari kedai aku melihat nasi bungkus bentuk kerucut ditata di depan rumah, aku membeli dua bungkus. Harga yang murah untuk ukuran lingkungan wisata tidak membuatku berpikir dua kali. Masalah rasa belakangan, yang penting setelah snorkeling gak masuk angin cuma-cuma karena perut kosong.

Kami berdua makan lesehan di depan kamar penginapan. Sebuah botol air mineral 1.5 liter membantu kami mempercepat makan. Usai menunaikan semua persiapan, kini saatnya menunggu calling-an guide snorkeling.

Sarapan di Gili Trawangan

***

Lama sekali menunggu kabar dari agen snorkeling. Sudah mendekati waktu janjian, tapi belum ada kabar satupun yang masuk ke ponsel. Aku sempat mengingatkan beberapa kali sebelum batas waktu janjian, tapi tidak ada respon. Pertanyaan "Apakah ini scam?" mulai membayangi. Keputusan aneh siang sebelumnya baru saja kusadari. Kenapa harus di Lombok memesan paket snorkeling padahal titik janjiannya di gili? Sekarang sekarang ini jadi tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab sebagai perpanjangan tangan agen. Aku tidak memberi tahu Imad, kubiarkan ia masih dengan ekspresi chill seperti sebelum-sebelumnya.

Di tengah rasa was-was hapeku berbunyi, muncul sudah notifikasi yang ditunggu dari tadi. Keraguanku luruh seluruhnya, hilang terbawa suara notifikasi yang menguar bersama angin laut. Terbaca pesan di notifikasi mengambang tentang permintaan kepadaku untuk mengunjungi pos penyeberangan. Pesan itu dikirim dari kontak yang aku dapat di Bangsal. Pos dimaksud ada di salah satu sisi pulau, ke arah selatan melewati kedai mi instan malam sebelumnya.

Setibanya di pos penyeberangan, muncul lagi skeptis di pikiranku. Tempat ini terlalu sepi untuk dikatakan pos penyeberangan. Untuk menepis kekhawatiranku, aku bertanya kepada seorang penjaga toko souvenir dan perlengkapan snorkeling terkait open trip. Ia tidak mengerti, dan sebagai ganti jawaban pertanyaanku ia menunjuk orang lain yang menurutnya lebih mengerti mengenai paket snorkeling yang aku ceritakan. Pilihan yang tepat! orang yang ditunjuk penjaga toko tadi adalah guide yang akan mengantar berkeliling sekitar Gili Trawangan. Aku diminta menunggu dua orang lain yang rencananya akan berangkat juga dengan kapal yang sama. Total ada empat peserta paket sekarang, aku, Imad, dan dua orang lain.

Tak lama dua orang itu datang juga, sepasang laki-laki perempuan yang sepertinya sedang liburan (atau bulan madu?). Kedua orang ini lebih siap, jauh lebih siap dari siapapun yang aku temui di pagi menjelang siang kala itu. Mereka pun membawa sendiri kacamata snorkel, yang sekilas kelihatan kualitasnya bukan remeh temeh. Aku tidak bisa menceritakan lebih detail karena aku pun tak pernah mencoba kacamata renang mahal seperti itu. Sebagai persiapan ia oleskan baby oil ke bagian kaca, supaya tidak berembun ketika menyelam. Aku dan Imad tidak mempersiapkan apapun, hanya bergantung pada peralatan yang diberikan guide kepada kami. Saking tidak siapnya, kalaupun diberi binocular akan kami pakai juga sepertinya. Terlalu nriman kadang tidak selamanya baik.

Guide mengajak kami menaiki perahu kayu ukuran sedang. Sudah ada pengemudi di bagian belakang, dan satu orang lain yang menemani pengemudi. Aku baru tahu jika ternyata guide tadi hanya mengantar sampai dermaga saja, guide sebenarnya untuk kegiatan mengarungi laut adalah pengemudi kapal dan partnernya itu. Aku tak tahu beda kualifikasi antar ketiga orang itu, yang aku tahu hanya hari itu kami harus snorekeling, terserah siapa yang mau jadi pemandunya.

***

Air tidak bisa tenang, gelombang-gelombang tetap saling bertabrakan satu dengan yang lain. Langit juga tidak berwarna biru, kelam kemarin malam masih tersisa. Beruntung masih ada angin yang berbelas kasih bertiup tidak terlalu kencang.

Perahu bergerak perlahan, mesin tempel yang lebih kecil daripada mesin kapal penumpang menuju gili mengejan agar haluan terdorong memecah ombak. Titik pemberhentian awal tidak terlalu jauh dari dermaga, tapi menjadi sedikit lama karena laut sedang mengajak bermain-main.

Kami pun tiba di Nest Underwater Statue. Sayangnya karena kondisi air yang keruh dan berombak, kami dicegah untuk turun ke air. Sebagai gantinya abang guide berjanji akan kembali lagi sebelum trip selesai, sembari menunggu kondisi yang lebih ideal untuk menyelam. Pengemudi menyalakan mesin lagi dan perahu mulai bergerak ke arah lain.

Kembali kami melompat-lompat kecil mengikuti perahu yang sedang offroad di laut, benar-benar offroad secara harfiah. Aku dan Imad sudah sayu, sedang pasangan laki-perempuan yang ada di seberang kursi penumpang kami itu sedang asyik dengan dunia mereka sendiri. Bukan waktunya aku iri dan berusaha membalas kelakuan mereka bersama Imad. Satu-satunya pilihan yang paling masuk akal adalah tidur, persetan dengan adegan live action film romance di depanku. 

Lalu setelah 30 menit berlayar kami tiba di Gili Meno. 

Perahu membuang sauh di area agak jauh dari daratan, kami langsung menceburkan diri dan berenang sampai pinggir pantai. Impresi pertamaku ketika melihat dasar laut adalah terenyuh. Semua terumbu karang mati dan hanya menyisakan karang kapur yang pucat pasi. Ikan pun cuma itu-itu saja, tapi daya tariknya masih tertolong oleh jumlah yang melimpah. Aku mengambang mengikuti arus untuk menghemat tenaga, sambil mengamati ikan yang lalu lalang mencari makan. Kucoba menghitung jenis ikan yang ada. Satu, dua, empat, tujuh, lalu tiba-tiba berasa bangun dari lamunan ketika sadar jenis ikan yang ada tidak sesedikit perkiraanku sebelumnya. Aku semakin larut dengan arus, sesekali saja melongok ke luar air untuk memastikan posisi Imad. Ia juga nampak sedang enjoy terapung-apung seperti gedebog pisang. Yang membuatku masih mengenalinya sebagai manusia hanyalah corong pipa nafasnya yang berwarna mencolok. Aku kembali mencelupkan wajah ke dalam air, mengagumi ikan-ikan yang membentuk perkumpulan, mungkin semacam ormas.

Hanya empat orang, tapi sulit sekali menyatukan kami. Semua kepala punya ketertarikan yang berbeda. Guide pun terpaksa merangkum semua perbedaan itu menjadi satu tujuan, kembali ke atas perahu. Sudah habis waktu di Gili Meno, waktunya beranjak ke spot berikutnya.

Di dekat Gili Meno abang guide bilang jika ada pulau yang menjadi salah satu primadona orang-orang yang berlibur ke Gili Trawangan, Pulau Pasir namanya. Kami bersama-sama mencari pulau yang dimaksud sambil perahu memelankan lajunya. Kenapa harus dicari? Karena pulau itu kadang tampak kadang tidak. Mungkin akan lebih pas dinamakan gosong pasir daripada pulau pasir agar tidak mengecoh.

Beberapa kali perahu maju-mundur dan berputar di area sempit yang sama, namun tak kunjung ketemu pulau yang dimaksud guide. Barangkali angin yang kencang dan hujan semalam membuat permukaan air awet tinggi, dan menenggelamkan gosong pasir yang kami cari. Cuaca sepertinya lebih buruk dari yang aku pahami. Kami pun harus merelakan kesempatan main di Pulau Pasir.

Perahu akhirnya bertolak menuju ke titik awal yang sempat kami lewatkan pertama kali karena kondisi air yang keruh, hanya untuk kemudian mendapati air yang tetap saja keruh. Kondisinya tidak berubah, masih sama seperti waktu berangkat. Guide menggelengkan kepala sebagai isyarat Nest Underwater Statue benar-benar tidak bisa dikunjungi. Entah yang lainnya, tapi mendengar pernyataan guide kali ini tidak membuatku terlalu kecewa. Sudah sejak lama aku cenderung tertarik kepada yang alami ketimbang buatan manusia. Maka, melewatkan melihat patung-patung yang sengaja ditanam di bawah laut bukan menjadi hal yang harus diperkarakan dengan serius bagiku pribadi. 

Perahu perlahan melipir kembali menuju pulau Gili Trawangan. Dan terakhir sebelum perahu benar-benar sandar dan berhenti, sebagai ganti sekian ketidakjadian mengunjungi beberapa spot rekreasi, kami diajak mengunjungi Underwater Bikes. Di sinilah terakhir kali aku dan Imad bisa berpuas-puas menyelam dan berenang di Gili Trawangan. Lalu apa yang dilihat? Sesuai nama yang ada unsur "bike"nya, atraksi utama di sana adalah motor. Motor-motor vespa lawas dicelupkan dengan sengaja, sebagai tempat tumbuh terumbu karang. Ada juga ikan-ikan yang berenang di sana, tapi tidak sebanyak di Gili Meno. Hiburan dari ikan-ikan itu adalah kerakusan mereka, apalagi jika dibawakan segenggam biskuit gabin. 

Salah satu pemandu open trip usai mengecek perahu

Trip diakhiri setelah tidak ada lagi yang bisa kami nikmati. Usai perahu sandar di pos penyeberangan, aku dan Imad berpisah dengan empat orang lainnya. Dari sekian titik yang kami kunjungi, Gili Meno kunobatkan sebagai top list paket snorkeling yang kami pilih. Keberadaan penyu di sana menjadi pembeda dan memberi nilai positif yang berkali lipat.

***

Setelah berkemas, kami mengantre kapal kembali ke pelabuhan Bangsal. Budget menginap di Gili Trawangan yang hanya untuk semalam dan agar menghindari pembengkakan biaya penitipan motor menjadi alasan kami segera kembali ke Lombok.

Pelayaran sedikit lebih tenang dibanding waktu berangkat. Sedikitnya itu yang sedikiiiit sekaliiii, sangat sedikit sampai-sampai yang kurang pengalaman tidak akan merasakan ada perbedaan. Satu-satunya bantuan mengatasi gejolak laut siang itu adalah rasa lelah setelah snorkeling. Aku jadi bisa tidur, dan tidak perlu risau dengan ombak. Sepertinya Imad merasakan hal yang sama.

Kami tiba di pelabuhan Bangsal sudah hampir ashar.

***

Kebiasaan orang yang berboncengan adalah panik siapa yang terakhir pegang karcis parkir, begitu juga kami. Aku menanyakan ke Imad, Imad juga ikut meraba-raba sakunya. Untung saja ketemu. Pengeluaran yang tidak perlu gara-gara denda berlipat seperti peringatan yang digantung di dekat penjaga parkir berhasil kami hindari. Kami langsung tancap gas, tanpa memedulikan mesin motor yang perlu mendapat jatah pemanasan layak setelah lebih dari 24 jam diam membeku. Apapun yang terjadi, sore ini harus sampai guest house. Oh ya, ini adalah guest house pertama yang kami siapkan dan pesan sebelum sampai di suatu lokasi.

Jalan biasa saja, tidak jelek, tapi sulit juga dikatakan bagus. Bahu jalan ditumbuhi rumput liar yang tinggi pertanda jarang ada perawatan dari pemerintah, juga jarang adanya tukang rumput di sekitaran. Kami pun melalui sebuah pasar. Pasar biasa saja, yang tidak biasa orang-orangnya. Penumpang-penumpang mobil elf berjejalan, tapi tidak di dalam elf. Mereka semua di atas atap elf, duduk terbuka diantara barang-barang yang diikat kuat di bracket besi tambahan. Pemandangan yang menarik karena belum pernah kutemui sebelumnya. Memang pernah lihat rombongan ibu-ibu naik pick up, atau bocah pramuka naik truk, tapi tidak dengan orang naik atap mobil elf.

Terulang lagi, sehabis pasar kami melewati jalan sepi khas penghubung antar kabupaten. Vegetasi tinggi menutup sisi jalan. Aspal dan tanah lembap menandakan hujan baru saja turun, dan tidak dapat kering dengan cepat karena sinar matahari juga tidak kunjung menembus rindangnya pepohonan. Melewati jalur yang banyak kelokan, aku melihat beberapa penjual di kedai bambu yang saling bersinggungan. Mereka menjual semacam buah berbentuk bulat kecil-kecil, dan juga semacam ketupat tapi berbentuk lebih kecil daripada ketupat ukuran normal. Daripada penasaran, aku mengajak Imad untuk coba membeli beberapa biji kedua dagangan itu. Buah yang belakangan aku ketahui sebagai kepudung ditimbang satu kilo, sedang jajan tradisional yang dari keterangan penjual namanya kue bantal kami beli satu ikat.

Jarak dari Bangsal menuju penginapan sebenarnya tidak terlalu jauh jika dibanding kebiasaan motoranku pulang kampung tiap minggu yang menempuh 100 km. Tapi, kawasan yang asing membuat perjalanan terasa lebih lama. Semakin mendekati Mataram, jalan kian bagus. Lebar, mulus, dan lurus, cocok sekali untuk balap liar. Aku menggeber Vario sewaan sekuat-kuatnya, penasaran seberapa top speed motor ini ketika dibuat berboncengan. Melihat ukuran motor dan beban yang ditanggungnya, 70 km/jam di speedometer mengindikasikan mesin yang dipasang bukanlah mesin kaleng-kaleng. Pantas motor ini lebih banyak dipakai di daerah berbukit seperti Ngantang.

Selepas ashar kami tiba di hostel, di Villa Dende. Memang namanya ada unsur vila, tapi melihat letaknya di tengah kota agak janggal menyebutnya sebagai vila. Tapi begitu masuk dan melihat fasilitasnya, emmmm sebutan vila tidak terlalu salah. Aku menemui pemilik hostel. Ibu itu mengatakan telah menelponku beberapa kali tapi tidak terjawab. Bagaimana bisa menjawab sedang aku memegang stang motor terus-terusan? Beliau hendak menyampaikan bahwa kami ditawari pindah kamar, karena ada keluarga lain yang ingin menempati kamar yang telah kami pesan sebelumnya. Kamar yang rencananya kami tiduri malam itu cukup menyenangkan, karena posisinya yang langsung menghadap kolam renang. Ya tapi namanya tidak rejeki, kami akhirnya digeser ke kamar lain, dengan dispensasi kamar baru yang lebih luas daripada kamar sebelumnya, minus tanpa pemandangan kolam renang. Toh memang tidak ada niatan untuk renang. 

Kami melepas dan menata barang bawaan. Tidak bisa dikatakan menata juga sebenarnya karena asal taruh di salah satu sudut kamar. Hal pertama yang aku lakukan di kamar itu adalah mencicipi hasil pembelian kami sebelumnya di jalan perbatasan kabupaten. Untuk kapundung rasanya asam sekali, Imad hanya makan beberapa biji sedang sisanya aku yang mengembat karena sayang kalo dibuang. Untung aku masih doyan dengan yang asam-asam. Giliran makan roti bantal, gigitan pertama lumayan membuatku berpikir untuk mencerna rasa apa yang baru pertama kali mampir ke lidah. Rasanya terlalu unik, sampai tidak bisa kutemukan padanan rasa dengan panganan-panganan yang pernah kucicipi sebelumnya. Terbuat dari ketan, tapi ada rasa pisangnya yang entah bagaimana bisa bercampur di situ. Salah satu makanan yang tidak boleh terlewat menurutku ketika suatu waktu kembali ke Lombok. Aku serasa menemukan hidden gem, karena memang tidak banyak ulasan di internet mengenai makanan satu ini. Sesaat kemudian Imad pamit ke apotek, ia mau membeli obat untuk kakinya yang melempuh. Aku juga ikut keluar, mencari bengkel terdekat untuk memperbaiki standar motor yang rusak di kebun kopi mencari air terjun Mangku Kodek.

***

Gerimis meringis di sore hari. Tetesan bulir-bulir air membal ketika jatuh di dedaunan sekitar kamar. Cuacanya memang menghendaki kami agar tidak kemana-mana. Semesta meminta kami kembali mengatur ritme.

Hari kian petang. Tidak ada semburat jingga, yang ada hanya abu-abu dari awan tadah hujan. Akan sangat membosankan jika hanya berpangku tangan. Aku dan Imad memutuskan keluar malam mencari makan. Sengaja kami berangkat mendekati waktu isya, agar bisa sekalian merasakan solat di Islamic Center NTB.

***

Dari jalan sudah kelihatan megahnya Masjid Raya Hubbul Wathan, dan ketika sudah berada di dalamnya aku pun mengamini kata orang yang menyebut masjid ini sebagai masjid terbesar se-Nusa Tenggara Barat. Sebagaimana masjid raya di daerah lain, Islamic Center ini juga memiliki ukuran yang masif, baik bangunan utamanya dan juga komplek secara keseluruhan. Tapi yang memakjubkan untukku, adalah suasana adem dan mengayomi ketika duduk di dalam masjid. Banyak masjid besar yang pernah kusinggahi, tapi tidak banyak yang memberikan kesan merangkul seperti Islamic Center Mataram. Aku dan Imad solat bersama jamaah lain, tidak ada yang istimewa dan berbeda dengan solat isya lainnya. Hanya saja ada satu hal yang membuatku kikuk. Ketika masuk masjid kami dibagikan sebuah kain putih kecil, tanpa diberi tahu apa fungsi kain itu. Aku pun menirukan jamaah lain yang menggunakan kain putih itu sebagai alas sujud, meskipun ada juga yang menjadikannya sajadah mulai dari kaki sampai kepala. Kukira kain itu jadi souvenir masjid, dan ketika akan keluar ternyata kain itu dimasukkan kembali ke dalam sebuah kotak di dekat pintu. Batal sudah dapat kenang-kenangan dari Islamic Center Mataram. 

Masjid Raya Hubbul Wathan

Selanjutnya barulah kami mencari makan malam. Karena yang sedang naik daun adalah Nex Carlos, maka kepada siapa lagi kami harus mencari referensi makanan di daerah antah berantah begini? Memang mashyur jika ayam taliwang adalah makanan khas Lombok, tapi saking mashyurnya sampai bingung mana yang harus dipilih. Di kota besar seperti Mataram, penjual ayam taliwang sama banyaknya seperti penjual pecel lele di Jakarta. Maka dari itu, daripada bertaruh pada ketidakpastian kami serahkan saja pilihan mengikuti salah satu foodvlogger yang terkenal itu.

Kebetulan kedai ayam taliwang rekomendasi Nex tidak terpaut jauh dari masjid raya. Hanya saja di daerah yang tidak dikenal, jarak menjadi terasa lebih jauh berkali lipat. Penerangan yang minim juga menambah keruwetan. Lampu-lampu besar hanya ada di jalan protokol, sedikit saja berbelok maka lampu yang bersinar seringkali hanya dari pekarangan rumah. Aspal masih basah, membuatnya semakin gelap hampir menyamai gelapnya rumah kosong yang kami lalui di sebuah belokan. Usai melewati gang-gang kecil, kami sampai juga di kedai yang kami maksud. Dan kedai itu lebih dekat ke jalan utama daripada jalan gang. Memang gmaps ini seringkali agak-agak menjengkelkan.

Kami memesan dua ayam, seporsi plecing kangkung, dan dua porsi nasi. Di bayanganku, ayam satu ekor utuh adalah besar, bahkan tidak habis dimakan berempat. Plecing kangkung nanti secukupnya saja, wong cuma pelengkap. Kalo nasi harus dua, kurang dari itu maka akan meningkatkan potensi pingsan salah satu dari kami.

Itu tadi bayanganku, angan-angan akan menu yang akan disajikan kepada kami. Nyatanya waktu datang tidak semua angan-angan itu terwujud. Isian plecing kangkung masih sesuai prediksiku untuk satu porsinya, nasi juga wajar sebagaimana kuantitas nasi di tukang pecel lele, giliran ayam taliwangnya yang membuatku tertawa dalam hati. Bagaimana tidak tertawa, dua laki-laki dewasa awal ini harus memakan seekor ayam mungil, ayam doro kami memanggilnya di Jawa Timur. Terlalu kecil bahkan tidak akan membuat kenyang jikalau memakan dua ekor ayam sekali duduk. Namun perut sudah terlalu lapar, dan yang ada memang hanya itu, hujan membuat banyak penjual enggan membuka lapak. Kami makan berdua sambil sesekali mendengarkan musik dari air yang menetes di ujung tenda, jatuh dan bersatu dengan tetesan lain di kubangan pinggir jalan.

Setelah makan kami kembali ke penginapan. Esok hari ada jadwal lain yang harus kami libas.


Part 3                                                                                                                                                  Part 5

Komentar