Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 3)

Dingin kembali menusuk-nusuk perut seperti di Sembalun, memaksa yang tertahan untuk segera dilepas liarkan. Panggilan alam.

Beres menjawab panggilan itu, aku kembali ke kasur. Imad masih terpejam di sisi jauh kasur. Springbed yang nyaman mengikat lekat tubuh-tubuh yang letih. "Tidur lagi ah, toh memperpanjang tidur juga tidak ada yang menskors" gumamku. Kami memang sudah janjian mengahampiri Tiu Kelep pagi hari, tapi seingatku tidak ada kesepakatan jam persisnya. Dan jam 9 pun masih masuk dalam rentang waktu yang layak untuk menyampaikan good morning.

***

Matahari mulai mengintip ketika kami disuguhi minuman hangat. Teh biasa menjadi lebih nikmat jika dicecap bersama lukisan alam, lengkap dengan basahan tipis udara pegunungan yang menempel di bibir gelas. Nasi goreng datang belakangan, yang walaupun baru saja diangkat dari penggorengan tapi bisa langsung dimakan karena kehilangan panasnya dengan cepat. Saking dinginnya, aku rasa banaspati akan tidak jadi menyeramkan ketika muncul, malah bisa jadi seperti cosplay obor saja hantu khas Indonesia itu. 

Morning tea time

Kami akhirnya berangkat ketika waktu dhuha sudah hampir sejam berlalu. Tas dan perlengkapan sengaja kami tinggalkan di penginapan, aku hanya menggondol tas selempang untuk wadah ponsel, kamera, dan dompet. Imad? manusia ini terlalu keren, cukup membawa hape dan ia pun sudah siap berangkat. Meskipun sangat minimalis, tapi Imad adalah kepala divisi penerangan kami. Bagaimana tidak, dari hp kepunyaannya lah kami bisa tahu arah mana yang harus dituju. Indosat yang ada di ponselku macam wapres presiden ke-delapan, ada tapi banyak yang bingung apa fungsinya.

Kami mengambil jalan setapak di belakang penginapan. Ada dua alasan penyebab kami tidak mengambil jalan masuk resmi. Alasan pertama karena kami pun tidak tahu di mana jalur resminya, dan alasan kedua karena ikut arahan warga sekitar, yang bilang kalau jalan setapak belakang penginapan itu bisa membimbing kami sampai Tiu Kelep jika disusuri terus.

Jalannya seperti jalanan ke lodenan (kebun di perbukitan.pen), terhampar dari tanah dan dengan lebar yang hanya muat dilalui satu motor. Bisa saja dua motor asal salah satu mengalah untuk berhenti. Oh ya tak lupa mengingatkan kembali jika kami masih tidak banyak berkomunikasi, sesekali saja membahas tanaman yang ada. Kedua manusia yang tidak memiliki background ilmu kehutanan membahas pepohonan tentu saja tidak akan terlalu jelas topiknya, seperti si buta membimbing si lumpuh. Kami hanya membahas apa yang ingin kami utarakan, bukan yang seharusnya disampaikan sesuai kaidah keilmuan yang valid. Harap maklum kami yang sama-sama besar di desa hanya tahu tanaman khas pedesaan dan perkebunan. Jika bertemu dengan tumbuhan di luar pengetahuan kami, ya paling jauh kami carikan kemiripannya dengan referensi kami yang terbatas.

Beberapa kali suara motor merembet dari belakang lalu melintasi kami. Mereka ojek yang membawa pengunjung lain untuk melihat air terjun. Dari tampilannya, mereka yang menumpang ojek itu sepertinya bukan orang yang bisa dikatakan sekasta dengan kami. Aku pun bisa memahami alasan mereka lebih memilih ojek daripada berjalan kaki.

Hingga beberapa waktu kemudian kami melihat air terjun yang berukuran medium. Dari plang namanya ada tulisan "Air Terjun Sendang Gile". Kami hanya mengambil foto sebelum meneruskan perjalanan. Agak sulit untuk turun langsung dan bermain di bawah air terjun, ditambah juga memang bukan tujuan utama menjadi alasan kami menikmati Sendang Gile sekadarnya. Beberapa kedai kecil yang belum buka seolah tertegun mengamati tingkah dua orang unik ini yang asyik sendiri. Seorang bapak tua menyusul kemudian, mengawasi kami di atas salah satu saung yang berdiri terpisah dari kumpulan kedai. Lalu agenda foto-foto kami dibubarkan oleh gerimis kecil yang dalam hitungan menit berubah menjadi hujan sedang. Jika memaksa lanjut ke Tiu Kelep sudah pasti kuyup. Oleh karena itu kami berdua memutuskan bergabung ke saung, mengiyakan ajakan mampir oleh bapak tua.

Air terjun Sendang Gile

Bapak mengajukan pertanyaan pembuka, aku pun tanggap menimpali agar mewujud suasana yang akrab. Beberapa pertanyaan susulan dilemparkan beliau, sayangnya aku menjawab dengan agak kesulitan karena pendengaranku terganggu gemuruh hujan. Sampai pada satu titik aku sadar bukan pendengaranku yang terganggu, tapi si bapak menggunakan bahasa daerah dengan sedikit campuran bahasa Indonesia! Usaha kerasku sia-sia, jawabanku hasil memutar otak sepertinya juga tidak berhasil memuaskan penasaran beliau. Namun jika ditinjau dari tujuan agar mengakrabkan satu sama lain, sepertinya percakapan kami masih bisa dianggap berhasil.

Hujan kembali menjadi rintik ketika kami pamit kepada bapak untuk lanjut menuju Tiu Kelep. Aku tahu bapak tua itu mendoakan dan memberikan pesan untuk berhati-hati, hanya saja bahasa yang beliau pakai tetap sulit kupahami.

Jalan tanah semakin legam disiram hujan, tapi tidak ada air yang menggenang. Aku dan Imad kembali membahas tanaman-tanaman yang ada di sekitar. Sesekali aku berhenti untuk mengambil potret sesuatu yang menurutku menarik, Imad yang di depan terpaksa berhenti menunggu.

Setelah melewati jembatan yang cukup tinggi untuk menghubungkan dua sisi yang dipisah jurang dalam, kami berjumpa sekelompok pekerja. Mereka sedang mengecor jalan. Sepertinya kenaikan pamor Lombok membawa angin pembangunan sampai ke titik itu. Lalu kami juga bertemu beberapa ibu yang membawa gendongan dan sunggi-an berisi tanaman hasil ngeramban di hutan. Dari ukuran jumlah, sepertinya lebih kepada untuk konsumsi sendiri daripada dijual. Ibu-ibu itu terampil sekali ketika menyunggi bakul di kepala. Patut diingat jalanan tanah yang licin tidak akan ramah kepada siapapun yang lewat. Tapi ibu-ibu itu sudah kenal betul dengan daerah Tiu Kelep, hingga jalan pun sungkan dan tak berani macam-macam dengan ibu-ibu perkasa itu.

Jembatan menjelang Tiu Kelep

Setelah lumayan jauh berjalan, jalan tanah itu putus, tidak ada arah lanjutan kemanapun. Tidak ada juga penunjuk jalan menuju Tiu Kelep, gmaps hanya memberi tahu bahwa air terjun itu sudah dekat di depan sana. Hal yang paling masuk akal saat itu adalah menyusuri sungai dangkal yang cukup besar. Aku dan Imad menjinjing sandal masing-masing, menggulung celana, lalu berjalan menyusuri sungai. Beberapa kali kami harus melalui bagian sungai yang deras dan sedikit dalam, beberapa kali juga kami memanfaatkan tanggul dari batuan yang ditahan oleh kawat besi untuk menghindari bagian sungai yang berbahaya.

Akhirnya setelah sekian jarak menyusuri sungai, kamipun membuktikan arahan google maps. Tiu Kelep berdiri megah di hadapan kami. Tampias air yang menghujam ke bawah membasahi pakaian sekaligus menyegarkan pikiran. Besar sekali debit airnya! Aku memutar kamera ke belakang badan agar tidak banyak terkena percikan air. Imad yang terlalu berani langsung pergi mendekati air terjun. Ia meminta untuk difoto. Sebagai satu-satunya teman perjalanan sudah pasti aku tidak kuasa menolak. Sebagai gantinya, aku meminta hal serupa ke Imad. Setelah mengantongi foto mandatori dengan latar belakang air terjun, kami sibuk sendiri-sendiri. Imad masih saja bermain air dan berputar-putar di dekat titik hujaman air, sedang aku mengambil foto dari beberapa sudut yang aku harap bisa memberi perspektif berbeda terhadap Tiu Kelep.

Beberapa waktu kemudian mendung semakin gelap. Aku mengajak Imad untuk kembali ke penginapan. Ia mengangguk. Di perjalanan pulang kami berpapasan dengan sekelompok anak muda yang dari arahnya juga ingin mengunjungi Tiu Kelep. Lebih banyak jumlah orangnya, jadi lebih ramai. Aku dan Imad saling bertukar senyum dengan mereka. Setelah tak lagi terlihat, kami kembali berjalan dalam hening.

Ketika kembali melewati proyek cor jalan, tukang-tukang tadi sudah tidak terlihat. Mungkin karena faktor hujan. Tidak jauh dari proyek cor terlihat beberapa remaja sekitar umur-umur SMP sedang main perosotan. Bukan perosotan artifisial bahan plastik itu, tapi mereka meluncur memanfaatkan saluran air berlumut yang ada di bawah jembatan penghubung tadi! Memang mainan akamsi di manapun agak bikin ngilu. 

Ketika mendekati Sendang Gile lagi, kami melihat sekelompok lain dengan pakaian necis sedang antre untuk diantar ojek. "Jadi ini pangkalan ojeknya" kataku dalam hati. Aku pun menambah ujaran dalam benak, "memang beda gaya orang yang beneran siap semua, dengan dua makhluk dadakan macam kami berdua". Tapi, bukankah itu esensi dari petualangan dan sumber keseruannya?

Lalu entah bertiup dari mana, aku merasakan ngeri secara tiba-tiba. Baru saja terpikirkan, bagaimana jika terjadi air bah dari atas Tiu Kelep dan membuat sungai itu meluap? Tidak ada tanda apapun yang bisa kami pahami untuk jadi patokan. Pun kami berdua tidak ada yang memiliki sertifikat penyintas hutan. Ngeri! benar-benar ngeri hanya dengan membayangkannya saja! Tapi karena sudah terlewat, maka aku coba menenangkan diri, semoga rombongan setelah kami juga baik-baik saja. Dan kami sampai kembali ke penginapan lebih cepat daripada pada saat berangkat (meskpiun ini sepertinya hanya prasangkaku saja).

Salah satu bagian sungai Tiu Kelep

***

Kami berpindah dari bagian utara Lombok, melanjutkan perjalanan. Karena dari awal tidak ada rencana dan persiapan untuk mendaki, maka tidak ada juga alasan untuk berlama-lama di sana. Sudah habis bucketlist kami di sekitar Rinjani. Penginapan yang ada memang murah dan menakjubkan, tapi aku adalah tipe traveller, bukan tourist. Dan traveller akan mengumpulkan sebanyak-banyaknya cerita, bukan cuma story untuk media sosial, begitulah bunyi ungkapan yang kupedomani tanpa paham siapa pencetus awalnya.

Sebenarnya tidak habis-habis amat, masih ada satu tempat lagi yang masuk daftar kunjunganku di Lombok Utara, Masjid Bayan Beleq. Letaknya memang cukup terpisah dari daerah wisata lainnya, hanya saja akan sayang jika tidak mengunjungi salah satu situs sejarah di Lombok itu, terlebih di sana memuat sejarah Islam. Beruntung posisinya masih satu rute dengan tujuan kami ke Lombok Barat, jadi tidak perlu menggunakan sumber daya lebih banyak.

Vario kami kembali mengaspal di jalanan TNGR. Lebih banyak medan menurun yang kami temui, karena setelah dari puncak ke mana lagi jikalau tidak ke bawah bukan? Suasana masih tetap sepi, beberapa kali saja kami berpapasan dengan mobil losbak yang mengangkut beberapa komoditas, dan lebih banyak lagi berpapasan dengan warga sekitar yang motoran tanpa pakai helm. Dari kebiasaan mereka aku menduga tidak sering diadakan operasi penertiban lalu lintas di sana. Sepertinya polisi agak enggan mencari-cari kesalahan pemukiman "terpencil" seperti Lombok Utara. Dan entah kenapa, semakin tidak ada polisi malah terasa semakin aman keadaan. Miris.

***

Petunjuk di peta memberitahu masjid kuno tujuan kami sudah tidak jauh lagi. Terletak di tengah perkampungan, harusnya tidak sulit menemukannya. Lingkungan yang kami lalui biasa-biasa saja, tidak heboh dan meriah seperti umumnya daerah sekitar situs-situs reliji di pulau Jawa. Kami akhirnya tiba, dan memang benar masjid itu berada di pinggir jalan utama. Imad turun lebih dahulu, baru kemudian aku memarkir motor di tempat parkir. Di sebelah tempat parkir, ada segrup bapak-bapak bercengkerama di sebuah saung bambu. Sejak memasuki Lombok utara dua hari sebelumnya, bergerombol sambil ngobrol sepertinya sudah menjadi kebiasaan orang sana. Mungkin karena pengaruh sulit sinyal juga, jadi mereka pilih menghabiskan waktu luangnya dengan interaksi yang nyata, bukan artifisial lewat medsos sebagaimana kebiasaanku.

Aku mengulukkan senyum kepada beberapa bapak yang menoleh ke arahku, lalu berjalan masuk melewati pagar bambu pembatas kawasan masjid.

Di dalam telah ada seorang laki-laki yang sedang menyapu halaman. Halamannya tidak sama seperti masjid di Jawa atau kota besar lain yang pernah kujumpai, malah lebih dekat kepada pura di Bali. Pohon-pohon kuno tumbuh di sana-sini dan berdiri tinggi sekali, dengan batangnya yang perlu paling tidak tiga atau empat laki-laki dewasa agar dapat dipeluk sempurna. Masjidnya terletak di undakan paling tinggi, di atas pondasi bebatuan. Berbahan anyaman bambu untuk dinding dan ijuk untuk atapnya, tingginya hanya beberapa meter di atasku. Kalau diukur sampai puncak limas atapnya mungkin tak sampai sepuluh meter. Aku harus menunduk untuk mengintip melalui celah pintunya. Terlihat di dalam masjid tanah masih menjadi alas, dengan beberapa helai ijuk yang jatuh berserakan.

Imad berkeliling komplek masjid ketika aku berbicara dengan bapak penyapu halaman. Darinya kuketahui kalau masjid ini tidak lagi dipakai secara reguler, hanya hari-hari tertentu saja yang biasanya hari besar Islam. "Tokoh masyarakat dan tetua yang akan memimpin jika ada ibadah besar mas", ujar beliau melengkapi. 

Masjid Bayan Beleq menjadi masjid tertua di Lombok, menjadi saksi awal masuknya Islam ke pulau sebelah timur Bali ini. Pun yang dimaksud awal masuknya Islam tidak seperti Islam yang dikenal sekarang ini. Masa preambule Islam di Lombok Utara kala itu masih terpengaruh Hindu. Sholat pun masih tiga kali, bukan lima seperti seharusnya syariat. Bapak penyapu itu menambah penjelasan, "Orang-orang awal jaman dahulu sholatnya masih sholat wetu telu mas", tiga kali itu maksudnya.

Bapak kembali melanjutkan rutinitasnya. Aku dan Imad mengambil gambar pertanda pernah sampai di sebuah situs penting sejarah Indonesia. Lalu kami kembali ke motor, membayar dua ribu rupiah, membeli bensin, dan lanjut mengejar kapal ke Gili Trawangan.

***

Genangan kecil di sudut-sudut jalan menjadi jejak hujan yang tiba sebelum kami. Sesekali aku melindas kolam-kolam kecil, kadang karena memang tidak ada pilihan lain, kadang hanya karena iseng saja bosan dengan aspal kering. Meskipun bukan kabupaten yang megah seperti di daerah lain, tapi kualitas aspal Lombok Utara aku beri rating 4.5 dari 5. Sedikit sekali yang rusak, dan yang sedikit itu pun letaknya di sisi luar jalan, bukan di tengah yang membahayakan. Kondisi jalan yang spek rata kanan membuatku berpikir, bagaimana bisa kabupaten yang sepertinya memiliki APBD tidak seleluasa daerah di Jawa, tapi memiliki jalanan yang jauh lebih baik? Bagaimana bisa jalan-jalan kabupaten lain yang punya APBD lebih banyak beberapa ratus milyar dari Lombok Utara, hancur berantakan dan bopeng di sana sini? Pertanyaan itu aku akhirnya kubuang jauh-jauh ketika mampir di Pantai Tebing.

Pantai Tebing jadi salah satu spot yang perlu dikunjungi menurut saran perjalanan berwisata di Lombok. Gambar-gambar di internet juga cukup meyakinkan. Sayangnya, pilihan kami untuk mengiyakan sugesti dari internet tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Instingku tidak tajam seperti biasa ketika menganalisis tujuan kunjungan. Mungkin lama waktu yang kami miliki di Lombok membuat penilaianku menjadi bias, sehingga alih-alih mengejar kualitas malah mengutamakan kuantitas. Kami hanya berfoto sebentar saja di depan "tebing" yang tersedia, tebing yang lebih mirip bukit pasir gersang menurutku. Kalau hanya tebing seperti itu, aku pernah jumpa juga di dekat Kedungrejo, malah lebih besar. Memang Pantai Tebing ini termasuk hidden gem, dan akan lebih baik untuk terus ter-hidden agar mengurangi orang-orang yang gampang kecewa. Toh tidak semua gem juga indah bentukannya.

Pantai Tebing

***

Lepas dari Pantai Tebing, kami melewati jalanan yang dipeluk garis pantai cukup panjang. Kemudian setelah sebuah belokan, pantai panjang tadi hilang dan berganti dengan perengan batu cadas yang menjulang tinggi.

Semakin ke arah selatan semakin ramai jalannya. Mulai tampak rumah-rumah yang didirikan bersisian, tidak seperti daerah utara yang antar rumahnya ada jeda beberapa detik. Aku dan Imad berhenti di masjid untuk isho-tanpa ma-. Yang menarik dari Lombok adalah banyaknya masjid, dan itulah musabab julukan pulau seribu masjid disematkan padanya. Hanya saja, aku tidak berekspektasi bakal sebanyak ini sebelum berangkat. Dari masjid yang aku singgahi, hanya beberapa puluh meter saja berdiri masjid yang lain. Dan itu sebenar-benarnya masjid, masjid yang berukuran besar, bukan mushola kecil! Di Jawa memang banyak tempat ibadah umat Islam, tapi berbentuk langgar atau mushola yang lebih kecil. Sedang masjid, satu desa punya 3 saja sudah terhitung banyak.

Usai solat kami mampir tempat makan terdekat. Pas sekali ada warung yang menjual makanan yang akrab dengan lidah kami. Makan adalah salah satu bagian penting dari perjalanan. Dengan tidak mengetahui medan yang akan dihadapi, sebisa mungkin kami  menyegerakan makan ketika masuk jam makan. Kecuali jika memang sengaja mau menahan lapar hingga 30 kilometer berikutnya.

***

Pelabuhan Bangsal sepi siang itu. Cuaca mendung lebih banyak mengundang angin dan mengusir manusia-manusia yang enggan menantang ombak. 

Aku memilih tempat penitipan motor di rumah paling ujung jalan. Awalnya ingin melihat dan menimbang semua pilihan tempat penitipan, tapi pada akhirnya semua sama saja dari segi harga. Sambil menerima karcis parkir, aku menanyakan bagaimana cara menyeberang ke Gili Trawangan. Gayung bersambut, aku dikenalkan dengan seseorang yang sedang bersantai. Selain tiket penyeberangan, ia juga menawarkan paket snorkeling. Dari perhitunganku harga yang ditawarkan untuk paket penyeberangan dan snorkeling masih masuk ke bajet, bahkan lebih murah. Imad hanya diam saja ketika aku melakukan deal dengan laki-laki itu. 

"Simpan nomer saya ya, barangkali nanti kalo ada perlu bisa dihubungi".

"Siap bang, terima kasih bantuannya. Nanti saya kontak kalau ada yang mau saya tanyakan", timpalku.

***

Aku dan Imad menunggu kapal bersama dengan calon penumpang lain, di bawah lorong berkanopi yang menjadi ruang tunggu pelabuhan Bangsal. Orang-orang banyak sekali membawa bekal, terlalu banyak bahkan untuk dikonsumsi satu keluarga. Dari deduksiku, sepertinya mereka akan jual lagi di gili. Anak-anak yang lelah tertidur di selendang ibunya, sedang yang tidak capek bermain dengan sebayanya.

Ketika aku sedang iseng membuka ponsel, dari ekor mataku kelihatan ibu-ibu bergegas menuju arah pantai. Ada satu kapal kayu ukuran sedang yang bersandar tidak sempurna, terombang-ambing dengan hanya mengandalkan simpul tali pada pasak yang ditancapakan ke pasir agar tidak tersapu ombak. Aku memastikan kepada seorang bapak apakah itu kapal yang akan membawaku dan Imad ke gili, sambil menunjukkan nama kapal yang tertera di karcis. Pria itu mengangguk, dan mempersilahkan kami berdua menuju kapal.

Dari referensi film-film barat, kuketahui kalau di sana perempuan sebisa mungkin didahulukan, ladies first. Aku mempraktekannya. Kami berdua masuk belakangan, dan mendapat sisa tempat duduk di bagian depan kapal. Aku sudah pengalaman dengan ini. Semua memilih bagian belakang karena ombak akan lebih berhasil teredam di buritan. Untuk bagian depan yang harus menghantam ombak pertama kali, terhempas-terbang kecil adalah suatu keniscayaan. Aku sih siap-siap saja, entah Imad.

Tidak ada yang mengantre lagi. Tali-tali dilepas dari pasaknya. Dua mesin tempel menyala mendahului dua mesin lain, mendorong kapal perlahan ke laut.

"Tidak buruk ombaknya, semoga begini terus" harapku pelanTidak sampai 10 menit dari doa, laut memulai keisengannya. Badan kapal naik-turun, permukaan air pun muncul-menghilang dari bingkai kapal. Aku mulai sedikit mual, tapi harusnya itu tidak lama dan akan segera hilang ketika badan sudah menyesuaikan. Masalahnya sekarang Imad. Tatapannya menerawang jauh, aku tidak tahu seliar apa bayangan di kepalanya. Dari matanya aku melihat proyeksi wajahku dahulu ketika awal-awal bekerja dan harus berangkat ke kilang minyak lepas pantai. Wajah kosong yang melihat hidup dengan serba cepat, terlalu cepat karena kenangan masa lalu dan prediksi masa depan saling berkejaran. "Apakah aku bisa selamat dari ini semua?", begitulah swadialogku dulu ketika menjalani pengalaman pertama mengarungi laut berombak dengan kapal kecil.

***

Suasana menjadi genting! Bukan karena bahaya, tapi genting antara aku bisa menahan tawa atau tidak. Ekspresi Imad semakin lama semakin abstrak, antara gelisah, mencoba kuat, menahan sesuatu, takut, dan berusaha tenang. Aku berusaha sebisa mungkin menahan tawa. Jangankan tawa, senyum pun sungkan. Keinginan untuk menertawakan aku redam sekuat mungkin. Memang kuakui selera humorku banyak yang brengsek dan tidak sedikit yang bertema gelap. Tapi demi Imad, partner satu-satunya dalam perjalanan ini, persetan dengan selera humor.

Beberapa kali kapal berguncang hebat. Kadang kepala Imad nampak lebih rendah dari permukaan air, kadang juga permukaan air hilang sama sekali ditutup badan kapal. Semua baru dapat terkendali ketika mendekati gugusan gili. Lalu benar-benar usai ketika mesin tempel mati dan kapal menyusruk pasir putih Gili Trawangan.

Kapal naik turun menerjang gelombang

***

Setiap orang seperti ditarik kutub magnet yang berbeda, mereka berjalan dengan pasti menuju arah mereka sendiri-sendiri. Tinggal aku dan Imad yang bengong. Masih sama seperti sebelumnya, kami tidak memiliki reservasi tempat menginap dan sepertinya akan boncos jika harus memilih salah satu hotel di Gili Trawangan. Hotel di sana statusnya hampir sama dengan resort, dan sebagaimana resort lain harganya barang tentu tidak ramah dengan manusia-manusia mental irit.

Pilihan yang masuk akal tinggal hostel atau homestay. Tapi yang mana? Lalu sekonyong-konyong jawaban yang aku cari datang begitu saja. Ada penawaran satu kamar seharga 150 ribu rupiah dari lelaki yang mungkin sudah mencium gelagat kebingungan kami. Letak penginapannya persis lurus dari arah sandar kapal, hanya saja karena terselip di belakang bangunan lain jadi tidak langsung terlihat ketika kami turun. Harga yang wajar menurutku, dan tidak salahnya untuk mengecek terlebih dahulu. Kalo cocok diambil, kalo tidak yang mencari yang lain. Imad masih menyisir pemandangan kawasan baru ketika kuajak mengikuti pria yang menawarkan kamar.

Lagi-lagi beruntung, kamar 150 ribu yang disediakan jauh melampaui perkiraanku. Ada king size bed, kamar mandi dalam, ac, dan televisi. Minusnya satu, daun pintu yang agak macet dan berdecit ketika ditutup. Entah karena dipasang terlalu mepet lantai atau kayunya yang memuai, sehingga pintu beradu dengan lantai ketika dibuka atau ditutup. Sama dengan skema persewaan penginapan sebelum-sebelumnya, Imad menyerahkan keputusan padaku. Ia cukup memberi isyarat jika kamar yang kami kunjungi sudah cukup membuat ia nyaman. Si laki-laki pergi setelah menerima mahar, kami izin menggunakan kamar ini satu malam saja.

Setelah membereskan semua bawaan, Imad bilang ingin lari mengelilingi pulau. Terserah ia saja, jarang-jarang Imad menyampaikan inisiatif seperti ini. Awalnya aku ingin ikut menyejajari dengan menyewa sepeda, tapi urung ketika mengetahui harganya. Tidak terlalu mahal, tapi mending buat makan daripada sewa sepeda pikirku. Aku pun lanjut rebahan sambil bermain ponsel ketika Imad mulai pemanasan.

***

Aku duduk santai di depan teras kamar ketika Imad datang sambil meringis. Ia menjawab pertanyaan kenapa-ku dengan menunjukkan telapak kakinya yang melepuh. Emang unik Imad, aku tahu ia memang hobi lari, tapi berlari tanpa sepatu di daerah pesisir begini lumayan menantang. Tantangan yang Imad sendiri kewalahan untuk menghadapinya. Tidak ada P3K yang tersedia, pertolongan pertama sekadar dengan membasuh pakai air agar bulir-bulir pasir luruh dan tidak memperparah infeksi. Dan perlu diingat, air tidak sepenuhnya tawar, ada sedikit asin dari air laut yang tidak tersuling sempurna. Bayangkan sendiri rasanya!

Hari beranjak sore dan aku ingin mengamati sekitar pantai, barangkali bisa bertemu dengan sunset. Baru saja keluar ke jalan utama gili, rencanaku gagal oleh cuaca yang sedang murung. Mendung musim penghujan mewarnai kelabu seluruh langit. Hanya perlu hitungan menit untuk mengundang banyak awan hitam menutupi langit cerah sebelumnya. Sial! tinggal beberapa menit saja harusnya bisa menikmati matahari yang semakin turun. Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan di Gili Trawangan dan ditambah ada kecenderungan oportunis, kujepret apapun obyek yang menurutku menarik. Harapannya agar kelak foto itu dapat jadi penanda ingatan pernah menyore di Gili Trawangan. Tak lama berselang air jatuh. Satu bulir, dua bulir, empat, delapan, lalu beramai-ramai. Sore itu sudah dipastikan tidak ada kegiatan lainnya kecuali menikmati sisa snack dan berinternet ria.

***

Banyak warung dan kedai yang tutup saat malam, sama sekali tidak menyisakan riuh ketika terang beberapa jam sebelumnya. Mungkin karena hujan dan low season membuat penjual ogah menggelar dagangannya. Atau bisa jadi kemungkinan lainnya, kami yang tidak mengerti pusat keramaian malam karena baru sehari tiba. Beberapa resto sisa yang masih buka menawarkan makanan yang lebih dikenal turis mancanegara daripada lokal, termasuk harganya. Tentu saja kami tidak bisa mengkonsumsi bir, tapi kalau hanya masalah burger bisa saja kami makan, asal harganya lima belas ribu seperti yang dijual di kios depan Indomar*t. Pilihan makan malam kami ujung-ujungnya jatuh tak jauh dari menu anak kos, mi instan. 

Biasanya mi instan dan hujan adalah kombinasi sempurna, hanya saja tidak terlalu benar jika dihadapkan konteks malam itu. Bangku yang basah sedikit mengganggu acara dinner berdua kami. Pun harganya yang sedikit di-mark up mengurangi rasa nikmat makanan sejuta umat itu. Mi lebih cepat dingin ketika ditiup angin laut, begitu pula semangat keluyuranku. Fakta bahwa itulah pertama kali candle light diner-ku tidak membuat semuanya lebih memorable, terlebih pengalaman pertama itu harus kujalani dengan pria lain. Tidak pernah terbayangkan aku akan melakukan kegiatan yang terlalu eljibiti untuk diceritakan meskipun tidak ada sedikitpun tendensi ke sana. Tai betul! Usai membayar kami kembali ke kamar. Aku tidak ingin berlama-lama di luar karena takut khilaf tergiur minuman rasa-rasa itu. Dengan segala potensi kenekatanku, dan didukung dengan tak adanya orang lain yang mengenali, sungguh ekosistem yang sangat supportif bagiku untuk bertindak liar tak terkendali.


Part 2                                                                                                                                                  Part 4

Komentar