Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 2)

Pagi sekali kami sudah bangun, karena ingin segera mendaki Bukit Pergasingan. Sore sebelumnya bapak pemilik penginapan sudah menawari jasa penunjuk jalan sekaligus porter untuk mencapai puncak bukit, tapi kami yang sok tahu ini malah menolak tawaran dengan halus.

"Mas, kalo mau naik saya bisa carikan orang buat ngantar lho" ujar pemilik penginapan.

"Kalo boleh tahu, berapa ya pak harganya?" aku coba bertanya.

"Ya 200an lah" dalam ribu rupiah maksud si bapak.

"Tapi kalo dari sini dekat kan pak?" pertanyaan basa-basi aku lemparkan agar tidak terlalu frontal penolakannya.

"Ya enggak sih, tapi jalannya agak sulit."

"Kalo gitu kita coba jalan sendiri dulu pak, nanti lihat peta." Dan begitulah penolakan halus dari kami hari sebelumnya.

Sedang pada saat pagi, ke-sok tahu-an itu adalah sumber keruwetan agenda pendakian kami.

***

Gelap betul! bahkan karena terlalu gelap aku sempat mengkhayal takhayul. Rimbunan bambu di kiri kanan gang kecil yang kami lalui semakin memperkental hawa mistis, dan baru hilang ketika kami menjumpai bangunan bambu untuk basecamp awal ke Bukit Pergasingan.

Motor kami parkir, lalu ditinggal begitu saja. Tidak ada orang di basecamp itu dan percuma saja menanti karena memang kami mendaki pada hari kerja, hari di mana tidak wajar bagi orang untuk berlibur. Bukankah mungkin saja penjaga basecamp melakukan pekerjaan lainnya untuk menambal biaya hidup? Maka kami anggap meneruskan mendaki adalah pilihan yang tidak salah.

Mengikuti peta sepertinya puncak bukit tidak jauh lagi, tinggal beberapa ratus meter saja, aku yang biasa lari 5km meremehkan jarak tersisa untuk sampai ke puncak. Imad berjalan lebih cepat, sedang aku beberapa kali berhenti untuk mengambil potret syuruq di Sembalun. Langit biru tua yang mulai memuda meluas di atas hamparan persawahan, tak lupa kabut tipis yang bergerak ringan semakin menambah tone dingin pagi itu. Sudah paling pas mengatur setingan white balance kamera ke cloudy.

Syuruq di Sembalun

Terus saja kami berjalan mengikuti kaki bukit. Titik puncak masih terlihat berada di sebelah kiri dari arah kami berjalan. Jalanan yang lebar dan landai membuat aku nyaman-nyaman saja menapaki langkah demi langkah.

Tapi lama kelamaan aku merasa agak aneh. Dari perkiraan kecepatan jalan, dan mengingat jarak kami ke puncak bukit yang tinggal beberapa ratus meter harusnya kami sudah menemui puncak beberapa saat yang lalu. Aku bertanya ke Imad posisi kami terkini, dan jarak ke puncaknya masih saja sama, tidak berkurang sama sekali. Aku jadi ragu antara mau melanjutkan jalan kaki mengikuti trek lumpur ini, atau putar arah. 

Setelah 2.5 km berjalan, akhirnya kami memutuskan putar balik. Saat itu aku sudah yakin jika kami salah jalan, ditambah juga tidak tahu sampai mana ujung jalan tanah itu berakhir. 

Jalan kembali terasa lebih cepat. Hasil studi psikologi yang menyatakan perasaan lebih cepat ketika kembali daripada berangkat memanglah benar. Hingga setelah beberapa ratus meter berjalan kami berpapasan dengan seseorang yang akan pergi ke sawah dari setelan bajunya, dan beliau orang pertama yang kami jumpai hari itu.

"Pak, kalo ke puncak bukit lewatnya mana ya?" aku coba mencari petunjuk.

"Lho, tadi setelah tempat parkir itu mas, ada tangga naik tinggal ngikutin aja sampai atas", timpal si bapak.

Agak kaget, aku berusaha memperjelas lagi, "Jadi kami harus balik lagi pak?"

"Iya mas, nanti di dekat parkir cari aja ada tangga ke atas, memang agak tertutup semak jadi harus teliti lihatnya."

"Baik pak, terima kasih banyak."

Imad juga memberi senyuman kepada bapak, dan kami berdua jalan semakin cepat, mengikuti petunjuk yang kian jelas.

Imad jalan terlebih dahulu

***

Kotoran kumbang!!! Benar perkataan bapak tadi, ada tangga yang ternyata kami lewatkan dan tidak terlihat karena masih gelap gulita ketika kami baru sampai. Tidak jauh tangganya dari basecamp, sekitar 300-an meter saja. faaaggg! !!

Daripada terus menyerapah, aku dan Imad mulai berjalan menaiki bukit, meniti jalan yang benar.

***

"Enak ini jalannya kalo gini, ada tangganya! Tangga hilang pun diganti tanah berundak, sepertinya memang tempat ini sudah dikelola dengan baik!" batinku dalam hati mengagumi kemudahan akses ke puncak Bukit Pergasingan.

Awal-awal mendaki masih relatif gampang. Sempat menemui batu besar yang harus dipanjat dengan kemiringan mendekati 80 derajat, lalu mendapati jalanan yang landai kemudian. Tidak ada yang sulit. Untuk sementara.

Setelah sekian meter ketinggian digapai, kegiranganku perlahan berkurang. Ternyata kemudahan-kemudahan tadi hanyalah permulaan, medan sebenarnya baru akan kami lalui setelah ini.

Batu besar yang sebelumnya kami temui, yang hampir miring 80 derajat tadi hanyalah pembuka, mirip-mirip gapura selamat datang lah. Kenapa hanya pembuka? karena berikutnya ada beragam batu ukuran sedang dan besar menanti di sepanjang trek, dengan gagahnya menghalau siapapun yang tidak punya tekad bulat untuk naik ke puncak. Jalan tanah basah adalah satu-satunya yang bisa kami jadikan kawan. Andaikan tanah itu kering, pasti badai debu akan menghantam badan kami yang praktis tanpa persiapan apapun.

Aku dan Imad hanya fokus berjalan, sesekali saja bercakap karena ya memang begitulah kami. Imad lebih sering di depan, sedang aku lebih banyak berhenti untuk mengambil foto, yang padahal alasan aslinya karena untuk mengatur nafas. Memang aku anak gunung, kampung halamanku lumayan ada di ketinggian, tapi tidak tahu bagaimana musababnya hingga aku punya alergi dengan dingin. Dan alergi itu sedikit banyak mempengaruhi pencapaian puncak bukit Pergasingan.

Klimaksnya ketika dada ini terasa tidak bisa berkembang sempurna. Dari raut muka, tidak ada masalah yang berarti bagi Imad. Sedang aku, susah payah berjibaku menarik oksigen yang sudah semakin tipis, dengan otot-otot dada yang sayangnya tidak terlalu banyak terlatih. Tahu kondisiku yang menyedihkan sambil berbaring di tanah, Imad menawarkan segelas air mineral kemasan yang ia bawa, yang kami bawa lebih tepatnya. Dan itulah persediaan minum kami satu-satunya, habis, tidak ada tambahan. Imad kuminta melanjutkan perjalanan lebih dulu, aku sepertinya perlu rileks sejenak, mengendurkan otot yang terlampau tegang.

Di kejauhan kawasan Sembalun terlihat sangat arif, dengan penjagaan Rinjani di belakangnya. Titik-titik kecil yang bergerak perlahan di lereng Rinjani kuperkiraan adalah mereka yang juga sedang mendaki. Langit mulai nampak kebiruan bersama matahari yang mulai meninggi. Semua pemandangan itu kunikmati dengan posisi yang sama, terbaring sambil kempas-kempis.

Sekitar lima menit setelahnya, ketika oksigen sudah mulai sopan dan rapi masuk satu-persatu, aku mulai mengejar Imad. Semoga masih bisa tersusul.

Dan syukur memang masih bisa menyusul. Imad melakukan hal yang sama denganku. Bedanya ia hanya mengambil posisi lebih tinggi, dan bernafas normal tanpa kembang kempis.

Sekali lagi kami berjalan beriringan, Kali ini kondisi jalan mulai dipeluk tanaman perdu. Beberapa pohon menghasilkan buah kecil berwarna merah menyala dan hitam. Ingin sekali aku mencicipi, tapi urung ketika mengingat pelajaran waktu pramuka di SMP dulu. "Jangan pernah memakan makanan yang warnanya mencolok, biasanya itu pertanda mengandung racun". Ya memang sih jambu air tidak beracun walaupun merah menyala, atau murbei yang merah dan hitam pun sama sekali tidak bersifat toksik. Tapi berlaku nekat memakan buah tidak dikenal dengan taruhan risiko terburuknya, di atas bukit yang jauh dari pusat kota, dengan dua orang yang sama-sama tidak memiliki latar belakang atau pengalaman mendaki ataupun survival? Rasa-rasanya itu bukan pilihan yang bakal diambil orang waras. Sekali-kali waras boleh kan?

Kabut tebal mulai membuntuti kami. Jarak pandang terkurangi hingga menjadi beberapa meter saja. Kami beruntung jalan yang ada dapat terlihat dengan jelas, bukan tipe jalan alami yang ditumbuhi rerumputan. Memang perlu diakui aktivitas manusia yang terlalu sering bisa mengganggu kondisi alami lingkungan. Tapi gangguan seperti itu dibutuhkan pada saat di mana tidak ada petunjuk lain yang bisa diambil kecuali seperti trek tanah "buatan" yang membimbing kami.

Jalan tanah-nya hanya seukuran satu setengah tubuh orang dewasa, jadi kami tidak bisa jalan bersisian. Imad masih tetap di depan, sedang aku tetap menjadi penyapu ranjau. Penyapu ranjau jadi-jadian, karena siapa yang harus disapu jika hanya ada dua orang dalam satu rombongan?

Pada ketinggian tertentu, kabut tiba-tiba saja hilang. Aku baru ngeh ketika menoleh ke belakang dan mendapati daerah pemukiman Sembalun dan persawahan Sembalun yang berkilau hijau keemasan dalam satu tatapan. Mengambil nafas dan menikmati pemandangan sebentar, lalu aku kembali melangkahkan kaki.

***

Usai berjalan kurang lebih tiga jam dan tertipu beberapa kali puncak bayangan, sampai juga kami di pelataran yang lumayan luas. Dari kondisi tanahnya yang gundul, aku menebak kalau kawasan ini biasa digunakan sebagai camping ground. Sebagaimana pendaki lain, puas adalah rasa yang dominan ketika berhasil mencapai puncak. Aku dan Imad mengambil foto satu sama lain secara bergantian, mengabadikan momen penting yang barangkali menjadi momen sekali seumur hidup. Imad dengan wajah polos seperti biasanya, sedang aku mencoba beragam ekspresi. Mulai senyum sumringah, sampai sok misterius dengan hoodie abu kesayanganku.

Pode dengan hoodie andalan

Saking asyiknya berfoto, pemandangan ikonik Bukit Pergasingan yang anggun tanpa kami sadari sudah tertutup awan tebal. Angin kencang juga menyusul berembus. Dadaku mulai kembang kempis lagi walau tidak separah sebelumnya, mengimbangi jantung yang sedang memompa darah lebih kencang. Tidak ada tenda, tidak ada pohon, tidak ada tempat berteduh. Entah bagaimana perasaan Imad, tapi yang bisa aku pastikan adalah perasaanku sendiri yang kian terasa panik. Bukan panik yang heboh, tapi tetap saja panik, dan itu tidak nyaman.

***

Angin semakin lama kian kencang, membawa terbang bulir-bulir air yang halus. Batang pohon yang ringkih sedikit mengayun, memanfaatkan elastisitas yang cuma ala kadarnya agar tidak mudah tumbang. Imad tetap dengan wajah lempengnya, aku masih tidak bisa menebak pikirannya.

"Mad, di balik gundukan itu saja!", aku menunjuk satu gundukan kecil setinggi pinggang orang dewasa yang papras di salah satu sisi, kelihatannya cukup untuk melindungi satu orang. Aku menuju satu gundukan yang kurang lebih sama di sebelahnya, jarak gundukan kami sekitar 10 meter. Aku meringkuk dengan menempelkan punggung di balik sisi yang papras. Angin tetap menampar-nampar dari muka, tapi bagian belakang tubuh aman terlindungi.

Agak lama kami menunggu. Dalam lamunanku aku menaksir berapa lama lagi angin ini berlanjut. Apakah akan usai segera, atau malah menjadi-jadi? Aku memikirkan sepasang trail runner yang sebelumnya melewati kami. Sedang apa mereka (seorang laki-laki dan seorang perempuan) itu di atas sana dalam kondisi begini? Tentu tidak mungkin untuk berbuat yang tidak-tidak, tapi otak rusuhku sulit menampik kemungkinan itu.

Hingga kemudian mereka berdua turun kembali melintasi kami, dalam kondisi berangin yang tidak mereda sedikitpun, dengan setelan lari yang lebih minim dari yang kami kenakan. Setidaknya mereka telah bergerak untuk membuka kemungkinan baru, tidak seperti kami yang tetap meringkuk di balik gundukan.

"Ayo turun mas!" teriak Imad dari sisi seberang.

"Tunggu dulu, sebentar lagi paling selesai!" aku menolak usulan Imad.

Sekitar lima belas menit kemudian Imad kembali mengajakku turun. Kembali aku menawar, setengah jam lagi kataku. Tidak ada dasar kuat atas pilihan tiga puluh menit itu, hanya keyakinanku yang semu. Atau barangkali karena kepengecutanku untuk menghadapi ketidakpastian?

Kemudian setengah jam sudah habis untuk menunggu. Kami memaksa turun. 

Dan semua kekacauan tadi, ribut huru hara bayu dan kabut tadi, ternyata hanya jebakan yang dipasang alam untuk kami. Tidak sampai tiga ratus meter kami turun, suasana, lingkungan, suhu, dan matahari semuanya baik-baik saja. Semua terlihat tetap indah sama seperti ketika kami berangkat ke atas.

Aku mendongak ke arah puncak, gumpalan awan kabut membentuk topi bundar menari pelan di atas sana. Seringkali aku melihat gambar serupa di internet. Para ahli menamakannya awan lentikular, dengan bahasa ilmiahnya altocumulus lenticularis. Aku mengaguminya dari gambar-gambar yang beredar di internet, tapi tidak pernah membayangkan betapa mendebarkannya berada di dalam awan itu. "Yang nampak indah dari jauh belum tentu menyenangkan" adalah ungkapan klasik yang cukup mewakili.

Imad aku minta untuk turun terlebih dahulu. Kakiku tidak bisa selincah ketika mendaki setelah sedikit terkilir karena salah mengambil pijakan. Imad yang sudah terbiasa lari jarak jauh kakinya pasti lebih kuat daripada kaki lenturku yang bahkan jarang digunakan untuk sekedar menopang badan ketika berdiri. Kasihan jika Imad harus menjadi pelan untuk mengayomi si renta ini. Aku titipkan ponselku ke Imad, agar bisa mengukur jarak dan kecepatan tempuh dengan Strava.

***

Pemilik penginapan membawa dua porsi nasi goreng ke kamar kami. Aku tahu kalau penginapan yang kami sewa sudah termasuk makan pagi, tapi tidak menyangka sarapan itu masih berlaku hingga siang. Usai membereskan semua perlengkapan -termasuk membereskan debu pendakian- kami pamit kepada bapak pemilik penginapan. 

Tujuan selanjutnya adalah air terjun Tiu Kelep. Kami berangkat ketika matahari sedang terik-teriknya. Aku lihat jam di hp sudah mendekati pukul 11.00 WITA. Sangat-sangat terik siang itu, menyamarkan hujan yang pernah turun kemarin sore.

Matik ringkih kembali membopong dua manusia linglung ini. Trayek Taman Nasional Gunung Rinjani menghipnotisku sepanjang jalan. Kelokan demi kelokan seperti ibu yang mengayun-ayun putranya, sedang aspal kualitas tinggi seperti kipas kecil yang dipegang si ibu untuk meniup pelan sang jabang bayi. Aku tidak terlalu kencang menarik tuas gas karena setelah Sembalun semuanya ada di posisi yang lebih rendah. Vario sewaan kami sangat dimanjakan dengan tinggal menggelinding saja pada kontur menurun. Pohon di badan jalan tidak sebanyak dan serindang ketika berangkat, tapi tetap saja tak mengurangi esensi dari taman nasional.

Sisa jalan menurun di Sembalun

Hingga mencapai satu titik, akhirnya gravitasi sudah menyerah membantu kami melaju. Daya dorong kembali kupercayakan pada mesin buatan Jepang. Bersama dengan piston yang mulai bekerja, pikiranku mulai bekerja juga membayangkan pemberhentian berikutnya. Sejujurnya belum diketahui tempat mana yang akan kami singgahi malam itu. Kembali ketidaksiapan menjadikan banyak hal semakin serampangan.

Oh iya, sebelum sampai Tiu Kelep, kami mencoba mengunjungi air terjun lain yang kebetulan masih searah. Mangku Kodek terlihat sangat menawan di internet.

***

Ada dua jalan masuk menurut arahan gmaps untuk ke Mangku KodekAku tidak tahu beda kedua trayek itu, dan kupercayakan sepenuhnya pada pilihan gmaps agar menunjukkan rute tercepat. Awal-awal motor masuk jalan kampung yang berkerikil, lalu berganti menjadi tanah liat merah dan agak menanjak, hingga tak lama kemudian kami memasuki area perkebunan. Aku agak curiga karena tidak ada tanda-tanda pengelolaan wisata sama sekali. Sebegitu bagusnya gambar Mangku Kodek yang ditunjukkan di internet, agak musykil jika tidak ada pengolahan kawasan wisata di sekitaran situ. Paling tidak diberi plang penunjuk arah lah sebagai penanda, sedangkan ini sama sekali nihil. Tapi aku tetap ber-huznuzon ke arahan gmaps, siapa tahu air terjun ini benar-benar hidden gem.

Tidak ada cabang, hanya ada satu jalur dan itulah yang sedang kami lalui. Sangat mudah untuk kembali apabila memang tersesat, begitu pemikiranku. Dan ketika tidak lama kemudian kami benar-benar tersesat, pikiranku yang sebelumnya hanya bayangan tak bernas berubah menjadi realita. Memang jalurnya hanya satu, tapi medan yang baru dikenal menyulitkanku untuk bermanuver. Konyolnya, alih-alih berusaha kembali aku malah menuruti egoku untuk menerobos lebih jauh. Dan orang sombong selalu mendapatkan tulahnya.

Kami tenggelam sangat dalam ke perkebunan kopi sampai menemui jalan buntu. Jalur yang kian lama kian mengecil dan dijalari rerumputan lembut tidak cukup menyadarkanku untuk segera berbalik arah. Kami berdua pun berhenti di sebuah bedengan di ujung jalan. Imad melihat-lihat sekitar, sedang aku kembali melihat peta daring. Air terjun tujuan kami memang tinggal sepelemparan batu saja, tapi melemparnya harus jauh sekali. Antara kami dan air terjun Mangku Kodek dipisahkan jurang yang sama sekali tidak terdeteksi di peta. Jurang itu hanya tergambar sebagai sebuah garis biru kecil, yang harusnya menandakan aliran air yang mungil. Memang benar ada sungai kecil, tapi itu jauh sekali di dasar jurang. Aku terkecoh.

"Mad, coba kita jalan terus sampai ujung. Siapa tahu masih ada jalan lain", Imad pun menuruti permintaanku. Aku berjalan kaki, sedang Imad dengan Vario sewaan trek-trekan di kebun kopi milik orang. Sengkedan kami libas, ranting-ranting penghalang kami patahkan, entah itu masih produktif atau tidak. Hingga ketika sudah mentok di ujung, kami dipertemukan oleh kejenakaan yang lain akibat ketotolan kami sendiri. Jalan yang aku kira bakal ketemu sambungannya ternyata cuma ilusi belaka. Jurang yang ada nampak kian menganga lebar. Aku pun tersayat beberapa duri pohon salak yang menjadi pembatas terakhir jika ada orang yang tetap nekat menggapai Mangku Kodek dari situ. 

Aku mencoba mencari jalan, mengikuti cara survivor yang kerap tayang di televisi. Naasnya teori selalu satu langkah dibelakang realita, terlebih ketrampilan pramukaku yang usang juga tidak banyak membantu. Slogan practice make perfect itu benar. Aku yang tidak pernah praktek survival hanya bisa nyengir memandangi jalur jurang di depan. Imad terlihat masih sibuk melihat-lihat kanopi kebun semi hutan, mungkin jenuh menunggu polahku yang terlampau absurd. Luka sayatan duri pohon salak tadi yang akhirnya menyadarkanku agar kembali ke trek awal, mau ataupun tidak.

Masalah kini bertambah lagi. Indikator bensin sudah berkedip-kedip, sedang sepanjang jalan berangkat yang nantinya kami gunakan juga untuk kembali tidak terlihat penjual bensin eceran. Akan ngeri jika motor kehabisan bensin, tidak akan cukup satu jam untuk mendapatkan bensin terdekat dengan berjalan kaki.

Tapi tidak ada pilihan lain. Aku meminta Imad kembali menunggangi motor untuk naik ke atas, dan barang bawaannya akan kubawa sambil berjalan kaki. Imad menghantam undakan demi undakan sengkedan. Sesekali ia mengangkat roda depan motor dengan ototnya yang sudah terlatih ketika membantu orang tuanya di sawah. Aku cukup takjub melihat Imad, dan bersyukur tidak melakukan ini semua sendirian.

Apabila mengira sengkedan itu hanya satu-satunya hambatan, maka perjalanan ini sungguhlah mudah. Kenyataanya, per standar yang lepas menambah difficulty misi kembali ke jalan yang benar siang itu. Beberapa kali standar motor tersangkut dan mematikan paksa kerja mesin, menghentikan laju kami yang cimit-cimit itu.

Aku dan Imad sudah basah kuyup ketika berhasil menemukan kembali trek terakhir sebelum dihapus dengan rumput liar. Pertaruhan besar dimulai, bensin yang tinggal tetes terakhir ini entah bisa membawa kami ke jalan raya atau tidak. Aku dan Imad kembali berboncengan.

Tapi itu tidak lama, jalan yang hancur hanya memperbolehkan salah satu dari kami untuk naik motor. Imad sekarang giliran yang berjalan kaki sambil membawa perlengkapan. Untung ia punya kebiasaan berlari, nafas kudanya dibutuhkan melewati masa-masa genting ini. Akupun yang menunggangi motor tidak serta merta jadi keenakan. Jalan yang seharusnya untuk motor trail sangat tidak layak dilalui motor matik, malah semakin menyusahkan. Bebatuan dan kerikil membuat ban beberapa kali selip, lenganpun harus siap menyangga motor agar tidak terguling dan rebah. Berani membuat luka di motor, berarti harus siap mengganti biaya servis ke pemilik motor yang bisa saja berlipat dibanding dengan ketika harus memperbaiki sendiri. 

Setelah sekian ratus meter berjibaku di trek rusak, sampai juga kami di checkpoint kedua. Jalan tanah yang lebar lagi mulus sudah terhampar kembali. Sedikit lagi sampai di perkampungan, semoga masih ada sisa tetes bensin untuk pengapian ruang mesin. 

Imad menyusulku dan kemudian duduk di jok belakang, aku langsung menggeber motor. Jarang sekali aku bermotor seriang siang itu. Kubayangkan betapa menyenangkannya lepas dari jebakan arah gmaps ini, lalu kembali merasakan aspal dan bertemu orang-orang. Sampai masalah berikutnya datang dan keriangan itu lenyap.

Bruaaakkk!!! Aku dan Imad tersungkur di tanah. Terlalu antusias aku menarik tuas gas. Tanah liat yang licin pun menghukum kecerobohanku. Tidak ada luka yang berarti, tapi aku harus merelakan celana yang beum genap dua bulan aku beli sobek di bagian lutut. Seorang laki-laki yang pulang dari kebun melihat kami, dua orang asing yang sedang berguling-guling di jalan. Ia menawari kami tumpangan, dan tidak ada kata tidak untuk kebaikan yang ditawarkan kepada kami. Imad ikut laki-laki itu, aku menguntit di belakangnya. Memang harusnya memakai motor modif semi trail seperti beliau, bukan Vario yang rawan selip seperti ini. Beberapa bagian motor tertutup tanah liat, semoga tidak lecet parah.

Imad turun di ujung jalan dekat gapura selamat datang. Kami mengucapkan terima kasih, dan laki-laki itu memutar motor kembali ke perkampungan. Imad kembali duduk di belakangku. Kali ini aku mengendalikan motor yang telah mati dengan pelan sambil mencari warung penjaja bensin eceran. Standar motor tanpa per jatuh lunglai dan terus-terusan menggores aspal. 

Dapat satu! Aku meminta ibu penjaga warung menjejalkan dua botol pertalite ke dalam tangki. Minum sampai kenyang dasar Vario sialan! Kebetulan di warung yang sama juga menjual tali rafia eceran. Aku membeli satu lilit, lalu menjadikannya penambat sementara per standar yang sebelumnya terdengar nyaring mengerat aspal Taman Nasional Gunung Rinjani. Semoga rafia itu bisa bertahan untuk jadi pertolongan pertama.

***

Gmaps menunjukkan bahwa kami sudah memasuki wilayah kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Posisinya yang ada di kaki gunung Rinjani diliputi suhu yang lumayan sejuk cenderung dingin. Genangan air yang masih segar dan permukaan tanah coklat tua menandakan hujan baru saja turun. Mungkin hujan itu juga yang semakin mempercepat penurunan suhu di Bayan.

Banyak plang guest house yang dipasang di pinggir jalan menanjak yang kami lewati. Sayangnya, tidak satupun yang memasang harga sehingga cukup memusingkan untuk kami ketika mau memilih salah satu. Penginapan yang paling biasa pun sudah cukup sebenarnya karena tujuan kami menginap cuma beristirahat, bukan membuat konten untuk disebarluaskan seperti para pemengaruh yang berburu kamar mewah di media sosial.

"Sisi kanan jalan kebanyakan hutan, sedang di sisi kiri ada lembah dengan latar belakang Rinjani. Sepertinya kalaupun harus cap cip cup, pilihan sayap kiri bakal lebih punya probabilitas pemandangan lebih baik daripada sayap kanan", aku menimbang-nimbang pilihan dalam hati.

Sampai akhirnya ujung jalan terlihat. Ke atas sedikit tinggal satu bungalow yang tersisa di dekat tower pemancar, dan tidak mungkin murah melihat model bangunan dan posisinya yang strategis. Setidaknya perlu 7 orang macam kami patungan untuk mendapatkan satu malam di sana.

"Balik turun aja Mad, tadi kayaknya aku lihat penginapan lumayan bagus dari luar". Sekilas aku melihat penginapan dengan bangunan yang mumpuni beberapa ratus meter ke belakang. Bangunannya masih terlihat penginapan, dibanding penginapan lain yang lebih menonjolkan kesan kos-kosan.

***

"Permisiiii!!!", aku mencari pemilik penginapan. Imad berjalan ke sisi belakang rumah, aku masih di bagian muka menunggu keluarnya penjaga penginapan.

"Ada kamar kosong bu?" si ibu penjaga muncul juga.

"Ada, kebetulan lagi sepi ini. Silakan kalau mau lihat-lihat". Ibu itu mendahuluiku, menunjukkan pilihan kamar yang bisa disewa.

Imad sudah ada di dekat ibu penjaga, melihat-lihat pemandangan tanpa ingat mengajakku. "Ini kamarnya muat dua orang, ada kamar mandi dalamnya juga", si ibu menunjukkan calon kamar yang dapat kami sewa.

"Harganya berapa ya bu?"

"Seratus lima puluh ribu mas. Sekarang lagi sepi. Kalau rame biasanya bisa naik harga sewanya."

"Piye Mad?"

"Terserah mas, iyo lek aku"

"Yoiii", dan diskusi singkat itu berujung pada pencairan dana kepada ibu penjaga penginapan.

Seratus lima puluh ribu. Kamar bambu estetik. King size bed. Kamar mandi dalam. Sarapan. Ditambah view surgawi lembah nan hijau. Gambling yang sukses! Memang Allah tahu apa yang hamba-Nya butuhkan. Kami butuh pelipur lara setelah lolos dari tragedi Mangku Kodek.

Penginapan dengan pemandangan surgawi

Karena kami sampai sudah lumayan sore, maka sebentar saja malam sudah tiba. Kami tidak menghabiskan banyak waktu dengan berkegiatan karena memang sudah gelap, hanya rebahan untuk benar-benar istirahat. Satu-satunya momen kami keluar penginapan hanya untuk makan malam di resto ujung jalan yang kami jajaki sore sebelumnya, yang dekat bungalow mewah tadi. Usai makan kami kembali ke penginapan untuk memeriksa update kegiatan teman-teman seharian ini.


Part 1                                                                                                                                                  Part 3

Komentar