Seribu Masjid, Seribu Haha Hihi (Part 1)

Baru ingat kalo belum cari motor buat disewa ketika sudah di tengah jalan tol Gresik-Juanda. Aku dan Imad sudah memutuskan untuk motoran berdua keliling Lombok, lha kalo gak ada motornya terus bagaimana bisa berkeliling? Sedapatnya aku mencari iklan rental motor dari Instagram. "Mad, Vario apa Lexi?" kusodorkan opsi ke Imad yang jadi teman perjalananku selama di Lombok nanti. Ia memilih Vario, sama seperti pilihanku setelah mempertimbangkan harga dan spesifikasinya.

Sepanjang menuju Juanda aku berusaha mengutak-atik itinerary selama di Lombok, menyusun rute-rute yang membuat perjalanan lebih efektif, kombinasi antara kuliner dan panorama. Waktu delapan hari sangatlah lama bagi seseorang untuk berada di tempat baru, tanpa tujuan lain selain berlibur. Kenapa delapan hari? karena memang bego aja. Perkiraan waktu delapan hari karena awalnya ingin bablas motoran sampai ke Sumba, tapi akhirnya batal karena terkendala jadwal penyeberangan yang tidak sinkron.

Aku berbekal satu tas keril 40 liter warna hijau andalanku dan satu tas selempang, sedang Imad membawa satu tas ransel bekas samaptanya dan satu kantong kain semi totebag ukuran agak besar yang biasa digunakan bungkus berkat tahlilan. Kami berdua diturunkan di terminal 1 Bandara Juanda oleh mas Reno, cleaning service kantor yang kami mintai tolong untuk mengantar. Meski ini perjalanan naik pesawat pertamanya Imad, tapi dari luar ia tampak baik-baik saja, entah batinnya.

***

Tiba di Bandar Udara Internasional Lombok sudah lewat tengah hari. Tidak ada gangguan yang cukup signifikan, penerbangan lancar-lancar saja walaupun waktu itu masuk musim hujan. Ya baguslah buat Imad sebagai first timer penumpang pesawat. 

Setelah keluar bandara aku dan Imad langsung menuju parkiran motor. Di sana kami sudah janjian bertemu dengan seorang laki-laki yang membawa motor sewaan. Ketiga manusia itu berbarengan menginspeksi motor untuk menyepakati kondisi awal, sehingga apabila terjadi apa-apa kedepan bisa diketahui siapa yang harus bertanggung jawab.

Motor selesai dicek, kami pun berjabat tangan tanda persetujuan mengalihkan tanggung jawab sementara. Aku melirik ke Imad, dia terlihat santai. Tujuan pertama sesuai otak-atik rute dadakan adalah menuju Lombok Utara. Apa pertimbangannya? Sepertinya tidak ada yang khusus kecuali agar menyelesaikan yang terjauh lebih dahulu. Sedikit mendung tak masalah, kami pun bermotor ke utara. Sempat mampir ke sebuah masjid tidak jauh dari bandara untuk menjamak solat, setelahnya kami melanjutkan perjalanan mengikuti arahan peta.

Ada selisih satu jam antara WIB dan WITA, dan dari selisih itu menjadikan jam makan perlu disesuaikan. Kami memutuskan untuk berhenti mencari warung. Memasuki Lombok bagian utara suasana lebih sepi, menemukan tempat makan tak lagi gampang seperti di Mataram. Pada sebuah warung yang random kami akhirnya berhenti, di depannya terpampang tulisan menu-menu makanan yang tersedia. Tidak ada yang spesial dari warung ini, sama seperti tempat makan lain. Hanya saja yang menarik perhatianku adalah cara warung yang merangkap toko ini menjual gula kemasan curah. Gula dagangan dikemas dalam kemasan plastik memanjang mirip seperti lontong. Usai makan dan melanjutkan motoran, aku baru sadar bahwa cara pengemasan gula di sana memang rata-rata bentuknya seperti itu. Beda tempat beda cara memang.

Gula pasir bentuk lontong

***

Menuruti gmaps, kami telah memasuki area Taman Nasional Gunung Rinjani. Awan yang sedari tadi gelap menggantung akhirnya tumpah juga, dan di saat itulah kami baru sadar tidak membawa mantel. Ada memang mantel bawaan dari rental, tapi itu cuma satu dan model ponco. Daripada tidak sama sekali, aku yang menjadi rider memakai mantel itu, dan Imad hanya kebagian sedikit saja, itupun ia gunakan untuk menutupi tasnya. Tidak perlu lama untuk menjumpai ketololan pertama dalam perjalanan ini.

"Lanjut Mad?"

"Lanjut mas!"

Jalur pegunungan semakin lama semakin menanjak. Vario yang kami pilih menjalankan tugas dengan baik. Suara getaran memang ada, tapi masih dalam tahap wajar, belum ada ringkihan kasar yang terdengar. 

Selang tak berapa lama akhirnya hujan berhenti, alhamdulillah. Perjalanan menjadi kian lancar. Imad masih setia menatap ponsel, memberi arahan kemana kami berdua harus bergerak.

***

"Masih jauh Mad?" tanyaku

"Engak mas, dikit lagi" timpal Imad.

Tujuan pertama kami ke Pusuk Sembalun. Semakin banyak ketinggian yang kami raih, semakin berkabut di sekeliling. Aku sempat meminggirkan motor, menangkap satu sisi Taman Nasional Gunung Rinjani yang menurutku cantik dengan Sony-ku.

Cukup jauh memang jarak antara Sembalun sebagai tujuan dengan Bandara Lombok Praya sebagai titik awal, tapi jauh saja tidak cukup untuk mengurangi tekad dua orang lontang-lantung ini. Dan sejauh-jauhnya tujuan kalo tetap bergerak pasti akan sampai juga, sekalipun itu lambat bagai bekicot.

Rimbun pepohonan taman nasional berkurang, berganti dengan perbukitan dilapisi karpet hijau alami. Beberapa kali aku menoleh ke spion, memastikan yang kulihat sebelumnya adalah nyata dan bukan kampung jin. Sungguh aku berhasil dibuat kagum dengan kemegahan salah satu taman nasional yang dipunyai Indonesia ini. Oh iya menoleh spion juga agar tidak lupa dan memastikan Imad masih ada di belakang, jangan sampai yang kubonceng bukan Imad. Sempat berhenti juga beberapa kali ketika bertemu anjungan untuk melihat pemandangan, tapi tidak kutemukan satupun anjungan yang istimewa.

Menjumpai seksi tanjakan terakhir lintasan taman nasional yang lumayan ramai, aku cukup yakin jika kami sudah sampai di Pusuk Sembalun. Kutanyakan kepada Imad si navigator, dan ia pun mengkonfirmasi. Kami berhenti dan sempilkan Vario biru putih di antara jejeran motor lain yang terparkir di bahu jalan, di samping motor dengan gerobak cilok.

Menukar uang dengan lembar karcis tipis yang kurang meyakinkan, kami diperkenankan memasuki area Pusuk Sembalun. Area yang dimaksud di sini semacam plaza kecil, dengan pagar formalitas agar orang tidak sembrono ketika mengambil foto. Beberapa monyet terlihat mengamati dari kejauhan, ada yang berwarna abu-abu, ada juga yang berwarna hitam. Mereka berkelompok, bergerak bersama dari satu pohon ke pohon lain. Berbeda dengan yang hitam, monyet abu-abu lebih berani berinteraksi dengan pengunjung. Beberapa orang kepincut memberikan jajanan ke monyet-monyet bertampang melas itu. Tapi ada juga yang terpaksa merelakan jajannya meskipun tidak terayu oleh wajah monyet-monyet itu, hanya karena kewaspadaannya yang kurang. Seperti kita, mereka juga terampil membuka makanan dan minuman kemasan. Frekuensi interaksi yang cukup intens rupanya membuat mereka lihai dengan bentuk konsumsi manusia.

Aku sibuk mengambil gambar ke sana ke mari, sedang Imad lebih fokus menikmati pemandangan yang baru saja ia jumpai.

***

Imad sudah cukup menikmati suasana, aku juga merasa sudah mengambil cukup gambar sebagai oleh-oleh. Kami berdua memutuskan menuruni puncak Taman Nasional Gunung Rinjani.

Genting-genting rumah tersebar dengan rapi, membentuk blok-blok perkampungan. Bahan atap yang mayoritas dari seng kerlap-kerlip disinari matahari yang malu di balik awan. Dari kecilnya rumah, tanpa melihat jarak di peta aku sudah tahu jika perlu lumayan waktu untuk bisa menemui rumah pertama dari puncak tadi.

Jalanan senantiasa berkelok-kelok mengikuti kontur perbukitan. Kami seakan diajak untuk memeluk Sembalun meter demi meter. Kabut tipis yang sesekali tersingkap dan memperlihatkan puncak bukit menambah getaran sendu-romantis, sangat cocok untuk pasangan laki-perempuan, bukan laki-dan-laki seperti kami.

Salah satu puncak di Sembalun

***

Pedesaan di Sembalun akhirnya terlihat. Jalanan yang tidak terlalu ramai, sesekali saja dilewati penduduk lokal yang berkendara tanpa pelindung kepala. Rintik kecil membentuk bintik-bintik di visor helm, tapi tidak sampai menghalangiku mengamati kondisi umum Sembalun. Tidak ada ritel tersohor di sana, kecuali toko kelontong semi ritel hasil kerjasama warga lokal dengan salah satu perusahaan rokok. Warung makan juga tidak terlalu banyak, malah bisa dikatakan hampir imbang dengan jasa penyedia pendakian ke Gunung Rinjani yang tidak masuk dalam agenda kami.

Memasuki pemukiman Kecamatan Sembalun

Hari semakin sore, dan seperti perkiraanku sebelumnya kami harus menginap di Sembalun.

"Nginap di mana Mad?" aku coba menawarkan ke Imad untuk memilih penginapan. Ia lalu memilih-milih beberapa penginapan yang ada di peta. Beberapa tempat kami coba teliti nilai tambah dan kurangnya. Dan saat sedang disibukkan dengan pilih-memilih penginapan, hujan turun dengan deras, deras sekali! Tidak bisa memilih tempat berteduh yang mendingan, kami menumpang di teras sebuah toko yang tidak beroperasi.

"Gimana Mad?"

"Coba yang ini aja mas." ia menyodorkan satu pilihan hostel.

"Ya udah deh agak terang kita ke sana", aku menjawab singkat. Semakin lama mencari akan semakin bingung, sedang langit semakin menghitam mendekati waktu magrib.

***

Hujan agak reda, kami menuju penginapan yang disarankan Imad.

Aku berdiri di atas motor, sedang Imad yang mencoba untuk menanyakan ketersediaan kamar. "Kosong mas, gak ada jawaban." katanya setelah usai menoleh kepadaku. Mungkin karena bukan musim liburan, jadi tidak banyak tempat menginap yang ada penjaganya. Mereka juga butuh liburan kan?

"Mad coba itu di depan, barangkali ada kamar" aku meminta tolong ke Imad setelah di seberang jalan kulihat ada penginapan lain. Dan memang Allah sudah menetapkan rizki bagi masing-masing hambanya. Kami cocok dengan penginapan itu. Dua kasur, kamar mandi dalam, dapat sarapan, dan hanya 150 ribu rupiah saja.

Bapak pemilik hostel mempersilakan kami memarkir motor di tempat yang telah disediakan, lalu mengajak kami ke kamar yang bentukannya mirip kosan. Setelah memberikan penjelasan singkat bapak pemilik penginapan kembali ke rumahnya. Dan tak lama kemudian hujan turun kembali, kali ini lebih lebat daripada sebelumnya. Memang Allah tahu kami butuh tempat berteduh dahulu, baru sang hujan diperbolehkan turun sesukanya.

Badai di Sembalun dari balik kamar

***

Suara mendesing terdengar nyaring dan konstan. Bunyi misterius itu cukup menganggu, bahkan sampai membuat jantungku ikut terpompa lebih cepat. Harus kutemukan sumber suaranya, atau aku tidak akan tidur semalaman membayangkan semua skenario terburuk yang bisa terjadi. Agak mengkhawatirkan buatku ketika menempati tempat tinggal baru, lalu di malam harinya terdengar suara asing yang bukan bersumber dari penghuninya, baik aku ataupun Imad. 

Aku mengendap-endap bak detektif, sebisa mungkin tidak ada yang terlewat dari pengamatanku. Setelah meneliti tiap sudut kamar, akhirnya kutemukan sumber suaranya. Tak lain dan tak bukan, desingan itu bersumber dari tiupan angin yang masuk melalui celah kecil di dekat pintu. Setelah mengetahui bahwa itu suara angin, ketakutanku jadi menghilang. Angin sedang asyik riuh rendah menyapu wilayah Sembalun, dan itu mengingatkanku suasana serupa di kampung halaman yang sama-sama dataran tinggi. 

Memang dengan ditemukannya sumber suara asing itu kekhawatiranku ikut sirna, tapi yang jadi masalah berikutnya adalah tidak lenyapnya tantangan yang sedang menunggu kami. Mengingat angin yang bersuara "horror" seperti itu, berarti bisa diperkirakan seberapa kencang kecepatan angin di luar. Tidak banyak persiapan yang kami bawa, dan sebagai konsekwensi logis berarti tidak cukup juga peralatan untuk menjaga ruangan tetap di suhu yang nyaman untuk tidur. Kalau masalah air yang sedingin es masih bisa diatasi dengan segera mengeringkan anggota badan selepas dari kamar mandi, tapi untuk angin? Kami mencari apa saja yang bisa digunakan untuk menangkal angin yang merangsek masuk. Pakaian tidak mungkin digunakan karena kami masih membutuhkannya. Selimut? apalagi. Maka yang paling mungkin bisa dimanfaatkan saat itu adalah handuk. Penginapan menyediakan dua handuk, satu handuk digunakan Imad, sedang satunya lagi kami gunakan menutup celah bawah pintu kamar. Beberapa saat kemudian kamar menjadi lebih tenang, tidak ada siulan gaduh meskipun pohon di luar masih terlihat mengayun kencang. Suhu kamar perlahan menyesuaikan, dan kami bisa beristirahat dengan nyaman.


Part 2

Komentar