Pertanyaan "Kapan Menikah" Itu Bukan Ajakan Perang

Sebagai awalan saya ingin mencantumkan sangkalan (disclaimer), jika tulisan ini saya buat ketika masih dalam proses membuktikan Quran surat An-Nur ayat 26. Jadi sudut pandang yang saya ambil kali ini murni dari subyek yang menerima pertanyaan.

~

Sebenarnya fenomena keluhan pertanyaan basa-basi, yang seringkali (dianggap) menyakiti subyek yang ditanya ini agaknya telah menjelma jadi sebuah topik abadi. Sejak saya kenal internet sekitar tahun 2010-an, topik ini timbul tenggelam di dunia maya, dengan siklus puncak pembahasannya memang ketika mendekati hari raya idulfitri. Pertanyaan kapan menikah kepada orang yang belum menikah, kok gemukan kepada orang yang sedang program diet, kapan punya anak pada keluarga yang sedang berusaha, kapan lulus pada mahasiswa yang tertekan skripsi, dan pertanyaan-pertanyaan senada yang cukup tendensius hampir selalu merepotkan yang ditanya untuk memberikan respon. Mayoritas akan memilih diam meski harus menahan lara, sedang segelintir pencilan memilih untuk melawan dengan cara mereka masing-masing.

Saya menyadari penuh saya masuk kepada kelompok mayoritas itu, dan ikut merayakan perlawanan segelintir warganet yang dibagikan di media sosial. Itulah saya beberapa tahun yang lalu. Sedang sekarang, sepertinya saya tertarik mengambil jalan lain, jalan selain dikotomi bertahan atau melawan pertanyaan-pertanyaan Afgan (sadis pen.), jalan alternatif yang tak lain memilih berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Kilas balik beberapa waktu ke belakang, saya akan beneran ikut merayakan jawaban-jawaban savage yang memberikan kesan menang telak, pukulan pamungkas, atau finish him signature jika di gim Mortal Combat. Saya yang merasakan juga kesal, risih, bahkan jengkel mengarah ke marah menjadi lega jika unggahan perlawanan di media sosial menambahkan imbuhan respon kalah si penanya. Kalimat seperti "tanteku hanya diam setelah mendengar jawabanku", "bapak itu menunduk mendengar tanggapanku", atau "wajah saudara itu menjadi merah menahan malu" adalah kalimat yang selalu berhasil menggugah semangat perlawanan. Kisah-kisah perlawanan itu pula yang kemudian menginspirasi saya untuk menyusun skenario-skenario halusinasi, di mana saya menjadi protagonis yang memenangkan adu argumen. Hingga pada suatu waktu yang saya sendiri lupa persisnya, orang dekat saya, yang sama-sama melewati standar keumuman usia menikah mempertanyakan hal serupa kepada saya ketika kami bertemu di acara pernikahannya.

"Jadi kapan giliranmu?", tanyanya.

Saya dipaksa me-restart semua kegelisahan saya. Bagaimana mungkin orang yang merasakan kegelisahan yang sama bisa melanjutkan "kutukan" itu setelah ia berhasil lepas? Lupakah ia dengan kegelisahan yang pernah ia rasakan dahulu? 

Pencarian yang tidak singkat akhirnya membawa saya memilih jalan baru ini. Hasil temuan yang sudah pasti tidak ilmiah, tapi dengan mantap bisa saya sampaikan jika temuan itu berhasil membawa kedamaian dalam benak. Temuannya saya tulis seperti ini:

"PERJUMPAAN ITU BUKAN MEDAN PERANG, DAN PERTANYAAN ITU BUKAN SERANGAN"

Seringkali kita sudah jiper duluan menghadapai event yang mengundang banyak tamu seperti lebaran atau nikahan, terlebih yang datang banyak dari kerabat dekat. Pola pikir yang diliputi kekhawatiran akan datangnya pertanyaan yang tidak mengenakkan, membuat saya khususnya secara tidak sadar menyiapkan pertahanan untuk menahan gempuran. Acara dengan hiruk pikuk manusia diibaratkan lapangan tempur, dan saya harus mempersiapkan amunisi yang cukup.

Tapi setelah banyak jamuan terlewati, puluhan kali lebaran ditunaikan, saya merasa tidak ada perubahan yang berarti. Pertanyaan-pertanyaan itu tetap akan datang, suka atau tidak suka. Cuma yang belakangan baru saya sadari adalah perihal si penanya tidak terlalu ambil pusing apapun jawaban kita. Contohnya ketika menerima pertanyaan kapan menikah, saya akan menjawab "nanti, ba'da isya" dengan mengacu jadwal umum kebiasaan tahlilan di Jawa Timur. Reflek yang biasa saya temui adalah orang yang bertanya akan ketawa-ketawa, dan kemudian mengubah topik dialog. Hanya sedikit yang akan menambah sepatah nasehat, lalu setelahnya juga sama akan mengubah arah pembicaraan.

Kita (saya khususnya) sering menganggap diri kita penting, padahal tidak seperti itu. Orang-orang yang bertanya itu sekadar basa-basi, toh mereka juga sudah sibuk dengan permasalahan masing-masing. Jangankan mengurusi kita, menyelesaikan permasalahan mereka sendiri pun sudah menguras banyak tenaga. Kita itu hanya NPC (non-player character) di hidup mereka, dan tentu saja sebagaimana NPC-NPC di game, kita ini hanya figuran boi! Maka sekali lagi, pertanyaan itu hanya basa-basi, tak lebih. Mereka juga tak payah mencarikan jalar keluar kita, maka kenapa harus terlalu ambil pusing?  

Banyak pemerhati kesehatan mental mengatakan jika kita hanya bisa mengendalikan faktor dari dalam diri, sedang faktor luar yang sulit kita kendalikan tak usah banyak dirisaukan. Maka alih-alih mempersiapkan segala jawaban untuk membungkam mereka yang belum pasti terbungkam, mengapa tidak fokus untuk melatih cara kita merespon? Warganet kerap kali memberikan sugesti untuk meninggalkan orang-orang yang memberi pertanyaan menjengkelkan, saya pun setuju dengan cara itu. Namun, saya hampir tidak menggunakan cara tersebut karena bukan cara yang efektif. Pandji Pragiwaksono sempat berujar, bahwa lebih banyak orang melakukan dengan cara yang mudah dibanding cara yang benar. Dan menurut saya cara yang benar adalah dengan merespon balik, bukan menghindari. Karena jika menghindar, maka suatu saat pertanyaan itu akan tetap kembali.

Beda orang beda cara, jika saya merespon pertanyaan-pertanyaan itu dengan candaan, belum tentu yang lain cocok dengan strategi yang sama. Tapi satu hal yang hampir sama untuk semuanya, proses menemukan cara respon itu yang menantang. Perlu puluhan bahkan ratusan kali coba dan gagal (trial and error pen.) untuk menemukan formula yang pas, yang tidak terlalu agresif, namun tetap bisa memberikan kepuasan diri. Saya agak menggaris-bawahi agresivitas karena satu ini kerap merusak silaturahim yang perlu dijaga menurut para guru. Jika memang pada akhirnya dari respon kita silaturahim tetap terputus, setidaknya kita sudah menang satu hal, yakni tidak ada niatan sedikitpun untuk merenggangkan ikatan.

Tapi kan bisa bertanya hal lain yang tidak lebih sensitif?

Kembali ke dua paragraf sebelumnya, kita sejatinya tidak dapat mengatur kehendak ataupun respon orang lain. Saya akan mengutip pembelajaran yang disampaikan oleh dosen Akuntansi Syariah saya, bapak Moh. Luthfi Mahrus. Inti uraian beliau adalah hubungan antara pengajar dan yang diajar adalah hubungan resiprokal. Ketika kelas dianggap suram dan tidak menggairahkan karena dosen dianggap kurang baik dalam menyampaikan materi, jangan terburu-buru menyalahkan dosen. Bisa jadi dosen menjadi dianggap kurang baik dalam menjelaskan materi, karena memang kelas tidak memberikan energi yang cukup baik sebagai bahan bakar semangat dosen tersebut. Maka kurang tepat jika hanya menyalahkan dosen sebagai pengajar, tanpa mahasiswanya sendiri introspeksi. Begitupula bab pertanyaan ini, barangkali kita sendiri yang kurang bisa membangun suasana yang menyenangkan, atau insiatif menggiring pembahasan yang tidak menyenggol isu sensitif. Agaknya kurang elok jika hanya menyalahkan dan menuntut pengertian orang lain, sedang kita sendiri yang belum getol mengupayakan sesuai yang kita harapkan.

Saya juga berusaha memahami mengapa pertanyaan-pertanyaan yang telah "usang" itu masih saja dan sepertinya akan terus beredar. Lalu saya menemukan jawabannya dari ceramah seorang ustad. Ketika ditanya oleh seseorang mengapa umat Islam (khususnya di Indonesia) getol mengajak orang non-muslim untuk berpindah keyakinan, beliau memberikan respon yang cukup mencerahkan bagi saya. Beliau menjelaskan, bahwa orang Islam yakin dengan agama yang dianutnya akan membawa kebahagiaan serta kedamaian. Maka dengan maksud awal yang sebenarnya baik, tentu seorang muslim tidak rela jika teman non-muslimnya tak dapat merasakan kedamaian atau kebahagiaan tersebut. Pandangan ini mungkin akan berbeda dengan non-muslim yang punya konsep kebahagiaan-kedamaian yang tidak sama. Namun yang menurut saya mengagumkan, adalah konsep ketika seseorang tidak rela orang lain terhalang merasakan kebahagiaan yang sama. 

Belum pernah saya temui orang yang gagal dalam pernikahannya menanyakan kapan menikah kepada orang yang masih melajang, atau keluarga yang pernah kehilangan putranya menanyakan kapan punya anak kepada keluarga baru. Pandangan saya memang pendek, tapi memang belum pernah sekalipun saya jumpai. Tapi untuk orang yang telah lulus menanyakan kapan selesai skripsi, atau keluarga bahagia yang menanyakan kapan menikah, tak terhitung saya jumpai. Itu semua karena baik yang sudah lulus ataupun keluarga bahagia telah merasakan sendiri kesenangannya, dan mereka ingin pula yang ditanya segera merasakan kegembiraan yang telah mereka rasakan terlebih dahulu. Kecuali memang orang itu berwatak culas dan hanya ingin mencemooh, sepertinya ajakan atau pertanyaan yang sering kita anggap menjengkelkan, bisa jadi bentuk lain dari perhatian yang ingin mereka curahkan.

Ketersinggungan adalah perkara yang sebagian besar bisa kita kendalikan. Kita bisa memilih topik mana saja yang bisa menyinggung kita, tapi yang perlu diingat semakin banyak isu yang dapat menyinggung, semakin was-was kita. Maka mari bergembira menghadapi perjumpaan-perjumpaan berikutnya. Karena benar pepatah lama yang berkata, "satu musuh terlalu banyak, dan seribu teman terlalu sedikit".

Komentar