Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 9)

Sekarang aku motoran kembali ke Labuan Bajo. Bedanya kini, aku tidak mengambil jalur sebelumnya. Aku menuju Labuan Bajo via Nangalili, jalur alternatif yang tidak terdeteksi gmaps namun -katanya- lebih cepat. Ketiga teman baruku pun berencana lewat sini, tapi mereka juga buta arah sama sepertiku. Jadi tidak ada gambaran sedikitpun mengenai medan yang akan ditempuh. Satu pedoman yang aku bisa pegang, hibah dari warga sekitar Desa Denge. "Ikut jalan menelusuri pinggir laut", begitu kata mereka. Dan memang harus dilakoni langsung untuk membuktikan, karena ketika melihat gmaps nyatanya memang tidak ada garis yang tergambar di sepanjang tepi laut itu. 

Di ujung pertigaan dari arah Denge, aku mengambil persimpangan yang ke kanan. Jalannya cukup meragukan, aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah benar ini jalannya? nanti kalau ternyata tersesat gimana? dan keraguan-keraguan lain yang aku sendiri tidak bisa memecahkannya. Di saat seperti inilah slogan "Dont be a tourist, be a traveller" memantapkan pendirianku. Kalau nanti kesasar ya udah, asal masih bisa balik ya balik aja.

Jalan yang kadar tanahnya masih fifty-fifty dengan kadar aspal lumayan seru dan bisa dianggap jadi trek balap motocross. Sekali kali gundukan tanah dan kubangan air muncul di sana sini, tapi tidak ada cerukan yang menjebak khas jalan-jalan daerah industri, mendukung sekali buat riding. Pepohonan di kanan kiri yang rindang memayungi jalan, lebih dari berhasil menghalau panas yang identik dengan provinsi ini.

Di seberang kiri jauh terlihat sebuah pulau. Tidak lain dan tidak bukan, pulau itu pulau yang sama yang aku gunakan sebagai pedoman sehari lalu, Pulau Mules. Dan kalo masih bisa melihat Pulau Mules, berarti jalan yang diambil sudah benar. Aku semakin percaya bahwa memilih jalan yang berbeda adalah keputusan yang jitu. Sudah -bisa jadi- lebih cepat, bisa dapat pengalaman yang berbeda pula. Kemudian aku memasuki kampung demi kampung, menyapa lewat senyum kepada penduduk yang sedang bercengkerama dengan tetangganya, atau kepada para penggembala yang sedang menggiring ternaknya.

Aku menurunkan standar motor di seberang sebuah bukit. Sapi-sapi dan beberapa kambing dilepasliarkan, berlari-lari kecil, lalu beristirahat sambil ngemil rumput di bukit itu. Pemandangan yang tidak bisa dikatakan tidak bagus, bahkan mengingatkanku pada foto-foto bertema sama yang diambil di Swiss. 

Sudah menamatkan sapi dan kambing gunung, motor kunyalakan lagi. Sekarang jalan aspal benar-benar dekat dengan bibir pantai, hanya sekitar 10 meter saja jaraknya. Bulir-bulir air laut yang terhempas akibat tabrakan ombak ke batuan pantai tampias ke kaca helm, dan membuat jari-jari tangan yang terkena langsung jadi terasa agak lengket.

Di depan terlihat tipe pemandangan yang familiar. Persawahan yang menghampar jauh hingga ke perbukitan, jalanan lempeng nan sepi, harusnya sih ini sudah masuk jalanan provinsi lagi, dekat dengan razia lucu tempo hari. Benar saja, begitu kembali ke jalan utama, aku melewati koramil dengan tulisan Lembor di gapuranya, dan tidak lama kemudian lewat juga Pasar Lembor. Sudah setengah jalan lebih berarti hingga sampai Labuan Bajo. Aku semakin semangat, tidak sabar segera sampai dan beristirahat.

Ketika melewati daerah dimana aku membeli roti di hari sebelumnya, kabut tebal membuat pandangan tereduksi hanya beberapa meter saja. Aneh ya, siang bolong gini kabut tebal masih bisa turun. Di Ngantang yang notabene daerah pegunungan, mulai aku kecil sampai umur segini belum pernah lho ada kabut siang-siang.

Geber..geber..geber.. tau-tau sudah sampai di pom bensin pertama kali aku mengisi bahan bakar. Yang lebih cepat untuk sampai ke kota sih harusnya langsung ambil kiri di persimpangan setelah SPBU, tapi aku ambil lurus saja, biar bisa lihat-lihat Labuan Bajo lebih banyak lah. Dan sepuluh menit kemudian, setelah puas memutari kota yang luasnya hampir setara tiga desa di Ngantang, aku tiba kembali di tempat penyewaan motor. Kukembalikan motor, ambil pakaian yang dititipkan kemarin, lalu balik ke hostel yang ada di belakang tempat sewa motor tadi. Untung masih tetap kosong penginapannya.

Aku memanjangkan badan sepanjang-panjangnya. Kasur yang terasa membatu dua hari lalu, sekarang nyamannya seperti tidur di pangkuan ibu. Semua bawaan sudah tertata, hp-powerbank-kamera pun sudah diisi dayanya, waktunya bersih-bersih badan dulu. Lumayan kalo badan sudah bersih, mau scroll-score timeline pun gak risih lagi.


Cukup lama aku tiduran, sampai bosan juga akhirnya. Jam setengah lima matahari masih tinggi, di sini baru mulai gelap kalo hampir jam enam. Terus keingat sama pemilik persewaan motor, "Kalo sempat, coba main ke Bukit Cinta mas!"

Aku kembali ke persewaan motor, niatnya sih mau pinjam motor lagi, toh kan aku sewa untuk dua hari, dan per sore hari itu masih belum genap dua hari. Alhamdulillah si empunya motor juga kooperatif, bahkan memberi sedikit gambaran suasana di Bukit Cinta. 

Aku gak punya harapan besar sama tempat ini sebenarnya. Bener sih kalau di foto kelihatan pemandangannya bagus, tapi apa yang tidak bisa dimanipulasi di internet dewasa ini? Murni aku ke sana karena mengisi waktu aja daripada nganggur, dan jaraknya masih terjangkau dari penginapan.

Perbukitan seperti di teletubbies tapi ukurannya lebih besar, dibelah untuk jalanan yang aku lewati. Sesekali kuberi senyum waktu papasan sama bule, biar gambaran orang Indonesia ramah-ramah itu tetap terjaga.

Di gmpas, titik biru sudah mendekati pin merah. Semakin banyak lalu lalang perjaka-perjiki, berboncengan dua-dua tanpa helm, biar bisa mencium wangi masing-masing mungkin. Masih muter-muter, tapi belum ketemu tempatnya meski posisiku di peta sudah tepat disamping titik Bukit Cinta. Aku menunggu beberapa saat, bingung mau ke mana. Sejurus kemudian muncul rombongan anak-anak muda naik motor dari tanah lapang yang entah ke mana ujungnya, sepertinya dari Bukit Cinta. Ke mana lagi anak muda beramai-ramai gini kalau gak ke tempat yang hits kan?!

Kulintasi dataran lapang tanah liat. Perlahan kontur tanah berubah jadi berundak-undak, lalu ada tanjakan curam dengan bekas beberapa jalur roda. Mengikuti bekas lintasan roda itu juga butuh fokus ternyata. Selain memang karena matic yang memang bukan peruntukannya untuk trail, pasir halus yang tersebar juga menyusahkan sekali. Pelan-pelan dengan sedikit tapi ajek, jarak puncak semakin terpangkas. Ketika roda belakang sudah sejajar dengan roda depan, Voila! ketemulah yang namanya Bukit Cinta. Bukit yang memang sangat layak dicinta, dan memberikan kenyamanan bagi para pecinta.

Terhampar deret perbukitan yang lebih jelas dari sini. Di cakrawala matahari sedang pulang ke peraduannya, memberi efek jingga ke samudera. Jalanan meliuk-liuk di kaki bukit semakin tampak jelas dari atas. Sedang di sisi-sisi yang berpencaran, beberapa pasang anak manusia sedang menumpahkan kasih sayangnya yang telah tertahan, entah tertahan lama, atau tertahan karena jadwal sekolah tadi siang. Aku mengambil puncak tertinggi dan tersepi, kuhujamkan pandangan ke ufuk barat, sambil mengawang-awang jika saja dia ada di sini sekarang.



Komentar