Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 12)

Rijal mengajakku ke penginapannya, katanya sih murah dan sudah ada air hangatnya. Siapa yang gak tertarik coba? Murah, air hangat. Pasti hilang semua pegal yang terkumpul sejak dari Wae Rebo beberapa hari yang lalu. Aku menyetujui ajakan Rijal. Semua peserta LoB keluar pelabuhan dalam waktu yang berdekatan. Kebetulan Lora menuju arah yang sama dengan kami berdua.

Yang tadinya jalan santai, sekarang Rijal tiba-tiba mengambil langkah lebar-lebar dan lumayan kencang pergerakannya, aku mau tidak mau mengimbanginya. Sekarang suasananya menjadi seperti dua orang lokal pervert sedang membuntuti perempuan bule. Tinggal tambah logo brazzers di pojok kanan bawah, semuanya bakal punya makna yang sama sekali beda dengan kenyataan. Satu dua kali kami mengajak berbicara Lora, dan dia menjawab sambil semakin mempercepat jalannya, kelihatan sekali dia tidak nyaman kita buntuti. Kemudian Lora sampai lebih dulu di penginapannya, ia melambaikan tangan pada kami. Rijal yang lumayan ambisi sekarang jadi santai, untunglah. Aku dan Rijal berjalan terus melewati beberapa blok setelah penginapan Lora. Kemudian kami tiba di sebuah homestay yang sederhana, tapi dibanding dengan hostelku kemarin, ini tiga kali lebih bagus lah.

Rijal jalan mendahului menuju resepsionis. Dia yang sudah paham kondisi kamarnya langsung saja membayar. Padahal sebelumnya tadi aku sudah tertarik dengan promosi Rijal, tapi sesampainya di sini, kok rasanya jadi berubah. Aku kurang sreg aja sama suasananya, dan bagiku 150 ribu rupiah untuk tidur beberapa jam saja sepertinya terlalu sayang. Aku mengurungkan untuk bermalam di situ, dan memutuskan kembali ke hostel kemarin.

Setibanya di hostel, suasananya tidak sama seperti waktu pertama kali. Suara tawa perempuan saling bersautan membuat cukup merinding juga sih, sepertinya aku tidak siap untuk tidur dalam satu ruangan bercampuran begini. Tapi demi hemat 90 ribu, aku membulatkan tekad. Aku mengambil bilik di depan, sedangkan perempuan-perempuan itu berada di bilik belakang, masih aman lah selisih satu bilik. Perangkat elektronik sudah tersambung ke soket listrik, badan sudah bersih, sekarang tidur sebentar.

Lagi enak-enak buka puasa internet pakai wifi, tiba-tiba muncul pop-up notifikasi WA dari Rijal, dia ada di jalan raya sekarang. Aku menghampirinya. Maksud dia ingin ketemu karena mau tanya-tanya tentang perjalanan ke Wae Rebo. "Besok mau ke sana saya" ujarnya. Aku ceritakan panjang lebar, mulai medan, waktu tempuh, sampai tips sederhana tapi cukup penting seperti membeli roti, dan selalu penuhi tangki setiap ketemu SPBU. Dan terakhir, kuantar dia ke tempat penyewaan motor ku sebelumnya. Pemilik persewaan yang sudah kenal denganku dengan mudahnya melepas motor. Aku lumayan heran juga, kok bisa percaya gitu, padahal kan bisa saja motornya aku bawa pulang ke Malang. Lalu kuminta Rijal membonceng, sekalian biar bisa menjajal sendiri performa motornya. Kami berdua keliling Labuan Bajo yang tidak terlalu luas ini. Dan setelah dirasa cukup mumpuni, Rijal membawa motor ke penginapannya, tentu setelah membayar maharnya, dan itulah pertemuan terakhir kami. 

Aku ingin menghabiskan sore terakhir di sini, tapi gak ngerti gimana caranya. Mau main jauh gak ada motor, mau ke pasar ikan juga masih sepi kalo jam segini. Tapi saya tetap berjalan, sepanjang jalan utama pelabuhan, siapa tahu inspirasi datang tiba-tiba, dan memang beneran datang. Aku tertarik dengan pernak-pernik yang menggantung di beberapa toko kecil. Coba lihat-lihat dulu lah, kalo cocok kan lumayan bisa dibawa pulang buat cinderamata. Hampir semua toko oleh-oleh menawarkan dagangan yang serupa. Kaos lah, gantungan kunci lah, atau seni pahat kayu yang temanya tidak jauh dari komodo dan Labuan Bajo itu sendiri. Yang paling membuatku kepincut dari semua itu, adalah mini figure komodo dari kayu. Kubeli lah dua biji, biar ceritanya satu pasang, itung-itung nyenengin bapak yang suka benda-benda antik model gini. 

Malamnya, aku kembali ke pasar ikan. Masih sama gak beli makanan apapun, tapi suasana malam itu nyaman sekali, lebih nyaman daripada kali pertama ke sini. Mungkin kenyamanan yang sangat ini adalah hasil dari amplifikasi kenyataan bahwa malam ini malam terakhir aku di sini. Suara riuh rendah pengunjung tumpang tindih dengan musik jalanan yang dikeraskan oleh speaker tahlil, penjaja dan pembeli saling bertransaksi, dan pedagang asongan yang hilir mudik menawarkan barangnya, aku ingat betul suasananya, bahkan saat membuat tulisan ini.

Aku memanggil salah seorang penjual kain tenun. Memang sudah berniat membeli kain ini sejak hari pertama, dan disengajakan beli di hari terakhir agar tidak menambah beban terlalu lama. Setelah tawar menawar, dapatlah kain tenun dengan harga 200 ribu. Aku tahu, dengan harga segitu tidak mungkin yang aku pegang ini kain tenun autentik, tapi ya sudahlah, itulah gunanya traveller, sebagai pemicu gerak roda ekonomi masyarakat asli. Cuma yang bikin kesal, setelah aku membayar, teman-teman si bapak tadi malah menawarkan kain model sama dengan diskon 25%. Dan yang lebih bikin kesel lagi, gak cuma satu orang, hampir lima orang iming-iming dengan cara yang sama, seperti berniat mencemooh aku yang mau tertipu dengan dagangan teman mereka. Mumpung emosiku masih bisa terkontrol, aku pilih kembali saja ke hostel, lagipula sudah lama aku di situ dan ada titipan laundry yang perlu diambil juga...

***

Pesawatku berangkat dari Labuan Bajo ke Denpasar pagi-pagi sekali. Dengan modal mie instan remas yang dimakan kering, aku menuju bandara dengan berjalan kaki lagi. Ya gimana lagi, memang belum banyak warung yang buka pagi itu. Dengan bawaan yang kini lebih berat dibanding hari pertama karena tambahan oleh-oleh, pace jalan semakin bertambah pula. Sesekali aku menoleh ke belakang, jika ada motor atau mobil, kuacungkan jempol tangan kanan, berharap mendapat tumpangan. Sudah beberapa kali mencoba tak kunjung dapat boncengan gratis itu. Memang sepi sekali jalannya, jangan dibayangkan lalu lintas perkotaan yang tanpa jeda, di sini hanya ada satu dua motor yang lewat, jika lewat pun biasanya sedang membawa sesuatu, baik orang ataupun barang. Beberapa menawarkan ojek, tapi seperti sekenanya saja, bukan yang benar-benar berprofesi sebagai ojek. Mungkin kalau sudah ada layanan ojek daring atau ojek pangkalan, aku sudah pesan dari hostel tadi.

Jarak di peta menunjukkan tidak sampai satu kilometer lagi menuju bandara saat seorang pria yang kelihatan pulang kerja shift malam menepi, menawariku tumpangan. Ya gini kalo Tuhan lagi usil, dari tadi waktu butuh gak dapat, giliran tinggal sepelemparan batu baru dikasih, wkwkwkwkwkwk. Aku menerima tawarannya, lumayan lah hemat beberapa menit. Sekitar tiga menit kemudian sampai di gapura masuk bandara, aku berterima kasih dan abang tadi lanjut pulang ke rumah.

Di bandara masih sepi sekali, bahkan gerai-gerai yang ada di sana masih siap-siap untuk buka, kecuali satu coffee shop yang sudah ramai melayani pengunjungnya. Aku menunggu penerbangan sambil berinternet ria, mumpung ada wifi gratis bandara. Kemudian di belakangku duduk sepasang turis mancanegara, yang perempuan berkulit terang, dan yang laki-laki berkulit gelap. Aku mencoba menyapa mereka, si pria yang kelihatan garang menyapa dengan penuh senyum. Kami berbincang-bincang tentang Indonesia dan perjalanan mereka. Dan kemudian pesawat mereka boarding lebih dulu.


Aku menunggu sendiri lagi. Bahkan saking gak tau mau ngapain lagi, aku sampai sempat sholat dhuha dulu lho! Tak lama kemudian announcer memberi pengumuman pesawatku akan berangkat. Dan sama, aku memilih masuk pesawat  belakangan, lalu menjadi penumpang yang masuk rombongan terakhir duduk di seat. Roda pesawat terangkat masuk, memboyong semua kenangan di Labuan Bajo menuju ke barat.

Komentar