Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 11)
Jam biologis membangunkanku jam empat pagi, saat yang lain masih terlelap. Melihat bule tidur seadanya begini menggelitik juga. Bayangan akan kehidupan bule yang borjuis dan penuh kemewahan lenyap, bersama dengkuran mereka yang mengangkasa.
Setelah ibadah aku turun ke bawah, pengen ngopi sambil nunggu sunrise. Biasanya sih aku tidur lagi seusai salat, tapi ya masa' jauh-jauh sampai sini rutinitas tetap sama? gak ada nilai tambahnya borrr! Ditemani kopi, aku kembali menyelami hobi melamunku di haluan kapal. Kicau burung perlahan semakin ramai, bergembira menikmati udara yang lagi sejuk-sejuknya.
Alam bebas menjadi katalis proses pendinginan wine arabku. Langit kebiruan perlahan dihamparkan Sang Maha Kuasa. Cahaya pagi juga sedikit demi sedikit menyibak detail-detail lansekap sekitar. Semua perpaduan itu menambah nikmat kopi instan, yang rasanya itu-itu aja.
Tamu-tamu lain mulai bangun juga, lengkap dengan wajah sembab masing-masing. Pandangan kosong bule-bule itu menyiratkan nyawa mereka belum terkumpul sepenuhnya, dan Chihiro... ingin rasanya kuberikan pundak ini untuk sandaran kepalanya yang masih lunglai.
Tidak banyak kegiatan yang bisa dijalani pagi ini, selain bersih-bersih dan menunggu sarapan siap. Wisatawan asing bebersih cukup dengan sikat gigi, seperti yang biasa kita lihat di film-film lah. Aku pun bebersih... bebersih pikiranku sendiri. Malas mandi aku, toh nanti juga nyebur ke laut basah juga. Dan kalo sudah tidak mandi begitu, otomatis tidak sikat gigi pula ehe...
Sarapan sudah dihidangkan dalam perjalanan menuju Pulau Padar. Sambil makan kami menikmati lautan yang membiru sejauh mata memandang. Kemudian aku menuju ke ruang kemudi, ngobrol-ngobrol sama kapten dan kru yang kebetulan juga ada di situ. Sudah bosen ngobrol, menarik tali-tali kapal mendapat giliran kegiatan yang bisa kujajal. Ya coba merasakan jadi awak kapal, biar dapat pengalaman baru. Menarik tambang yang kelihatannya gampang, ternyata susah juga kalau praktek langsung. Lalu aku teringat acara Jejak Si Gundul.
Kemudian tibalah kami di Pulau Padar. Beberapa kapal lain sudah menurunkan jangkar di sekitar teluk, padahal aku kira kapal kami yang paling pagi kedua berangkat ke Padar dari Pulau Rinca tadi.
Menuju pantai, kami diantar lagi menggunakan sampan yang sama. Begitu sampai, semua langsung berpencar, berlomba jadi yang pertama mencapai puncak, aku tak mau ketinggalan tentunya. "Pake undakan ternyata jalannya, gampang kalo ini mah" aku sedikit menggampangkan. Begitu sudah beberapa meter ke atas, tangga berundak tadi habis sudah, diganti dengan tanah berbatu. Memang larangan meremehkan alam itu ada untuk menyelamatkan kita sendiri.
Awalnya masih mudah lah, batuan tidak terlalu besar, tapi lama kelamaan tanahnya yang jadi sedikit, dan batu mendominasi. Celah-celah sempit untuk pijakan dipilih dengan cermat agar terhindar dari cedera yang tidak penting. "Lora sudah di ujung?!" Aku yang mengambil rehat sejenak sambil tersengal-sengal dibuat terkejut sekaligus takjub dengan stamina perempuan itu. Tak lama kemudian dia berjalan turun.
"You have strong foot Lora!" pujiku.
"Emmm, yeaahh thanks!" jawabnya. Tubuhnya yang sixpack cukup sebagai bukti kalau dia sering melatih tubuuhnya, dan ketika kukonfirmasi, ia mengiyakan. Ada yang lucu tapi, dia menjawab dengan ragu, tapi aku masih gak ngeh meskipun tahu kalo something went wrong . Aku baru sadar beberapa saat kemudian. Aku keliru menggunakan frase "foot", seharusnya kan "leg". Ya namanya bukan penutur asli hahaha.
Aku dan Rijal bersusah payah mencapai puncak. Dua perempuan Amerika merasa cukup sampai tengah,yang kemudian dihampiri Lora saat turun tadi. Chihiro dan Yoshi, teman sesama Jepangnya masih di belakang berjalan santai, dan dua pasang Jerman masih jauh di bawah. Pelan tapi pasti aku terus berjalan, sambil menikmati Pulau Padar yang sedang hijau-hijaunya karena memang masih masuk musim penghujan.
Ketika sampai di ujung puncak, kelelahan ini terbayar sudah, bahkan kelebihan bayarnya. Sungguh mempesona view dari sini. Langit saat itu biru sekali dan juga bersih, hanya sedikit awan di beberapa titik. Lalu di depan jauh sana terlihat tiga cincin pantai Pulau Padar yang terkenal itu. Aku duduk termangu sambil menunggu Rijal yang lebih sering berhenti dibanding denganku. Seandainya ada pohon yang sedikit rindang, saya berani kasih nilai 90 dari 100 untuk tempat ini.
Betah sekali di sini. Angin sepoi-sepoi dan lukisan alam yang mempesona, lagi-lagi kondisi yang sangat ideal untuk memantik imajinasi liar. Seberapa liar? Seingat saya, terbayang Chelsea Islan dengan selendang tipisnya, duduk di sebelahku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kurang liar? Bahkan aku membuat dialog juga, lengkap dengan suara Chelsea yang adudu... Cukup dengan melihat seseorang senyum, mendengar suaranya, ditambah dengan pemicu yang pas, bayangan seperti apapun bisa disusun semauku. Dan ketika bosan, dari samping Chelsea kuubah posisinya menjadi di depanku, saling memandang lekat mata masing-masing. Dan ketika sudah jenuh lagi, Chelsea aku tukar dengan sosok dia...
Rijal sampai juga di puncak, jadi kampret yang membuyarkan lamunan. Dia meminta difoto menirukan gaya kru bajak laut Topi Jerami yang membelakangi scene dengan mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya. Hasilnya lumayan juga, jadi aku minta hal yang sama padanya.
Semakin lama semakin panas, dan sepertinya cukup banyak foto yang sudh diambil. Begitu Rijal setuju, kami berdua turun ke pantai. Dari rombongan kami, hanya ada Lora, Kiana, Cierra, Chihiro, dan Yoshi yang sedang duduk-duduk menunggu di dekat loket masuk. Memang sih waktu kami berdua turun, dua pasang Jerman masih ada di tengah, itupun sepertinya mereka baru sampai. Menunggu mereka hampir bisa dipastikan tidak bisa sebentar. Aku ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang di pantai itu, selain biar gak bosen, juga biar dapat sudut pandang baru aja, toh HP juga masih gak ada sinyalnya.
Salah satu ABK tiba-tiba ngomong ke rangers begini, "Pak, abang ini mirip orang asli Labuan Bajo kan?"
Dan rangers yang ditanyai menjawab, "Iya, bener juga. Gelap kulitnya sudah cocok sama orang sini", kemudian diiringi gelak tawa orang sekitar yang kebetulan mendengar percakapan itu. Aku lumayan geli juga sambil bertanya-tanya, segelap itukah aku sekarang? Aku tidak terlalu memperhatikan perbandingan gelap sebelum datang ke NTT dengan setelah berada di sini. Tapi yang pasti, kemana-mana aku gak pernah pakai topi dan gak pernah pake sunblock atau sunscreen atau apalah yang menjaga kulit tetap cerah. Mungkin kalo logat sudah bisa menyesuaikan, langsung ngurus KTP ke desa setempat sepertinya gak ada yang curiga...
Beberapa saat kemudian, dua pasang Jerman sudah berada di pantai. Tidak perlu menunggu lagi, kita semua kembali ke kapal induk. Berikutnya kita menuju Manta Point.
Ombak kian meninggi seiring kapal yang menjauh dari garis pantai. Terlihat awan hitam bergumul di kejauhan, siap menumpahakan apa yang ditahannya sampai siang ini. "Biar aja mendung itu, siapa tahu nanti pas sampai Manta Point, mendungnya sudah geser" tukasku membatin. Aku pengen sekali ke sana, pengen ngerasain gimana rasanya renang sama ikan pari yang besar itu.
Perlahan-lahan mendung berganti dengan awan putih. "Tuhkan, bener perkiraanku" berasa jadi cenayang dadakan. Saat lagi mempersiapkan diri buat snorkeling, aku melihat satu pantai yang sepertinya baru kami lewati. Lalu tidak berapa jauh pantai kedua yang juga sepertinya sudah terlewat tadi kini nampak kembali, kemudian ketiga, hingga sampai melalui pantai keempat. Aku bertanya kepada kapten. Si kapten ngomong dengan santai, "Kita gak jadi ke Manta Point, langsung ke Long Beach aja."
Kecewa. Gak ada lagi perasaan yang kurasa melebihi rasa kecewa. Bener-bener kecewa. Sempat denial, penjelasan dari kru aku anggap omong kosong belaka. Aku ngerti sih, kapten lebih paham keadaan yang terbaik. Tidak ingin lagi ada pembahasan Manta Point, fokus dialihkan ke Long Beach. Move on dengan target baru memang sangat membantu, daripada cuma bilang move on-move on tapi tiap malam masih mikir barang sekejap.
Kapal berhenti di tengah laut, jauh dari pantai. Kemudian salah satu kru yang mengemudikan perahu kecil sudah berhenti di samping kapal. "Ayo bang, kita ke Long Beach."
Beberapa guest memilih untuk berenang ke pantai. Aku sebenarnya juga pengen renang, tapi aku lupa kapan terakhir kali renang yang bener-bener renang, olahraga bukan cuma ciblang-ciblung. Dan jika tetap maksa, khawatirnya bukan renang menuju pantai, malah nanti hanyut ke samudera hindia.
Ketika kaki pertama menginjak pasir pantai, hmmmm. Penjelasan kru yang bilang kalau pantai ini lebih merah muda daripada Pink Beach ya di luar ekspektasiku. Merah muda yang ada dibenakku, bahkan masih terlalu pucat daripada kenyataanya. Sepanjang garis pantai, pasirnya seperti ditaburi kelopak bunga sakura. Gak perlu lightroom atau snapseed untuk menambah saturasi pinknya. Cuma minusnya seperti tempat-tempat wisata lain di Indonesia, sampah adalah bentuk terburuk vandalisme. Aku juga bingung, seberat apa sih membawa sampah kembali ke penginapan? Yang lebih malunya lagi, Lora bahkan ngomong ke aku agar mau memintakan kantong kresek ke kapal, ia mau membawa sampah sebisanya dan membuang ke tempat seharusnya. Untung aku masih bisa malu, kalau sampai tidak, mungkin hati ini perlu diperiksa sekembalinya dari sini.
Ada yang berenang, ada yang rebahan, ada yang bersih-bersih sampah, dan aku sendiri cuma duduk santai sambil foto-foto (sebelumnya sudah bantu Lora juga). Masih terpesona dengan pasir merah mudanya, aku benar-benar menikmati isitirahat kali ini. Gradasi warna dari abu-abu pekat awam mendung nan jauh, lalu berganti dengan biru gelap lautan dalam, disusul biru muda lautan dangkal, kemudian ditutup dengan lapisan terakhir pantai yang pinkish, aduuuhhh... Kemudian Chihiro mentas dari berenang, dan duduk dengan lutut ditarik ke dalam.
"Chihiro, lihat sini dong!" pinta saya, lalu ia menoleh. Sempurna sudah fotoku. Gambaran pemandangan tadi, sekarang coba kalian tempeli Chihiro. Jika imajinasi kalian bagus, aku ucapkan selamat setulusnya. Tapi jika tidak, kalian harus ke sana sendiri untuk menikmati suasananya, itupun jika kalian beruntung bertemu gadis seperti Chihiro. Sebenarnya bisa saja aku pasang fotonya di sini, tapi dia tidak memperkenankan diriku menggunakan fotonya, dan aku harus menghormati keputusan dia.
Kapten sudah mengajak untuk kembali. Sudah kelamaan juga di sini, dan lebih baik balik lebih cepat, karena aku juga butuh nyari penginapan sesampainya di darat. Kalau kemaleman bisa ribet nanti.
Tidak ada yang spesial waktu berlayar menuju pesisir kali ini. Ya ada sih yang bagus, seperti contohnya batu stroberi, batu yang berada di suatu pulau dan warnanya merah muda, tapi selain itu ya biasa aja. Antusiasmenya sudah dihabiskan sejak kemarin sampai tadi siang.
Kami diturunkan di jetty yang sama ketika berangkat. Sebelum berpisah, kami sempat saling mengikuti akun instagram. Kami di sini maksudnya yang lain selain diriku. Aku hanya bisa mencatat username mereka, karena masih tetep gak ada sinyal di hp. Tapi meskipun gak bisa follow-followan, aku bisa dapat WAnya Chihiro lho, dengan meminta nomornya Yoshi juga tentunya sebagai alibi. Lumayan lah, siapa tau jodoh sama orang Jepang kan? Kimochiii...
Komentar
Posting Komentar