Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 6)
Aku merasa, medan perjalanan kali ini semakin lama semakin tinggi saja. Tampak dari kabut tipis yang mulai turun, membuat bulir-bulir embun menyangkut di setiap rajutan benang jaketku. Akupun tetap melaju, karena menurutku, siang-siang begini tidak mungkin kan kabut bisa bertahan lama? Pasti akan hilang beberapa saat lagi.
Beberapa kilometer selanjutnya kabut tak kunjung hilang, malah semakin tebal. Sial memang, meleset forecast kali ini. Kabut tipis tadi kini menjelma gumpalan putih yang lebih pekat, melayang rendah menutup lereng bukit di kanan kiri. Jalanan meliuk-liuk pun tidak bisa dilibas dengan akselerasi seperti sebelumnya. Ranting tua berukuran tidak kecil yang beberapa kali ditemukan meregang nyawa di tengah jalan semakin meningkatkan difficulty trek Labuan Bajo-Wae Rebo. Dalam kondisi seperti ini setiap rider dituntut untuk lebih waspada. Aku pun bisa menjamin, kalaupun Marc Marquez atau Marco Simoncelli yang terkenal agresif mengemudi di trek seperti ini, pasti akan melambat juga, bahkan lebih lambat dariku.
Dingin yang semakin lama semakin membuat nyeri kemudian membuatku berpikir, apakah lebih baik berhenti sebentar untuk menghangatkan jari-jari, sambil kemudian menutup bagian tubuh yang masih terbuka? Lalu aku teringat kalo ibu bersikukuh membekaliku syal yang sebenarnya sudah kutolak sebelum berangkat. Aku menepi sebentar, dan melilitkan syal itu di sekitar leher. Tangan masih tetap dingin, tapi setidaknya bagian tubuh lain yang terbuka semakin berkurang. Terima kasih bu.
Jalan berliku naik turun yang hanya pas dilalui oleh satu truk dan satu motor, membuatku semakin menahan kemampuan laju motor. Selain itu di banyak bagian jalan, retakan-retakan aspal kadang tidak terlihat dan tiba-tiba menjadi jebakan ketika roda menghantam cerukan itu. Jika suhu tidak cukup dingin, bisa saja semua faktor itu terakumulasi dan menjadi alasanku untuk uring-uringan sepanjang jalan.
Kini jalan kembali normal, baik normal kondisi aspalnya, juga normal lalu lintasnya, sepi. Aku melihat pemandangan di kanan kiri yang kini tersibak kembali bersamaan dengan memudarnya kabut, dan seketika itu juga aku merasa ada yang aneh. Leherku tidak berasa kaku seperti beberapa saat sebelumnya ketika memakai syal. Aku berhenti dan memegang bagian leher. Alamak, tidak ada lagi kain yang melilit leherku! Suhu yang menghangat menjadikan diriku alpa saat syal yang aku pakai jatuh di tengah jalan. Aku memutar balik, dan mencoba mencari di mana kain itu jatuh. Sebenarnya aku agak pesimis bakal ketemu syalnya, karena dari arah berlawanan beberapa pengendara lain terlihat berpapasan. Bisa saja kan salah satu dari mereka melihat syal nganggur di jalan dan menganggap itu adalah rejeki mereka? Tapi setidaknya aku sudah berusaha.
Semakin lama aku semakin pesimis. Sekitar tiga kilo jauhnya dengan pelan mengamati jengkal demi jengkal jalanan. Lalu aku mencukupkan pencarian syal itu, kuputuskan untuk berbalik arah kembali ke tujuan utama, Wae Rebo. "Semoga syal itu berguna bagi orang yang menemukan", doaku mencoba ikhlas.
Jarak ke Wae Rebo dari tempatku sekarang sekitar seperlima dari total jarak perjalanan. Bisa dikatakan dekat sih, tapi jika dihitung berdasarkan kilometer, ya masih jauh juga. Meski begitu, bukannya merasa lelah, aku malah lebih bersemangat. Tak lain dan tak bukan karena di kejauhan sana terhampar warna biru berkilauan yang luas sekali, "Denge sudah dekat!" Sebagai informasi, Desa Denge adalah desa terakhir sebagai gerbang masuk ke Wae Rebo yang masih dapat dijangkau oleh kendaraan, dan desanya terletak tidak jauh dari laut. Sudah bener berarti arah yang kuambil.
Walaupun tidak sabar ingin segera sampai, indikator bensin menahanku melaju. Terakhir dilihat sih masih dua setrip, dan aku kira bakal cukup sampai Desa Denge. Sekarang, indikatornya sudah kedip-kedip dan jalanan kembali sulit. Menurut instingku, dengan kondisi lingkugan seperti ini, tidak mungkin SPBU akan ada di depan sana. Akupun menyesal sudah melewatkan SPBU terakhir. Kadang terlalu percaya diri juga tidak baik, bahkan bisa menghambatmu.
Untung saja ada sekelompok rumah, mungkin saja satu RT, dan beberapa diantara mereka membuka toko klontong. Aku membeli dua botol pertalite seharga sepuluh ribu per botol. Memang wajar sih dihargai segitu, mengingat upaya mereka untuk mencapai SPBU terdekat. Sambil menunggu selesainya tuangan bensin, aku bertanya kepada ibu penjaga warung, "Apakah desa Denge masih jauh bu?" Dan ibu itu menjawab dengan yakin, "Masih jauh dik!" Perlu diingat, tidak semua warga lokal paham Wae Rebo, mereka lebih mengerti letak Desa Denge.
Aku beberapa kali pergi ke daerah asing dan bertanya tentang suatu tempat, dan jawaban ibu itu punya tafsir sendiri selain dari makna harfiahnya. Jadi, biasa kalau warga lokal bilang jarak suatu tempat tidak jauh lagi, maka kalian akan menempuh jarak yang membuat kalian akhirnya menggumam "Dekat dari mananya ini FAK!" Sedangkan ini, si ibu sudah bilang kalo Denge masih jauh, aku jadi ragu, apakah masih ada sisa tekad yang bisa dibakar hingga sampai ke sana? Di samping jalan tanah yang kian parah dan hanya cukup dilewati satu truk saja, tujuan yang tidak tentu berapa lama lagi akan dicapai juga berpengaruh ke style berkendaraku yang kini semakin melambat, lebih lambat dibanding sebelum membeli bensin.
"Nanti, kalau di sana tidak memungkinkan, aku akan menginap di rumah warga sekitar saja, gak usah ke Wae Rebo, besok pagi sekali baru balik ke Labuan Bajo", begitu aku membuat ancang-ancang untuk kemungkinan terburuk.
Pelan...pelan...pelan... ikhlas dulu, yang penting sudah berusaha. Lalu, mantra alon-alon asal kelakon di awal menunjukkan efeknya. Senyumku kembali tersungging ketika menoleh ke arah kiri. Aku melihat sebuah pulau yang walaupun aku tidak pernah menginjakkan kaki di sana, tapi familiar bagiku. Pulau Mules! Pulau yang kunantikan penampakannya sejak tadi. Kata orang-orang di internet, jika sudah melihat pulau Mules, berarti Denge tidak jauh lagi.
Dan benar saja, sekitar lima kilometer selanjutnya, mulai terlihat rumah-rumah warga. Aku mengikuti jalanan yang kini teraspal kembali, meskipun tidak merata dan tidak lebar. Semakin ke atas semakin berdebar-debar aku. Apakah bisa sampai ke Wae Rebo? Ataukah aku harus menjalankan ancang-ancang sebelumnya? Ketika kemudian melihat Gereja St. Petrus & Paulus Denge, semakin tidak karuan degup jantung ini. Sebenarnya banyak pelancong yang merekomendasikan untuk berhenti dulu di sini, menyapa dan berkomunikasi dengan warga setempat. Tapi karena sudah terlanjur gembira yang berlebihan, aku memilih tidak singgah, dan terus saja mengikuti medan yang kian menanjak.
Tidak jauh dari gereja ada persimpangan, aku disapa oleh dua orang yang sedang ada di situ. Mereka menawarkan guide untuk naik ke Wae Rebo. Aku masih ragu apakah harus mengambil tawaran itu atau tidak, karena sampai saat itu pun aku juga belum yakin apakah jadi naik atau tidak, terlalu capek dan terlalu sore menurutku. Kemudian aku memilih untuk melewatkan dulu kesempatan ini, lalu berterima kasih kepada kedua orang itu karena telah berbaik hati menawari.
Bagian akhir jalan tanjakannya kian menantang. Matik yang aku tumpangi semakin meraung-raung. Tidak peduli panasnya mesin, dia kerahkan tenaga terakhirnya demi mengantarku sampai pos terakhir sebelum trekking ke Wae Rebo.
Dan, akhirnya sampai, dengan lelah, tapi puas. Pos pertama pendakian ke Wae Rebo. Di sana aku melihat tiga orang yang kalau dari penampilannya sih akan mendaki. Aku meyegerakan untuk parkir, dan bergegas menghampiri mereka. "Mau ke Wae Rebo bang?" tanyaku.
"Iya, ini mau berangkat."
"Boleh ikut gabung bang?" sambil berharap mereka mengiyakan.
"Ayo, tambah rame tambah asik ini!" tukas seorang lagi. Beban sepanjang perjalanan tadi terasa terangkat semua. Cita-cita ke Wae Rebo tinggal selangkah lagi! Aku menitipkan helm ke seorang bapak tua yang punya sebuah pondokan kecil di dekat situ. Selanjutnya aku, dua orang laki-laki, dan seorang perempuan, memulai pendakian ini, pendakian yang nyaris saja kubatalkan.
Benar-benar bersyukur sudah menjejakkan langkah pertama mengawali pendakian ini. Entah sampai kapan aku akan mengutuki diriku sendiri, jika Wae Rebo yang sudah sepelemparan batu itu tidak berhasil kuraih karena keputusan serampangan terambil dengan ceroboh di detik-detik terakhir.
msksnr. nrk dplrn bpndp
BalasHapus