Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 10)
Hoaaaahhhh, menguap sambil menggeliat menggenapkan nikmat tidur. Tubuh terasa pegal sekali, efek motoran jarak jauh dan mendaki kemarin baru terasa pagi ini. Sekarang sudah jam setengah enam, dan jam tujuh nanti ada janjian, janjian life on board (LoB) ke Pulau Komodo, yeay!. Maunya sih ambil trip yang sehari aja, biar gak benturan sama sholat Jumat. Tapi karena salah paham sampai aku dan pemilik hostel berdebat cukup pelik, akhirnya terambillah paket dua hari satu malam.
Aku mau cari makan dulu, lapar. Biarin belum mandi, paling resikonya cuma digunjing, toh aku gak kenal juga sama yang menggunjing, bodo amat lah. Keluar ke jalan, tengok kanan kiri, ah ada nasi kuning, sepertinya bisa dimakan, daripada nasi goreng kemarin malam yang rasanya adudu sekali. Kubungkus satu, lalu makan di penginapan.
Selesai makan dan mandi, kebetulan pemilik hostel datang. Dia memberiku kacamata renang dan selang snorkel, tapi gak ada kaki kataknya. Gakpapa, nanti aku dayung pake kaki sendiri aja. Kemudian diantarnya aku ke pelabuhan. Di sana semua sedang melakukan persiapan. Penumpang yang mau LoB duduk menunggu di sepanjang trotoar jetty. Begitu siap, kami diangkut ke kapal menggunakan sampan kecil, empat orang sekali jalan.
Kapal mulai bergerak ke laut lepas setelah sampan mengantarkan rombongan ketiga. Lumayan bergelombang lautnya, bikin agak mual-mual. Butuh beberapa saat untuk penyesuaian sekaligus menghilangkan mabuk laut ini.
Sekarang, di kapal ada empat orang kru kapal, dua orang turis lokal (termasuk aku), dua mahasiswi Jepang, tiga cewek Amerika, dan dua pasangan Jerman. Kenapa bisa tahu detail? Kalo orang Jepang kan kelihatan dari fisik dan bicaranya, kalo Jerman dan Amerika ini tahunya setelah kenalan.
Untung di sini ada satu orang Indonesia lagi selain diriku dan kru, jadi aku punya temen ngobrol. Namanya Rijal. Dia mahasiswa yang nyambi jadi ojol di Tangerang. Orangnya optimis, berapi-api, khas anak muda yang rebellius anti kemapanan. Kadang aku takjub waktu dengerin dia ngomong, kok bisa se-semangat itu? Ya sejauh ini sih bisa nyambung.
Waktu asik ngobrol, kru memanggil kami semua, katanya brunch sudah siap. Brunch lho, gak pernah kebayang dapat treatment istimewa gini. Nah disinilah kami semua saling berkenalan dan ngobrol.
Waktu nyantai sambil ngopi, kapal tiba-tiba memelankan lajunya. Destinasi pertama sudah ada di depan mata, Pulau Kelor. Ya sebuah pulau kecil aja, bagus tapi tidak terlalu istimewa. Satu-satunya atraksi yang disajikan di sini adalah bukit hijau di seberang Pulau Kelor. Atau kalo mau nambah satu atraksi lagi bisa juga snorkeling. Tapi aku terlalu malas untuk basah-basahan sekarang ini.
Gak begitu lama, kami lanjut lagi. Waktu sudah hampir jam dua belas. Seperti request ku sebelum mengambil paket trip ini, aku diantar untuk sholat jumat di sebuah kampung kecil di pulau yang kecil juga. Penumpang lain sepertinya dibawa plesir ke sebuah pulau sambil menunggu yang solat jumat. Kami (aku, Rijal, kapten kapal, dan seorang kru) berangkat ke sana pakai perahu kecil yang dipakai sebelumnya. Tidak ada dermaga khusus di pulau itu, hanya susunan batu karang dengan kayu-kayu yang ditancapkan. Tali boat ditambatkan ke situ, dan kami menuju musholla. Aku berjalan melewati kandang sapi, kandang ayam, dan juga celah-celah sempit antar rumah yang terasa panas karena atapnya menggunakan seng semua. Penduduk di sini tidak banyak, tapi karena daratannya tidak terlalu luas, jadi terkesan penuh sesak.
Lambang bintang sudah kelihatan. Dan akhirnya tiba juga di depan pintu musholla. Sayangnya berakhir pula kesempatan jumatan siang itu, bersamaan dengan imam yang mengangkat takbir. Ya mau gimana lagi? Akhirnya aku pakai voucher darurat, voucher menjadi musafir untuk mengganti sholat jumat dengan sholat dhuhur.
Sekarang kami menunggu jemputan di dermaga -yang bukan dermaga- tadi, mau ngapain lagi kalo gak langsung balik setelah solat? Gak mau lama-lama di musholla, malu karena gak ikut ibadah. Sambil merenung, aku mengamati bocah-bocah laut yang sedang lomba dayung. Begitu jauhnya gap antara Jakarta dan daerah antah berantah begini. Dan pemandangan ini cukup membikin gamang, mana yang harus lebih disyukuri, hidup di kota dengan segala ketersediannya, atau daerah seperti ini dengan segala kesahajaannya. Lalu sampan jemputan kami tiba. Lamunanku buyar, sedang yang lain menyudahi menghisap rokok. Kami kembali ke kapal.
Destinasi selanjutnya adalah bagian teristimewa dari trip kali ini, melihat komodo! Tapi bukan di Pulau Komodo, kata seorang kru lebih banyak komodo di Pulau Rinca daripada di sana. Bebaslah mau pilih pulau mana, gak ngaruh juga, yang penting bisa lihat naga purba ini! Pelayaran ke Pulau Rinca ini menurutku bagian yang terbaik. Banyak kita lewati pulau-pulau yang memiliki perbukitan indah, juga ada pulau karang yang bentuknya unik-unik. Oh iya, dan juga ombak di sini gak sebesar waktu di awal berangkat, entah itu karena aku yang semakin terbiasa, atau ombaknya yang memang gak besar karena kepecah oleh pulau-pulau kecil ini.
Terlihat dermaga kayu yang memanjang dari pinggir pantai, itulah pintu masuk Pulau Rinca. Kapal pelan-pelan melipir, lalu mengikatkan talinya di jembatan kayu itu. Kami semua turun, dibantu rangers yang memang sudah stand by di pintu masuk pulau. Kami diantar pemandu itu untuk memasuki pulau lebih dalam. Monyet, kerbau, dan burung-burung sepertinya masa bodo dengan kedatangan manusia di dekatnya. Anda sopan kami pun segan, mungkin itu slogan yang mereka pakai.
Akhirnya sampai juga di Loh Buaya, pusat aktivitas wisata di Pulau Rinca. Salah satu kru yang mendampingi kami membantu mengurus administrasi tamu. Kami hanya perlu membayar beberapa ribu rupiah (untuk wisatawan asing dibedakan harganya), sebagai retribusi perlindungan kawasan ini. Sambil menunggu, aku memilih mengamati komodo yang berkeliaran santai. Seperti di film-film dokumenter, komodo ini gak banyak bergerak, cocoklah jadi animal spirit-ku, mager, tapi giat kalo makan. Tidak lama kemudian, kru mengumpulkan kami semua, mau brieffing katanya. Pemandu menawarkan untuk memilih trek yang akan dilalui. Ada trek pendek, sedang, dan panjang. Ranger menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing trayek. Setelah berunding singkat, trek sedang yang jadi pilihan, karena waktu kami tidak banyak, dan jarak sedang itu sudah cukup memberikan apa yang kami cari, begitu ujar pemandunya.
Komodo yang kami temui sepanjang trek, tidak lebih banyak dari yang berkumpul di dekat loket adminstrasi. Kok bisa? Ya Ndak Tau Kok Tanya Saya (YNTKTS). Tapi selain komodo, saat trekking kali ini banyak sekali yang bisa ditemui. Kita bisa nemuin liang bertelurnya komodo, ketemu burung-burung, ular, kera, dan hewan-hewan lainnya. Bahkan, saat mencapai puncak bukit, teluk pantai Pulau Rinca nampak begitu menawan sekali. Cuma yang disayangkan, gak bisa mengamati semua atraksi itu dengan khidmat, hujan turun tiba-tiba.
Kami meninggalkan Pulau Rinca saat mentari mulai meredup. Bersama itu pula kawanan besar kelelawar terlihat migrasi dari sebuah pulau. Pulau Kalong, kru memberi tahu kami nama pulau itu, dan kesitulah kami dibawa.
Setibanya di sana, aku melihat banyak kapal yang sudah membuang sauhnya. Kami berkumpul di sini untuk tujuan yang sama, melihat boyongan kelelawar dari jarak yang dekat. Dan memang terasa istimewa! Langit jingga yang mulai kebiruan ter-disrupt dengan titik-titik hitam. Kelelawar mulai yang kecil sampai yang besar terbang beriringan dengan kecepatan hampir sama, indah sekali. Ditambah di sisi kapal ada Chihiro, gadis Jepang yang sungguh jelita parasnya sedang mendongak ke langit, seolah-olah kini aku sedang melihat salah satu lukisan termahal secara langsung. Fak sekali semesta ini, sering kali mempertontonkan sesuatu yang tidak mungkin dipunyai!!!
Begitu memasuki masa-masa blue hour, mesin kapal kembali dinyalakan. Entah ke mana arah yang dituju, tapi kecepatan kali ini tidak sekencang sebelumnya. Kapal melambat di sekitar dermaga kayu yang familiar, dan setelah itu tidak terdengar lagi deru mesin. Kami mengapung di tengah perairan teluk Pulau Rinca, di sinilah kami akan bermalam.
Suasana malam lebih akrab daripada siang tadi, terutama waktu makan malam. Aku dapat kesempatan lagi untuk melatih speaking yang masih patah-patah ini. Sekiranya cukup berakrab-akrab, semua kembali ke kelompoknya masing-masing, yang Amerika ngumpul sesama Amerika, yang Jerman sama yang Jerman, Jepang dengan Jepang, lalu aku dengan Rijal. Tapi sejenak kemudian aku meninggalkan Rijal. Aku ingin fokus menyendiri, menikmati langit bersih tanpa polusi udara dan cahaya. Entah berapa tema yang kurenungi malam itu, hingga tanpa sadar sendirian aku tetap terjaga, ketika yang lain sudah terkulai lemas di matras masing-masing.
Komentar
Posting Komentar