First Timer: Kesasar di Belitung (Part 4)
Kecanggungan membalut perahu kecil yang terapung di selat. Empat orang saling bersenda gurau, sedangkan dua lainnya terpaku menatap lautan tak bertepi, Ageng masuk ke kelompok kedua. Dia terlalu canggung untuk meruntuhkan tembok pemisah diantara mereka, dia hanya bisa berharap es kokoh yang ada segera mencair. Gayung bersambut, salah satu dari mereka menyapa Ageng, "Kok sendirian mas? Dari mana?". "Iya mas, saya dari Jakarta" jawabnya singkat. Dia sangat berhati-hati jika bertemu dengan orang baru, karena dia paham tuturnya sangatlah busuk, meski sebenarnya tidak ada tendensi buruk sama sekali. Percakapan berikutnya mengalir begitu saja, tidak terlalu intens memang percakapan antar mereka, tapi cukuplah untuk menegasikan rasa canggung yang menolak untuk pergi begitu saja.
Mereka singgah di pulau pertama yang entah apa namanya. Batu bundar yang mulus menutupi hampir seperempat bagian pulau. Ageng mengambil beberapa gambar dengan mirrorlessnya. Teman-teman barunya juga juga asik melakukan hal serupa. Ageng baru tahu -lebih tepatnya berasumsi- kalau salah satu dari rombongan itu adalah fotografer pro, terlihat dari perlengkapan penunjang kamera yang satu tas tersendiri. Sedang Ageng, perlengkapan penunjang kamera yang dibawanya cuma charger tok, tas kamerapun dia tidak punya. Dia menaruh kameranya di sebuah kotak makan plastik yang mutunya dibawah Lion Star, pemberian dari teman kontakan, kasian kan? Namun begitu, sesekali Ageng membantu mengambil gambar mereka, baik diminta atau menawarkan diri. Itung-itung berterima kasih sudah diijinkan ikut ke perahu mereka.
Setelah dari pulau itu, kekakuan di perahu sudah jauh berkurang. Mereka membahas seluk beluk fotografi yang sebenarnya belum terlalu Ageng pahami karena dia pun masih baru juga punya kamera. Dia pasang muka antusias dan sesekali bertanya mengulangi kata dari kalimat terakhir yang diucapkan teman barunya. Rupanya cara itu cukup berhasil.
Tidak berselang lama mereka bersandar di sebuah gosong (gundukan pasir di tengah laut yang membentuk pulau pasir). Sudah cukup ramai di sana, tapi tidak mengurangi keindahan yang mampu menyihir orang-orang yang mengunjunginya. "Ini kan yang seperti ada di iklan rokok jaman dulu?" tanya Ageng dalam hati sambil terkesima dengan pulau pasir yang baru diinjaknya. Sungguh keren memang, ditambah ada sepasang orang yang sedang foto prewed, sulit rasanya untuk melewatkan kesempatan emas untuk menambah koleksi fotonya. "Mas, saya tadi sempat foto mas sama mbaknya, boleh saya simpan gak fotonya?" ijinnya kepada calon mempelai laki-lakinya. "Iya mas, gakpapa." balas si laki-laki itu pendek, kelihatannya dia sedang diburu tim fotonya.
Setelah puas di pulau pasir, Ageng dan rombongannya bergerak menuju ke Pulau Lengkuas, grand show dari island hoping di Belitung. Dari kejauhan sudah tampak mercusuar yang gagah dan berwarna putih bersih seperti gigi pepsidont. Perahu perlahan melambat, dan pengemudi menurunkan sauhnya di perairan dangkal. Tidak sampai bibir pantai memang, mereka harus berjalan beberapa meter untuk mencapai pantai. Pertunjukunnya utuamanya memang mercusuar, tapi mengabadikan momen di sekeliling mercusuar juga tidak ada salahnya. Mereka berlima berfoto dengan papan selamat datang di Pulau Lengkuas, mengambil foto suasana sekitaran pulau, juga membingkai jajaran perahu yang warna warni.
Cukup sudah di daratan, sekarang waktunya naik ke mercusuar. Sebelum naik, semua diharuskan melepaskan alas kakinya, Agengpun patuh. Memang mercusuar yang sudah berumur lebih dari satu abad perlu perawatan ekstra. Dia mulai memasuki bagian dalam mercusuar. Hawa lembab cukup mendominasi, dengan beberapa sisinya gelap karena kekurangan sinar yang hanya bersumber dari pintu masuk. Perlahan dia naik ke lantai atas, menapaki tangga melingkar yang menempel dengan dinding mercusuar. Ada genangan lantai cukup membingungkannya, apakah karena ada kebocoran, atau dari pengunjung yang basah karena bermain di air dulu sebelum ke sini.
Tidak terlalu tinggi menaiki tangga, dia terhenti di lantai lima mercusuar. Ada teralis besi yang menutup akses ke lantai enam. Kecewa tentu, karena Ageng sudah berandai-andai merasakan terpaan angin di tingkat delapan belas puncak mercusuar sambil pandangannya menyapu khatulistiwa. Tapi kekecewaan itu tidak berlanjut lama, pemandangan dari tingkat lima juga sudah cukup memanjakan mata, walaupun sedikit terganggu dengan kaca jendela yang kotor. Beberapa kali jepret, Ageng memutuskan turun, bergabung kembali dengan rombongannya.
Di bawah, pengemudi perahu sedang asyik menyeruput kopi sambil berteduh di bawah pohon rindang, dibelai angin laut yang amboi. Ageng menghampirinya, disusul oleh teman-teman barunya. Setelah kopi habis, mereka sepakat untuk kembali ke Pantai Tanjung Kelayang, tempat awal mereka berangkat.
Semua kelelahan, beberapa tidur dengan tas sebagai bantalnya, sedang Ageng tetap terjaga. Sebenarnya mau juga sih tidur, karena ngantuk juga. Tapi rasa sungkan karena dia sadar masih berstatus "orang asing", membuat kelopak matanya sukar untuk menutup.
Komentar
Posting Komentar