First Timer: Kesasar di Belitung (Part 5)
Sampai di Pantai Tanjung Kelayang, waktunya bayar-bayar. Sesuai janjinya di awal, Ageng juga ikut patungan untuk membayar perahu tersebut. Namun ada sedikit permasalahan. Harga yang harus dibayarkan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, menurut salah satu temannya. Alat snorkel yang semula dikira gratis, ternyata dihargai beberapa puluh ribu, dipakai atau tidak. Dengan sedikit pembicaraan hati ke hati sesama orang yang hartanya pas-pasan, Ageng berhasil meluluhkan pengemudi perahu dan harga yang ditetapkan tidak jadi terlalu tinggi.
Sebelum berpisah untuk melanjutkan perjalanan, Ageng ditawari oleh temannya untuk gabung ke penginapan mereka di sekitaran Tugu Batu Satam. Dia mencoba menerka-nerka di mana letak Tugu Batu Satan. Pikirannya flashback ke hari pertama, mungkin yang dimaksud Tugu Batu Satam itu tugu yang di atasnya nangkring batu besar hitam. Dia berasumsi seperti itu karena menurutnya satam dan hitam hampir mirip, tanpa mencoba menelusuri kebenarannya. Menurutnya ini tawaran yang cukup baik, biar setidaknya dia tidak sendiri lagi di malam terakhir di Belitung. Setelah bertukar nomor hp, Ageng berpisah dengan mereka dan menuju ke motornya. Pantai Tanjung Tinggi adalah tujuannya setelah ini.
Menempuh waktu sepuluh menit, Ageng sudah berada di Pantai Tanjung Tinggi. Sesampainya di sana dia cukup keheranan, bagaimana pantai yang ikonik seperti ini bisa mendapat perawatan yang bisa dikatakan jauh dari memadai? Portal masuk yang hanya dari dua bilah bambu dan melintang secara tidak horizontal, parkir motor yang sekenanya bahkan bisa sampai di pinggir laut, juga warung-warung kecil yang berserakan seakan menghijab keindahan Pantai Tanjung Tinggi. Kepalang tanggung, Ageng berusaha masuk lebih dalam.
Sebelum mencapai bibir pantai, dia dihadang sebuah batu besar. Dari keterangannya sih batu itu bernama Batu Pepaya, mungkin karena bentuknya yang menyerupi pepaya (meski menurut Ageng tidak). Di depan batu pepaya tadi, terdapat sebuah papan marmer bertuliskan "lokasi syuting film Laskar Pelangi". Setelah membaca keterangan papan marmer, Ageng mulai memasuki "hutan batu".
Ternyata kesemrawutan sarana di pantai memang benar-benar menghijabi keindahan sejati Pantai Tanjung Tinggi. Hutan batunya sungguh bisa menyihir siapapun yang memasukinya. Batu yang masif dan berserakan seakan-akan membentuk sebuah labirin. Semakin dalam, orang-orang dibuat seperti berdansa di bawah berkas-berkas cahaya yang menukik dari celah pepohonan yang rindang. Ageng menyusuri jalan sempit diantara bebatuan, persis seperti salah satu adegan film Laskar Pelangi. Hingga tidak terasa bibir pantai sudah berada tepat di depannya.
Termangu, dia duduk di atas batu, menatap laut lepas, sambil membayangkan batu yang berada di bawahnya kini bisa berjalan, seperti di kartun Spongebob yang episode mengantarkan pizza. Dilihatnya orang-orang lalu lalang naik turun mendaki batu. Di beberapa sudut ada juga yang asik berfoto. Sementara terlihat sesorang terkantuk-kantuk kena desiran angin sambil didongengi oleh radio analognya. Semuanya punya satu kesamaan, sama-sama menikmati keindahan pantai Tanjung Tinggi.
Saat sibuk mengambil beberapa foto, tiba-tiba awan pekat datang dengan kecepatan yang tidak biasa dari arah laut. Hampir dipastikan akan turun hujan, Ageng bergegas meninggalkan pantai. Dengan setengah berlari, dia menuju ke arah motor sewaanya. Dia baru ingat kalo dia tidak membawa mantel, dan seketika itu juga hujan turun dengan derasnya. Tidak ada tempat berteduh yang layak selain sebuah kedai bambu yang tidak berpenghuni, dia menuju ke sana dengan berlari. Lumayan basah, tapi tidak sampai kuyup ketika sampai. Sambil menunggu reda, dimakannya roti yang sudah dibelinya pagi hari, sebagai menu makan siangnya kali ini.
~
Hujan yang datang tergesa-gesa, enyah dengan tergesa-gesa pula. Dipayungi awan yang masih terlihat berat, dia memilih untuk kembali ke kota Tanjung Pandan. Aspal menghitam sepanjang jalan, dan semak-semak meneteskan kelebihan berkah yang diterimanya. Dia menggigil beberapa kali di atas motor, karena bajunya yang lepek bertumbuk dengan angin yang dipecah laju motor. Semakin dingin dan jaga-jaga daripada nanti jadi sakit, Ageng melipir ke sebuah masjid untuk mandi dan ganti dengan pakaian kering. Dia sengaja memilih tempat yang agak jauh dari pantai karena menurutnya air yang digunakan membilas badannya akan lebih tawar dibanding dengan air di sekitaran pantai. Setelah berganti dengan setelan baru dan menunaikan sholat dhuhur, beban yang dirasanya seakan jauh berkurang, baik beban karena tubuh kotor, ataupun beban karena belum absen ke Yang Maha Kuasa.
"Sepertinya kalau ke Danau Kaolin masih sempat ini, mumpung sejalur ke arah kota", batinnya sebelum tancap gas. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui kan lumayan. Kali ini dia menyusuri bagian tengah Kabupaten Belitung Barat, yang berbeda jauh topografinya dengan jalur pesisir yang diambilnya ketika berangkat. Lebar jalannya sama dengan jalur pesisir, tapi banyak kerusakan di sana sini. Di beberapa bagian jalan, terdapat plang bertuliskan "Pelan-pelan, ada pekerjaan jalan" yang menurut Ageng mebingungkan, "Gimana mau gak pelan, jalannya ajaib begini!". Namun, yang sangat membekas dari jalanan di sana adalah banyaknya rambu lalu lintas bergambar masjid, yang menandakan beberapa meter ke depan ada tempat ibadah umat Islam. Mungkin setiap tiga ratus meter rambu seperti itu tertancap di pinggir jalan. Bisa jadi jumlah mobil di sana kalah dengan banyaknya masjid.
Sebelum mencapai Danau Kaolin, terdapat bukit-bukit buatan yang diselimuti warna hijau macam rumah Teletubbies. Ageng mencoba naik sebelum akhirnya urung karena sadar, itu bukan bukit buatan biasa, itu adalah area golf yang sedang dalam pembangunan. Daripada nanti digibeng (kuping yang digosok pakai telapak tangan sampai panas) sama petugas keamanan, mending dia ngacir.
Akhirnya sampai juga di Danau Kaolin setelah pantatnya cukup lengket dengan jok motornya. Namanya saja danau tapi sebenarnya cukup sulit untuk dikategorikan sebagai dnau. Sebenarnya tempat itu hanyalah bekas galian tambang kaolin yang kemudian terbengkalai dan ceruk-ceruknya terisi oleh air.
Kalau dikatakan tertipu sebetulnya tidak juga, ketidaksesuaian ekspektasi murni karena bakat alami Ageng yang sudah disebutkan sebelumnya. Coba kalo dia mau riset sedikit saja, pasti bisa dapat gambaran yang lebih baik. Danau Kaolin memang tidak dapat dilabeli Grade A sebagai tempat wisata, tapi tetap saja punya sisi khasnya sendiri. Warna airnya yang biru cyan sangat lembut di mata. Ceruk-ceruk yang membuat kolam-kolam kecil juga memantik Ageng mengimajinasikan permukaan planet lain di antariksa. Juga pola-pola abstrak yang terbuat dari tanah berpasir putih memisahkan satu kolam dengan kolam lainnya. Yang kurang mendukung hanyalah awan hitam yang tidak kunjung pergi, memaksanya untuk segera meninggalkan danau.
Komentar
Posting Komentar