First Timer: Kesasar di Belitung (Part 3)
Jam empat pagi Ageng sudah bangun, tidak peduli mimpi senikmat apapun, jam biologisnya sering kali mengungguli bunga mimpinya. Azan merayu Ageng untuk menikmati subuh pertamanya di luar jawa. Jalan sepi di luar hostel terasa semakin hikmat, sebab ilalang tinggi dikiri-kanannya yang sesekali bergoyang ditiup angin malam, dan tampak cantik diterpa temaram lampu jalan yang satu dua. Tidak jauh beda dengan belahan Indonesia yang lain, para sesepuh bersarung dan bersongkok mendominasi surau. Dipenuhinya langit-langit dengan gema suara parau mereka ketika melantunkan wirid dan pujian, sedang bocah itu tertunduk bersila menunggu bunyi "tit" dari jam penanda iqamat. Cepat sekali, mungkin sekitar tujuh menit dari "tit", Ageng sudah berbaring lagi di kamar hostelnya, melanjutkan tidur seperti hari-harinya yang lalu.
~
Hangatnya matahari pagi masih tertahan kaca buram, tapi sinarnya telah memerahkan pandangan Ageng yang masih tertutup kelopak matanya. Perlu beberapa saat untuk mengumpulkan nyawa dan nyali untuk mandi, karena jika tidak dikumpulkan terlebih dulu, dia akan pilek seharian terhitung sejak dia selesai mandi. Segar sudah, dia menanyakan ke pemilik hostel apakah sarapannya sudah siap, karena menurut Travelaku hostelnya menyediakan breakfast. Pemilik hostel baru ingat kalo ada yang menginap, maka masaklah dadakan dia, sedangkan Ageng merapikan kasur dan bawaannya sembari menunggu masakannya dihidangkan.
Pikir Ageng, akan ada masakan yang enak seperti ulasan di Travelaku, nyatanya tidak. Dihadapannya kini ada mi goreng lauk nasi yang sedikit mengering ditambah telur ceplok, plus teh anget-dingin manis. Mungkin kalau banyak orang masakannya akan lebih beragam, tapi karena dia sendiri, jadi ya seadanya. Kenyang, dia pamit ke ibu pemilik hostel untuk pergi ke Pantai Tanjung Kelayang, agenda hari ini dia akan island hopping di sana. Dengan motor yang disewa sejak kemarin, dia mulai berkendara menuju Pantai Tanjung Kelayang, tentu saja dengan panduan penuh gmaps.
Dengan kecepatan ibu-ibu pergi ke pasar, dia melaju menyusuri garis pantai yang sejajar dengan jalanan utama. Di kirinya laut yang tenang, sedang di sisi kanannya rumah-rumah panggung seperti yang tampak di film Laskar Pelangi berdiri saling berjauhan, dijarak semak-semak tinggi. Masih belum lama melenggang, dia berhenti di suatu jembatan. Di bawahnya mengalir sungai yang bermuara langsung ke laut, sedang di sisi lain jembatan ada bapak tua sedang berdiri sambil sebat. Menarik, Ageng mengambil gambar beberapa kali, kemudian melanjutkan perjalanannya.
Sebenarnya jarak dari hostel ke Tanjung Kelayang tidak terlalu jauh, namun karena medan yang tidak familiar menjadikan Ageng merasa jaraknya melar dari yang ditunjukkan googlemaps. Semak tinggi seakan tidak habis-habis mengejeknya sepanjang jalan. "Sepertinya saya sudah lewat belokan ini tadi" ujarnya merasa de javu pada jalanan yang dilaluinya. "Jangan-jangan saya kesasar. Jangan-jangan ini ada setan seperti yang di film-film muterin jalan saya. Jangan- jangan saya nanti bangun di tengah pekuburan. Jangan-jangan..." dan masih banyak lagi jangan-jangan yang dihalukan oleh Ageng, solo backpacker sepertinya memperparah kondisi kejiwaanya.
Toh akhirnya tidak lebih dari 45 menit dia sudah sampai di pertigaan menuju pantai, memang lebay saja sih si goblog kebanyak halu ini. Di jalan dia bertemu bule-bule berjalan kaki ke pantai, padahal dari pertigaan ke pantai masih ada sekitar satu setengah kilo lebih. Mereka bisa kuat jalan kaki lumayan jauh mungkin karena postur tubuhnya, beda dengan Ageng yang tambun seperti bapak-bapak.
Setelah sampai di bibir pantai, dia memarkir motor sewaannya sembarangan di bawah sebuah pohon rindang. Dia ikut-ikutan beberapa motor yang telah terparkir di sekitar situ juga, karena selain praktis dan teduh, dia juga malas ketemu tukang parkir. Bukan karena dua ribunya, tapi cenderung kesal aja karena merasa dipalak. Setelah merasa motornya aman, dia mencari pengemudi perahu di sekitaran pantai untuk island hopping. Terlihat sekumpulan laki-laki dewasa sedang ngobrol di sebuah pondokan. Dari kulit legam mereka, Ageng mengira mereka adalah pengemudi perahu yang saban hari melaut. Dia mencoba bertanya ke salah seorang diantara mereka.
"Pak, kalau mau naik perahu ke Pulau Lengkuas tarifnya berapa ya pak?".
"Empat ratus ribu satu perahu mas" jawab salah seorang dari mereka.
"Kalau langsung ke Pulau Lengkuas gak usah island hopping boleh kurang gak pak?" Ageng mencoba untuk menawar.
"Gak boleh mas, sudah segitu harganya".
"Ohhh, kalo gitu saya pikir dulu ya pak. Nanti kalau ada orang yang mau berangkat boleh beri tahu saya pak, siapa tahu bisa patungan" pungkas Ageng sembari meninggalkan pndokan tadi. Terdengar lamat-lamat mereka berseloroh dengan nada mengejek satu perahu hanya boleh satu rombongan, tapi Ageng tidak menghiraukannya dan tetap berharap ada rombongan yang bersedia dia "bajak". Dia duduk termangu di pinggir pantai, melihat rombongan lain mulai menaiki perahu. Ada yang empat orang, ada yang enam orang, bahkan ada sekitar sepuluh orang dalam satu rombongan yang diangkut oleh perahu. Setelah menunggu beberapa saat, sepertinya ada angin yang memaksanya menoleh ke arah barat. Dia memergoki empat orang yang berjalan mendekati sebuah perahu. Ageng berlari menghampiri mereka. Namun karena jaraknya yang terlalu jauh dan kecepatan Ageng melambat karena pasir dan beban yang dibawanya, empat orang itu sudah berada di atas perahu saat dia sudah sampai di depan mereka.
"Mas, saya boleh ikut naik gak?!" seru Ageng ke salah seorang rombongan yang terdiri dari satu laki-laki dan tiga perempuan.
"Emm, sebentar saya tanya sama teman saya!" jawab si laki-laki dengan berseru juga untuk mengimbangi suara deburan ombak.
Saat empat orang itu sedang berdiskusi, dari sorot matanya tampak pengemudi perahu tidak memperkenankan Ageng untuk ikut rombongan mereka. Mungkin karena jika dia bergabung, potensi pendapatan teman seprofesi pengemudi perahu itu akan hilang, mungkin.
"Mas, nanti tapi ikut patungan ya?!" tanya salah satu perempuan.
"Iya mbak, nanti saya ikut patungan!".
"Ya udah mas, ayo naik. Pak jangan dimundurin perahunya!" si mbak berusaha menghentikan perahu yang mulai mundur ke laut. Memang kelihatan betul kalo pengemudi perahu tidak senang dengan "pembajakan" ini. Ageng melangkahkan kakinya tinggi-tinggi dengan setengah berlari mengejar perahu. Air laut yang sudah seukuran betis semakin mempersulitnya. Perahu yang tidak berhenti mundur memaksa Ageng untuk bergegas naik, dia lempar tas ransel dan sandal gunungnya ke perahu, lalu dia melompat ke atas dengan bertumpu pada kedua lengannya. Hop... akhirnya dia kini sudah berada di atas perahu. Lega dan aneh adalah perasaan paling menonjol yang dia rasakan manakala sampai di atas dek perahu. Lega karena akhirnya dia bisa island hopping, dan aneh karena dia sekarang bersama lima orang asing, dengan satu orang yang pasang raut muka ketus, si pengemudi perahu.
~
Hangatnya matahari pagi masih tertahan kaca buram, tapi sinarnya telah memerahkan pandangan Ageng yang masih tertutup kelopak matanya. Perlu beberapa saat untuk mengumpulkan nyawa dan nyali untuk mandi, karena jika tidak dikumpulkan terlebih dulu, dia akan pilek seharian terhitung sejak dia selesai mandi. Segar sudah, dia menanyakan ke pemilik hostel apakah sarapannya sudah siap, karena menurut Travelaku hostelnya menyediakan breakfast. Pemilik hostel baru ingat kalo ada yang menginap, maka masaklah dadakan dia, sedangkan Ageng merapikan kasur dan bawaannya sembari menunggu masakannya dihidangkan.
Pikir Ageng, akan ada masakan yang enak seperti ulasan di Travelaku, nyatanya tidak. Dihadapannya kini ada mi goreng lauk nasi yang sedikit mengering ditambah telur ceplok, plus teh anget-dingin manis. Mungkin kalau banyak orang masakannya akan lebih beragam, tapi karena dia sendiri, jadi ya seadanya. Kenyang, dia pamit ke ibu pemilik hostel untuk pergi ke Pantai Tanjung Kelayang, agenda hari ini dia akan island hopping di sana. Dengan motor yang disewa sejak kemarin, dia mulai berkendara menuju Pantai Tanjung Kelayang, tentu saja dengan panduan penuh gmaps.
Dengan kecepatan ibu-ibu pergi ke pasar, dia melaju menyusuri garis pantai yang sejajar dengan jalanan utama. Di kirinya laut yang tenang, sedang di sisi kanannya rumah-rumah panggung seperti yang tampak di film Laskar Pelangi berdiri saling berjauhan, dijarak semak-semak tinggi. Masih belum lama melenggang, dia berhenti di suatu jembatan. Di bawahnya mengalir sungai yang bermuara langsung ke laut, sedang di sisi lain jembatan ada bapak tua sedang berdiri sambil sebat. Menarik, Ageng mengambil gambar beberapa kali, kemudian melanjutkan perjalanannya.
Sebenarnya jarak dari hostel ke Tanjung Kelayang tidak terlalu jauh, namun karena medan yang tidak familiar menjadikan Ageng merasa jaraknya melar dari yang ditunjukkan googlemaps. Semak tinggi seakan tidak habis-habis mengejeknya sepanjang jalan. "Sepertinya saya sudah lewat belokan ini tadi" ujarnya merasa de javu pada jalanan yang dilaluinya. "Jangan-jangan saya kesasar. Jangan-jangan ini ada setan seperti yang di film-film muterin jalan saya. Jangan- jangan saya nanti bangun di tengah pekuburan. Jangan-jangan..." dan masih banyak lagi jangan-jangan yang dihalukan oleh Ageng, solo backpacker sepertinya memperparah kondisi kejiwaanya.
Toh akhirnya tidak lebih dari 45 menit dia sudah sampai di pertigaan menuju pantai, memang lebay saja sih si goblog kebanyak halu ini. Di jalan dia bertemu bule-bule berjalan kaki ke pantai, padahal dari pertigaan ke pantai masih ada sekitar satu setengah kilo lebih. Mereka bisa kuat jalan kaki lumayan jauh mungkin karena postur tubuhnya, beda dengan Ageng yang tambun seperti bapak-bapak.
Setelah sampai di bibir pantai, dia memarkir motor sewaannya sembarangan di bawah sebuah pohon rindang. Dia ikut-ikutan beberapa motor yang telah terparkir di sekitar situ juga, karena selain praktis dan teduh, dia juga malas ketemu tukang parkir. Bukan karena dua ribunya, tapi cenderung kesal aja karena merasa dipalak. Setelah merasa motornya aman, dia mencari pengemudi perahu di sekitaran pantai untuk island hopping. Terlihat sekumpulan laki-laki dewasa sedang ngobrol di sebuah pondokan. Dari kulit legam mereka, Ageng mengira mereka adalah pengemudi perahu yang saban hari melaut. Dia mencoba bertanya ke salah seorang diantara mereka.
"Pak, kalau mau naik perahu ke Pulau Lengkuas tarifnya berapa ya pak?".
"Empat ratus ribu satu perahu mas" jawab salah seorang dari mereka.
"Kalau langsung ke Pulau Lengkuas gak usah island hopping boleh kurang gak pak?" Ageng mencoba untuk menawar.
"Gak boleh mas, sudah segitu harganya".
"Ohhh, kalo gitu saya pikir dulu ya pak. Nanti kalau ada orang yang mau berangkat boleh beri tahu saya pak, siapa tahu bisa patungan" pungkas Ageng sembari meninggalkan pndokan tadi. Terdengar lamat-lamat mereka berseloroh dengan nada mengejek satu perahu hanya boleh satu rombongan, tapi Ageng tidak menghiraukannya dan tetap berharap ada rombongan yang bersedia dia "bajak". Dia duduk termangu di pinggir pantai, melihat rombongan lain mulai menaiki perahu. Ada yang empat orang, ada yang enam orang, bahkan ada sekitar sepuluh orang dalam satu rombongan yang diangkut oleh perahu. Setelah menunggu beberapa saat, sepertinya ada angin yang memaksanya menoleh ke arah barat. Dia memergoki empat orang yang berjalan mendekati sebuah perahu. Ageng berlari menghampiri mereka. Namun karena jaraknya yang terlalu jauh dan kecepatan Ageng melambat karena pasir dan beban yang dibawanya, empat orang itu sudah berada di atas perahu saat dia sudah sampai di depan mereka.
"Mas, saya boleh ikut naik gak?!" seru Ageng ke salah seorang rombongan yang terdiri dari satu laki-laki dan tiga perempuan.
"Emm, sebentar saya tanya sama teman saya!" jawab si laki-laki dengan berseru juga untuk mengimbangi suara deburan ombak.
Saat empat orang itu sedang berdiskusi, dari sorot matanya tampak pengemudi perahu tidak memperkenankan Ageng untuk ikut rombongan mereka. Mungkin karena jika dia bergabung, potensi pendapatan teman seprofesi pengemudi perahu itu akan hilang, mungkin.
"Mas, nanti tapi ikut patungan ya?!" tanya salah satu perempuan.
"Iya mbak, nanti saya ikut patungan!".
"Ya udah mas, ayo naik. Pak jangan dimundurin perahunya!" si mbak berusaha menghentikan perahu yang mulai mundur ke laut. Memang kelihatan betul kalo pengemudi perahu tidak senang dengan "pembajakan" ini. Ageng melangkahkan kakinya tinggi-tinggi dengan setengah berlari mengejar perahu. Air laut yang sudah seukuran betis semakin mempersulitnya. Perahu yang tidak berhenti mundur memaksa Ageng untuk bergegas naik, dia lempar tas ransel dan sandal gunungnya ke perahu, lalu dia melompat ke atas dengan bertumpu pada kedua lengannya. Hop... akhirnya dia kini sudah berada di atas perahu. Lega dan aneh adalah perasaan paling menonjol yang dia rasakan manakala sampai di atas dek perahu. Lega karena akhirnya dia bisa island hopping, dan aneh karena dia sekarang bersama lima orang asing, dengan satu orang yang pasang raut muka ketus, si pengemudi perahu.
Komentar
Posting Komentar