First Timer: Kesasar di Belitung (Part 2)

Lumayan lama Ageng berjalan meyusuri jalan raya. Sesekali ia menengok ke belakang sambil berharap ada tumpangan ke pusat kota atau paling tidak transportasi umum yang murah. Membawa ransel lima kiloan ditambah perut yang kosong karena terakhir diisi pagi hari membuat jalannya semakin menit semakin melambat. Ada sih warung yang ditemuinya, tapi dia enggan untuk mampir. Jika kalian paham bentuk warung dari kayu dan genting yang sudah lapuk dan membuat tampilan bangunan semi permanen itu cenderung mirip tempat jualan minyak tanah di tahun 2000an, kemungkinan besar kalian juga mengalami keraguan yang sama dengan Ageng.

Lelah, Ageng beristirahat di trotoar meskipun tidak ada peneduh sama sekali, yang penting pundaknya bisa rehat sejenak. Sambil duduk, dia juga menjempoli setiap kendaraan, entah mobil atau sepeda motor. Saat menunggu, dalam diam dia sedikit merajuk pada Tuhannya, "Ya Allah, saya kan pernah sholat lima waktu, masa' saya cuma minta tumpangan aja enggak Kamu kasih sih?". Ya begitu itu Ageng, selain bodoh, dia juga sering kurang ajar, bahkan sama Tuhannya!

Tidak lama setelah dia berdoa, jempolnya nyangkut ke seorang bapak-bapak naik motor yang menawarkan tumpangan. Mungkin Tuhan mengabulkan doanya karena sedang iba saja, melihat ada manusia gak ada otak celingak celinguk sendirian.
"Mau ke mana dik?" tanya si bapak.
"Ke pusat kota pak", sahut Ageng
"Ya udah naik aja", sambut si bapak dengan ramah dan mempersilahkan Ageng duduk di jok motornya, walaupun si bapak tahu kalo Ageng ditambah ranselnya lebih berat daripada motor bebeknya yang launching hampir berbarengan dengan Lativi.

Ageng heran memandangi jalanan yang dilaluinya. Jalan lebar yang cukup untuk sekitar empat mobil namun hanya ada satu pemisah jalur, tidak ada kampung padat penduduk di kiri kanan jalan utama, dan yang paling aneh tidak banyak kendaraan yang lalu lalang, membawanya kembali ke jalanan pada umumnya di pulau Jawa. Sangat kontras memang perbandingannya, antara langit dan bumi, gunung dan laut, Jin BTS dan Ageng. 

Masih larut dengan suasana yang benar-benar baru, Ageng terkaget ketika ditanya si bapak, "Ini mau ke mana mas?".
"Ke pusat kota pak."
"Iya ke pusat kota, tapi turun di mana?"
"Eeemmm, kurang tahu pak". Rupanya kebingungan dari tadi belum juga dia jawab.
"Lhah, terus gimana ini?" si bapak juga sama bingungnya.
Sejenak Ageng berpikir, sejurus kemudian terucaplah jawaban aneh darinya. "Pokoknya bapak mau ke mana, saya ikut turun di situ pak". Si bapak cuma menjawab "oh iya", mungkin dia juga bingung apa maunya anak ini.

Perlahan Ageng dan si bapak menjumpai keramaian. Dia melihat ada bundaran dan ditengahnya terdapat semacam tugu yang diatasnya nangkring sebongkah batu hitam pekat yang besar. Motor mulai melambat dan akhirnya menepi di ujung jalan tepat di muka bundaran tadi. "Sampai sini ya mas?" ucap bapak. "Oh..oh.. iya pak, terima kasih banyak pak", balas Ageng. Bapak melanjutkan naik motornya, meninggalkan Ageng yang masih belum sadar sepenuhnya sedang di mana dia. "Semoga si bapak dan keluarganya diberkahi oleh Allah" gumam dia sambil berjalan mencari tempat makan.

Setelah kenyang makan mi ayam yang berada tidak jauh dari tempat dia berhenti, agenda dia selanjutnya mencari penginapan. Sempat ia bertanya pada penjual mie tentang penginapan termurah di sekitar situ, dan katanya ada seharga seratus ribu per malam. Namun dia merasa kurang cocok, karena sebelumnya dia mendapat referensi sebuah hostel murah 75 ribuan dari Travelaku. Akhirnya dia memutuskan untuk menuju ke hostel tadi menggunakan ojol yang untungnya sudah beroperasi di sana. Sepertinya opsi tidur di masjid sebagai wacana awal tidak relevan lagi baginya.

Stok keberuntungan anak ini belum habis rupanya. Ketika sampai di hostel yang dimaksud, ternyata tidak ada pelancong lain yang menginap. Praktis ruang yang luas dikuasainya sendiri cukup dengan membayar 75 ribu. Dia bersyukur sudah memilih hostel ini pada akhirnya, karena sebelum sampai di sini dia juga mencoba bertanya ke beberapa penginapan yang dilaluinya, dan tidak ada yang sesuai dengan kriterianya. Untung pengemudi ojol yang membawanya cukup sabar dan baik menuruti permintaanya keluar masuk penginapan. Bisa jadi kalo ojol yang lain sudah mengklakson langsung kupingnya selama lima detik.

Hari belum terlalu sore, daripada dia hanya rebahan di kasur bertingkat hostel, dia memutuskan untuk menjelajahi Tanjung Pandan setelah belakangan di paham kalau itu merupakan pusat kota Belitung Barat -bahkan Ageng baru paham kalau ada Belitung Barat dan Belitung Timur-. Dengan motor sewaan dari pemilik hostel dan gmaps, dia menuju ke Pantai Tanjung Pendam sesuai sugesti dari ibu pemilik hostel. Menurut si ibu, Tanjung Pendam merupakan tempat banyak pasangan muda mudi menghabiskan sorenya. Mungkin menurut si ibu pantai itu tempat yang menarik, tapi bagi Ageng pantai itu bagaikan ditampar Raisa, enak bisa lihat keindahan dari dekat, walaupun bikin sakit.

Pantai Tanjung Pendam sama seperti pantai pada umumnya. Dengan pasir putih, angin semilir, dan air laut yang cukup tenang ditambah semburat jingga sore hari sangat cocok untuk menghabiskan waktu sore bersama orang terkasih. Namun yang berbeda dan cukup mencolok yaitu banyak anjing liar yang beristirahat. Mungkin mereka lelah kerap disalahkan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia. Manusia kerap menisbahkan perbuatan buruk yang dilakukan kepada anjing. Padahal sedikit sekali -jika boleh dikatakan tidak ada- orang yang dosanya tidak lebih banyak dari anjing. Ageng termangu menyesapi senja yang perlahan memasuki blue hour, bersama anjing-anjing yang cemburu pada gandengan tangan remaja mabuk kepayang.

Sebelum kembali ke hostel, dia berpikiran untuk sekalian makan malam. Setelah googling beberapa saat, akhirnya dia menemukan sebuah menu yang katanya khas dari Belitung, soto belitung. Dibimbing dengan peta online, sampailah dia di sebuah kedai yang letaknya dekat dengan bundaran tempat pertama kali dia sampai di pusat kota. Ekspektasinya terlalu tinggi rupanya. Dia membayangkan soto belitung merupakan varian makanan soto-sotoan dengan keunikannya sendiri, seperti soto lamongan, coto makassar, atau empal gentong, namun yang disajikan dihadapannya berkata lain. Daripada ke soto, soto belitung lebih mirip kare menurutnya, plus krupuk melinjo. Suasana malam Belitung, sedikit banyak juga mempengaruhi rasa makanannya. Tidak banyak mobil lalu lalang, dan sesekali suasana syahdu dipecah suara knalpot bronx dari motor pretelan menambah nikmat setiap suapan yang diambilnya.

Kenyang sudah, waktunya kembali ke hostel. Kesunyian sharing room hostel yang kosong sungguh menenangkan. Redupnya ruangan dan suhu yang cukupan mengkatalis rasa kantuknya. Segera dia terlelap, merecharge tenaga untuk petualangan panjang esok hari. Butuh tenaga yang tidak sedikit, karena masih ada list asal-asalan yang harus diselesaikannya, untuk dua hari ke depan.

Komentar

Posting Komentar