First Timer: Kesasar di Belitung (Part 8)
Belum satu kilo dia meninggalkan Museum Kata Andrea Hirata, tubuhnya terasa tidak beres. Dia menerka-nerka, apa yang salah dengan dirinya. Ia telusuri riwayat makannya mulai pagi hari sebelumnya, semua normal saja. Sampai akhirnya dia berhenti di menu pagi ini. Nihil, tidak ada makanan yang masuk ke perutnya pagi ini, mungkin itulah penyebab dia merasa tidak enak badan. Ya, lapar.
Di daerah pedesaan di mana ia berada saat ini biasanya sulit mencari sebuah warung makan, karena rata-rata orang lebih memilih sarapan di rumah masing-masing. Untungnya bocah yang sedang lapar ini menemukan sebuah rumah makan padang di dekat persawahan. Bangunan semi permanen membuat warung itu tidak meyakinkan sebagai rumah makan padang, kecuali tatanan ikonik piringnya yang bertumpuk.
Warung sederhana itu bisa dikatakan rujukan sarapan warga lokal. Banyak yang keluar masuk, membeli sebungkus nasi padang sebagai bekal ataupun menu makan pagi. Ageng memesan menu default, nasi padang dengan lauk ayam. Dia makan sambil menghadap jalanan yang sepi.
Kesunyian khas pedesaan yang tersaji di depannya ketika makan tiba-tiba pecah begitu saja. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup nyanyian lagu Laskar Pelangi-nya Nidji. Semakin lama sayup-sayup itu semakin jelas. Hingga akhirnya terkuak sumber suaranya. Serombongan anak SD sedang jalan sehat bersama guru mereka, mungkin mereka sedang mengikuti matpel olahraga. Sepertinya sedari dini tunas muda Belitung dipupuk agar berjiwa laskar pelangi. Memang novel Laskar Pelangi tidak hanya berdampak bagi Andrea Hirata saja, tapi hampir semua lini di Belitung mendapatkan imbas positifnya. Mulai dari pariwisatanya, hingga terpatri menjadi mars bagi generasi penerus Belitung.
Kini setelah kenyang, dia siap untuk kembali ke Belitung. Dia lihat lagi peta daringnya, sepertinya masih memungkinkan untuk sekali lagi mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi dan Danau Kaolin. Meski agak jauh dari jalur utamanya, si udik itu tetap bertekad pergi ke sana karena kemelencengan dari rute pulang masih bisa ditoleransi. Dia masih penasaran pada dua tempat itu, sebab hari sebelumnya belum optimal karena dipayungi mendung.
Pertama, dia kembali ke Pantai Tanjung Tinggi. Kali ini dia benar-benar menikmati pantai itu. Bahkan dia bertemu dengan pasangan prewed yang dia temui sewaktu Island Hoping di sekitar Pulau Lengkuas yang pada kesempatan ini juga sedang foto prewed. Mungkin mereka ingin berganti tema. Setelah cukup menikmati Pantai Tanjung Tinggi, dia beranjak ke tujuan berikutnya, Danau Kaolin.
View Danau Kaolin tidak berbeda jauh dengan hari sebelumnya, hanya langit yang mebedakan. Jika kemarin mendung, kini langit semua berwarna biru, hanya sedikit awan putih yang berserakan. Karena tidak ada vegetasi yang tinggi dan rimbun, panas yang kemarin tidak terasa hari ini seakan membakar kulit. Gerah yang dirasa membuat dia tidak mau berlama-lama, ia memutuskan lanjut berkendara, kembali ke penginapannya.
~
Sedikit lagi matahari berada tepat di atas ubun-ubun, Ageng mengemasi barang bawaannya. Rencananya setelah sholat Jumat, dia akan langsung menuju bandara H.A.S Hanandjoeddin.
Sehabis mandi, ia berangkat ke masjid dekat penginapan. Tidak lama setelah duduk bersila matanya terasa berat, kutbah Jumat dianggap dongeng pengantar tidur bagi tubuhnya yang kecapekan. Panasnya pesisir membawa angin yang lebih banyak, menidurkan setiap jemaah yang lengah sedikit saja.
Begitu imam mengucap salam seusai sholat, Ageng mengikutinya lalu berdoa singkat dan segera kembali ke rumah tempatnya menginap. Tas yang sedari tadi sudah siap dia jinjing langsung. Dia pastikan tidak ada barang bawaan yang tertinggal, lalu ia pamit ke pemilik rumah, mengucapkan terima kasih sudah diperkenankan bermalam di sana.
"Terima kasih pak sudah diijinkan menginap semalam", ucapnya.
"Sama-sama dek, lain kali kalo ke Belitung menginap di sini lagi aja ya", timpal bapak pemilik rumah. "Habis ini ke bandara naik apa dik?" tanya si bapak melanjutkan.
"Naik bus pak, katanya ada yang berangkat dari Tugu Batu Satam"
"Ohhh iya ada memang. Terus ke Batu Satam gimana?"
"Jalan kaki pak, kan masih deket."
"Ohhh, kalo gitu biar ponakannya saya aja yang nganterin." Pungkas bapak sambil memanggil keponakannya. Ageng menolak sambil berharap, malu malu mau ceritanya. Saat dibonceng, dia berterima kasih dan mengaturkan salam perpisahan ke bapak beserta keluarganya yang sedang berkumpul setelah sholat Jumat. Tidak sampai tiga menit kemudian, dia sudah sampai di Tugu Batu Satam.
Dia melihat ada bus Damri teronggok di dekat halte, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Sementara itu, di luar bus ada orang yang menggunakan seragam pengemudi bus Damri berwarna biru pudar yang khas. Si udik menghampiri orang itu dan bertanya, berapa lama lagi busnya akan berangkat. Dari ujaran sopir, dia akan berangkat setengah jam lagi. Sambil menunggu bus, dia mencari makan siang, dan targetnya kali ini adalah Mie Atep yang tempo hari tutup.
Dia berjalan kaki menuju ke kedai Mie Atep yang letaknya tidak jauh dari halte bus, dan alhamdulillah kali ini tidak dikecewakan. Dia memasuki kedai, suasananya sepi, namun jauh lebih tertata daripada Mie Acin. Dia memesan menu mie andalan dari kedai Mie Atep serta minuman jeruk kunci khas Belitung. Kecepatan dan cara penyajian Mie Atep tidak jauh beda dengan Mie Acin, tapi untuk rasa disinilah pertarungannya dimulai. Mie Atep memiliki rasa yang lebih manis daripada Mie Acin, juga kuahnya lebih ringan. Untuk minuman jeruk kunci bisa dikatakan SNI, hampir di setiap tempat rasa minuman jeruk nipis dan keluarganya mirip satu dengan yang lain. Jadi kesimpulannya, Ageng sependapat dengan orang asli Belitung, Mie Acin lebih enak ketimbang Mie Atep.
Keluar dari kedai, kebetulan busnya akan berangkat, mungkin sopirnya juga bosan menunggu. Di dalam bus kini hanya bertiga, Ageng, sopir, dan kernet bus. Ageng duduk di barisan depan, dia ingin melihat Belitung yang terakhir sebelum meningalkan pulau.
Ternyata busnya tidak langsung menuju bandara. Dia berhenti di sebuah terminal kecil nan sepi, Terminal Bus Tanjung Pandan. Di sana dia dioper ke bus yang lain, entah apa sebabnya. Di bus yang baru dia juga bertiga dengan formasi yang sama, dirinya, sopir, dan kernet, namun dengan orang yang berbeda. Dia bercakap-cakap dengan sopir dan kernet sepanjang perjalanan dari terminal ke bandara. Ketika jeda pembicaraan, Ageng bertanya kepada kernet berapa harga karcis busnya, karena dari tadi dia sama sekali tidak ditarik pungutan. Jawaban dari kernet tidak terduga, "Terserah mas, seikhlasnya. Gak bayar juga gakpapa" tukasnya diakhiri dengan senyum. Rupanya trayek resmi bus Damri hanya dari bandara ke kota Tanjung Pandan, sedangkan rute sebaliknya belum diresmikan trayeknya.
Ketika sesampainya di bandara, Ageng mengucapkan terima kasih kepada sopir dan kernet bus. Ia selanjutnya menuju ke pelataran bandara yang letaknya tidak jauh dari area parkir. Karena jadwal penerbangannya yang masih dua jam lagi, Ageng menunggu sambil duduk lesehan di lantai. Dia melihat banyak orang yang baru saja tiba di Belitung. Ya wajar kalau mereka baru berdatangan di hari Jumat siang itu, sepertinya mereka akan menghabiskan weekend mereka menjelajahi "Negeri Laskar Pelangi". Sekitar satu jam kemudian, dia memasuki ruang tunggu keberangkatan.
Announcer sudah memberitahu bahwa penumpang sudah diperbolehkan memasuki pesawat, namun begitu Ageng tetap tidak bergeming. Si bodoh itu ingin menghabiskan hingga detik-detik terakhirnya di sana, memandangi lanskap Belitung meski terbatas di area bandara. Setelah sepi tidak ada lagi yang mengantre pengecekan tiket, dia memasuki pesawat sebagai penumpang yang terakhir. Tidak ada keributan yang terjadi seperti saat memasuki pesawat bersamaan di awal waktu. Dia meletakkan tasnya di kompartemen pesawat, dan duduk sesuai dengan tempat duduk yang ada di tiketnya. Sesaat sebelum take off, dia berdoa dan membatin, "Belitung memang indah, orangnya juga baik-baik" begitu dia men-stereotype-i sambil tersenyum kecil. Tak lama setelah pesawat mengangkasa, ia mengejamkan matanya, membiarkan otot tubuhnya beristirahat, sebelum kembali menegang menghadapi kejamnya Jakarta dua jam yang akan datang.
Komentar
Posting Komentar