First Timer: Kesasar di Belitung (Part 7)

Pagi sekali, sebelum solat subuh Ageng sudah mandi. Air bak mandi berwarna kemerahan yang sempat membuat ragu tidak dihiraukannya lagi. Dia sedang bergegas untuk pergi ke Belitung Timur. Kesepakatan berangkat mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong bersama temannya yang dibahas malam sebelum tidur dengan berat hati dia pupuskan. 

Ageng berangkat waktu purnama masih tinggi, meninggalkan teman-temannya yang sedang memetik bunga mimpi. Sesaat sebelum berangkat, si bodoh itu membangunkan salah satu temannya, meminta maaf dan pamit untuk mendahului. Besar kemungkinan momen pamit itu kesempatan tatap muka yang terakhir, karena bersua kembali dengan mereka di masa depan adalah hal yang hampir tidak mungkin. 

Waktunya yang tidak banyak tersisa di Belitung memaksanya untuk bertindak tap-tap. Karena terburu-buru, motor yang akan ditungganginya pun tidak sempat merasakan cukup warming up. Sebelum berangkat, dia berusaha memenuhi tangki kendarannya. Untungnya di pagi sebuta itu, ada toko kelontong yang sudah buka. Seorang lelaki paruh baya yang kelihatannya beretnis Tiongkok berjalan keluar dari tokonya, membawa bensin dalam takaran minyak tanah jaman dulu yang berbentuk silinder dan tersambung dengan corong kerucut. Dua takaran diisikan memenuhi tangki. Mahar diserahkan, dan Ageng mulai berangkat ke Belitung Timur yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan.

Hawanya tidak begitu dingin, nyaman sekali untuk menjalankan motor diatas kecepatan rata-rata. Jalan yang mulus dan lebar memberi perasaan aman berkendara meski penerangan kurang memadai. Perlahan-lahan matahari naik dengan lembut, menggugah setiap makhluk diurnal dari lelapnya. Menetes embun dari ujung dedaunan, menggelapkan tanah kering yang ditiup angin semalaman. Semak-semak mendominasi di sisi-sisi jalanan. Dengan kecepatannya sekarang, dia sangat bisa menikmati lingkungan barunya.

Seperti pagi di belahan bumi yang lain, Ageng berpapasan dengan bocah-bocah pergi sekolah, berjejalan di mikrolet yang overcapacity. Buat yang tidak kebagian mikrolet, pilihan kedua moda transportasi yang ada adalah truk. Mungkin mereka paham, sebenarnya tidak diperkenankan seseorang menaiki bak truk. Tapi karena bisa dianggap force majeur, jadi butuh pemakluman memang.

Semakin melesak ke tengah-tengah pulau Belitung, semakin damai atmosfernya. Dari semak belukar tak terurus, berganti menjadi deretan perkebunan sawit yang rapi, menopengi kepedihan tanah yang rusak di bawahnya. Beberapa pick up menurunkan para buruh sawit yang didominasi kaum ibu. Dengan riang mereka mempersiapkan peralatan, sesaat setelah turun dari mobil bak terbuka. Tidak sedikit dari mereka mengajak anaknya yang masih belum memasuki usia sekolah. Mereka dibawa serta bisa jadi karena tidak ada lagi yang bisa menjaga sewaktu di rumah, juga di kebun sawit anak-anak bisa bermain dengan lebih leluasa dibanding bermain di area perkampungan. Bermain dengan alam dan bakat, bukan dengan perangkat modern.

Matahari semakin meninggi. Langit pagi kini membiru sempurna. Tapi entah kenapa si udik ini kian mengantuk. Jam biologisnya berontak mengingatkan untuk tidur, sesuai jadwal biasa dia tidur setelah subuh yang diskip kali ini. Saat mata semakin memberat, tiba-tiba ia dikagetkan dengan kemunculan kera kecil persis di bahu jalan. Kera itu memandang Ageng dengan tatapan mata yang penuh kecurigaan. Dari sorot matanya, seolah-olah ia berkata "Kenapa orang ini berkendara pelan di jalanan yang lebar dan lengang ini? apakah dia bodoh?", dan jawaban yang pas bagi primata itu adalah "IYA!!!". Hilang sudah kantuknya, Ageng mulai menambah laju motornya. 

Lima belas menit kemudian mbak-mbak penunjuk jalan memberikan arahan terakhir melalui earphone, "Setelah belok kiri, tujuan anda berada di sebelah kanan". Terlihat di depan bangunan yang tak asing lagi bagi Ageng. Kayu besar penopang bangunan di sisi kanan berdiri miring namun kokoh. Di depan bangunan itu terhampar halaman luas dengan pasir yang putih, serta di tengahnya berdiri sebuah tiang bendera. Sampailah dia di situs replika SD Muhammadiyah Gantong.

Sialnya dia datang terlalu pagi. Replika itu masih belum terbuka untuk umum. Tapi karena waktunya yang semakin pendek, pikiran busuk Ageng sekarang mengambil peran yang dominan. Melihat pagar yang sepinggul dan jauh dari pantauan penjaga, dia nekat melompatinya. Dia tahu itu salah, tapi ini kesempatan yang terakhir sebelum kapan lagi yang belum ditentukan untuk bisa kembali. Dia memasuki bangunan ruang kelas yang tidak dikunci. Hampir mirip dengan yang ada di film, namun tidak adanya lemari kaca tempat menyimpan trofi juara lomba cerdas cermat agak sedikit mengganjal. Tidak lama Ageng berada di sana, dia menuju ke Museum Kata Andrea Hirata yang letaknya hanya beberapa kilo saja.

Berkendara dengan pelan, di depan Ageng kini terdapat bangunan kecil warna warni yang menarik perhatian. Googlemaps menginformasikan bahwa bangunan itu adalah Museum Kata Andrea Hirata. Berbeda dengan bayangan museum yang begitu rapi dan elegan, Museum Kata Andrea Hirata hampir tidak ada kesan yang melekat seperti itu. Warna primer yang tumpang tindih dengan warna sekunder menyelimuti sebuah rumah kecil. Terletak di pinggir jalan membuatnya lebih mirip taman kanak-kanak dibanding dengan museum. Sedihnya, karena hari itu hari Jumat, museum sedang diistirahatkan dari kunjungan. Ageng tidak bisa membuktikan prasangkanya lebih jauh. Kecewa tentu saja, tapi apa mau dikata. 

Pilihan yang realistis saat ini hanyalah pulang. Opsi lain untuk mengunjungi Museum Ahok yang tidak jauh darinya sama sekali tidak dilirik. Di samping tidak berminat, takut dianggap terafiliasi dengan salah satu kubu politik adalah alasan Ageng untuk tidak berkunjung ke sana. Wajar saja, saat itu tensi politik dalam negeri sedang memanas. Setelah mengambil beberapa foto Museum Kata Andrea Hirata dari seberang jalan, dia menaiki motornya, berkendara kembali ke Belitung Barat.

Komentar