Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 1)

Jika saja aku tidak ikut moshing di Kemayoran dan mendapat tiket pesawat promo, mungkin bisa dipastikan sepanjang liburan semester aku akan tergolek di kasur kontrakan sambil meratap menghadap laptop yang menampilkan daftar lose streak Dota 2-ku yang mencapai 9 game. Tapi di sinilah sekarang aku, ditemani carrier 40 liter di ruang tunggu bandara Juanda, menunggu jadwal boarding pesawat SUB-DPS. Sengaja tidak terlalu lama selang waktu antara tiba di bandara dengan jadwal terbang, biar tidak panjang waktu tunggunya. Tapi bagaimanapun juga tetap sama, lama atau sebentar menunggu itu membosankan. Untung saja ada bapak-bapak umur lima puluhan yang mengajakku ngobrol. Sepertinya sewaktu muda beliau ikut organisasi pecinta alam, karena beliau membuka percakapan dengan menanyakan carrier dan gunung mana yang akan kudaki.

Pesawat si bapak take-off lebih dulu, dan tidak berapa lama pengumuman untuk memasuki pesawatku pun digemakan jua. Seperti ketika aku naik pesawat sebelum-sebelumnya, aku memilih urutan terakhir untuk menyobek boarding pass. Malas jika terlalu awal masuk, terlalu riweuh di dalam. Baru kali ini merasakan pesawat dengan maskapai yang memiliki nama seperti kata-kata bahasa Thailand, dan cukup terkesan dengan pelayanannya. Meski perbedaanya hanya diberi makan berupa roti dan bisa mengambil permen sepuasnya (asal tidak punya malu), tapi ini memberi nilai tambah daripada maskapai lainnya. Saya memilih tidur untuk menghabiskan waktu, lumayan buat mengumpulkan tenaga, modal untuk penerbangan DPS-LBJ setelahnya.

Ini adalah kali pertama saya mendapatkan jadwal penerbangan dengan transit. Setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai, saya kikuk, tidak tahu ke mana selanjutnya, apakah keluar bandara, atau tetap di dalam bandara. Daripada saya salah, akhirnya saya bertanya ke satu counter yang dijaga dua orang perempuan. "Mbak pesawat ini gimana ya?" pertanyaan yang cukup aneh dan ambigu terlontar karena kekikukanku."Oh, ini terus saja mas, lewat bagian dalam sini, nanti langsung menunggu di area ruang tunggu penumpang" jawab salah satu dari mereka. "Baik, terima kasih banyak" balasku sambil berlalu. Mungkin sekitar tiga atau empat langkah dari counter tadi, saya merasakan ada yang ganjil. Dan yang membuatku merasa ganjil tak lain karena aku tidak memperhatikan bahwa booth tadi milik maskapai lain yang tentu saja pesaing dari maskapai pesawat saya. Rasa malu dan terkejut karena kegoblogan bergumul di benak, dan diakhiri dengan bisikan kepada diri sendiri, "Bodo amat lah, toh juga habis ini gak ketemu lagi."

Sekitar sejam kemudian, saya sudah berada di dalam pesawat dengan rute DPS-LBJ. Saya duduk pada seksi B. Di sebelah kanan saya duduk laki-laki dewasa berkulit gelap, sedang di sebelah kiri saya ada bule yang berpenampilan eksekutif. Sepertinya lelaki gelap ini asli dari NTT, terdengar logat bicaranya ketika dia telpon sebelum take-off. Sedang si bule, entah dari mana, dia sama sekali tidak bicara dan membatasi dengan dunia luar menggunakan headphonenya. Saya tidak bisa membedakan bule dari penampilan fisiknya, mungkin kalo dari Rusia atau Italia saya agak bisa mengidentifikasinya, tapi untuk negara lainnya, hmmm. 

Sepertinya tidak mungkin bagi saya untuk tidur kali ini, saya terlalu lelah untuk tidur lagi. Saya coba ngobrol dengan penumpang di sebelah kanan saya. Saya kira dia tipe orang yang galak dan bakal irit ngomong, tapi semuanya berbalik 180 derajat  bersama dengan kata pertama yang terucap. Tak kuasa saya menahan lontaran kalimat per kalimat darinya. Jangankan menahan, menjeda saja sulitnya bukan main. Cukup lama saya menimpali omongannya dengan jawaban pendek-pendek, maksudnya memberi isyarat saya tidak lagi tertarik dengan obrolan itu. Teori itu mujur! pria itu sadar, dan akhirnya berhenti dengan sendirinya.

Paling tidak saya bisa agak tenang setelah diam beberapa saat. Saya menyapu pandangan ke luar jendela, melihat dari sudut pandang burung yang terbang bebas di luar sana. Sebenarnya ada keinginan untuk ngobrol sama bule di sebelah kiri saya, walaupun saya juga paham bahasa Inggris saya jauh dari kata lancar. Tapi untuk sementara belum bisa terealisasikan, karena dia masih sibuk dengan batas headphonenya.

Pilot mengumumkan jika pesawat akan mendarat di Bandara Komodo, lega sudah akhirnya kaki ini bisa menginjak pulau purba yang tersohor seantero dunia. Dan dalam kelegaan itu pula, harapan sedari tadi sepertinya memperlihatkan jalan kecil untuk dicapai. Si bule melepas headphonenya. Butuh menimbang beberapa waktu untuk memulai pembicaraan. Takut salah grammar cukup kuat menahan saya menyusuri jalan kecil itu.

Setelah cukup mantap. saya coba menerobos, melangkah menyusuri jalan kecil itu. Saya sapa bule itu, "Having holiday sir?". Cukup kaget sepertinya, dia menimpali "Sorry?", "Having holiday sir?" ulangku.

"Yes..." jawabnya singkat.

"Where are you from?"

"Im from America"

"Which state?"

"Oregon"

"Is it far from, Yellowstone national park?" Saya mencoba menarik diskusi ke tema yang lebih luas, dan sepertinya berhasil. Dari bahasan tentang taman nasional Yellowstone, percekapan mulai mengalir, meski terkendala langguage barrier dari saya yang modal bahasa Inggris pas-pasan.

Si bule ini mulai bercerita tentang perjalanannya kali ini, mengunjungi berbagai negara, mulai dari -seingat saya- beberapa negara Eropa, Jepang, hingga akhirnya ke Indonesia sebelum dia melanjutkan petualangannya ke Vietnam nanti. Dia berada di Bali untuk beberapa hari, dan katanya dia akan berada di Labuan Bajo hanya untuk sehari saja.

Saya tetap ngobrol sebisanya dengan bule ini, sedang orang di sebelah kanan saya, kesadarannya hilang entah kemana. "How you go to hotel then sir?" tanyaku setelah beberapa saat hening. "I'll walk to my hotel, but i looking for my hotel first". "Can i accompany you?". "Of course" jawabannya membuatku merasa lega. Akhirnya, saya gak bingung sendirian waktu pertama kali menyentuh tanah Labuan Bajo.

Beberapa saat kemudian pesawat mendarat di Bandara Komodo. Pria asli NTT tadi bilang dia sudah ada jemputan setiba di bandara, dan mengucakan salam kepadaku. Sedangkan bule ini jalan terlebih dahulu, ia berkata akan menungguku di lobi bandara.

 

Komentar

Posting Komentar