Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 2)

Dinginnya pesawat memang paling enak dihilangkan dengan kehangatan air seni. Langsung saja toilet adalah destinasi pertama saya di Labuan Bajo. Tapi, bukannya kelegaan yang didapat, malah bingung yang ada dihadapan saya. Entah kenapa hampir semua toilet dan urinoir disumpal oleh tisu. Mungkin, mungkin lho ya, tapi mungkin apa ya? Saya belum nemuin alasan yang pas buat membenarkan keanehan ini.

Sudah menunaikan kebutuhan biologis, saya menghampiri bule sepesawat tadi, karena sesuai rencana, kami akan jalan bareng ke pusat kota Labuan Bajo.

"Who's your name sir?"

"Dylan" begitu dirinya memperkenalkan diri setelah beberapa kali saya salah tangkap pelafalan namanya jadi -seingat saya- Donald, dan Delon.

"And, who's your name?"

"My name Ageng sir", begitu saya sebutkan nama, dia kelihatan bingung dan kesulitan mengucapkan nama saya.

"Just call me Prime sir, like Optimus Prime. Because my full name is Prima Ageng, and Prima have similiar meaning with Prime in English." saya mencoba memudahkan dia memanggil saya. Dia sepertinya setuju dan sedikit geli memanggil saya dengan panggilan "Prime". Tapi mau bagaiamana lagi, lidah Amerika rupanya masih terlalu kaku menyebutkan kata-kata Jawa.

***

Kami berdua jalan menuju ke pusat kota, atau lebih tepat lagi kalo saya yang mengikuti Dylan jalan. Karena, begitu saya turun dari pesawat dan mematikan mode pesawat, tidak ada notifikasi apapun yang masuk ke hp saya. Ya memang sih ada atau tidak ada sinyal sama saja tidak ada yang menghubungi, tapi setidaknya tokopedia dan gojek masih setia mengingatkan promo setiap hari. Alhasil, saya membuntuti Dylan yang kebetulan menggunakan GPS untuk mencapai kota.

Aku dan Dylan berjalan pelan, sambil sesekali saya menjelaskan hal yang menurutku tidak lumrah ada di Amerika. Contohnya waktu saya jelaskan bahwa akan ada pemilihan umum di Indonesia, sehingga banyak baliho foto-foto orang tidak dikenal terpampang di pinggir jalan. Atau, ketika dia bingung melihat hampir semua motor ngebut, saya ngomong, "In indonesia, almost all children go full throttle, and if you old, you will go slower." Maksud saya sih di sini anak muda sering ngebut, tapi kalo orang tua nyetirnya pelan. Dylan menyunggingkan bibirnya, entah dia tersenyum karena cerita saya, atau dia tersenyum karena tata bahasa saya yang belepotan. Satu yang pasti, dia paham maksud saya, ketika dia memeragakan gerakan tangan untuk menarik tuas gas sepeda sambil berkata "Full throttle?", "Yes, full throttle" timpalku. 

Lumayan lama kami berjalan, hingga kemudian dia tiba-tiba berseru, "This is my hotel!" 

"Oh okay, so we separate here? I think i have to find my hotel now."

"Yeah, come here if you can't find one"

"Thank you, maybe i'll back later. But before i go, can we take some pictures?"

"Sure"

"But i think it'll be great if we use your phone, and then you send it to me."

"Okay." Dan kemudian kami berdua berfoto bersama. Setelah dia bertanya akun instagram saya dan memencet tombol "ikuti", saya melanjutkan jalan untuk mencari penginapan.

Aku melihat-lihat harga penginapan di traveloka, cukup banyak yang murah, tapi belum ada yang sesuai budget saya. Tubuhku mulai capek setelah berjalan lumayan lama. Aku berhenti di sebuah langgar untuk sholat dhuhur, dan setelahnya meluruskan punggung dan kaki.

Gak enak terlalu lama istirahat, sungkan sama warga sekitar yang lalu lalang, saya meneruskan cari penginapan, sekarang target saya sekitar pintu masuk pelabuhan. Aku bertanya pada orang-orang yang duduk di sana, dan ternyata cocok sesuai harapan saya. Seorang bapak-bapak memberi tahu penginapan murah dekat pelabuhan, harganya cuma Rp50.000, LIMA PULUH RIBU CUY, SEMALAM! Saya minta diantarkan ke sana, dan beliau menyanggupinya.

Saya antusias sekali, betapa beruntungnya bisa ketemu penginapan semurah itu. Hingga akhirnya keberuntungan itu sirna di depan mata. Memang benar murah, tapi pepatah jawa "Rego nggowo rupo" juga benar adanya. Dengan harga lima puluh ribu, cukup miris kamar yang disewakan. Berlantaikan tanah, kasur reyot, kipas yang sudah tengeng, tembok tipis yang jika kita bersin orang di luar bisa ketularan, dan seprei yang aaahhh sudahlah...

Saya mohon ijin ke pemilik rumah yang tersembunyi di gelapnya ruangan, "Saya lihat-lihat yang lain dulu ya, nanti kalo cocok saya kembali lagi." pamitku pada si pemilik rumah, sedang di dalam hati saya masih heran apakah itu benar-benar penginapan atau tempat transaksi hal-hal terlarang. 

Saya kembali ke jalan raya, tengok kanan-kiri, melihat arah mana yang membawa hawa-hawa penginapan yang ramah, baik ramah dengan tamu, juga ramah dengan kantong. Angin dari arah kiri sepertinya kuat sekali, dan tidak lama melangkahkan kaki, voila! terpampang tulisan "Centro Hostel". Kalo hostel sih biasanya lebih murah dari hotel.

"Selamat siang pak."

"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" tanya si penjaga menyambut saya.

"Ada kamar kosong pak?"

"Ada, silakan masuk." dan kemudian saya masuk, melihat-lihat suasana di dalam. Bayangan saya sih ya tetap kamar-kamar gitu, dan memang benar ada kamar, tapi dibanding penginapan, lebih mirip ke mess sih. Bayangkan saja, satu ruang luas dengan beberapa bilik terbuka. Di setiap kiri kanan lorong bilik, ada masing-masing satu tempat tidur bertingkat. Untuk kamar mandinya, ya toilet umum itu, berderet dengan disekat triplek tipis, jika tidak mau malu, tolong jangan sampai kepleset di kamar mandi! Tapi, akhirnya saya tetap mengambil satu kasur, karena di samping harganya yang cuma tujuh puluh lima ribu semalam, tempatnya lumayan bersih, juga di situ tidak ada orang lain yang menginap selain saya. Tuntas sudah misi hari ini mendapatkan tempat bernaung. Selanjutnya, tinggal mencari rombongan untuk menuju Pulau Komodo.

Tapi sebelum saya mencari, saya sudah ada referensi harga terlebih dulu tentunya. Di traveloka, untuk trip dua hari satu malam dibanderol dengan harga 900 ribu rupiah. Untung saja ada referensi, jadi saya urung terkecoh harga yang diberikan nahkoda kapal kenalan teman saya, sebesar dua jutaan rupiah untuk fasilitas trip yang sama.

Saya kembali ke jalan raya, di sepanjang jalan banyak booth kecil yang menawarkan trip ke pulau komodo, dari trip biasa untuk backpacker, hingga trip eksklusif dengan kapal pinisi. Saya tertarik dengan salah satu booth. Mereka menceritakan panjang lebar tentang akomodasi yang akan saya peroleh. Harganya sih sama dengan traveloka, tapi ketika saya akan mencari penyelanggara trip lain, mereka tiba-tiba memangkas ongkos trip hingga DUA RATUS RIBU. Jadi bimbang saya, tapi akhirnya tetap mencoba menuju booth lain juga, siapa tahu dapat lebih murah lagi, toh kalo gak dapat, masih ada pegangan booth yang tadi.

Tidak ada harga yang lebih rendah selain booth sebelumnya, saya memilih kembali ke penginapan setelah sholat ashar. Penjaga hostel bertanya apakah aku sudah mendapat rombongan ke Pulau Komodo, dan beliau mencoba menawarkan trip dengan harga yang masih berada di atas tujuh ratus ribu. Aku mencoba menolak dengan halus, dengan berkata kalo telah ketemu dengan trip harga dua ratus ribu lebih murah dari harga yang ditawarkannya. Tidak disangka, dia tiba-tiba ikut menurunkan harga trip yang ditawarkannya. Sekarang jadi bingung lagi, sudah terlanjur harga sama, tapi tidak enak kalo nolak, sedang saya sudah ngobrol ke penyelenggara trip sebelumnya kalo saya akan kembali jika tidak ketemu harga yang pas. Setelah menimbang-nimbang, pilihan saya jatuh ke tawaran pemilih penginapan, ya biar lebih enak komunikasinya aja sih.

Komentar