Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 3)

Gak terasa tiba-tiba langit menggelap, padahal perasaan baru saja aku istirahat setelah deal berlayar ke Pulau Komodo. Rupanya terlalu lama aku menikmati kasur tingkat yang baru pertama kali kusewa seumur hidup. Jingga masih sedikit semburat di kejauhan, diantar pergi dengan lantunan azan. Dari suara sih harusnya letak masjidnya dekat. Ke masjid dulu ah pikirku, sambil melihat bagaimana transisi hari terjadi di sini.

Aku berjalan ke masjid yang memang benar tidak terlalu jauh, hanya dua ratus-an meter. Tampak ekonomi malam mulai menggeliat. Para pedagang mulai bersiap, menggelar lapak masing-masing. Cukup ramai keadaannya, karena wilayah ini sepertinya memang sudah diplot menjadi poros kota dan pusat tourism.

***

Begitu usai memanjatkan beberapa harapan, aku beranjak kembali ke penginapan. Kali ini, keramaian malam terah benar-benar siap menyambut siapapun. Beberapa kali tertarik untuk mencoba satu dua panganan, tapi aku urungkan, menunggu nanti setelah isya saja.

***

Rundown isya sama dengan magrib, persis, cuma bedanya jika setelah magrib aku balik ke hostel, kali ini aku berjalan ke semacam pusat kuliner di Labuan Bajo. Semua tumpek blek jadi satu, penduduk asli dan pelancong, wisatawan lokal dan luar negeri, semua membaur di satu tempat, menikmati live music yang dibawakan band jalanan di selasa malam kali ini. Terkesima aku dengan segala interaksi yang ada. Asap hasil pembakaran menu seafood mengudara, menyelinap di antara celah-celah sempit bauran manusia jadi seting utama. Komunikasi berusaha diwujudkan antara penjual lokal dengan para bule. Entah bagaimana percakapan yang terjadi. Sekilas waktu lewat sih terdengar tidak terlalu lancar, tapi toh akhirnya terjadi juga kesepakatan antar mereka. Penjual kain tenun berusaha menjajakan dagangan mereka ke orang-orang yang telah selesai menikmati santapannya. Angin laut pun menjadi elemen pelengkap, membawa hawa sejuk dari samudera yang bagaikan sihir mujarab mencegah siapapun beranjak dari situ. Saya memilih menikmati semua itu dengan memakan gorengan pinggir jalan. Pengen juga sih makan seafood, tapi melihat harga yang dipajang sudah cukup menjadi penahan hasrat.


Salah satu jam terdengar berdenting sembilan kali. Aku teringat sudah janjian besok pagi di pelabuhan. "Besok-besok ke sini lagi, sekarang tidur dulu ah." Dan selanjutnya kasur tingkat hostel yang sepi terasa nyaman sekali.

***

Pagi. Jam lima tapi masih gelap seperti jam empat pagi di Jawa. Butiran-butiran air laut terasa lengket di muka. Sambil nunggu agak terang, seperti biasa aku rebahan sambil scroll timeline media sosial.

Setengah jam kemudian perlahan cahaya menembus kaca jendela hostel yang buram. Mulai terdengar suara deru motor lalu lalang di luar. Aku bergegas membereskan baju dan kasur, kemudian mandi, karena tidak lama lagi kapal untuk trip melihat komodo akan berangkat.

Sesudah siap semua, aku menemui pemilik hostel yang telah sepakat mempersiapkan keberangkatan aku kali ini. Dia memberiku sebuah kaca mata renang, tapi tanpa pipa nafas sebagaimana layaknya perlengkapan snorkel yang standar, juga tanpa fin. Si pemilik hostel beralasan dia kehabisan pipa nafas dan kaki katak, yang menurutku cukup aneh alasannya. Tapi ya sudahlah, toh nanti juga masih bisa tahan nafas, lagian wajar lah, harganya sudah miring gila ya kalo ada sedikit kejangglan tidak fatal masih bisa ditolerir lah.

Aku diantar menuju ke jetty, di sana rupanya sudah ramai orang yang akan naik ke kapal. Saat menunggu giliran masuk, aku melihat ke kapal yang lain. Ada sosok yang sepertinya kukenal. Setelah kuamati beberapa saat, ternyata sosok itu adalah Dylan, bule yang tempo hari jalan bareng dari bandara ke kota. Dia dengan sumringah mengatakan akan mengikuti one day trip dengan kapalnya yang sekarang. Aku tersenyum ke arahnya, lalu teriak kalo aku juga akan berangkat sebentar lagi dengan kapal yang ada di depanku. Kemudian ia melambaikan tangan, kapalnya sudah tidak tertambat lagi ke jetty.

Aku masih berada di jetty, rupanya ada beberapa persiapan yang belum selesai. Aku melihat sekitar, banyak turis asing yang juga menunggu. Apakah di kapal ini aku akan jadi turis Indonesia satu-satunya? entahlah.

Kemudian terdengar salah satu kru mempersilahkan kami masuk. Aku memilih masuk terakhir, malas terapung-apung lama di kapal jika masuk lebih dulu. Ketika loncat ke dalam kapal, saya merasa dugaanku benar. Kecuali kru, semua orang di sana adalah turis asing. Hanya seorang perempuan bertubuh mungil yang satu rombongan dengan bule-bule itu, aku tidak terlalu yakin, dia orang lokal, atau turis dari ASEAN, karena memang sedikit sekali perbedaan antara kita dengan mereka dari segi fisik. 

Semua sudah siap, penumpang juga telah on board  semua. Kapal perlahan meninggalkan pelabuhan, memecah ombak menuju laut terbuka. Sedikit oleng ke kanan dan kiri tersapu ombak, tapi kapal secara konstan tetap melaju. Pada waktu yang berdekatan, hanya kapal kami yang berangkat, setelah sebelumnya kapal yang ditumpangi Dylan mengangkat sauh terlebih dahulu. Waktu itu sedikit kapal yang berani melaut, karena sebelumnya telah ada peringatan dari syahbandar potensi gelombang tinggi. Kami tetap melaju. "Mungkin kaptennya sudah berpengalaman", aku mencoba menenangkan diri sendiri.

Aku memilih menyendiri di dek atas, terpisah dari para bule yang ada di dek bawah. Tak lama kemudian, satu persatu bule menyusul juga ke dek atas. Potensi mual yang lebih besar dan angin yang lebih kencang tidak menggentarkan mereka. Bule-bule itu ngobrol dengan sesamanya yang satu rombongan, dan ada satu yang hanya diam saja memandangi laut, sepertinya dia solo traveller. Aku beranikan untuk menyapa, dan dia merespon balik dengan cukup ramah.

Suasana kini hening, masing-masing menikmati ombak yang mendayu-dayu. Tiba-tiba saja salah satu bule bertanya ke rombongan lain, membuka pembicaraan. Dia bertanya ke masing-masing orang asal dan kegiatan mereka sebelum berlayar kali ini. Ada yang dari Amerika, ada yang sudah lama liburan di Bali, dan beberapa jawaban lainnya yang berhubungan dengan asal dan kegiatan masing-masing. Kupikir aku tidak akan ditanya, karena aku jelas satu-satunya pribumi di atas sini. Naasnya, perkiraan saya meleset. 

Diriku yang sudah santai saja jadi deg-degan kali ini. Bagaimana tidak? Harus berbahasa Inggris di depan banyak bule, bahkan beberapa di antara mereka penutur asli membuat lidahku menjadi kelu. Kalo one-on-one sih lumayan, salah pun gak malu-malu amat, lha ini, hampir setengah lusin boy! "Biarin lah, bodo amat kalo salah, toh paling cuma dua hari bareng bule-bule ini, habis ini juga gak ketemu lagi." Aku mencoba memantapkan hati. Seingatku, kujawab begini, "im from East Java. I've travelling here alone, and after that i'll go to Bali to meet my friend." Wajah mereka antara penasaran dan bingung saat mendengar timpalanku. Tidak ada follow up percakapan setelah itu. Biarlah, yang penting aku sudah mencoba menjawab.

Suasana kembali hening. Di kejauhan aku melihat ada sebuah kapal yang berlayar berlawanan arah dengan kami. Setelah kian dekat, aku melihat Dylan berada di atas kapal itu. "Bukannya Dylan baru berangkat beberapa jam yang lalu, masa' one day trip sesingkat ini sih?" ada perasaan cemas yang mulai menggerayangi. Dan sekarang mulai timbul perasaan kurang nyaman, sepertinya perjalanan inu akan menemui hambatan, sooner or later... 

Komentar

Posting Komentar