Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 4)

Di batas cakrawala, awan gelap sedang berbisik merencanakan sesuatu. Sedang kapal yang lugu tetap saja merayap perlahan, sendiko dawuh pada arahan kapten. Aku kini sedang asik mengutak-atik hp, mengalihkan perhatian sekaligus berusaha cuek pada mendung. Ya memang sih gak ada notifikasi penting yang masuk, tapi karena sudah tidak ada yang bisa dilakukan, satu-satunya kegiatan yang mungkin ya cuma buka-buka hp. Ahhh, andai saja bawa buku...

Beberapa saat kemudian, tengkuk sudah mulai capek, butuh posisi baru biar tidak kebablasan jadi tengeng. Ketika membenahi posisi duduk dan selanjutnya menghadap ke depan, ternyata mendung yang melayang di kejauhan tadi sudah enyah, sirna tak berbekas. Mungkin ini yang namanya perjalanan yang diberkahi. Semakin antusias kali ini ketimbang beberapa saat sebelumnya. Imaji keindahan Pulau Komodo dengan langitnya yang bersih dari mendung, sukses menarikku dari lembah kegundahan.

Sayangnya itu tidak berlangsung lama. Waktu melihat-lihat ke sekitar, antusiasme yang mulai tumbuh tadi pelan-pelan berganti menjadi curiga. Aku merasa ada yang janggal, tapi ya sekadar rasa, masih belum menemukan penyebabnya yang kongkret. Saya melihat ke sisi kiri dan kanan kapal, tidak menampakkan keanehan. Sedang arah haluan kapal yang sedari tadi kupandangi, tidak juga terlihat mencurigakan. 
 
Lalu, saat menengok ke buritan kapal, biang ketidakenakan hatiku ketemu, dan bersamaan dengannya aku langsung mengumpat dalam hati, "TITIT KUDA!". Ternyata, mendung yang tadi itu tidak hilang, hanya sekarang berada di arah belakang kapal. Bagaimana bisa gumpalan gelap yang tadi berada di depan jadi pindah ke belakang? Sedangkan dari tadi tidak teramati sekalipun pergeseran awan. Entahlah. Tapi, sekarang ini hanya ada satu kemungkinan yang punya probabilitas 83% dan bisa menjelaskan semua ini jika benar, meski mengecewakan. Kapal ini telah PUTAR BALIK!

Ya sudahlah bagaimana lagi. Aku diam saja, dan memilih untuk tidak memberi tahu penumpang yang lain. Atau, mungkin mereka juga sudah lebih dulu ngerti daripada aku? Aku juga tidak peduli, sudah terlanjur kesal. Tidak berselang lama, aku mendengar para bule sedang berbisik-bisik. Dari sekilas yang terdengar, rupanya mereka mulai sadar juga. Perempuan mungil tadi yang belakangan kutahu kalo orang Indonesia juga diminta bertanya ke kru kapal. 
 
Ketika dia kembali, ia membawa jawaban yang sekaligus membenarkan prediksiku sebelumnya. Kapal ini sekarang dalam kondisi putar haluan kembali menuju dermaga. Lalu ia  menambahkan bahwa menurut kapten, ombak di tengah laut sedang tinggi, dan mereka tidak mau mengambil resiko. Fix sudah. Akhirnya saya mengikuti jejak Dylan, yang sudah kembali lebih dulu.

Begitu sandar di dermaga, rombongan trip berpisah, kembali ke masing-masing penyedia jasa perjalanan, menanyakan kejelasan trip mereka selanjutnya. Gak ada salam-salam perpisahan atau sampai jumpa-sampai jumpaan antara kami. Aku melangkah dengan gontai menuju penginapan.

Sampai di penginapan, aku tidak menemukan si pemilik hostel. Yang ada hanya seorang remaja yang tidak tahu menahu tentang pengelolaan hostel. Waktu saya tanya di mana pemilik hostel, remaja itu menjawab kalo dia sedang ke Ruteng, sekitar tiga jam perjalanan dari sini. Fakla... Ketidakberuntungan ini kenapa datangnya harus dalam satu waktu yang sama? Apakah tidak bisa besok-besok saja? atau dicicil sehari sekali aja gitu...

Waktu itu masih jam sembilan. Masak harus ngehabisin sehari tanpa ngapa-ngapain? Sedang waktuku untuk stay di Labuan Bajo terbatas, cuma lima hari. Dari rencanaku berlayar ke pulau komodo dan menginap di Wae Rebo, masing-masing butuh waktu sekitar dua hari satu malam. Sedang satu hari sisanya sudah bisa dipastikan untuk jadwal pulang, plus untuk main yang tidak terlalu jauh dari bandara. Kalo sehari saja jadwal yang disusun meleset, mau tidak mau harus dibatalkan salah satu rencanaku, entah yang life on board, atau nginap di Wae Rebo.
 
Hampir setengah jam menimbang, apakah ke Wae Rebo sekarang aja, atau menunggu kejelasan trip selanjutnya. Tapi kalo nunggu pemilik hostel, pun berlayarnya sudah tentu tidak bisa hari ini. Ya sudah, karena di depan hostel ada penyewaan motor, akhirnya jam sepuluh saya sudah berangkat ke Wae Rebo. Persetan jika nanti penjaga hostel sudah kembali lalu tidak bisa menghubungiku perkara tidak ada sinyal. Kan saya sudah ada inisiatif menunggu, walaupun ya memang cuma setengah jam sih. Waktu memaksa untuk mengambil keputusan dengan cepat, resiko belakangan...

Komentar