Dan Kami Saling Mendoakan

Sesuai janji saya di surat, saya mengucapkan selamat hari raya ke dia, sekalian ngucapin selamat ulang tahunnya juga yang tinggal seminggu lagi. Kalo kemarin-kemarin gak ada perasaan sungkan waktu akan klik send di DM instagram, sekarang harus kembali lagi ke fase awal-awal dulu. Cukup banyak waktu yang terpakai untuk menata kata demi kata, bahkan waktu memilih kapan dikirimnya perlu pertimbangan yang tidak gampang pula.

Dan saya putuskan mengirimnya setelah isya. Dengan bismillah, saya mantapkan hati untuk menyentuh tombol panah mengarah ke kanan di pojok kanan bawah aplikasi berbagi gambar itu. Saat itu sebenarnya belum terlihat waktu dia online terakhir, tapi setelah pesan pertama saya terkirim, baru terkuaklah kalau dia terakhir mengakses berandanya sekitar empat jam yang lalu.

Tidak olahraga, tapi jantung berdegup terburu-buru. Setiap bunyi notifikasi terdengar seperti sirine bahaya yang meraung-raung. Apakah seperti ini rasanya menunggu putusan hukuman akibat membawa satu kilogram narkoba? Antusias dan takut bercampur menjadi satu.

Hingga akhirnya saya terlampau lelah. Mau tidak mau saya harus segera tidur, karena besok pagi sudah harus merantau kembali ke kota wali. Saya membaca al ikhlas 3 kali, al falaq sekali, an naas sekali, dan akhir surat al baqarah, kemudian ditutup dengan wirid subhanallah, alhamdulillah, dan Allahuakbar masing-masing 33x, tambah sekali khusus untuk takbir. Tak lupa wirid amalan dari kyai sambil memandangi fotonya. Ya walapun saya sudah tahu kalau chance saya kini mendekati 0%, tapi setidaknya saya mencoba, hingga memang akhirnya harus berhenti, karena keadaan. Saya percayakan doa saya untuk mewakili saya bertarung di langit sana. Lalu saya terlelap.

***

Di mimpi, sekelebat tampak notifikasi balasan darinya. Kemudian orang-orang ikut gaduh menanggapai balasan itu. Sumpek, saya terbangun. Saya periksa hp yang saya charge sebelum tidur tadi, dan terlihat ava-nya yang berukuran kecil mengisi baris-baris pemberitahuan, dibawah tulisan 23:38. Entah kenapa tapi akhir-akhir ini saya hampir bisa (dikatakan) telepati dengan dia, sejak saya membajingankan Tuhan saya sambil berharap ditabrak truk tronton di jalan ByPass Mojokerto seminggu sebelum dia dan keluarganya mengadakan acara spesial yang bagi saya lebih ke acara horror. Saya pencet notifikasi itu bersama dengan nafas yang terambil cukup dalam.

Terbaca dia mengucapkan terima kasih atas doa yang saya sampaikan, diiringi dua pesan lainnya yang cukup panjang. Isinya? Yaaahhh... it is what it is. Saya cukup bangga dengan diri saya, bisa menghadapi keadaan apocalipse setenang itu. Saya bahkan sudah membayangkan saya akan hancur, tapi saya berterima kasih karena Tuhan sudah menciptakan hati saya, bukan China.

Saya hanya bisa membalas singkat. Saya ucapakan terima kasih kembali atas balasan darinya, dan saya ikhlaskan diri saya atas dirinya. "Asal kamu senang, aku juga ikut senang", begitu pungkasku sesuai permintaanya. Kami mengakhiri dengan saling mendoakan, mungkin itu tandanya kami berdua sudah dewasa. 

Sekali lagi, rangkaian cerita ini semakin membuat saya semakin kukuh membenci nonton film cinta-cintaan. Buat apa nonton, sedang di dunia nyata ini saya jadi aktor utamanya? Semoga saya kuat ya :)


Komentar