Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 5)
Di persewaan motor, aku memilih sebuah motor matik. Awalnya sih sempat kepincut pakai motor yang ada koplingnya, karena lebih bisa diandalkan untuk melibas medan seliar apapun menuju Wae Rebo. Namun setelah melihat harganya, ya sudah matik saja lah. Semoga dia masih mumpuni untuk offroad, jika memang diperlukan.
Mungkin tas besar yang aku bawa membuat pemilik persewaan motor kurang nyaman, Dia menyarankan untuk menaruh saja beberapa isi dari tas milikku. Karena kebanyakan isi tas cuma baju, dan sepertinya ide pemilik persewaan masuk akal, aku percayakan beberapa setel pakaian ke dia, dibungkus dengan kresek merah, kemudian aku berangkat ke Wae Rebo. Bermodal peta luring yang diunduh sebelumnya, aku ngeloyor saja, meninggalkan keramaian kota.
Indikator bensin hanya mampu naik setengah. Sempat terbesit untuk beli bensin eceran, tapi gak jadi. Di sini harga pertalite ngecer itu sepuluh ribu perbotol, sedang harga seliter kalo di SPBU masih 7.500-an. Dan setelah bersabar dikit, akhirnya ketemu juga SPBU yang jumlahnya kurang lebih lima biji seantero Labuan Bajo. Kucekoki tangki motor sampai muntah-muntah.
Lega sudah, paling gak salah satu potensi hambatan sudah dieliminasi. Sekarang, masih ada jarak sekitar 150 kilometer yang harus diselesaikan dalam waktu tidak lebih dari lima jam, jika ingin rencana berjalan semestinya. Mula-mula jalanan masih agak ramai, bermacam jenis motor masih terpantau lalu-lalang. Lalu semakin ke pinggiran kota, semakin sepi, yang bener-bener sepi banget, gak seperti sepinya pinggiran kota-kota di Jawa. Mobil-mobil elf transportasi andalan orang Labuan Bajo untuk sampai ke kota Ruteng diistirahatkan di kiri-kanan jalan. Mungkin mereka sedang menunggu penumpang, atau mungkin juga si supir hanya mau bertemu dengan teman seprofesi, itu tebakanku, tapi kalo pastinya aku tidak tahu. Semakin jauh semakin sepi lagi, dan sekarang hanya saya sendiri, hampir lima kilo sudah berkendara belum juga ada kendaraan lain yang terlihat. Semakin membuat penasaran, bagaimana sebenarnya Flores ini?
Lagi enak-enak nyetir, menikmati suasana sepi jalan provinsi, tiba-tiba sebuah mobil mengejutkanku karena berada satu lajur denganku dari arah berlawanan. Rupanya mobil itu menghindari rumpun bambu di sisi kirinya yang longsor ke jalan. Mata yang mulai ngantuk dimanjakan alam asri kini kembali mentereng. Indera lain yang mengendur juga mulai aktif kembali, dan hidungku mulai mencium bau-bau terbakar. Aku cari disekeliling motor sambil tetap melaju, tapi gak ketemu sumbernya, dan bau itu tetap saja mengikuti. Aku menepi sebentar, seketika ketahuanlah sudah asal bau itu sesaat sebelum menurunkan standar. Tali pengait pinggang kerilku menyentuh pipa besi knalpot sedari tadi, dan sekarang sudah leleh dan hampir putus di dekat ujung tali, tinggal sedikit bagian saja yang terkait. Sekalian aku buang bagian yang hampir putus itu sebelum melanjutkan perjalanan, toh itu cuma beberapa senti sebelum ujung, gak terlalu signifikan lah.
Di tengah jalan, aku teringat sesuatu, "Mau makan apa nanti?" Aku baru sadar kalau di sini lidahku belum familiar dengan menu masakan yang ada, ditambah juga ada sedikit kekhawatiran akan bahan makanan yang dilarang menurut kepercayaan yang aku pegang. Aku melipir lagi, kali ini ke sebuah warung, cukup aneh sih ada orang yang tinggal di tempat yang jauh dari keramaian, buka warung pula.
Aku memanggil penjaga warung. Sambil menunggu keluarnya orang itu, aku mengincar beberapa bungkus roti yang tergantung di tembok dan sebotol air mineral dengan merk lokal. Di sisi lain warung, seorang bapak-bapak duduk santai sambil sebat, setengah cangkir kopi dengan tutup gelas terbalik menungguinya dengan sabar di meja. "Beli apa pak?" tanyaku sambil menunggu penjaga warung muncul. "Beli mie, sambil istirahat ini, capek nyetir motor" ujar bapak sambil mengembuskan asap filternya. Baru kemudian aku seperti diingatkan kembali, "Rejeki itu Aku yang ngatur". Kebingunganku terhadap bagaimana seseorang bisa hidup dari berjualan di tempat yang jauh dari keramaian begini, dijawab tuntas oleh Sang Pencipta. Ia pun menambahkan, "Lha ini buktinya, kamu dan bapak itu adalah perantara-Ku bagi penjaga warung". Lalu penjaga warung keluar, saya beli roti dan air mineral yang sudah kuincar tadi, lalu pamit pada si bapak, dan lanjut motoran ke arah timur.
***
Aku merasa ada yang aneh ketika dari kejauhan terlihat keramaian di bahu jalan. "Apakah ini pasar? Tapi, tidak ada bangunan yang menyerupai pasar. Atau, mungkin saja baru terjadi kecelakaan?" aku bertanya-tanya dalam hati. Semakin mendekati area keramaian semakin deg-degan aku, terlihat juga beberapa orang dengan rompi hijau stabilo di sana. Aku semakin yakin kalau ini pasti terjadi kecelakaan. Dan, ketika sudah benar-benar di tengah area keramaian, kecemasanku berganti jadi kengakakan dalam hati. Orang-orang ini membuat keramaian dengan berhenti di bahu jalan, karena di antara mereka hampir tidak ada satupun yang menggunakan helm. Mereka melipir cuma buat menghindari razia kelengkapan berkendara yang jaraknya cuma beberapa belas meter di depan mereka. Bener-bener dekat banget jarak mereka, yang kalo bapak-bapak tambun berompi hijau stabilo itu lari, semua yang berhenti itu bisa dengan mudah diciduk. Tapi semua tetap bersikukuh untuk stay, mereka tidak mau maju, dan juga aparat tidak berusaha menjaring mereka, cuma nunggu doang. Ada sih satu dua orang yang memilih nekat walaupun tidak lengkap, mau tidak mau ya ditepikan dulu oleh petugas. Baru pertama ini aku lihat langsung kejadian lucu seperti ini.
Lepas dari hiburan tadi, disambut dengan hamparan sawah di kiri-kanan jalanan. Cuaca yang mendung melipatgandakan kesejukan. Topografi tanah mulai meninggi, mungkin ini sebabnya pertanian cukup menjanjikan di sini.
Aku ngobrol santai saja dengan mereka. Kan aneh kalo diem-dieman aja, ojek aja biasanya ngobrol, masak aku diem terus.
"Berapa jauh lagi rumah kalian?"
"Masih agak ke sana pak!" Mereka masi konsisten memanggilku pak.
"Emang, biasanya berapa lama kalo jalan kaki?"
"Sekitar dua jam pak."
"Lho, lha terus berangkatnya jam berapa kalo pagi?"
"Jam lima."
Vakingsit, jam lima lho, aku aja mau pipis jam segitu males, nunggu jam enam sekalian. Lha ini mereka harus berangkat jam segitu. Masih gelap, dingin, dua jam jalan kaki, dan mereka itu bocah lho! Gimana berarti Jawa? enak banget kan?!
"Stop pak, kami turun sini."
"Oh ya udah, hati-hati ya!", dan mereka berjalan menjauh. Wae Rebo masihlah berpuluh-puluh kilo meter lagi, badan sudah semakin capek, tapi mau mundur sekarang, rasanya kok ya nanggung amat ya. Alon-alon asal kelakon aja lah.
Komentar
Posting Komentar