Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 7)

"Perkenalkan, saya Ageng" sebagai anggota yang baru bergabung, aku merasa harus memperkenalkan diri lebih dulu. Yogi, Adha, dan Akbar dengan ramah membalas perkenalanku. Kini kami sudah melewati papan informasi masuk ke Wae Rebo. Yogi mengajak mampir ke sebuah bangunan tidak jauh dari papan informasi tadi, dia dan rombongannya mau solat dulu. Aku pun menunggui mereka, sambil mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Dan seusai sholat, kami mulai menapaki tanah berundak yang merupakan awal dari pendakian ini. Yoga sepertinya memang terbiasa mendaki. Dia yang memimpin rombongan ini, berjalan dengan mantap dengan keril 60L yang penuh sesak, sedang saya memilih menjadi penyapu ranjau saja.

Sambil berjalan, mereka bertiga ngobrol dengan lepas, aku sesekali coba menimpali. Ingin rasanya ikut larut dalam keakraban ini, tapi belum bisa karena rasa canggung masih cukup tebal.  Ya memang wajar sih, kebanyakan orang kalau ketemu sesuatu yang baru pasti awalnya canggung. Yang hampir tidak bisa kutahan, adalah keinginan untuk melempar jokes-jokes yang wadidaw, untung saja gak kesampaian. Aku khawatir kalau mereka belum bisa menerima komedi sejenis itu, dan akhirnya akan memperparah kecanggungan ini. 

Ketika tema pembicaraan mereka cukup bisa kuikuti, aku mencoba menyisipkan candaan yang kurasa semua orang bisa menangkap, contohnya saat kami membahas film. Ya akhirnya gak bisa ditahan juga sih, sedikit-sedikit jokes wadidaw kusisipkan, ada yang kena ada juga yang meleset, hit n miss lah. Tapi yang terpenting, kekhawatiranku tidak terjadi, sejauh ini gak ada awkward feeling, suasana masih terkendali.

Daripada dengan Adha dan Akbar, aku lebih cepat merasa nyaman berkomunikasi dengan Yogi. Bukan karena homo, tapi ketika tahu dia juga orang Jawa, aku merasa ada koneksi yang terjalin karena naluri sebagai saudara seper-Jawa-an. Padahal dia yang paling depan, sedang aku yang paling belakang, tapi ya mengalir aja ngobrolnya.

"Enak ya kalau jadi suami istri berpergian bareng." celetuk Akbar yang tepat berada di depanku, buyar sudah lamunanku.

"Lho, mereka suami istri?" aku mencoba konfirmasi ke Akbar. Memang sih mereka terlihat dekat, tapi pikirku mungkin mereka masih pacaran, atau malah masih tahap PDKT, tidak sempat terbesit kalau mereka adalah pasangan yang sudah sah.

"Iya, mereka suami istri, jualan kamera, itu tasnya penuh sama kamera, ada drone juga lho." Akbar memberi infomasi yang dia punya dengan cuma-cuma tanpa aku minta. Penasaranku akan hubungan keduanya terjawab sudah, dan sepertinya aku tidak perlu mengorek informasi lain.

Kami berjalan terus, suara cenggeret mulai memenuhi ruang-ruang pepohonan. Suhu berangsur-angsur dingin dengan kecepatan konstan yang lambat. Jika tidak bergegas, entah kami akan sampai desa jam berapa, sedang dengan kaki yang tidak terlatih, mustahil juga meningkatkan kecepatan.

Lalu Yogi memberi aba-aba dengan tenang meminta kami berhenti, tidak tersirat panik sama sekali darinya. Malah aku yang terkejut, ketika tahu di depan Yogi jalanan sempit yang kami lalui sedari tadi sekarang sudah tertutup longsor. Padahal ada jurang di sisi kanan, dan bukit menjulang di sisi kirinya, hampir mustahil bisa meneruskan perjalanan. Aku dan Yogi berusaha berulang kali mencari celah yang sebenarnya sudah kita ketahui tidak ada, sambil berharap ada barang kali beberapa senti celah yang luput. 

Sekarang tinggal satu cara yang masih tersisa, dan resikonya terlampau besar. Aku dan Yogi sedang menimbang-nimbang, apakah kita akan mengambil resiko itu yang kalau berhasil hampir dipastikan kita bisa menginap di Wae Rebo, atau memilih kembali ke Denge dengan membawa kekecewaan yang besar, namun masih bisa say hi ke orang terkasih? 

Nah untuk resikonya sendiri gini gambarannya. Kalau resiko itu diambil dan gagal, kemungkinan paling ringan ya patah tulang. Sedang resiko terburuknya? Kalian tahu sendiri lah...

Setidaknya aku ingin mencoba dulu, gambling. Kalaupun gagal ya aku akan balik, dengan catatan jika masih bisa jalan. Kalau gak bisa? Ya semoga aja ada yang mau nolong. 

Aku mencoba melewati celah sempit di bawah tumbangan pohon yang tadi sempat luput tidak terlacak (jadi sekarang kami punya dua opsi). Tas gunung kulepas, lalu kudorong lebih dulu ke depan. Aku berusaha mencari pijakan diantara patahan-patahan ranting pohon, dan sejujurnya aku tidak tahu apa yang kupijak, entah tanah solid, atau tumpukan ranting yang melayang di udara. Adrenalin terpompa ke seluruh tubuh, membuat aku merasa seperti James McAvoy di film Wanted, semua terasa slo-mo. Jantung memompa darah terus-terusan dengan kecepatan tidak semestinya. Sambil merangkak aku berusaha meraih ujung jalan yang lain, sisi yang bersih dari longsoran.

Seketika gelap dari celah sempit yang kumasuki tadi berubah terang. Aku sudah berada di sisi lain jalan sekarang, di seberang Yogi, Adha, dan Akbar. Tidak bisa kucerna dengan baik, bagimana aku bisa sampai di sini, semua terjadi begitu saja. Aku  meminta Yogi untuk mengikuti caraku tadi. Dia agak ragu. Ia memeriksa jalur dengan mendorong-dorong tanah menggunakan tongkatnya. Lalu ia berteriak kepadaku, "Tidak bisa ini, tanahnya sudah longsor!" Aku tertegun, merasa beruntung sekali diriku ini.

Akhirnya Yogi pun mengambil resiko, kali ini dia mengambil sedikit celah yang ada pada bukit terjal di sisi kiri jalan. Semua tas dilempar kepadaku, agar fokus mereka melewati celah itu tidak terganggu dengan beban. Yogi maju lebih dulu, lalu ia berhenti di tengah, agak naik ke bukit. Yogi menyuruh Adha untuk lewat terlebih dahulu dengan berpegangan padanya. Suasana semakin tegang, longsor kecil kembali turun, dan tangan mereka berdua masih berpaut. Sejengkal demi sejengkal Adha berjalan merambat. Yogi sepertinya sudah mulai lelah karena memegangi Adha dengan pijakan tanah yang lebarnya hanya sekitar 5 cm, dan dalam posisi miring yang membuat kaki kirinya memijak lebih rendah daripada kaki kanannya. Hampir di ujung celah, Yogi akhirnya mendorong Adha yang langsung kuraih tangannya dan kusambut dengan menariknya ke posisi aman. Selesai sudah satu orang, tinggal satu setengah lagi yang tertinggal.

Di sisi awal longsor, terlihat Akbar sedang berbicara dengan kamera. Sial bener lah, lagi genting-gentingnya gini, bisa-bisanya dia malah sibuk nge-vlog, jika kita berdua teman akrab, sudah aku "Jancok"i dia. Yogi meminta waktu sebentar, tangannya butuh istirahat dan dia memperbaiki posisi kuda-kudanya. Sebenarnya dia minta gantian denganku, tapi aku tidak yakin bisa setanggap Yogi yang lebih berpengalaman. Setelah siap semua, kami ulangi proses Adha tadi ke Akbar. Sekarang kami lebih siap dan sudah bisa mengantisipasi pergerakan apa yang perlu dilakukan. Tidak butuh lama, Akbar kini sudah bergabung bersamaku dan Adha. Agak keras aku menarik Akbar, semi kusentakkan dia, masih terbawa jengkel karena nge-vlog-nya tadi. Yogi mengambil dua lompatan, lalu kami bisa melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo.

Sepertinya waktu magrib sudah terlewati, tapi kita belum ngerti seberapa jauh lagi Wae Rebo. Kami menggunakan senter hp untuk menyingkap gelap pekat hutan. Ya memang tidak cukup terang, tapi lebih baik daripada hanya mengandalkan sinar bulan dan sel batang mata yang adaptif. Semakin lama angin malam semakin kencang berembus, bulir-bulir kecil air menempel di jaket, pertanda kabut tipis mulai turun. Kami berjalan dalam sunyi, tidak segaduh awal mendaki tadi, ya sesekali saja ngobrol buat memastikan keadaan rekan seperjalanan.

Kontur yang menanjak dari tadi, kini jadi ada naik turunnya dan mulai mendatar. Beberapa kali terlihat patok bambu kecil juga. Berarti daerah sini lumayan sering dijamaah orang dong, begitu pikirku. Lalu Yogi menyeru, "Pos terakhir!" Dan seketika itu rasanya aku berjalan ringan sekali, keril yang kugendong sejak awal seperti lenyap entah ke mana. 

Pos terakhir terlihat, pertanda sudah dekat sekali dengan desa. Kami berempat naik ke bangunan panggung semi permanen, lalu membunyikan kentongan yang jadi syarat bagi setiap tamu yang akan masuk ke Wae Rebo. Kentongan ini dipukul, agar warga desa paham bahwa akan ada tamu yang datang, dan mereka bisa melakukan persiapan untuk menerima kunjungan dari luar. 

Harusnya sih cukup sekali saja membunyikan kentongannya, tapi tidak bagi kami. Semakin sering memukul kentongan semakin lega rasanya, semua emosi tertumpah bersama dengan setiap pukulan ke bambu kopong itu. Bahkan tidak cukup membunyikan kentongan, kami juga melolong dan berteriak bagai suku-suku pedalaman yang sering muncul di televisi. Tidak banyak momen yang bisa membuatku terharu, tapi momen di pos terakhir ini layak untuk masuk daftar yang sedikit tadi. Setelah puas, baru kami berjalan turun.

Memang benar, tidak terlalu jauh dari pos terakhir, sekarang pelataran Wae Rebo sudah nyata di hadapan kami. Gelapnya malam belum sanggup menutupi keeleganan pelataran yang sudah masyhur ke seluruh dunia ini. Seorang anak kecil tiba-tiba mucul entah dari mana. Aku bertanya kepadanya di mana rumah ketua adat, lalu dia menunjuk rumah yang posisinya sejajar dengan garis tengah pelataran. 

Waktu kita akan menuju ke rumah yang ditunjuk, ada seorang laki-laki dewasa menghampiri kami, mungkin ia diberitahu anak kecil yang tadi. Ia dengan sabar mengarahkan, hingga membimbing kami masuk ke rumah yang didiami ketua adat desa Wae Rebo. Kami masuk dengan sedikit berjongkok mengikuti laki-laki tadi. Di dalam rupanya semua orang sudah siap menyambut kami, termasuk -yang kelihatannya- bapak kepala desa. Yogi mewakili kami untuk meminta ijin akan menginap di Wae Rebo, dan pak kepala desa mengangguk tanda setuju. 

Sebelum meninggalkan rumah adat, kami dibacakan semacam doa dalam bahasa yang sama sekali tidak pernah aku dengar, mungkin semacam memintakan ijin kepada para leluhur agar mereka juga berkenan menerima kami. Sesaat kemudian, kami dipersilahkan keluar, lalu diantar menuju ke rumah adat yang dikhususkan menginap bagi tamu. Ketika masuk, keadaan di dalam rumah berbeda dengan yang aku perkirakan. Aku kira cuma kami berempat saja yang akan menginap malam itu, menyelami keheningan Wae Rebo. Nyatanya, di depan kami sekarang ada delapan manusia lain yang sudah lebih dulu tiba di sini, dan sepertinya mereka juga kaget dengan kedatangan kami.

Komentar

Posting Komentar