Let it Loose

Sebenarnya cukup kaget juga, kenapa bisa dapat undangan. SD gak se-sekolah, SMP gak pernah sekelas, SMA dia merantau, kuliahpun dia sarjana sedang aku cuma D-I. Ya tapi kan life full of surprises, selalu saja ada hal-hal yang menggelitik, gak peduli se-siap apapun kamu.

Kebetulan sekali acaranya Sabtu, masih bisa kuusahakan datang. Semesta juga mendukung, yang biasanya ada aja kontainer yang muat, waktu itu gak ada sama sekali. Aku pulang jam sebelas kurang, makan dan tidur siang diskip dulu lah.

Di jalan, terngiang-ngiang terus kalimat apa yang layak keluar nanti. Kalimat yang tidak mengusiknya dan berpotensi memperlebar gap kami, tapi juga bisa membuatku lega, melepas beban menahun ini. Pengen juga ngasih beberapa potong kata ke pasangannya, tapi anggap aja itu side quest lah, target utamanya kan doi. Saking banyaknya mikir, mungkin kalo dijumlah ada mungkin aku nyetir sambil melamun tatapan kosong satu kilometer lebih. Bahaya? Ya bahaya lah! Tapi apa lagi yang dicari, nyawa pun rasanya gak ada harganya lagi, udah nothing to lose lah. Waktu itu sepenuhnya merasa jadi sampan kecil di tengah samudera, tanpa kompas di malam yang mendung.

Untungnya masih bisa juga bisa selamat sampai rumah. WA dulu Tyo, biar gak ditinggaln ngeri euy kalo ditinggal. Bisa dibayangin scene-scene di film waktu tokoh utamanya menatap nanar si peninggal, lalu ia berjalan menghampiri mempelai dalam gerak lambat, diiringi backsong yang mendayu-dayu? F-word untuk film romansa-tai itu.

Aku dan Tyo bergabung dengan teman yang sudah lebih dulu datang. Di situ juga ada penumpang perahuku waktu SMA dulu bersama pasangannya. Aku tahu pasti mereka penasaran juga apa saja yang akan terjadi berikutnya, dan bisa kupastikan, tidak akan ada sesuatu outstanding yang akan terjadi. Aku tetap santai, meneguk es dawet yang kuambil sesaat setelah tiba.

Kami ngobrol aja, sambil menunggu bintang utamanya. Cukup lama, sampai Tyo pun kelaparan. Salah dia sendiri gak mau makan nasi, aku kan gak makan nasi karena sudah makan sebelumnya.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, tak kunjung keluar juga si dia. Roni pun mulai gelisah, alam memanggil-manggil dirinya. Suguhan kue basah hampir tidak lagi mampu membantu Tyo mengatasi laparnya. Tapi aku masih sabar,walaupun lagu pop mellow yang diputar seolah mengejekku dengan bertubi-tubi.

Setengah jam kemudian penumpang perahuku dengan tetangganya sepakat undur diri dulu. Ya memang gerah sekali siang itu, ditambah dengan perempuan yang lebih tertutup pasti merasakan panas yang lebih juga. Rasanya ingin aku bertahan sendiri menanti dirinya. Di skenario terburukku, aku akan bertahan selama mungkin sampai jadi tamu terakhir, tapi pasti terlalu drama jadinya, dan gak enak juga sama Tyo yang sudah berdiri. Mungkin memang bertemu dengan dirinya adalah pantangan bagiku. Kami berjalan keluar tenda bersama.

Saat kontak motor sudah menancap, ibunya memanggil kami untuk kembali. Tuhan Maha Asyik memang wekekekekekek. Sebentar lagi riasnya selesai ucap beliau, kami diminta menunggu. Si hoki keluar lebih dulu. Ia meminta maaf kepada rombongan lain yang juga akan pulang, sambil meminta untuk bersabar tidak lama lagi.

Ya paling sekitar sepuluh menitan, si hoki keluar lagi, sekarang berduaan dengan si dia. Anjing bener, kuperkirakan dia bakal cantik, tapi gak sejauh ini cantiknya faaakkk! Lalu mereka berdua berjalan ke kuade.

Inilah saat yang ditunggu, sentuhan tangan yang sudah lama saya harapkan, tapi konteksnya sama sekali tidak terbayangkan. Kami berfoto bersama, dan seperti biasa ketika fotografer meminta gaya bebas, aku cuma berdiri tegak sambil senyum, gak peduli berapa kali tukang potret itu meminta berganti pose. Entah kenapa aku bisa senyum bahkan ketawa lepas sekali, tidak seperti sesi-sesi foto yang pernah kulewati dengan canggung karena kehabisan gaya. Dan sebagai penutup sebelum pulang, kusalami lagi mereka berdua. Kusampaikan "Sampean beruntung sekali mas!" ke si hoki, dan "Mohon maaf sebesar-besarnya ya..." ke doi. Lega sudah, main quest dan side quest selesai dengan sempurna. Aku rasa, kalimat itu cukup netral untuk bisa menyinggung mereka, tapi cukup kuat juga untuk melepaskan gundahku selama ini.

Semoga kalian berbahagia. Karena meskipun aku tidak percaya dengan kalimat ini waktu dulu, sekarang aku pun bisa merasakan kebenarannya dan mengiyakan. Kalimat tai yang bunyinya "Puncak tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan."

My prayer goes with you... :)

Komentar