Lebaran Istimewa

Pertama kalinya, bahkan bukan hanya bagi saya, tapi hampir semua penduduk asli Ngantang yang masih hidup sekarang ini juga merasakan menjadi first timer. Ya, pertama kalinya di sini tidak ada solat Id, yang kebetulan kali ini pas gilirannya Hari Raya Idul Adha. Jangankan solat, bahkan gema takbir pun cuma jadi menjadi dongeng indah pengantar tidur.

Saya sampai rumah jam delapan malam. Suasananya sepi. Ya walaupun biasanya juga sepi, tapi kali ini lebih beda sepinya. Malam ini setahun yang lalu, memang sudah tidak ada ritual anak-anak kecil membawa lampion sambil berteriak parau menyuarakan takbir, namun sahut-sahutan antar toa mengagungkan naman-Nya masih jelas terdengar. Sedang malam itu, tak ubahnya seperti malam selasa-malam selasa yang lain.

"Besok ada solat mak?" tanyaku setelah sempat lewat masjid tidak mendapati satir pemisah antar jamaah putra dan putri terpasang di alun-alun. "Nunggu Pak Bas le, masih ke (kantor) desa."

Jadi, keputusan adanya solat atau tidak tergantung penjelasan dari ketua takmir masjid. Saya sebenarnya bisa menerima apapun keputusannya. Kalaupun memang dipersilakan solat, saya akan senang tentunya. Asal memakai masker dengan benar, kemungkinan buruk bisa ditekan jauh seminimal mungkin. Dan kalaupun memang demi kebaikan bersama solat berjamaah kali ini belum diberikan ijin pelaksanaan, toh kita masih bisa ibadah di rumah. Solat id kan sunah dan masih bisa dilaksanakan berjamaah di rumah, sedang menjaga jiwa sih wajib kalo kata ulama yang paham betul dengan agama ini, jadi yang yang didahulukan yang wajib dong daripada yang sunah. Memang pilihan saya sih condong ke pilihan kedua. 

Cukup larut belum ada kepastian. Capek nunggu, saya tidur saja. Manut opo jare mene.

Subuh, kondisi masjid tidak jauh beda dengan malam sebelumnya. Tidak ada susunan sound system yang siap menyapa setiap jamaah yang datang. Tidak keliru kiranya saya menyimpulkan kegiatan solat sunah setahun sekali itu dinihilkan.

Saya sih cuma bisa, "ya udah lah ya, mau gimana lagi?" Ya memang mau gimana lagi? itu sudah keputusan terbaik untuk saat ini. Lepas subuh, ibu beres-beres, bapak kembali tidur, sedang saya rebahan aja sambil nunggu agak siangan. Bela mah molor dari tadi, gak solat dia.

Semua sudah siap ketika langit sudah agak terang. Tapi bapak sepertinya masih bingung kala didapuk menjadi imam solat kali ini, jadi saya menawarkan diri untuk membantu menunaikan mandat beliau yang langsung disetujuinya.

Saya jadi yang terdepan sebelah kiri, bapak di tengah agak mundur sedikit, dan ibu di sudut kanan paling belakang. Bela? masih belum bangun juga. Semua gerakan kami selesaikan tertib berurutan, dan setelah salam kami bertiga bertakbir. Ibu yang paling terharu, ya mungkin karena ini pertama kalinya beliau solat idul adha di rumah.

Memang rasanya ganjil, tapi dibalik itu semua saya bisa merasakan optimisme baru. Kali ini tidak ada yang benar-benar membangkang atas aturan yang ada, semua merasakan duka yang sama, semua paham atas kejadian yang sedang dihadapi. Ulama dan sains menjadi patokan, tidak ada lagi kata "dari grup sebelah". Ya walaupun ini cuma skala kecil di lingkup Ngantang saja, tapi dampaknya akan sangat luas jika embrio masyarakat semacam ini bisa dirawat. Bahkan harapan ditemuinya masyarakat madani tinggal menunggu waktu saja.

Komentar