Cheribon dan Peti Usangnya (Part 1)

Pengen refreshing setelah penat dengan urusan angka-angka, lima laki-laki tanggung sepakat untuk ke Cirebon, mau short escape ceritanya. Saya, Haryo, Akmal, Mas Mahdi dan juga Mas Bowo memilih kereta ke Cirebon jadwal pagi hari. Seingat saya, jam setengah tujuh masinis sudah melaksanakan semboyan 35. Kami memang sengaja memilih tempat duduk yang berdekatan satu blok, biar gak sepi. Berkas cahaya yang tidak tertahan kaca film mulai menambah terang suasana, deret rumah dan kendaraan yang terhenti palang silih berganti tampil lewat jendela, pramugari kereta baru sekali lewat, membawa aroma pop mi yang entah kenapa selalu lebih enak disantap di perjalanan. Isi kereta masih hiruk pikuk, orang-orang masih beradu keriuhan antar kelompok diskusi, kami berlima tentu saja ikut serta menambah nilai desibel di dalam sana.

Apakah kami sudah melakukan persiapan untuk trip kali ini? Ooo... tentu tidak dong. Makannya sambil menunggu sampai di Cirebon, kami menyusun agenda dan rute yang akan dijalani nanti. Untung mas Bowo mancing dengan pertanyaanya, bisa jadi sampai di sana cuma bisa kikuk tanpa tujuan kalo gak ada inisiasi darinya. Saya dan Haryo yang masih sebangku googling beberapa destinasi, ketiga manusia lainnya tidak lupa dimintai pendapat demi tercapainya mufakat bersama. Pokoknya gimana caranya nyusun rute sependek mungkin, tapi masih dapat destinasi wisata sebanyak-banyaknya.
 
Kian lama kereta melaju, keadaan semakin tenang. Setiap kepala kembali menunduk ke layar lima inci-an masing-masing. Memang orang sekarang lebih cepat kehabisan bahan obrolan. Saya? sama.

***
 
Lokomotif mulai melambat di Stasiun Cirebon, dan berhenti total di stasiun Prujakan. Kereta biasa memang diatur khusus untuk ngetem di sini, biar beda sama kereta yang lebih bagus. Orang udik memang kalo bisa jangan dicampur dengan borjuis di Stasiun Cirebon Kejaksaan, nanti kasian kelihatan tambah udik, terus malu naik kereta lagi, terus milih naik motor aja, terus semakin meningkat angka kecelakaan. Kalo udah gitu, siapa  yang bisa disalahkan? Emang udah bener stasiun dibedakan seperti itu.

Di luar stasiun, ya lumayan asing rasanya. Dibanding dengan stasiun-stasiun kereta di Jawa pada umumnya, suasana Stasiun Cirebon Prujakan ini malah mirip sama stasiun KRL di Jakarta. Begitu keluar, kami disambut dengan jalan aspal yang gak terlalu lebar. Pernah datang ke Stasiun KRL Kebayoran Baru? Nah coba tukang jualan sama ojeknya dipinggirin dulu, ya sama seperti itu suasananya.

Dipesanlah sebuah taksi online lewat suatu aplikasi, dengan titik tujuan Nasi Ayam Santa Maria. Pengen coba membuktikan langsung kuliner yang mendapat cap 'Gak Ada Obat" dari Nex Carlos, sekalian memang mau ngisi perut aja. Gak berapa lama, kami sudah tiba. Memang jarakanya gak jauh, tapi kalau jalan kaki ya gak dulu lah ya.

Di depan sudah banyak orang yang mengerubungi sebuah gerobak dorong berukuran lebih besar dari rata-rata jenisnya. Meskipun gak ada namanya, tapi saya yakin itu yang namanya Nasi Ayam Santa Maria. Kami berlima ikut mengantre, sambil mengamati tingkah polah penjualnya yang juga jadi atraksi utama di sini. Seperti yang di video, tanpa tedeng aling-aling penjual menyemprot semua pembelinya, dan itu malah membuat gembira orang-orang aneh yang mengular.

Aku memesan satu nasi dengan beberapa lauk, sate kulit yang spesial menurut Nex barang tentu tidak boleh ditinggalkan. Dan yutuber kuliner itu memang tidak salah. Istimewa sepertinya masih kurang, tapi kalo disuruh menggambarkan dengan satu kata, ya "ISTIMEWA" memang. Ditutup dengan es jeruk kelapa muda, setelahnya kami berjalan kaki menuju Masjid Merah Panjunan.

Lima orang merayap diantara bangunan-bangunan pasar modern. Tata letak kawasan model lampau terasa sekali. Di trotoar banyak tukang becak yang sedang mengaso sambil nunggu rejeki. Di suatu gang kami berbelok masuk. Letak masjidnya memang berada di tengah pemukiman menurut gmaps.

Titik di peta sudah tepat sekali, dan bangunannya cukup mencolok. Dengan arsitektur menyerupai joglo dan dikelilingi tembok bata merah menyala, sepertinya hanya orang konyol saja yang tidak mampu menemukan masjid ini. Namanya memang masjid, tapi bagi saya lebih tepat disebut langgar jika memperhatikan ukurannya. Sebagaimana layaknya tempat ibadah lain, tentu tidak bisa sembarangan ngapa-ngapain di sini. Kami memilih untuk beristirahat sambil menunggu zuhur yang tinggal sebentar lagi. 
Seorang lelaki paruh baya menyapa dengan ramah, kelihatannya marbot. Sedikit perbincangan terjadi di antara kami. Lalu beliau membawa kami ke sisi samping bangunan. Ada semacam selasar yang panjangnya mentok hingga ke ujung, beliau membimbing kami ke ujungnya. Bapak itu mempersilahkan kami menengok bagian dalam masjid dari lubang angin. Apa istimewanya pikirku, tapi coba saja kuturuti. Baru setelahnya tampak juga ketidakbiasaannya. Bagian yang kami intip merupakan ruangan khusus yang biasa digunakan berkumpul para wali atau tokoh agama, dan letaknya berada di balik mimbar yang terhalang oleh pintu seperti di gambar. Lumayan bangga bisa mendapat informasi spesial seperti ini. Tapi tidak cuma sampai di situ, sambil kembali ke teras depan si bapak juga becerita bahwa masjid ini juga jadi tempat lamaran antara Sunan Gunung Jati dengan istrinya yang merupakan seorang putri Cina. Entah benar atau tidak, tapi semakin senang saja saya yang memang dari dulu suka cerita-cerita semacam itu.
 
Selepas solat, kami segera beranjak ke Keraton Kanoman sesuai itinerary yang dibuat. Saya agak ketinggalan karena pengen foto-foto dulu. Tiba-tiba ibu paruh baya yang sedari tadi duduk di teras masjid dengan langkah cepat menyusul saya. Saya langsung paham apa yang menjadi maksud beliau. Ya gimana lagi, situs religi dan pengharap kedermawanan bagaikan gambar seorang perempuan dengan tulisan kepak sayak kebhinekaan, tidak bisa terpisahkan.

Komentar