Cheribon dan Peti Usangnya (Part 2)
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Dari peta kelihatan komplek keraton berada di balik sebuah pasar tradisional. Untung saja kami jalan kaki, jadi tidak ribet kalau memang perlu blusukan. Benar saja, kami diarahkan masuk sebuah gang yang agak besar. Di kiri kanan lapak penjual memenuhi jalan aspal yang kelihatan mengarah ke sebuah pohon beringin yang menjulang. Setibanya di ujung aspal, barulah tampak komplek Keraton Kanoman.
Tidak
seperti di Jogja, di sana seperti kurang terasa kalau tempat itu
digunakan sebagai tempat tinggal seorang sultan. Kalau tidak ada papan
informasi yang mendetailkan fungsi masing-masing bangunan yang dipagari,
bisa jadi orang awam mengira tempat itu cuma joglo dengan sebuah
bangunan tugu yang biasa aja, seperti yang ada di kampung-kampung. Saya
kurang paham kenapa situasinya seperti ini. Bisa jadi karena ingin
menghilangkan kesan ekslusif keluarga ningrat agar semakin dekat dengan
rakyat biasa, atau memang karena kurangnya perhatian dari pemerintah.
Semoga bukan tujuan kedua.
Gak
banyak yang bisa dilakukan di sini, kami berjalan keluar dari komplek
Keraton Kanoman, menuju keraton selanjutnya, Keraton Kasepuhan.
Lagi-lagi kami menyisir jalanan pasar dengan tata kota jaman dulu. Saya
kurang bisa menjelaskan secara detail maksud tata kota jaman dulu, tapi
saya yakin kebanyakan yang pernah ke sana akan sepakat dengan saya.
Sebelum masuk ke komplek, kami leyeh-leyeh
dulu di alun-alun. Lha ini baru namanya keraton! Alun-alun tepat berada
di muka keraton, dengan tempat ibadah berdiri di sisi yang lain. Dan yang menambah sukacita di sana, tidak lain jejeran para penjaja kuliner. Buah
potong segar memang tidak pernah salah di waktu apapun, terlebih siang
bolong begini. Dinaungi rindangnya pohon beringin, kami sedikit mengganjal perut. Selain buah potong, ada tahu gejrot, es tebu, gorengan, dan
makanan khas kaki lima-an murah meriah.
Kami masuk Keraton Kasepuhan tidak lama kemudian. Jauh berbeda dengan "adiknya", yang ini lebih terawat. Dengan ticketing yang sungguhan, disambut dengan orang-orang berpakaian adat, vibe-nya
langsung terasa. Papan petunjuk arah dan informasi sangat bisa
diandalkan. Ya memang jadi mengurangi lowongan sebagai pemandu, tapi
inilah yang diharapkan para pengunjung.
Kelihatan
sekali upaya perawatan keraton ini. Dengan begitu banyaknya pohon, cukup
mengesankan melihat tidak ada daun tergeletak mengotori paving. Tempat
oleh-oleh juga diakomodir dengan rapi di satu bagian sendiri di dalam
komplek. Apalagi bagian museum yang ada di sana, sangat rapi dengan
ditutupi kaca-kaca pada setiap obyek peninggalannya. Menyenangkan sekali
ketika masuk museum keratonnya.
Dari
sekian keteraturan dan keterawatannya, Keraton Kasepuhan memang sudah bisa membuat saya terkesan, tapi belum cukup memberi momen khusus
bagi saya kecuali satu hal, ditawari bertemu sultan. Entah saya salah
dengar atau tidak, tapi saat melalui sebuah rumah dengan banyak orang terpantau
sedang mengenakan baju adat, satu orang bapak-bapak menyapa kami. Beliau
menawarkan kesempatan agar bisa bertemu dengan sultan (atau mungkin
bukan sultan, cuma masih petinggi keraton?) dengan menukar sebuah tiket yang sayangnya cuma dia empunya.
Katanya sih beberapa orang menggunakan kesempatan itu, agar bisa bertemu
langsung, sambil meminta didoakan. Ya bisa jadi memang lebih mudah
dikabulkan doanya orang yang dekat dengan Tuhan, tapi waktu itu kami
memilih mohon ijin untuk meneruskan perjalanan lebih dulu.
Akhirnya
lima lelaki tanggung ini berhenti di bagian belakang komplek. Sepi, hanya ada pekarangan
yang ditumbuhi jati-jati, dan satu embung yang di pinggirnya berkumpul
anak-anak muda belajar nembang. Entah untuk apa latihan menyanyi
itu, tebak saya sih untuk persiapan pertunjukan. Atau bisa jadi memang
mereka semangat melestarikan budaya, itu malah lebih bagus lagi.
Matahari
semakin terik saja, berteduh di tengah kebun jati dengan angin
semilirnya yang merupa dayang fiksi di siang itu sangat mampu membuai siapapun, lebih-lebih kami. Tapi ya masak harus
terlena dengan semua keenakan ini? Kami sepakat "keluar dari zona nyaman".
Sebuah taksi daring kami pesan kembali, kali ini dengan tujuan Taman Sari Gua Sunyaragi.
Sekitar
seperempat jam setelahnya, mobil menepi di pinggir jalan raya. "Dari
beberapa tempat yang sudah dikunjungi sampai yang terakhir ini, kenapa
sepertinya gak ada yang dapat perhatian yang serius ya?" batinku. Sedikit banyak
saya jadi mengingat kembali pikiran saya waktu di Keraton Kanoman.
Dengan batas masuk yang dijaga, tentu saja kami harus membeli tiket
untuk melewatinya. Dan setelah masuk, waaahhhhh... biasa saja!
Di
gambar sih memang keihatan biasa saja, jadi kalo kenyataannya lebih
biasa daripada di gambar ya maklum lah ya. Tapi lagi-lagi nilai budaya
dan sejarahnya cukup ampuh untuk menyelamatkan tempat seperti ini dari
keterbengkalaian. Juga yang tidak bisa dikesampingkan juga, tempat semacam ini perlu ada sebagai sarana melepas penat bagi orang-orang yang tenaganya tidak melimpah lagi seperti masa mudanya. Seperti sekempulan ibu-ibu dengan seragam warna jingganya yang meriuhkan situs. Antar kelompok kecil bersaing mendapat titik terbaik menurut mereka, kemudian berswafoto ria dengan gayanya yang ekspresif. Seekspresif apa? Emak-emak kumpul tanpa anak dan suami tau sendiri kan...
Komplek Taman Sari Gua Sunyaragi seperti namanya,
memiliki banyak "gua" berupa bilik-bilik kecil yang dilindungi susunan
batu menjulang tidak beraturan. Masing-masing gua pun punya fungsi yang
berbeda-beda. Kalau di lihat lagi, komplek ini seperti benteng. Dengan
jalan labirin yang sempit, akan membuat orang luar kebingungan jika tidak
familiar dengan rute yang ada. Sekali lagi memang biasa saja, tapi kalau mau
dibuat latar belakang foto prewed, masih bisa lah ehe...
Sebenarnya
ada satu yang bikin saya miris. Waktu kami datang ke sini, toko-toko souvenir tutup, warung makan juga tidak
terlihat melayani. Memang kami datang waktu weekday, tapi
sepertinya kurang tepat juga menyalahkan hari. Melihat Borobudur dan
Monas yang tetap ramai di hari biasa, kenapa di situ gak bisa? Padahal masih banyak potensi yang bisa dioptimalkan, pengunjung bisa mempeoleh informasi baru, dan
ekonomi sekitar juga akan berputar meski tidak terlalu kencang, yang
penting hidup. Kalau sekarang, hanya bisa berharap situasi weekend bisa meng-cover Senin sampai Jumat sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar