Cheribon dan Peti Usangnya (Part 3)
Lapaaarrr! Dan memang waktunya tepat sesuai itinerary, kami sekarang berburu makanan khas Cirebon, empal gentong. Gak main-main, kami memilih yang paling banyak ulasannya di gmaps. Walaupun
tidak dapat dijamin yang terkenal itu pasti enak, tapi memberi garansi
kalau hidangannya masih bisa dikunyah dengan nyaman.
Letaknya agak di pinggiran kota, tapi dekat sekali dengan exit toll,
Empal Gentong H. Apud beruntung kami pilih (sebenarnya kami yang
beruntung). Di sepanjang ruas jalan banyak juga bertebaran resto-resto
yang menjual panganan serupa, jadi kalaupun di satu tempat sudah terlalu
penuh, masih ada pilihan yang lain, asal berani gambling aja.
Kami
berlima tentu saja memesan empal gentong, ditambah sate kambing sebagai
pelengkapnya. Saya sih sudah pernah makan empal gentong waktu
nikahannya teman yang asli Cirebon, dan gak terlalu bisa mengapresiasi. Tapi
agaknya kali ini mungkin berbeda, secara tampilannya juga tidak mirip
sama sekali dengan yang pernah saya icipi.
Di sruputan pertama, prediksi yang saya bangun buyar semuanya. Rasanya kalau tidak keliru seperti Coto Makassar, namun gak mirip. Bingung kan? sama
saya juga. Yang saya tahu enak sekali waktu itu, lebih-lebih kala dipadukan dengan nasi putih hangat, beeehhh. Tapi bisa jadi rasa nikmat itu muncul karena ada pengaruh lapar setelah melewatkan makan siang beberapa jam. Bodo amat lah, yang saya tau lidah saya dimanjakan sekali dengan sajian empal gentong, Kalau sate kambingnya
saya ingat sekali. Enak, empuk, gak badheg sama sekali. Kapan-kapan kalau sempat mau coba lagi, biar ingat betul rasanya gimana.
Semakin
sore, semakin tidak ada yang bisa dilakukan di Cirebon. Tentu saja
tempat wisata juga sudah jadwalnya tutup, sedang mau makan lagi masih kenyang,
yang ada sekarang nunggu malam, nunggu dijemput kereta balik ke Jakarta.
Grage Mall Cirebon, saya juga gak paham kenapa bisa berhenti di sini. Lima manusia nir-harapan ini ngobrol ngalur ngidul haha hihi di rooftop berlangitkan senja, cinematic sekali bukan? cocok jadi scene penutup film dengan tema friendship. Mushola yang memang juga berada di lantai teratas mal, mengeliminir kebingungan akan ibadah di mana petang itu.
Setelah cukup bosan menunggu sampai gelap di tingkat teratas, tiba saatnya makan malam. Kebetulan tempat makan kali ini dekat dengan
stasiun, jalan lagi kami. Lagi-lagi menembus gang-gang kecil, gak ada habisnya gang di
sini, seperti taman sesat mungkin kalau dilihat dari atas. Jika tidak ada
peta daring, barangkali sudah kesasar kami.
Apa
mungkin tabiatnya ya, ketika sejumlah laki-laki tanggung berkumpul, ada
saja hal yang sebenarnya biasa saja jadi ketemu anehnya. Ada orang naik motor nih,
normal aja, tapi ya masih ketemu celah untuk kami hujat. Kemudian ada warung
kecil, ya mungkin namanya dibuat unik biar dilirik orang, dan berhasil
juga menarik kami, tapi tertariknya pada hal yang pasti tidak diharapkan
sama pencetus ide nama unik itu. Ya cukup berisik, suara kecil saja bisa menggema lantang di gang sesempit itu, apalagi keriuhan yang kami munculkan. Semoga kami bisa dimaafkan, toh juga cuma waktu itu aja, harap maklum.
Untung
saja sudah sampai warung, para pembuat onar ini memang mudah dibungkam
dengan nasi. Nasi jamblang yang diidamkan dari tadi memang masih ada
walaupun mendekati jam delapan malam, tapi gak ada yang bilang kalau
lauk yang tersedia terbatas. Dan melihat jam sekali lagi, tentu tidak
elok jika kami mengeluh tidak mendapat yang diharapkan, wong yang
salah juga kami sendiri datangnya telat. Yang penting kalo ditanya
pernah makan nasi jamblang, saya bisa menjawab "pernah",
asal gak ditanya pakai lauk apa masih aman harusnya. Ada yang unik waktu
makan di sini, bangku duduk memanjang dengan mejanya memiliki tinggi yang tidak terpaut jauh, dan membuat heran saya yang baru melihatnya. Mau naruh makanan di meja kok gak beda jauh sama duduknya, kalo mau
diangkat aja tapi buat apa ada mejanya? Ya udah niru orang-orang aja,
ditaruh mersi (meja kursi) nasi jamblangnya.
Di
sebelah tempat makan nasi jamblang Bu Nur yang katanya legendaris itu,
ada toko oleh-oleh. Bawa satu dua panganan buat anak kontrakan dulu.
Sewajarnya toko cinderamata, pasti menjual produk khas mereka. Juga
sewajarnya toko cinderamata lain, dijual juga dodol garut. Saya jadi
semakin gak ngerti, dodol ini asal mana? Walaupun di embel-embeli "Garut,
tapi tiap kota hampir jual ini sebagai oleh-olehnya. Saya suka ya saya
beli, ditambah beberapa olahan kerupuk dari bahan ikan-ikanan dan
sebotol minuman sirup jeruk kunci yang join-an dengan Haryo.
Benar-benar
larut, dan benar-benar tidak ada yang bisa dilakukan selain mendonorkan
darah di stasiun menunggu jemputan ke ibukota. Beberapa jam kemudian
masinis meniup peluit, mengakhiri pelarian singkat kali ini. Cirebon yang kaya dengan wisata budayanya namun kurang diperhatikan, seperti harta karun yang tersimpan dalam peti usang, menunggu dengan tabah agar segera ditemukan.
Komentar
Posting Komentar