OleOut?

Jadi ceritanya saya mau bikin PC karena saya tim #mendingrakitPC. Semua komponennya sudah ada sesuai spesifikasi yang saya susun, dan saya juga sudah punya perakit PC. Tukang rakit PC ini sebelumnya juga sudah pernah ngoprek PC lama saya yang lemot. Gak tau gimana caranya, tiba-tiba bisa gitu aja dan lancar. Oh iya, spesifikasi yang mau disusun juga sudah dikonsultasikan dengan doi, secara saya gak paham bener komponen-komponen PC. Alhasil di hari yang ditentukan, semua komponen yang dia minta sudah saya belikan, dan dia mulai melakukan perakitan.

Satu hari, dua hari, tiga hari, sampai seminggu belum jadi juga, entah sebabnya apa. Temen sudah nyuruh saya ganti tukang aja, ada beberapa rekomendasi yang bagus katanya. Tapi, tukang rakit pilihan sekarang ini kan juga bagus menurut saya, sedang saya malah belum kenal betul sama rekomendasi teman. Bisa jadi salah satu dari mereka bisa merampungkan PC saya, tapi tidak menutup kemungkinan juga nasib PC pretelan itu terkatung lebih lama lagi bukan?

Yang jadi pertanyaan saya sekarang, saya sudah mirip Ed Woodward belum?

Jika saya mirip Ed, berarti perakit PC pilihan saya tak lain dan tak bukan ya Ole Gunnar Solksjaer. Sebagai pengganti Jose Mourinho, catatannya bisa dikatakan sangat memuaskan. Membuat klub yang hancur "ruang ganti"nya, menjadi sebuah keluarga yang harmonis kembali. Chant "Ole at the wheel" bergaung di Old Trafford, menasbihkan dia sebagai juru selamat. Tapi itu dulu.

Kini, hampir tiap pekan tagar #OleOut hampir tidak pernah absen, malah seringkali nangkring di nomer satu. Banyak yang sudah jengah melihat Man United akhir-akhir ini, dan tidak sedikit teman dekat saya yang ngedumel hal serupa. Mainnya jelek, gak ngerti cara ngelatih, pilihan strategi salah, dan segudang alasan menghujam lini masa twitter. Saya sebenarnya juga pengen ikutan, tapi ada hal-hal lain yang menjadikan saya mengurungkan ikut rombongan (yang kalo kata Bang Fu) bolot, bani ole out.

Sekarang mari berandai-andai jika kita memilih pengganti Ole, siapa kira-kira yang pantas? Pasti kita semua punya satu nama dengan segala alasannya. Lalu, jika seandainya itu pilihan itu terwujud, apakah serta merta MU akan sukses kembali seperti era keemasan Sir Alex? Kita pernah mencoba Moyes, Giggs, van Gaal, juga Mourinho. Anggap saja Moyes dan Giggs tidak masuk hitungan, tapi LvG dan Mourinho? Toh juga belum berhasil. Moyes yang mendapat skuad warisan langsung dari Ferguson pun juga tidak mampu berbicara banyak. Atau contoh lain mari kita tengok Paris Saint-Germain tahun kemarin. Kurang bertabur bintang gimana pemainnya, ditambah mendatangkan Poechettino sebagai arsitek baru, toh masih kalah sama Lille. Hampir senada, Barca yang sudah ganti beberapa pelatih hingga sekarang tak kunjung juga mencapai performa puncaknya. Ya balik lagi bola itu bundar, kadang di atas, kadang di bawah. Pelatih-pemain bagus kadang kurang beruntung, malah pelatih medioker macam Claudio Rannieri dengan skuad antah berantah Leicester City tahun 2015/2016 bisa melibas tim macam ManCity dan Liverpool.

Jadi bagi saya, ganti pelatih bukan jawaban adalah faktor pertama, masih ada dua lagi yang membuat saya tidak ikutan jadi bolot, yaitu faktor non teknis dan tradisi MU. Mari kita bahas faktor non teknis terlebih dahulu. Manchunian harusnya tahu, bagaimana hancurnya ruang ganti saat dilatih Mourinho. Dari berbagai pemberitaan cukup menggambarkan suasana tim yang tidak kondusif, talenta muda yang terpinggirkan, ditambah permainan parkir bus yang nggak MU sekali. Kalo ditanya gelar ya ada gelar, UEFA Europa League berhasil digondol ke Old Trafford, tapi apa ya tega United harus jadi seperti itu biar dapat gelar? Kalo saya sih mending enggak. Lalu datanglah juru selamat yang saya sebut sebelumnya. Mari coba kita ingat kembali bagaiamana dia bisa membalik tim yang terpuruk, hingga menang beberapa laga berturut-turut. Kalo dari hasilnya, gak salah kan kalo menganggap dia bisa ngemong pemain-pemainnya dengan baik?

Sekarang faktor satunya lagi ynag menahan saya jadi bani ole out, karena tradisi MU. Manchested United memang tidak punya kekhususan dalam bermain seperti tiki-taka Barcelona, gegenpressing-nya Klopp, atau grendel catenaccio yang jadi andalan Italia dulu, tapi MU telah diberi warisan yang sangat berharga oleh Fergie, yaitu Fergie time yang sering membuahkan gol-gol di menit akhir. Sebagai pemain yang pernah diasuh langsung oleh opa Fergie, tentu Ole paham betul apa makna waktu Fergie itu, pun dengan jajaran staf kepelatihan yang sekarang. Sangat wajar jika mereka semua akan meneruskan hal serupa ke skuad yang ada kini. Selain itu United juga terkenal dengan talenta-talenta mudanya, lihat saja class of '92 yang masyhur itu. Siapa pelatih sebelum Ole yang memberi banyak kepercayaam kepada pemain mudanya? Moyes? LvG? Mou? tidak ada kan? Sedang sekarang, ada Lingardinho, McTominay, Shoretire, Brandon Williams, dan juga Dan James yang sudah laku ke Leeds.

Jadi kalo saya ditanya apakah Ole harus didepak sekarang? jawaban saya tentu tidak, karena saya belum melihat ada pelatih yang available  dan bisa menggantikan Ole. Bahkan saya masih percaya kepadanya sekalipun musim ini nir gelar. Saya akan coba percaya hingga setengah periode musim 2022/2023, dengan catatan Ronaldo sebagai kapten. Saya sebenarnya tidak terlalu ingin CR 7 kembali ke MU. Tapi saya juga tidak menutup mata dengan kedatangannya, karena besar sekali kemungkinan Ronaldo bisa menjadi sebuah gerigi kunci yang bisa membuat mesin Manchester United berjalan sebagaimana mestinya.

Mari lepas dari bayang-bayang Sir Alex Ferguson. Dulu kita memang langganan juara, dan akan begitu pula kedepannya. Untuk sekarang mari sama-sama belajar sabar, gelar itu penting, tapi lebih penting lagi keberlanjutan suatu klub. Terakhir, saya mengutip perkataan legenda rival kita, Bill Shanky, "If you can't support us when we lose or draw, don't support us when we win."

Komentar