Membebaskan Pak Karno dan Bung Hatta, atau Pattimura?
Waktu jalan di tempat umum, tidak jarang saya bertemu dengan seseorang yang membuat saya membatin, "Orang itu kelihatannya kesusahan, mungkin lebih baik kalo saya coba membantu. Kalo kira-kira saya bantu dengan ngasih uang, berapa ya enaknya? Saya kasih 10.000 kok kayaknya kurang sekali lihat kondisi beliau, tapi mau ngasih 20.000 kok besar banget ya, bisa buat ngasih dua orang yang juga butuh masing-masing 10.000an itu. Atau memang pantesnya 10.000 aja? Tapi kalo dilihat-lihat lagi sepertinya hanya perasaan saya aja beliau kesusahan berat, sepertinya 5.000 sudah cukup, toh kalo di masjid juga kadang cuma ngasih 2.000 kan?"
Ngobrol dengan diri sendiri semacam itu akan terus aja muter-muter, mulai orang yang tampak perlu dibantu itu kelihatan dari jauh, hingga kemudian dekat, sampai akhirnya terlewat tanpa sempat berbagi apa-apa. Dan agar tidak terlalu menyesal karena urung menunaikan niat itu, saya mencoba menenangkan diri sendiri dengan kalimat pamungkas, "gakpapa, emang belum rejekinya beliau."
Sepertinya saya lebih banyak mendapat cacian dari diri sendiri daripada orang lain, dan itu membuat jengkel memang. Ya gimana, ngasih sedikit rasanya kurang pantas, tapi kalo ngasih banyak sedikit bakat kikir saya melakukan perlawanan dengan cukup sengit.
Hingga akhirnya di satu waktu saya mendapat eureka moment, dari zakat. Dari dulu lihat zakat ya udah biasa aja sebagai kewajiban, dengan angka 2.5%-nya yang sering kali jadi acuan. Tapi gak tau setelah makan apa, tiba-tiba persenan itu menghujam dada saya, lalu saya melayang sambil mengeluarkan cahaya terang.
Jadi, menurut wangsit yang saya peroleh, berdasarkan angka 2.5% tidak ada sedekah yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, pas SKM lah. Dengan ini juga saya percaya, Allah menunjukkan keadilannya. Orang yang beramal uang seribu rupiah padahal hanya punya uang sepuluh ribu rupiah tentu nilainya akan jauh lebih besar daripada beramal sebesar satu juta rupiah saat orang tersebut punya tabungan seratus juta rupiah. Yang pertama besaran amal mencapai 10%, sedangkan yang kedua dihitung dengan 1%.
Memang besaran nilai sedekah adalah hal yang bisa dikesampingkan, karena keikhlasan lebih utama. Tapi sebagai dasar untuk menjawab persoalan yang kerap ditemui seperti pada paragraf awal, persentase 2.5% bisa menjadi pertimbangan untuk kita semua, khususnya saya sendiri. Dua setengah persen dari keuntungan, dua setengah persen dari omset, atau dua setengah persen dari gaji, semua masih apllicable.
Tapi namanya manusia ya ada aja yang bikin ribet. Udah ngerti standar yang pas, tema kelebihan pikir berpindah ke aspek pilah pilih yang "layak" menerima. Ada orang nih di depan mata yang kelihatannya butuh bantuan, ya masih ada lho alasan untuk ngelewatin dulu. Takut orangnya tersinggung, fisiknya yang masih sehat, sudah ada orang lain yang ngasih barusan, orangnya lagi ngerokok, hapenya ternyata android, pakai jersey Manchester United, dan alasan-alasan masuk akal namun kampret yang lain. Semua pasti tahu kalo "Dont judge the book by it's cover", ya sekarang tinggal berapa banyak yang milih buku sampul kalender bekas, dibanding buku dengan hardcover mengkilat padahal isi dan harga yang sama? Iya kan?
Berulang kali melakukan analisa sebelum berbagi membuat lelah juga, lelah karena butuh tenaga lebih dan lelah karena masak sih gak ada cara lain. Kalo sudah buntu gitu, biasanya Yang Maha memberi jawaban-Nya sambil bercanda "Ini lho jawaban, makannya jangan sok bisa jadi manusia! hehe". Pak ustad waktu ceramah bilang "berikan, lalu ikhlaskan", minblowing sekali!!! Awalnya saya gak terima, gimana saya bisa ngasih ke anak muda di jalan yang ngatur lalu lintas waktu perbaikan jalan, padahal tahu kalo malamnya mereka mabuk-mabukan? Atau gak mungkin saya ngasih uang jajan ke anak orang yang kaya, mending saya kasih ke anak yang lain. Harusnya, sekali lagi harusnya kan ikhlas dulu ya? Masak gak ikhlas mau ngasih, konsep yang saya pahami dari kecil jadi agak goyah, tapi tetep saya pelajari maksud tiga kata itu. Awalnya saya coba-coba, habis itu lha kok enak! Saya coba lagi lah kok makin enak! Lalau saya berpikir positif untuk tidak berhenti mencobanya, ehehehehe. Menenangkan sekali.
Kita dianjurkan untuk berbagi, bukan untuk mengadili. Kita cuma diminta merelakan, tidak mempertanyakan. Dan, masing-masing kita punya pilihan, biarkan Allah yang menentukan. Lanjut pak ustad, urusan kita adalah dengan diri kita, urusan uangnya akan digunakan seperti apa sudah bukan tanggung jawab kita. Di samping itu barangkali dengan memberi yang kaya, dia jadi menikmati nikmatnya mendapat sesuatu sehingga kemudian tergerak untuk berbagi juga. Berikan, lalu ikhlaskan.
Ya memang sulit sekali ikhlas, makannya mari tidak lekas lelah meminta agar diberi kemudahan untuk mengikis rasa pamrih itu. Juga marilah menghapus joke "banyak tapi ikhlas lebih baik daripada sedikit tapi tidak ikhlas", ini guyonan guru agama saya dulu yang wadidaw sekali. Tidak perlu berkecil hati jika memang sanggupnya bersedekah seribu rupiah, dan juga tidak usah merasa jumawa setelah membebaskan Pak Karno dan Bung Hatta dari dompet.
Harus y pak ada jersey MU nya😂
BalasHapus