Cukup Sekali Saja

Harusnya sudah dipersiapkan semua. Tapi seperti lainnya yang sudah-sudah, menghadapi sesuatu yang baru gak akan pernah bisa benar-benar siap, selalu ada yang tidak bisa dikendalikan.

Selasa jam 7 kurang, aku gak mau datang lebih lambat daripada yang kami sepakati Minggu malam. Parkiran sepi, seperti biasanya aku termasuk yang datang lebih dulu. Lantai atas yang memang tidak banyak dihuni tentu saja masih lengang. Sambil menunggu kubaca berita cetak edisi hari itu. 

Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi kletak..kletuk..kletak..kletuk... harusnya ini ritme jalannya. Dari balik kaca yang buram karena sandblast, terlihat sekali siluetnya. Hampir semua perempuan di sana berjilbab, tapi siluet ini, aku gak bakal terkecoh dengan yang lain. Tak berani menoleh lebih lama, kuteruskan membaca lagi, sialnya ia masih tampak dari ekor mata kanan. Semakin mendekati akhir halaman, semakin kencang pula detak jantung. Finish what you started!, aku berkata pada diriku sendiri, lalu memantapkan langkah keluar ruangan.

Ia tak ada! Padahal beberapa detik lalu masih terdengar ketukan sepatunya. Aku menuju ke ruang sebelah. Dari balik pintu tak dinyana keluarlah yang dicari. "Sudah jam 7 mas, mau ngobrol di mana?"

Lemes, kali ini jantung sudah tidak lagi berdetak kencang, malah ganti menjadi tidak beraturan, mau meledak beneran rasanya! Aku ambil segelas air mineral, meminumnya di atas meja, sambil mengumpulkan keberanian yang rontok terkena suaranya.

Menuju area terbuka, menuju ke tempatnya. "Gimana mas, mau ngobrol di ruang rapat?"

"Ruang rapat boleh, di situ juga boleh." Jawabku sambil menunjuk meja kerjanya. "Yaudah di sini aja." Aku duduk di seberang mejanya namun agak sedikit bergeser, kami terhalang monitor PC.

"Jadi, mau ngomong apa mas, aku sudah nyiapin catetan."

"Kayaknya gak perlu dicatet deh..."

Hening...

"Aku takut... Kemarin kan kamu yang takut, sekarang aku yang takut."

"Takut kenapa mas?"

"Emmm, takut aja, nanti bisa ngerusak mood kamu" alasanku yang terlontar, tapi utamanya takut karena perubahan yang pasti akan terjadi setelah ini, entah baik atau sebaliknya.

"Gakpapa mas, insyaAllah aku bakal siap apapun yang bakal diomongin, gak bakal ngerusak moodku"

Lega, sekaligus jadi ancaman. Kalo boleh diartikan itu adalah perintah. Lakukan sekarang atau tidak sama sekali! Sempat terpikir batal, tapi disinilah ujiannya. Dagu yang kutopang dengan dua punggung tangan yang saling bertaut, beberapa kali terpatut-patut mencoba menenangkan isi kepala. Mulut terbuka tapi tidak keluar suara kukira hanya di tontonan saja, ternyata terinspirasi dari kisah nyata, kisahku.

"Mohon maaf sebelumnya, tapi kayaknya aku harus ngomong ini, daripada nanti nyesel. A..a..ku kan suka kamu, mohon maaf kalo memang udah ada yang deketin kamu. Tapi, kalo belum, boleh gak aku kenal kamu lebbiih...?" Berhenti di situ, tenaga rasanya habis, hingga bicarapun menjadi seperti balita, terbata-bata. Bahkan untuk menatap matanya yang kurencanakan sebelumnya tidak bisa, buyar tidak karuan, rusak, hancur, parah, kacau sekali pagi itu.

Kemudian ia berterima kasih karena aku sudah ngomong, dilanjutkan dengan bicara kalo belum ada yang deketin, dan untuk permintaanku, dia mau mempertimbangankan dulu. Perlahan mulai kudongakkan kepala, memberanikan diri melihat wajahnya. Beutiful yet intimidating, ia berbicara lebih banyak dari yang kuperkirakan. Perasaan ingin membalas ada, tapi otot bibir masih berada di luar kendali. Jawaban-jawaban yang keluar pun sifatnya reaktif. Kisi-kisi yang kusiapkan sebelumnya tidak terpakai sama sekali.

Yang kuingat darinya adalah, dia harus solat meminta petunjuk dulu, dia membangun benteng yang tinggi karena pengalaman masa lalunya, dan sedikit curiga apakah aku benar-benar serius atau cuma main-main dan asal coba saja. Kalo yang keluar dari mulutku? Selain seperti yang kusebutkan sebelumnya, aku cuma ingat kalo aku ngomong suka sama dia dan mempertimbangkannya sudah cukup lama, ditambah kalo di umur segini sudah gak waktunya lagi buatku pacaran, sedang untuk ta'aruf gak ada walinya. Itu saja, yang lain menguap bersama embun yang diteriki matahari pagi.

Langkah kaki lain yang menaiki anak tangga terdengar jelas. Ia memberi isyarat dengan matanya. Sepertinya memang sudah harus segera disudahi, beberapa waktu lagi tempat itu akan ramai. Singkat sekali 30 menit pagi itu. Aku ijin solat dhuha dulu, dan sebelum pergi kusempatkan berbalik dahulu sambil mengucapakan terima kasih. Lengkapnya "terima kasih sudah mau dengerin aku" kalo didengar dalam hati.

Semoga cukup sekali ini saja, semoga kami berhasil, semoga Allah menyertai kami berdua, aamiin.

Komentar