Menyederhanakan Bahagia
Saya bingung melihat teman-teman saya yang punya cita-cita, rencana, atau passion. Saya yang dari dulu gini-gini aja sering bertanya pada diri sendiri, "Tugasmu di dunia ini apa?" Kalau menurut agama yang saya percayai ya tugas saya pasti jadi khalifah di bumi, tapi maksud saya tugas yang lain itu apa gitu lho? Ada yang tugasnya jadi pemimpin, ada yang tugasnya bikin sepatu, ada yang tugasnya nanam jagung, ada yang tugasnya ngelawak, dan banyak lagi peran yang dijalankan dengan sempurna oleh orang lain. Sedang saya? Semua serba tengah-tengah, kecerdasan sedang, jiwa seni medioker, keterampilan bisa banyak tapi gak ada yang ahli, hadeeehh...
Walaupun agak ngawur begini, saya masih bisa lah kalo denger ceramah asal gak terlalu panjang. Ya ceramah kan ya seputar itu-itu aja, dan kebetulan tema waktu itu tentang berbuat baik. Pernah dengar tugas kita di dunia untuk berbuat baik kan? Sama saya juga, berulang kali malah, tapi saat itu berbeda. Isinya sama, cuma pencerahannya yang agak lain.
"Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain", ujar pak ustad. "Lha iya tau pak, tapi guna saya ini apa?" jawab saya dalam hati. Sepertinya pak ustad bisa membaca pikiran saya, beliau menjawab "Berbuatlah baik dengan apa yang kamu miliki! Jika kamu punya uang bantulah dengan uangmu, jika tenagamu berlebih bantulah dengan tenagamu, jika kamu pandai ajarilah mereka dengan ilmumu, jika kamu tidak memiliki apapun, bantulah dengan senyummu karena dengan senyum itu bisa membahagiakan orang lain."
Ajaib! Kalimat pertama akan membuatmu tercengang! Saya gak pernah kepikiran sampai ke situ, apalagi kalimat pertama benar-benar membuka pandangan saya. Seringkali saya merenung kenapa Allah memberi saya semua ini, bahkan saya pernah sampai "mempertanyakan" pemberian-Nya ini, apakah ini benar rezeki dari-Nya atau malah istidraj karena tingkah polah saya dahulu yang liar. Tapi semenjak mendengar pak ustad pertanyaan itu saya ubah menjadi prasangka baik. Bisa jadi Ia menitipkan sebagian rejeki hamba-Nya yang lain melalui saya. Siapa yang tidak bahagia jika ditakdirkan baik seperti ini?
Berbagi yang dulu berat, perlahan kini mulai ketemu titik menyenangkannya. Mengambil secukupnya, dan berderma sekuatnya memberi arti lebih dalam menjalani hari-hari yang berat. Ingin motor bagus, ganti hape dengan kamera boba, atau plesiran mewah sangat bisa direm. Bukan menghilangkan, hanya mengurangi saja. Dulu ingin motor bagus sekarang jadi ingin motor yang nyaman, dulu pengen ganti hape kamera boba sekarang asal masih nyala okelah, dulu ingin plesiran mewah sekarang liburan ala backpacker juga gak kalah menyenangkan. Nah kalau sudah gitu anggaran jadi surplus kan, ya itu sekarang yang bisa di refocussing ke pos berbagi.
Bukan berarti meninggalkan kemewahan, cuma berganti orientasi untuk senang bersama-sama. Saya yakin paling gak seumur hidup sekali kita pernah memberi sesuatu secara langsung kepada orang lain. Masih ingat rasanya? Rasa bahagia saat melihat yang lain bahagia, rasa lega karena bisa membantu yang lain, sulit dituliskan tapi hangatnya masih bisa terasa.
Sekali-kali boleh juga memanjakan diri, membeli sesuatu yang mewah dengan uang sendiri, toh itu juga disuruh. "Tuhan suka jika hamba-Nya menunjukkan nikmat pemberian dari-Nya" gitu katanya. Yang perlu menjadi perhatian kita semua, kemewahan itu relatif. Perkenankan saya bercerita.
Dulu waktu kuliah setahun di Malang saya sama sekali gak pernah makan ayam tepung dengan maskot badut yang terkenal itu, maklum uang saku lima puluh ribu seminggu paling mentok ya cuma jajan bakso biar gak cepet habis. Sedang sekarang, bisa dikatakan tiap hari makan gituan pun tabungan masih lebih-lebih. Nah yang membuat relatif itu ya kemampuan konsumsi tadi. Jika waktu kuliah ayam tepung terkenal itu bisa dikatakan makanan sekali setahun, kini berubah jadi makanan sehari-hari. Jadi kalo sekarang mau bikin acara mewah, minimal ya harus steak daging dengan jenama Sapi Suci, jadi ribet kan? Bandingkan dengan kalo makan sehari-hari yang biasa aja, nasi goreng, gado-gado, atau sate. Lalu sekali seminggu baru kita milih fast food yang kita suka, ingat ya seminggu sekali gak boleh lebih! Menu sama dengan rasa yang sama bisa memberi efek yang berbeda, padahal hanya sedikit mengganti kebiasaan saja.
Ya memang tiap orang tidak bisa langsung ketemu gaya yang pas, tapi saya yang berasal dari desa cukup beruntung karena bisa belajar langsung dari kesahajaan orang-orang desa. Hidup santai, sesekali ambisi tapi tidak sampai yang muluk-muluk. Kalo di desa mah biasa ambisinya punya rumah bagus atau anaknya jadi sukses, kalo sudah tercapai ya berhenti. Tidak jarang saya mendapat cerita-cerita seperti itu, yang terbaru ketemu dengan seorang blantik atau tukang jual beli sapi. Ia mengaku dari harga sapi yang berjuta-juta dia hanya mengambil laba antara lima ratus ribu hingga satu juta saja. Anaknya pun mempertanyakan keputusan bapaknya, tapi beliau menjawab "asal yang beli seneng, itu sudah cukup buat saya."
Dunia dengan globalisasinya menuntut orang bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Katanya, orang yang malas akan ditinggal. Maka daripada itu mari jangan jadi orang malas, jadi aja orang santai. Hidup boleh ambisi, tapi punyailah jangkar yang kuat biar gak kebablasan sampai merusak yang seharusnya bisa dijaga. Merasakan mewah karena diri sendiri perlu hadiah boleh, asal jangan keseringan biar gak sulit mencari kemenangan-kemenangan kecil yang membahagiakan. Dan jangan lupa berbagi, karena berbagi menentramkan hati.
Tidak ada salahnya menjadi biasa, agar bahagia bisa benar-benar sederhana.
Komentar
Posting Komentar