Investasi (Yang Tidak) Menjanjikan Return
Trend ini, trend melek investasi yang bisa jadi sebuah blessing in disguise dari pandemi. Terutama bagi kaum muda, orientasi sekarang banyak yang bergeser ke persiapan masa depan. Rasa perih tanpa uang tanpa kerja menjadi pelecut meledaknya paradigma baru di Indonesia. Seminar, konten audio visual, artikel, hingga tips instan merebak membanjiri ruang maya. Seperti halnya apapun yang tiba-tiba, pasti ada marabahaya yang jadi penumpang gelap. Siapa kali ini korbannya? Sayangnya mereka yang butuh dibantu malah terjerembab lebih dulu. Sudah jatuh tertimpa ekspektasi ibaratnya. Uang pesangon yang diperoleh karena terdampak "efisiensi", dengan lancarnya dipertaruhkan pada instrumen yang menjanjikan kekayaan. Memang dilihat dari trend, cryptocurrency yang booming bisa menjadikan orang kaya mendadak, tanpa disadari juga membuat miskin mendadak.
Mengenal lebih dulu, mempelajari, belajar terjun langsung dengan uang dingin, itu yang kata pemateri seminar harus dilakukan dalam berinvestasi. Sayangnya para spekulan ini internetnya ngelag waktu materi itu, dan pas potensi keuntungan yang akan didapat tiba-tiba resolusi videonya jadi 1080p HD.
Untungnya fase kelam itu tidak berlarut-larut. Orang-orang kembali ke equilibrium lama, dan pelan-pelan menuju equilibrium baru. Diresapi pelan-pelan, belajar pelan-pelan, hingga tidak sedikit teman saya yang akhirnya bisa berulang kali posting cuan (yang bagi saya termasuk kata mengganggu belakangan).
Saya mencoba mengikuti trend ini juga, tidak karena FOMO, tapi memang baru tersadar juga sama seperti yang lain. Tapi dasarnya saya condong ke konservatif dan tidak terlalu banyak alokasi uang dingin, ya jadinya lelet sekali perkembangan portofolio saya. High risk high return berubah menjadi high risk high blood pressure di saya. Tidak bisa menikmati proses, malah kemrungsung hati ini melihat angka-angka merah bertebaran. Lalu tercetus di benak, kalo uang saya nanti sudah banyak mau saya apakan? Meme yang gambarin waktu muda sedikit uang tapi banyak tenaga sedang waktu tua banyak uang tapi sedikit waktu, kayaknya ada benarnya juga? Ditambah perkataan pak kyai kalo rejeki adalah yang sudah kamu gunakan, kalo belum digunakan berarti belum rejeki juga membuat saya harus berpikir ulang untuk melanjutkan di dunia investasi ini.
Keinginan kaya dan kegamangan akan kekayaan berseteru hebat. Sama-sama punya alasan untuk menang, tapi karena harus ada pihak yang kalah, maka rambut saya jadi korbannya. Ini tidak bisa berlarut-larut, karena jika terlalu lama maka uang tidak kunjung tambah, rambut kian menipis malah.
Akhirnya saya menemukan investasi yang sesuai dengan saya. Saya yang memang tidak bisa lepas dari kehidupan desa tercerahkan karenanya. Investasi yang bersifat immateri dan mengutamakan sesuatu yang tak kasat mata.
Mari mulai dengan olahraga sebagai investasi. Banyak yang ngerti kalo sehat itu penting, tapi yang mengupayakannya? Saya pun malas. Hingga akhirnya dokter menyarankan saya olahraga untuk mengatasi alergi dingin saya, alergi yang gak masuk akal bagi saya karena dari kecil sudah tinggal di dataran tinggi. Alhasil invest-lah saya pada sepatu tiga ratus-an ribu dan digunakan lari barang 15 menit dua minggu sekali. Semoga bisa menghemat biaya rumah sakit yang berjuta-juta di tahun mendatang. Masalah utamanya investasi olahraga ini satu, malas. Hingga sekarang saya belum ketemu cara mengatasi ini.
Dari desa, saya juga belajar investasi nirmateri berikutnya, mengenai nrimo ing pandum. Invest kepada diri sendiri, investasi menjadikan diri sendiri yang tidak terlalu mengejar dunia. Dunia tidak dibawa mati, begitu mbah-mbah mengajarkan. Asal bisa untuk hidup hari ini sudah cukup kata mereka. Namun dengan perkembangan jaman seperti ini sepertinya tidak buruk pula kalo kita menambahkan ngendikan mbah tadi hingga menjadi "asal bisa untuk hidup hari ini, dan persiapan anak kelak maka sudah cukup". Lagi-lagi ini juga investasi tidak mudah. Dari gaya hidup yang dipaksa konsumtif oleh iklan-iklan yang menyempil di sela-sela feed Instagram atau lima detik sebelum video YouTube mulai, menjadi hidup serba menerima dan cukup dengan yang ada. Jauh sekali perbandingannya, bagaikan langit dan bumi, kutub utara dan selatan, kamu dan dia. Tapi itu bisa, pelan-pelan saja, karena yang tergesa-gesa banyak mudharatnya.
Yang terakhir, investasi dengan berbagi. Dari dulu semua sudah tahu kalo berbagi itu baik, tidak ada agama yang mengajarkan sebaliknya sependek pengetahuan saya. Kalo yang saya imani, berbagi sesuatu bahkan bisa dibalas dengan 700 kali kebaikan. Saya dari dulu percaya sekali dengan ini. Ya memang beberapa pendakwah bilang tidak seyogyanya berbagi dengan modus mendapatkan imbalan materi. Kewajiban kita itu berbuat baik, kalo mau minta timbal balik nanti namanya dagang dong. Tapi tidak sepenuhnya salah kalo memang yang diharapkan seperti itu, semua orang bisa mendapat cahaya dari jalan yang berbeda-beda, toh Allah memang janjinya gitu. Kalaupun tidak mendapat balasan di dunia, kita kan masih percaya kalo ada hidup kemudian di akhirat, dan Allah pasti membalas kebaikan walaupun ukurannya cuma sebiji atom.
Setidaknya itu yang bisa saya pelajari waktu lihat-lihat sekeliling. Sebagai generasi kekinian, saya juga tidak memungkiri ikut berinvestasi, cuma yang santai-santai saja kalo sekarang mah. Ada reksadana yang saya percayai mengelola sekumpulan dana yang saya miliki sekaligus bisa menghindarkan saya dari darah tinggi. Ada juga emas sebagai pelindung nilai di masa depan. Mungkin di masa depan kalau sudah matang saya bisa terjun di saham atau cryptocurrency jika memang sudah halal. Masih terbuka semua kemungkinan bagi saya, cuma tidak mau terburu-buru saja. Karena saya juga sepertinya bingung kalo uang saya banyak wkwkwkwkwk.
Hidup senang adalah investasi terpenting, mensyukuri nikmat pemberian-Nya sambil bisa tetep terus berbuat baik. Karena kebebasan finansial tidak ada apa-apanya dibanding kebebasan hati. Dan seyogiayanya manusia hanya menghamba pada Tuhan mereka, tidak pada yang lain, dunia, dan segala pernak-perniknya.
Komentar
Posting Komentar