Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri

Di suatu waktu, ceritanya ketemu saudara jauh yang lama gak tampak. Ya sebagai saudara tentu senang-senang saja bisa bersua kembali, ngobrol ke sana ke mari membahas apapun yang terlintas di siang itu. Lalu di tengah pembicaraan, dia menyarankan untuk berlibur ke salah satu tempat rekreasi yang terkenal di Malang, menyenangkan sekali dan gak mengecewakan ujarnya memberi testimoni. Di internet memang sudah ramai cerita tentang tempat itu, dan saya memang punya rencana ke sana juga, cuma terkendala kesempatan aja. Si Saudara ini menjelaskan dengan detail dan bersikukuh menyuruh saya secepatnya.
 
"Enak! Langsung gassss boiii! Nunggu apa sih? Nanti keburu tutup lho!" ujarnya berapi-api.
"Iya, saya juga pengen ke sana mas, tapi masih nunggu momen ini, hehe..."
"Saya kemarin naik wahana-wahana seru, pemandangannya bagus, tiketnya juga murah boi!"
"Iya mas, mantap sekali memang, saya kemarin lihat di Youtube, hehe..."
"Pokoknya, menurutku cepetan ke sana deh, enak bangeeettttt!!!"
"Iya mas, semoga bisa secepatnya bisa ke sana, hehe..."

Dan mendekati kebuntuan dialog, topik pembicaraan bergeser ke pembahasan MU bapuk yang sekarang lagi males main di Liga Champions, ah fakingsyit memang klub kocak itu beberapa tahun terakhir.

Skenario yang familiar bukan? Ha, bukan?! Gini-gini, coba diganti bahasan rekreasi itu dengan nikah, pekerjaan, lulus sekolah, bentuk tubuh atau topik-topik yang sering kali dinilai sensitif bagi kebanyakan orang. Nah gimana sekarang? Jadi punya gambaran kan mau ke mana arah pembahasan saya? Ehe.

Selalu berulang tiap tahunnya, di momen yang sama dengan keresahan yang sama. Lebaran idul fitri yang seyogyianya menjadi hari kemenangan bagi semua khususnya bagi umat Islam yang merayakan, malah menjadi hari yang dinantikan cepat selesainya dan kalo bisa diskip saja.

Pembahasan sensitif tidak lagi dianggap sensitif bagi sebagian orang, dan menjadi semakin sensitif -kalo tidak mau mengatakan intimidatif- bagi sebagian yang lain lagi. Kebanyakan pembicaraan itu terjadi atas nama "basa-basi", supaya hilang jarak yang terbentang sejak setahun terakhir.

Tidak ada yang salah dari kedua pihak menurut saya, sebagaimana hal-hal lain yang sulit ditentukan titik mutlak hitam dan putihnya. Namun agar tercipta masyarakat madani, tentu perlu diupayakan mencari jalan tengah demi kemaslahatan bersama.

Tak terbilang berapa banyak retweet di Twitter yang merayakan thread-thread (utas) "keberhasilan" seorang me-sekakmat-kan orang lain karena dianggap tidak peka terhadap isu sensitif. Jujur, sebagai orang yang merasa senasib seperjuangan saya juga ikut bangga akan "kemenangan" ini. Setidaknya begitulah saya beberapa tahun lalu. Kalau sekarang perasaan senasib seperjuangan itu juga masih ada sih, cuma rasa "kemenangan" itu yang tidak saya rasakan lagi.

Karena bagi saya tidak ada yang salah dan benar, maka konsekuensinya juga tidak ada yang kalah dan menang. Hasilnya malah lebih baik dari sekedar perasaan "bangga akan kemenangan", entah apa sebutannya, mungkin yang paling mendekati ya rasa tenang, tenang karena bisa menghadapi semua pertanyaan ini.

Mari kita telaah lagi, seberapa sering kita bertemu seseorang yang masuk spesies manusia kurang sensitif dalam satu tahun? Saya kira angka tiga itu sudah terlalu banyak. Dan yang bertemu kita melebihi angka tersebut gak sampai setengahnya bertanya tentang perihal di atas. Karena kalau sering bertemu tentu banyak sekali materi yang bisa dibahas, toh sama-sama ngerti kesukaan satu sama lain kan? 

Nah kalo gitu, kenapa gak kita anggap saja pertanyaan tadi mirip pertanyaan basa-basi lain seperti "sudah makan belum?", "tadi mandi jam berapa?", atau "kemarin sudah belajar apa aja?". Memang sih pertanyaan tadi lebih cocok ditujukan ke anak SD, tapi bukan berarti anak SD tidak lebih pintar dari kita kan? Walaupun masih piyik gitu mereka lebih ahli lho mengelola emosi ketimbang kita, wong siang berantem sorenya sudah ngaji bareng sama temen yang diajak berantem tadi. Jadi gak ada dong salahnya belajar ke anak SD, untuk menjawab setulusnya dan gak terlalu mengambil hati.
 
Para penanya itu baik, cuman caranya mungkin kurang tepat bagi kita. Gimana gak baik, mereka kan ngajak atau nyuruh karena mereka sudah nyoba dan terasa menyenangkan buat mereka. Kalaupun ada cerita yang gak baik tentang membangun keluarga, upaya membentuk tubuh yang ideal, atau bekerja di bidang tertentu tentu sangat sedikit proporsinya dibanding keseluruhan. Sama kan kayak ajakan ke tempat wisata di awal tulisan ini. Kita tahu kalo di tempat rekreasi itu menyenangkan, tapi kan ada juga orang mengalami ketakutan waktu masuk rumah hantu, muntah setelah naik roller coaster, bahkan ada yang meninggal saat berenang. Tinggal kita fokusnya ke yang baik atau yang kurang baiknya.

Akan sangat berbeda alih-alih bersikap memaklumi pertanyaan mereka sambil menganggap itu doa, kita malah berusaha meraih kemenangan dengan kalimat-kalimat pamungkas tak terbantah. Mendengar atau membaca kisah orang lain yang sukses membungkam penanya-penanya unik itu bisa membuat kita ikut puas, apalagi kalo kita sendiri yang berhasil, berapa kali lipat kepuasan itu? Tapi kan ya namanya manusia, sekali puas akan coba terus untuk meraih dan meningkatkan kepuasan itu. Sampai mana? Entah. Sayangnya saat kita mengejar kepuasan itu, bisa jadi kita lupa berapa hati orang yang tersakiti karena kita. Toh di thread itu cuma cerita waktu kejadian sekakmat itu saja, tapi si TS (thread starter) gak pernah cerita gimana proses overthinking karena merasa bersalah di malam-malam berikutnya.

Ya paling pas menurut saya utas seperti itu jadi pengingat aja buat kita biar gak nanya yang aneh-aneh ke orang lain, bukan jadi pasal untuk ngelarang orang lain nanya aneh-aneh ke kita. Karena yang bisa kita kontrol diri kita sendiri dan cara kita menyikapi orang lain. Lha terus sikap orang lain mau digimanain dong? Ya didoain dan disenyumin aja lah. Percuma juga dilawan, orang lawan Firaun yang jelas absurdnya aja disuruh nasehati doang, apalagi cuma mac-mac pack-pack biasa.

Sudah belajar nahan sebulan buat dilepasliarkan di hari kemenangan ya eman-eman sih kalo kata mbah. Jika memang kebelet menang, coba aja menang dalam pikiran sendiri. Bikin skenario-skenario percakapan di mana kita bisa puas membantah pertanyaan mereka. Biasanya bisa tuh pas solat, waktu imajinasi lagi aktif-aktifnya apalagi bacaan imamnya panjang-panjang wekekek. 
 
Jawaban pendek-pendek seperti percakapan di awal tulisan ditambah sedikit gestur biasanya sudah bisa memberi sinyal kekurangnyamanan kepada si penanya. Kalo orang normal sih cepet paham dan segera mengubah arah pembicaran. Tapi kalo tetep ngotot? Mungkin waktu bertamu dia kebanyakan makan Inaco, jadi otaknya lembek kayak jeli.

Semoga Allah mengampuni kita, dan meridhoi serta menerima ibadah kita yang tidak seberapa di bulan Ramadhan, aamiin :)

Komentar

Posting Komentar