Iut
Iut, sebelumnya maaf kalo sekiranya ada kesan aku mau membohongi kamu, tapi sebenarnya tidak sama sekali. Harusnya ini aku bahas jika memang kita sudah sepakat untuk lanjut ke langkah selanjutnya, tapi sepertinya hanya ini kesempatanku untuk menyampaikan semuanya. Setelahnya, bergantung padamu, aku cuma bisa berdoa.
Perkenankan aku mengulang kronologi dari awal. Dulu, saat kamu pindah ke Gresik aku masih kuliah, gak kenal kita satu sama lain, malah aku tau kamu dari temenku duluan. Ingat aku dulu pernah bilang ada temenku yang suka kamu dari kantor Malang? itu memang benar, namanya Awan. Aku bahkan gak ngerti sespesial apa kamu waktu itu bisa sampek terkenal ke luar kantor.
Lompat setelah balik dari tugas belajar, akhirnya ketemu kamu juga, biasa aja menurutku, karena masih ada Ren. Tugas di perbatasan Gresik tidak memungkinkan bertemu secara sering denganmu.
Lalu masuklah periode waktu aku kumandah ke daerah yang lebih dekat. Tiap pagi bisa sowan dulu ke kantor, ketemu anak-anak, bisa bercanda, sesekali juga ngobrol sama kamu. Tapi tetep masih biasa aja, gak ada rasa lebih, lagi-lagi karena masih ada Ren walaupun aku tahu juga kesempatan waktu itu tinggal 1%.
Ya mungkin saking lamanya tugas bareng pak Setio, jadi lama-lama topik pembicaraan sudah mulai masuk ke ranah privat. Beberapa kali beliau menanyakanku apakah tidak tertarik dengan anak perempuan di kantor, dan kujawab gak ada, memang gak ada karena aku sudah memberi batas yang jelas kalau tidak mau mempunyai pasangan yang sepekerjaan. Pun waktu beliau menyarankan kalo mending milih kamu aja, aku tetep nolak, "Dia memang cantik ndan, tapi kalo dijadikan pasangan kayaknya saya belum bisa." seperti yang aku sampaikan beberapa hari yang lalu ke kamu. Sudah mulai tertarik, tapi logikaku masih bisa membendung perasaan yang ada.
Sebenarnya bukan mutlak membatasi untuk tidak menikahi yang sepekerjaan, tapi karena jaga-jaga. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, terutama masalah anak dan orang tua. Aku bisa dengan mudah adapatasi dengan seseorang, tapi masalah orang tua dan anak yang jadi konsen utamaku. Tentu pasanganku ingin berbakti dengan orang tuanya, begitupula aku. Sedangkan untuk anak, sifat pekerjaan yang menyulitkan untuk bersama dalam waktu yang lama pasti akan berdampak pada pola pengasuhan anak, bahkan bisa jadi merugikan. Itu yang jadi pertimbagan utamaku, secara kedua orangtua ku sebagai role model selalu menemaniku mulai kecil.
Lompat lagi beberapa waktu kemudian. Entah habis denger ceramahnya siapa, aku jadi merasa sadar. Semua kekhawatiranku sebelumnya karena aku sombong saja. Semua harus kupikirkan pemecahannya, hingga lupa ada Yang Maha Mengatur. Mulailah terkikis batasan untuk tidak menikahi yang seperkerjaan. Dengan segala pemikiran yang mulai berubah, akhirnya aku mulai terbuka dengan opsi berpasangan dengan yang sepekerjaan.
Aku tahu kalo kesempatan untuk bersama Ren juga semakin berkurang, dan memang sudah pasrah. Doaku cuma semoga aku diberi kesempatan untuk ngomong ke dia, bahkan keinginan untuk bersamanya hampir tidak kupelihara lagi. Terima kasihku kepada kelogisanku sendiri yang bisa dengan mudah mengalahkan rasa.
Memulai babak baru, karena tidak terlalu banyak kenal perempuan, mengerucutlah dua nama, kamu dan satu perempuan lagi. Sebenarnya orang tua sudah menawari beberapa calon, tapi aku bersikukuh menolak, rasanya aku gak sanggup membersamai orang yang tidak pernah kukenal sebelumnya.
Singkat cerita, seperti yang sudah tak sampaikan, aku memilih kamu. Sama-sama belum kenal dekat banget, tapi kamu punya nilai lebih dari segi agama, sedang dia nilai lebihnya dari homebase. Bukankah di hadis disuruh memilih karena agamanya? bukan karena homebase kan?
Aku gak berani lanjut menambah rasa ke kamu, kalo memang belum selesai sama Ren. Tidak adil rasanya untuk berdiri di dua sisi bersamaan. Sama saja aku sudah mainin kamu, dan sama sekali gak bisa ditolerir.
Sampailah kita di cerita Ren menikah, aku datang ke nikahannya, aku menyampaikan selamat, suratku juga sudah dibalasnya lewat dm instagram, selesai. Aku tahu kalau itu bakal sulit, yang gak aku tahu kalo hal itu bukan cuma sulit, tapi sulit sekali. Pertama kalinya aku paham kenapa ada orang yang rela bunuh diri karena ditolak pujaan hatinya.
Kali ini tidak ada beban lagi. Kuajukan pilihanku ke ibu, kamu dan dia aku ajuin barengan. Meskipun setelah solat istikharah beberapa kali mantapnya jatuh ke kamu, tapi aku tetap mengajukan dua nama. Beliau setuju waktu melihat fotomu, insting ibu jarang meleset soalnya. Tapi setelah tahu kamu dari Lombok, beliau agak ragu. "Mbok yang dekat-dekat aja le." pintanya. Agak lama untuk meyakinkan ibu, hingga akhirnya luluh juga, "asal anakku seneng, ibuk ikhlas." That's it, yang saya butuhkan itu untuk maju lebih jauh lagi, karena aku gak mau restu orang tua bakal jadi penghambat di belakang. Dan satu tahun lebih, waktu yang aku butuhkan untuk bener-bener ketemu momen yang pas buat bilang kalo aku punya rasa lebih ke kamu.
Itu semua kronologi dari awal hingga Senin kemarin. Mungkin bebepa terlewat, tapi mohon dimaklumi. Sekarang bagian untuk menjawab keraguanmu.
Apakah hatiku benar-benar kosong dari Ren? Iya. Apa buktinya? tidak ada. Jujur memang tidak ada, kamu yang ngomong sendiri kalo gak ada yang tahu isi hati seseorang. Tapi ya itu jawabanku, berapa kali ditanya aku akan tetap menjawab kosong. Kalaupun ada ya seperti tak sampaikan tadi, isinya bukan Ren, tapi teman perempuan yang aku sendiri sudah janji kalo bakal jaga dia, hingga salah satu dari kita menikah, dan dia juga tahu komitmenku ini.
Apakah bisa seseorang yang sudah lima belas tahun suka satu hal, tiba-tiba kosong begitu aja? kelihatannya tidak mungkin kan? Sayangnya jawabannya mungkin. Aku sudah cerita kan berapa belas kali aku sudah ngalamin dihancurin begini. Dihancurin sama yang aku kagumi, juga dihancurkan sama ekspektasiku ke Ren. What doesn't kill you make you stronger? Isn't it? Saat yang lain butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan untuk pulih, aku ingat betul cuma butuh 4 hari untuk recover. Hari pertama pengen nabrak truk, hari kedua membajingankan Tuhan (yang mana sangat tidak layak bahkan harusnya neraka sih), dan sisanya cuma bisa mengutuki diri sendiri dengan seandainya-seandainya. Setelah itu? poof.... Mungkin kamu lupa kalo aku pernah buat story galau terus kamu semangatin paginya, tapi coba tanya Tri atau Ika, sepertinya mereka ingat. Five stage of grief benar-benar berlalu dengan cepat, sekali lagi terima kasih pada kekuatan logika sendiri.
Semua terdengar bualan, aku pun mengaminkan walaupun bisa kujamin tidak. Buktinya tidak membual apa? Aku membuat ini secepatnya, biar gak ada kesan kalo aku mencari-cari alasan.
Dari tadi beberapa kali aku berterima kasih sama kemampuan berpikir logisku. Meskipun sekuat itu logikaku tapi tetep kalah sama rasa yang muncul ke kamu. Aku sudah bilang kemarin seperti ini bukan? Gimana aku melawan diriku sendiri yang menyukaimu. Ketika rasa bilang kamu cantik, toh masih ada Ana yang juga cantik. Waktu rasa bilang kamu kaya, aku gak terlalu butuh kekayaanmu, bahkan saya bingung kalo punya banyak duit. Sekali lagi, setahun lebih pemikiranku men-challenge rasa, dan toh kalah juga. Rasa yang akhirnya dengan bangga bilang "Dia orangnya".
Aku tahu meskipun sepanjang ini menulis, tapi tidak ada jaminan kamu pasti langsung kambali percaya ke aku, aku sangat paham dan menghormati itu. Tapi dari panjangnya tulisan ini aku cuma mau menyampaikan maksud kalo aku memang bener-bener suka, dan serius ke kamu. Rasanya pengen ngomong sayang, tapi itu mungkin disimpan saja hehe.
Kalaupun kamu tidak bertemu tulisanku di blog, pasti aku akan cerita ke kamu juga saat mencapai tahap selanjutnya, seperti janjiku waktu jawab pertanyaanmu di chat. Karena aku gak mau bohong tentang apapun, termasuk masa laluku. Kelihatannya akan jahat, jika aku tiba-tiba saja membahas ini waktu di pertengahan hubungan.
Semua orang boleh tahu suratku ke Ren, tapi tidak ada yang tahu kronologi utuh ceritaku ke Ren seperti yang aku sampaikan tadi, tidak juga ibu. Kenapa aku berani cerita ke kamu? karena aku sudah percaya sepenuhnya ke kamu, dan aku juga berharap kamu begitu ke aku.
Rasanya sulit untuk memulai sesuatu hubungan tanpa saling percaya, dan sayangnya percaya itu milik orang lain, sama sekali gak bisa kita kontrol. Lagi-lagi aku cuma bisa berdoa supaya kamu percaya sama yang aku jelasin, baik bicara tadi pagi ataupun lewat tulisan ini.
Kalaupun memang kamu masih gak percaya juga silakan, gak ada hak aku untuk memaksamu percaya. Tapi kalau boleh, 6 bulan lagi, yang mana satu tahun dari surat ke Ren, aku akan tanya lagi kamu, sekaligus bukti kalo memang aku sudah benar-benar kosong, persis seperti omonganku hari ini. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalo memang sudah kisah lama, kamu bisa menerimanya?
Tenang saja, kamu gak perlu ngelakuin hal yang sama. Kalau memang ada yang lebih dulu dariku dan mampu meyakinkanmu, ya gaaaassss saja sudah. Oh iya, kan yang mau masuk ke Gresik anak daerahmu juga, pas kan satu daerah hehehe. Kalaupun sebelum enam bulan itu benar-benar kejadian, aku ikhlas kok, my prayer goes with you :)
Komentar
Posting Komentar