Manchester United Tidak Akan Kembali Juara Siapapun Pelatihnya, Kecuali...

Pelatih baru (lagi), harapan baru (lagi).

Manchester United yang dulu digdaya, sekarang hanya jadi bulan-bulanan belaka. Ketika ekspektasi tidak bertemu realita, pelatihlah yang jadi sasaran tembak.

Dan kemudian. Pelatih baru (lagi), harapan baru (lagi).

Cukup lelah mengalami ini sebagai fans yang sudah mulai teken kontrak sejak tujuh belas tahun lalu. Bukan lelah dengan ketiadaan gelar, tapi lelah dengan semua harapan yang berlalu lalang. Hanya saja pada kesempatan kali ini, saya enggan menyalahkan manajer. Tidak banyak yang menuntut tanggung jawab kepada pemain, dan saya ingin menjadi bagian dari yang sedikit itu.

Sebelum membahas pemain, mari coba kita tengok beberapa musim ke belakang, selepas pensiunnya pelatih legendaris Sir Alex Ferguson (SAF). Beliau menunjuk pelatih sesama Skotlandia, David Moyes untuk menjadi suksesornya setelah pilihan utama Jose Mourinho menolak menjadi penerus. Start yang menjanjikan dibuktikan lewat gol-gol yang dilesakkan anak didiknya. Permainan mengalir seakan tidak banyak pengaruh atas pensiunnya SAF. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sedikit demi sedikit permainan menjadi aneh, unsur ke-emyu-an yang dirawat SAF terkikis tipis-tipis. Moyes meninggalkan Manchester tanpa satupun piala.

Kemudian Giggs yang sebelumnya menjadi asisten Moyes dipromosikan menjadi caretaker, sambil menunggu pelatih tetap berikutnya datang. 

Dan tidak perlu menunggu lama, yang ditunggu tiba. Sebuah nama besar. Louis van Gaal. Penikmat bola modern pasti kenal dengan pelatih ini. Taktik yang diterapkannya hampir selalu membawa buah manis bagi klub yang diasuh. Buah itu pun akhirnya dirasakan MU dalam bentuk piala FA. Sayangnya piala itu saja tidak cukup, fans merasa rendah diri karena MU masih saja kalah saing dengan big four. van Gaal akhirnya terdepak.

Keinginan dan kebutuhan bertemu, itulah definisi kontrak dengan Jose Mourinho. Antara keinginan SAF atas dirinya, juga kebutuhan klub mencari pelatih baru berkualitas berjumpa di persimpangan. Pendukung mulai menghitung-hitung berapa trofi yang akan dibawa dengan membandingkan capaian masa lalunya baik di Porto, Inter Milan, Chelsea, juga Real Madrid. Pemain-pemain mulai didatangkan sesuai permintaannya. Awalan yang baik pun disajikan Mourinho. Tapi di akhir, ia "hanya" bisa mempersembahkan sebuah piala tier 2 liga Champions, sebuah piala ciki, dan sebuah Community Shield. Memang meski hanya itu, tapi setidaknya piala Liga Eropa merupakan piala bergengsi yang didapat MU selepas kepergian SAF hingga sekarang. Saya pun paham betapa pentingnya gelar itu bagi MU. Hanya saja, Mou adalah pelatih yang bagi saya lebih baik tidak melatih MU sama sekali. Kenapa? Karena dampak merusaknya yang menyedihkan. Ia memaksa meredam permainan MU menjadi sekadar parkir bus, dan juga hampir saja mematikan talenta-talenta akademi dan pemain muda yang menjanjikan.

Fans lagi-lagi pundung dengan pelatih, dengan Mou. The Special One ujungnya diganti oleh Ole, the baby faced assassins. Banyak fans pesimis dengan pergantian ini. Capaian Ole yang biasa saja sepanjang karir kepelatihannya patut dipertanyakan, sejauh mana ia bisa membawa MU berlayar. Hingga kemudian ia membungkam pesimisme itu. Laga demi laga dijalaninya dengan kemenangan, ia pun akhirnya dihadiahi kontrak permanen. Chants Ole at The Wheel berkumandang di Old Trafford. Si legenda telah kembali, dengan peran yang berbeda. Dan tidak ada yang tahu sejak kapan, magis yang dibawanya perlahan hilang. Kekalahan demi kekalahan kembali dikantongi United. Ole at The Wheel berubah menjadi OleOut. Keluarga Glazer pun mengiyakan tuntutan fans.

Lagi-lagi asisten pelatih kembali dipercaya memikul beban berat kepelatihan. Giliran Carrick yang harus menjadi penyokong agar MU tidak ambruk sepenuhnya. 

Ralf Ragnick kemudian datang dengan iming-iming direktur sepakbola terbaik di Eropa, yang mampu menemukan bakat-bakat cemerlang tersembunyi. Banyak elemen MU yang bersorak sorai dengan kedatangan pria berpaspor German ini. Sampai akhirnya gemuruh itu berubah menjadi keraguan. Kabar miring dihembuskan dari arah klub lamanya, Locomotiv Moscow. Mereka malah bersorak ketika Ragnick pergi, sebuah tanda tanya besar mengingat gelar "terbaik" yang disandangnya. Sampai kemudian isu itu dirasakan sendiri oleh MU. Ragnick meninggalkan klub dalam kondisi yang amburadul.

Terakhir datanglah pelatih yang digadang-gadang akan membawa tsunami trofi. Erik ten Hag diboyong untuk merasakan sendiri atmosfer Stretford End. Tidak seperti pendahulunya, ten Hag lumayan goyang di awal kedatangannya. Gaya blak-blakannya tidak cocok dengan media Inggris. (Sepertinya) Sadar dengan yang terjadi padanya, ia perlahan mengubah sikap, menyesuaikan dengan lingungan baru, dan berhasil mengurangi gesekan yang tidak perlu. Skuad peninggalan pelatih lama yang ia pegang cukup mumpuni, bahkan ada Christiano Ronaldo yang kembali bergabung -sebuah comeback yang saya anggap tidak perlu ada- meski sudah tidak sebrilian kejayaannya di Madrid. 

Tahun pertama ia sudah menorehkan hasil lumayan, piala kebo -Carabao Cup- jadi tinggalan pertamanya. Piala itu bukan berarti permainan membaik, MU tetap terseok-seok, mungkin karena pemain yang ada bukan pemain yang ten Hag butuhkan, ditambah fisik ringkih yang menjadi faktor penyedera para pion. Ia meminta manajemen mendatangkan pemain-pemain binaannya terdahulu yang kebanyakan dari Ajax, demi mewujudkan tim yang ia perlukan. Alih-alih dengan semua support yang ia terima, toh akhirnya ia harus hengkang juga setelah mempersembahkan piala FA. Suara sumbang media sosial dan mainstream cukup memekakan telinga petinggi MU, dan memang pelatih lah yang paling enak untuk dijadikan kambing hitam.

Oh iya, mungkin EtH bisa meredam media dengan pendekatannya yang lebih tertata, tapi kelihatan blak-blakan yang menjadi pembawaannya masih nyata dirasakan oleh pemain pada saat latihan dan ruang ganti. Isu-isu kurang sedap perseturuan pemain-pelatih beberapa kali muncul ke media. Ada berita tentang Jadon Sancho yang tidak mau minta maaf dan akhirnya terdepak, de Gea yang akhirnya juga dijual, bahkan CR7 sempat menghebohkan jagad dengan wawancaranya bersama seorang pewawancara terkenal. Erik ten Hag pun hanya bertahan sekitar 2.5 tahun di Manchester. 

Paling terbaru, ada Ruben Amorim yang dipesan INEOS untuk mengarsiteki MU. Tidak lupa terima kasih kepada Ruud van Nistelrooy yang memberikan kemenangan MU diwaktu singkat masa carateker-nya.

Pertanyaanya, apakah kalimat pembuka artikel ini akan kembali berulang?

Saya yakin akan ada banyak versi jawaban. Para pundit dan pengamat bola yang netral akan memberikan ulasan terbaiknya meski dengan imbuhan subyektifitas di sana sini -termasuk tulisan ini-. Forum-forum United juga tidak akan ketinggalan membahas proyeksi pelatih baru kedepan. Namun, apabila pertanyaan itu dilayangkan kepada saya, saya akan menjawabnya dengan anggukan. Saya memang tidak memiliki alasan yang memadai, tapi saya juga tidak menerima insentif untuk mengingkari bahwa siklus pelatih baru harapan baru itu akan terus berulang. Ketika ditanya alasannya, maka alasan itu sudah saya berikan di awal. Semua tergantung pemain.

Bukankah juru taktik yang memegang tim? Bukankah manajer yang mengatur dan merancang bagaimana tim bermain? Bukankah pelatih yang memilih pemain untuk diturunkan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang akan menjurus ke pelatih. Namun, pelatih juga manusia, pemain juga manusia, dan sebagai manusia yang merdeka mereka juga punya kehendak sendiri-sendiri.

Lalu, kenapa harus pemain yang salah?

Karena mereka jarang atau bahkan tidak pernah disalahkan.

Pemain-pemain itu, yang MU punyai sekarang ini, memiliki kualitas yang sebenarnya tidak kalah dengan klub lain. Untuk modal bersaing dengan big four pun masih bisa walaupun sedikit susah payah. Penjaga gawang ada Onana yang walaupun agak unik tapi lumayan kokoh, lini pertahanan juga ada Martinez tukang jagal dan de Ligt yang posturnya mumpuni -sejenak lupakan Maguire yang jadi andalan timnas Inggris-. Di tengah Bruno dan Casemiro kurang berpengalaman apa? Sisi sayap Rashford atau Garnacho lumayan bisa adu sprint dengan lawan. Di depan, Hojlund cukup tajam meski belum sempat reguler bermain karena cedera. Itu tim yang sering diturunkan, belum dengan lapisannya yang meski tidak mewah tapi bisa memberi perubahan. Amad, Mainoo, Eriksen, Shaw, Bayindir, dan lain-lain. Sekali lagi, mereka punya kualitas, tapi entah kenapa tidak maksimal.

Saya yakin mereka punya kualitas karena tidak lain mereka pernah menunjukkannya. Coba lihat siaran ulang final piala FA 2023 ketika lawan Man City. Sama-sama tim inti, dan emyu bisa menampilkan permainan yang efektif. Haland dikantongi, lini tengah City mampu diredam, pertahanan dan kiper pun kokoh. Satu-satunya gol yang masuk ke MU adalah dari tendangan menyusur tanah Doku yang tidak terlalu kuat. Memang itu sudut sulit untuk kiper, tapi melihat penyelamatan lain di pertandingan yang sama, gol itu cukup lucu. Lalu coba juga tengok match terakhir ten Hag, coba lihat statistik pertandingan melawan West Ham. Berapa tendangan ke gawangnya? Berapa big chance yang dibuat? Kalau masih kurang, mari kita tengok pola permainan emyu ketika dilatih pelatih baru. Persentase kemenangannya meningkat tajam. Moyes, van Gaal, Ole, bahkan caretaker seperi Giggs dan Carrick meraih kegemilangan di awal masa transisi. Kalau tidak ada pemain mumpuni, mana mungkin kemenangan-kemenangan awal kepelatihan itu terwujud? 

Saya akan merasa tidak waras jika mengakui bahwa pemain itu, sebelas orang itu bisa membentuk skema sendiri, kecuali memang pemain fun football -itu pun skemanya tidak sengaja terbentuk begitu saja sehingga sulit untuk direplikasi-. Sukar mencari alasan ketika seorang pelatih interim yang praktis memimpin beberapa laga dianggap bisa mengubah struktur tim. Sebelumnya memang benar mereka ikut melatih tim, tapi yang perlu digarisbawahi mereka tidak menjadi pengambil keputusan utama yang  kewenangan sepenuhnya ada di head coach. Mereka hanya meneruskan pondasi yang telah dibangun pelatih kepala sebelumnya. Kalaupun kemenangan dihasilkan pada masa peralihan, saya yakin itu bukan karena skema baru, tapi pemanfaatan skema lama dengan tambahan dorongan semangat yang tidak seperti biasanya. Entah pemain-pemain itu semangat karena akhirnya bebas dari hal yang tidak disukai, atau semangat ingin merayu pelatih anyar untuk meregulerkan jam terbangnya. Bukankah mustahil buruh bangunan bisa membangun sendiri sebuah rumah kecuali meneruskan apa yang sudah dirintis tukang bangunan?

Maka, usai sekian banyak fakta serta cerita yang beredar, maka saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa yang salah adalah P E M A I N.

Mari kita melupakan pemain-pemain di masa kegemilangan Manchester United yang telah lampau, karena sudah pasti tidak bisa dipersandingkan secara adil. Hanya saja, dalam pikiran saya ada satu unsur yang setidaknya harus ada pada pemain MU di setiap jaman, dan itu bisa dipelajari ke pemain-pemain legenda. Semangat tarung, fighting for badge. Saya tidak melihat itu di sebagian besar pemain MU sekarang.

Tidak ada yang bisa membaca hati seseorang itu memang benar. Pun kevalidan prasangka ini juga butuh pembuktian lebih lanjut. Tapi saya sudah tidak tahan untuk meredam kegelisahan ini. Saya sudah terlalu gemas melihat para pemain ini seakan-akan letoy dengan disengaja. Di momen-momen tertentu, mereka bisa all out mengeluarkan kemampuan, tapi di pertandingan lain tiba-tiba saja mereka seperti kesurupan pemain Persekam Metro FC. Kalau terjadi gol, semua ikut bersorak, mulai striker sampai kiper. Tapi, ketika dalam skema permainan, hanya beberapa pemain saja yang masih all out. Dulu ada McTominay yang skillnya medioker tapi berlari kemanapun mengejar bola. Rashford sebelum memperoleh gelar kehormatan juga sangat gemilang. Kalau pemain anyar? Martines dan de Ligt cukup memberi impresi bagus bagi saya. Mereka-mereka ini yang perlu diminta untuk menularkan tentang apa makna sejati "bermain untuk Manchester United".

Sudah cukup dengan pemain-pemain yang memberi pengaruh buruk. Pencopotan ban kapten Maguire adalah salah satu tindakan yang tepat. Mencadangkan pemain-pemain yang tidak perform dengan apik juga sesekali perlu menjadi pengingat. Itu semua sudah menjadi hal lumrah di era Ferguson, tapi kenapa menjadi terlihat kejam di era sekarang? Apakah pelatih-pelatih terkini itu harus dihormati dulu seperti SAF baru bisa menerapkan disiplin? Apakah tidak ingat dengan prinsip SAF bahwa "tidak ada pemain yang lebih besar dari klub"? Seberapa bintang sih pemain-pemain ini sehingga tidak malu membusungkan dada? Toh cuma jadi kacang atom melempem dibanding Beckham, yang juga tak kebal untuk dilego.

MU tidak akan kemana-kemana jika menyepelekan pelatih. Mengutip pembahasan pesantren, bisa jadi pemain-pemain itu tidak mendapat barokah karena menentang pelatih sebagai soko guru. Sepertinya tidak ada pelatih yang dengan sengaja membuat timnya kalah sejauh tidak menerima sogokan. Pelatih manapun yang pikirannya sehat ingin anak asuhnya menang. Tapi jika yang diajak menjadi pemenang malas-malasan, apakah masih harus menyalahkan yang mengajak.

Memang ada pelatih yang tidak cocok dengan pemain tertentu. Tapi ini kan klub bola, buka lap kotor yang bisa diganti seenaknya. Seblangsak apapun pemain tinggalan sebelumnya, pelatih harus bisa memanfaatkannya sambil menunggu masa transfer tiba. Ia akan berusaha mengotak-atik alternatif skema yang ada, bahkan mengorbankan idealisme lamanya karena kapasitas yang ada belum cukup tersedia untuk mengakomodir idealisme itu. Lalu ketika hasilnya kurang memuaskan, pemain beralasan tidak cocok dengan gaya kepelatihan, ditambah dengan fans tidak sabaran bertemu, apakah itu adil bagi pelatih? Pelatih sudah berusaha sebaik mungkin memanfaatkan sumber daya yang ada, tapi pemainnya sok merasa bintang, siapakah yang layak disebut pecundang jadinya?

Mungkin, sekali lagi mungkin, salah satu hal dasar yang sering dilupakan bisa membawa kembali cahaya kemenangan yang redup. Komunikasi. Komunikasi akan menjadi penyelamat dan membawa tim bapuk ini menjadi kembali disegani. Dengan membawa visi anyar, pelatih harus bisa mengutarakannya lewat komunikasi yang canggih, yang bisa diterima seluruh pemain dan jajaran staf kepelatihan. Untuk memperkuat argumen ini, saya mengutip isu yang beredar pada masa interim Nistelrooy. Pemain meminta manjemen untuk mempertahankan RvN karena ia dirasa bisa menjadi "penyambung" yang baik. Sebagai mantan pemain yang kini menjadi pelatih di klub kesayangannya, nampak Ruud van Nistelrooy memahami suasana kebatinan pemain sekaligus manajemen, dan berusaha menjadi perantara yang mengayomi bagi semua. Semoga Ruben Amorim bisa memberi sentuhan komunikasi yang dapat diandalkan seperti masa-masa interim Nistelrooy.

Sekian saja mengulik pelatih, karena sebagaimana tujuan awal tulisan ini saya buat agar dapat memberikan penghakiman bagi pemain.

Pernah lihat video pendek seorang fans kecil MU yang ditanyai siapa pemain favoritnya, lalu ia menjawab "None! they're all rubbish!"? Ironi bukan? Pemain-pemain MU sepertinya perlu belajar dari falsafah Jawa. Hindarilah "adigang adigung adiguna", apalagi cuma pemain MU yang hwarakadah dalam penyelesaian akhir dan ada saja cederanya tiap musim. Perkuat lagi peran kapten yang bukan hanya menjadi pemimpin di lapangan, tapi bisa memberi arahan di luar lapangan terlebih bagi pemain muda jebolan akademi atau pemain muda yang baru direkrut. Emyu memang tim besar, dan akan selamanya menjadi tim besar, tapi itu tidak menjamin bagi pemain yang baru bergabung langsung bisa mendaku dirinya besar juga. Masih perlu pembuktian yang sayangnya harus ditempuh untuk waktu yang tidak sebentar. Sabar dan persisten bisa menjadi sangat dibutuhkan oleh para pemain Manchester Red.

Terakhir untuk fans, hindarilah riuh medsos yang membentuk opini tidak jelas. Perkataan pundit, pengamat sepak bola, mantan pelatih, mantan pemain, atau apapun itu tidak mengandung kebenaran 100%. Mari menikmati permain MU yang indah. Kalaupun tidak indah, carilah sendiri alasan kenapa bisa sampai tidak indah permainan klub yang dipuja-puja itu. Dengan sumber daya pengetahuan yang melimpah, kita bisa memberi sendiri penilaian yang mendekati kebenaran, bukan cuma untul munyuk arah angin di medsos. Selama memegang jargon klub, selama itu pula Manchester United akan berjaya.

GLORY GLORY MAN UNITED!!!

Komentar