First Timer: Kesasar di Belitung (Part 2)
Lumayan lama Ageng berjalan meyusuri jalan raya. Sesekali ia menengok ke belakang sambil berharap ada tumpangan ke pusat kota atau paling tidak transportasi umum yang murah. Membawa ransel lima kiloan ditambah perut yang kosong karena terakhir diisi pagi hari membuat jalannya semakin menit semakin melambat. Ada sih warung yang ditemuinya, tapi dia enggan untuk mampir. Jika kalian paham bentuk warung dari kayu dan genting yang sudah lapuk dan membuat tampilan bangunan semi permanen itu cenderung mirip tempat jualan minyak tanah di tahun 2000an, kemungkinan besar kalian juga mengalami keraguan yang sama dengan Ageng. Lelah, Ageng beristirahat di trotoar meskipun tidak ada peneduh sama sekali, yang penting pundaknya bisa rehat sejenak. Sambil duduk, dia juga menjempoli setiap kendaraan, entah mobil atau sepeda motor. Saat menunggu, dalam diam dia sedikit merajuk pada Tuhannya, "Ya Allah, saya kan pernah sholat lima waktu, masa' saya cuma minta tumpangan aja enggak Kamu kasih...