Cukup Sekali Saja
Harusnya sudah dipersiapkan semua. Tapi seperti lainnya yang sudah-sudah, menghadapi sesuatu yang baru gak akan pernah bisa benar-benar siap, selalu ada yang tidak bisa dikendalikan. Selasa jam 7 kurang, aku gak mau datang lebih lambat daripada yang kami sepakati Minggu malam. Parkiran sepi, seperti biasanya aku termasuk yang datang lebih dulu. Lantai atas yang memang tidak banyak dihuni tentu saja masih lengang. Sambil menunggu kubaca berita cetak edisi hari itu. Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi kletak..kletuk..kletak..kletuk... harusnya ini ritme jalannya. Dari balik kaca yang buram karena sandblast , terlihat sekali siluetnya. Hampir semua perempuan di sana berjilbab, tapi siluet ini, aku gak bakal terkecoh dengan yang lain. Tak berani menoleh lebih lama, kuteruskan membaca lagi, sialnya ia masih tampak dari ekor mata kanan. Semakin mendekati akhir halaman, semakin kencang pula detak jantung. Finish what you started! , aku berkata pada diriku sendiri, lalu memantapkan l...