Saya & Aku VS 3000 KM (Part 1)
Malam itu aku dan mas Rizki berada di dalam Innova hitam yang sedang membawa kami ke bandara Soetta. Kami mengambil penerbangan ke Singapura paling malam karena jadwal itulah yang harganya paling bisa dijangkau!!! Aku yang masih belum terlalu percaya dapat kesempatan seperti itu berasa campur aduk di dalam mobil, antusias karena baru pertama ke luar negeri sekaligus cemas jikalau tidak bisa beradaptasi di sana. Sungguh satu kesempatan yang langka, jangankan pergi ke Singapura, hidup di luar Malang saja gak pernah sedikitpun terbayang waktu kecil dulu. Beruntung aku diajak mengantar mas Rizki yang lagi pengen "berhaji" ke Apple Store.
Golden Bird yang kami sewa melaju mulus di jalanan bebas hambatan. Empuk dan wuuusssss, beda sekali rasanya dengan taksi daring yang umum digunakan. Di tengah perjalanan sopir bertanya, "Mau ke mana mas, kok ke bandara?"
"Mau ke Singapura pak" jawabku.
"Mau ke mana aja mas?" drivernya bertanya lagi.
"Ya keliling-keliling aja pak, muterin Singapore" aku menimpali.
"Di sana nginep di mana mas?"
"Di Geylang pak", kali ini mas Rizki yang menjawab.
"Wiiihhh, mantap itu..." jawab driver sambil cengar-cengir. Entah apa yang membuatnya nyengir, ditanya alasannya pun ia mencoba berkelit sembari mengisyaratkan sesuatu yang lucu dan misterius. Aku tidak cukup gigih mengorek misteri itu, dan beralihlah ke topik pembicaraan yang lain, termasuk agak banyak dibahas bab Golden Bird yang baru pertama kali ini aku ketahui adanya.
Sampai di bandara, kami berdua duduk di ruang tunggu sambil mengamati orang-orang. Mencoba mengambil deduksi dari penampilan fisik orang lain selalu menarik bagiku, sedikit banyak terpengaruh Sherlock Holmes dan Hercule Poirot.
"Mas, orang itu mau ke mana coba?" aku melempar tebak-tebakan ke mas Rizki.
"Mau olimpiade itu, lihat mereka seragaman tuh!"
"Gak ah, mereka itu TKW, lihat aja barang bawaannya"
"Enggaklah, mereka kan masih sekolah, masih muda-muda itu"
"Budeku juga kalo cari pembantu masih muda-muda kok", aku masih kekeuh dengan hipotesaku.
Kebetulan di tas bawaan mereka yang seragam ada tulisannya. Satu-satumya cara menguji pendapat kami tanpa bertanya langsung ya lewat sablonan itu, perkiraanku tulisan di tas adalah penanda identitas mereka. Kami menunggu mereka untuk lewat supaya bisa membaca tulisan di tas. Dan akulah yang ujung-ujungnya memenangkan debat nir-faedah malam itu.
Tiba saatnya untuk boarding. Mas Rizki berjalan lebih dulu. Ia lewati imigrasi tanpa ada masalah berarti, hanya menyerahkan paspor untuk diperiksa, lalu dipersilakan lewat. "Oooo, ternyata gampang ya tinggal jalan aja" pikirku. Tapi tidak, kegampangan itu mungkin hanya berlaku bagi orang yang tidak mencurigakan. Untuk aku yang wajahnya mengandung kisah horor ini harus menghabiskan beberapa menit dahulu sebelum berhasil melewati imigrasi. Mulai ditanya mau ngapain, bawa uang berapa, menginap di mana, pulang kapan, banyaklah pokoknya. Sepertinya ibu petugas menunggu konfirmasi data pribadiku lewat komputernya, karena setelah beberapa kali melihat monitor sambil menanyaiku, tiba-tiba dia mempersilahkanku lewat. Setelan wajah susah gini memang pantas dicurigai jadi TKI ilegal.
***
Kami menginjakkan kaki di bandara Changi lewat tengah malam waktu Singapura. Sepi, tidak ada antrean sama sekali melewati konter imigrasi. Mengesankan sekali karena walau sudah masuk dini hari tapi pelayanannya masih tetap ramah, bahkan bapak yang menjaga loket mencoba berbahasa melayu denganku.
Malam itu sesuai kesepakatan kami menginap seadanya di bandara. Dari artikel-artikel banyak yang cerita kalo mereka bisa menginap di bandara dengan aman, ditambah air minum yang free-flow dan banyak tersedia toilet bersih. Ya tapi dengan segitu banyaknya fasilitas tidak serta merta bisa membuatku langsung tidur, tetap saja masih ada rasa was-was hingga membuatku terjaga beberapa jam, mungkin karena suasana baru yang tidak familiar bagiku.
Daripada cuma guling-guling gak jelas, tubuh ini aku ajak jalan-jalan sebentar, harapannya biar capek dan lebih cepet tidur. Aku berjalan menuju sebuah bundaran dengan tanaman yang mengelilinginya dan disorot lampu redup warna-warni, seperti di film Avatar-yang-biru rasanya. Belakangan baru aku tahu kalo itu Jewel Waterfall yang ikonik, cuma karena sudah malam jadi air terjunnya mati.
Pagi tiba, mata yang akhirnya bisa merem meski cuma sekejap menjadikan badan siap untuk diajak muter-muter negeri singa ini (ya walaupun gak siap-siap amat). Kami mencoba untuk mendapatkan jadwal MRT paling pagi. Memang bisa dapat, tapi gak bisa langsung masuk. Penjualan Singapore Tourist Pass tidak buka sepagi itu, sedangkan mas Rizki yang sudah lebih siap tenang-tenang saja karena dia sudah punya kartu passnya. Daripada nunggu agak siang, aku membeli dulu tiket sekali jalan, nanti siang baru beli yang tiket terusan.
Langsung tujuan pertama ke Universal Studio Singapore. Gak masuk, cuma berkunjung aja. Aku gak tau kalo untuk foto di depan bola dunia yang terkenal itu gak perlu bayar. Lagi-lagi beruntung karena ada mas Rizki yang punya informasi lebih mendetail. Makan malkist dan chitato dulu sebelum foto, pasalnya rencana sarapan pagi di hawker urung terlaksana karena kami datangnya kepagian dan belum ada yang buka. Habis foto-foto ya langsung ngeloyor pergi, ngapain lagi emang? Masa' cuma duduk-duduk doang dan gak main wahana? jadi kelihatan kisminnya nanti.
Kemudian kami mengunjungi sebuah tempat anti-mainstream yang lagi-lagi pilihan mas Rizki, Konfrontasi Memorial. Di tempat itu berdiri sebuah monumen yang mengingatkan suatu aksi terorisme yang dilakukan oleh orang Indonesia. Dua orang yang sedang foto-foto di monumen itu cukup menjadi perhatian walaupun tidak banyak. Karena memang aneh menggambil gambar di tempat itu, saking anehnya gak banyak yang datang ke sana, terlihat dari sedikitnya ulasan di googlemaps.
Sambil menuju hotel, dilewatilah gedung McDonald yang dibom kala itu. Cuma lewat aja, karena memang gak banyak yang menarik dari tempat itu, wong cuma gedung biasa aja, ketimbang fokus ke gedung, aku malah fokus menikmati jalan kaki. Jalan di Singapura memang sangat nyaman, trotoarnya lebar, juga banyak sekali lampu merah buat menyebrang, istilah kerennya Pelican crossing.
Sebelum sampai hotel, kami mampir makan dulu. Kesampaian juga makan nasi lemak! Ini gak lain gara-gara sering muncul di serial Upin Ipin, dan akhirnya bikin penasaran. Pertama kalinya makan, nampak tampilannya mirip bener sama yang ada di kartun dua budak kecil itu, nasi dicetak setengah lingkaran, dikasih teri kering, kacang goreng, ayam goreng, timun, terus ditambah sambel. Kalo di Indonesia ada juga panganan gini, namanya nasi uduk, soalnya rasa nasinya sama-sama gurih.
Agak sorean sudah tiba di Geylang. Biasa saja. Masih mencari yang aneh karena penasaran sama sopir taksi Jakarta yang mengantar ke bandara sebelumnya. Males risau, aku memutuskan istirahat dulu.

Komentar
Posting Komentar