Saya & Aku VS 3000 KM (Part 2)
Istirahat sebentar sudah, kamipun pergi ke Garden By The Bay dan Clarke Quay seperti jadwal yang sudah dibuat, jalan-jalan sambil sekalian cari makan ceritanya, gaskan aja langsung!
Selalu MRT menjadi pilihan yang paling bisa diandalkan. Kami turun di stasiun Bayfront, di dekat kawasan Marina Bay. Lumayan lama berhenti di sana sembari ambil beberapa foto. Matahari tenggelam di balik gedung-gedung tinggi punya kecantikan yang berbeda memang. Sambil jalan pelan-pelan menuju Garden By The Bay, sambil juga "menikmati" manusia yang tumpah ruah di sana. Ada yang pemanasan mau lari, ada yang foto-foto, ada juga pemandu perjalanan yang agak ribet menggembalakan peserta tur. Sambil memandangi stadion Marina Bay yang mengapung di atas laut itu, aku menggumam dalam hati, "Kenapa aku bisa ada di sini?" Bukan karena menyesal, tapi lebih ke takjub aja bisa ketemu sekian banyak orang dari negara yang berbeda-beda.
Sudah agak menjauh dari Marina Bay kami menambah kecepatan jalan, maksudnya biar sampai lebih cepat setelah melihat papan petunjuk arah ke Garden By The Bay yang masih satu kilometer lagi. Sudah melangkah seligat yang dimampu, sampai-sampai nafas pun gak beraturan, eh dengan selownya ada orang-orang haha-hihi lewat pakai shuttle car, ngeselin sekali. Coba tahu lebih awal bisa naik shuttle, gak perlu keringatan sampek gobyos begini. Sekarang taunya pas udah deket, percuma juga kalo naik, ckckckckck.
Taman gantung menyerupai jamur dengan lampu warna-warninya cakep sekali dilihat, ditambah langit sedang cerah-cerahnya. Gak ngerti lagi mau dimiripin sama apa, tapi yang paling deket ya lagi-lagi kayak lingkungan di film Avatar yang biru itu. Memang lampu-lampunya juara banget, rapi dan menawan sekali pencahayaan yang dipilih. Warna kalem dengan gradasi yang tidak terlalu mencolok, berubah dengan anggun dari satu warna ke warna yang lain. Aku belum pernah ketemu tarian cahaya semacam itu di Indonesia.
Saking enaknya jalan (dan juga biar hemat daripada naik taksol), kami jalan lagi menuju Clarke Quay. Clarke Quay itu semacam kanal dengan resto warna warni di pinggirannya. Gak seindah Garden By The Bay memang, tapi masih lumayan. Sebentar sekali kami di sana. Aku foto-foto sedikit, dan mas Rizki makan onigiri yang entah beli kapan, aku tahunya pas sudah masuk ke mulutnya. Waktu sudah semakin larut, kami memutuskan kembali ke hotel, karena memang lelah sekali muter-muter dari pagi buta. Kali ini naik bus. Di googlemaps kelihatan jadwal bus yang akan tiba, tapi aku ragu apa bisa bus dijadwal tepat seperti itu, bukannya mereka berhenti dan pergi seenaknya? Dan kekhawatiranku tidak terbukti, hampir tiap bus yang lewat sesuai dengan jadwal yang ada di internet. Kami melewatkan beberapa bus karena memang gak sesuai rute yang kami pilih, dan karena itu pula kami bisa memperhatikan gimana presisinya waktu kedatangan bus itu. Ya paling cuma selisih paling lambat 3 menit.
Awalnya bingung waktu masuk bis. Katanya pake STP kan bebas naik transportasi umum apa aja di Singapura, tapi waktu nempelin kartu ke mesin pemindai kok nyala lampu merah? Mas Rizki aja waktu nempelin kartunya yang nyala warna hijau, apa yang salah dengan kartuku sih? Dicoba lagi merah lagi, coba lagi merah lagi, akhirnya tetep nyelonong masuk, wong mas Rizki sudah bisa masuk, masak aku mau ditinggal.
Bus di sana mirip sama bus wisatanya Jakarta, ada double dekker juga. Kami turun di halte terdekat degan hotel, tidak langsung menuju hotel tapi, mas Rizki mengajak jalan agak melenceng menuju masjid MUI-nya Singapura. Sekitar jam delapan malam sampai sana, orang-orang terlihat keluar dari masjid saat kami memasuki halaman. Waktu melepas alas kaki, seorang laki-laki yang kelihatannya beretnis India menanyai kami dengan agak ketus, "Kenapa?!"
"Mau sholat" jawabku.
"Tidak, tutup..tutup.." sergahnya dengan aksen melayu yang canggung. Ya sudah, kami balik kanan dan langsung kembali ke hotel .
Sebelum sampai hotel, rasanya masih pengen muter-muter lagi lebih jauh. Mas Rizki yang enggan jalan malam memilih naik ke kamar, aku pun berjalan sendirian. Banyak orang kelihatan ketawa-ketiwi sambil nongkrong, memenuhi jajaran kedai panganan yang tersebar di sepanjang jalan. Semakin jauh berjalan, keramaian kedai-kedai sebelumnya semakin berkurang. Bahkan saat melintasi suatu pertigaan yang memisahkan satu blok dengan blok lainnya suasana berubah drastis. Kini bangunan dengan lampu warna-warni remang-remang dominasi merah berdiri berurutan. Tulisan-tulisan yang kalo kuterka disusun menggunakan huruf Cina membuatku tidak paham apa yang sebenarnya ada di balik pintu. Berjalan beberapa puluh meter kemudian, barulah aku ngeh untuk apa bangunan-bangunan itu berdiri. Beberapa titit-tititan dipajang berdiri di balik kaca tembus pandang, lengkap dengan assesoris "gelap" lainnya.
Awalnya lucu, tapi ngeri juga lama-kelamaan, aku memilih berbelok menuju gang yang kalo di sana disebut lorong. Pengennya menghindar, malah lebih suram. Lorong yang lebih gelap daripada jalan utama terasa lebih mencekam. Seorang laki-laki sedikit lebih tua menegurku, "Bang, jdsfbdngk..."
"Iya bang?" kucoba menanyakan kembali maksudnya karena kurang jelas terdengar.
"Bang, rokok bang.." katanya lebih pelan dengan sedikit menaikkan volume suara, wajahnya tersembunyi oleh bayangan malam.
"Gak bang, gak punya saya."
"Bang, ini rokok bang...!" agak dikeraskan suaranya, baru kutahu ia mencoba menawarkan rokok.
"Gak bang, terima kasih." lalu kutinggalkan dia. Aku tetap mencoba jalan santai walaupun di dalam rasanya gak karuan. Sepertinya beli rokok di sana gak bisa sembarangan, makannya ditawarkan secara sembunyi-sembunyi. Macam di film-film narkoba aja kejadian tadi.
Semakin masuk ke dalam semakin "gelap". Padahal gang di sana itu ya mirip gang-gang kampung di tanah air, tapi sungguh isi gangnya tidak seperti yang diharapkan di kampung. Hampir mendekati ujung jalan terlihat rumah dengan dekorasi lampu yang mentereng sekali, hiasannya cukup aneh untuk ukuran sebuah rumah biasa. Kepalang tanggung, mau balik ya ketemu abang yang tadi, mau lanjut jalan kelihatannya malah makin serem. Aku berjalan dengan bimbang, dan akhirnya sampai juga di rumah itu. Aku menoleh ke kiri dan mendapati rumah dengan jendela kaca lebar sekali, yang mempersilakan siapapun melihat suasana di dalam rumahnya. Yang aku lihat? perempuan rambut pirang dengan pakaian yang menggoda sambil memegang rokok. Nyali langsung menciut, gak boleh aku berlama-lama di depan rumah itu. Aku hanya bisa mempercepat jalan meninggalkan rumah itu dan rumah-rumah sejenis, sambil berharap lekas lepas dari lorong-lorong itu.
Hingga sampailah kembali ke jalanan dekat hotel, alhamdulillah. Terakhir, sebelum kembali ke hotel aku melihat ada kerumunan orang di restoran depan, ada beberapa polisi juga diantara mereka. Dengar selentingan waktu aku mencoba lihat dari dekat, ada yang bilang telah terjadi pertengakaran hingga salah satunya melakukan penusukan. Aku masuk ke hotel, bertanya dengan bahasa Inggris seadanya mengkonfirmasi keributan di depan. Si resepsionis menjawab tidak tahu, entah karena beneran tidak tahu, atau memang karena dia cari aman saja. Di kamar mas Rizki sedang rebahan sambil main hape. Aku segera membersihkan kulit dari keringat yang lumayan akibat jalan barusan, solat, lalu istirahat menyusul mas Rizki.
Komentar
Posting Komentar